Ujian Semester Genap Mapel Aqidah Akhlak Kelas XII SMA/MA

Related Post: Memahami Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah

Mata Pelajaran   : Aqidah Akhlak

Kelas  : XII SMA/MA

Jawablah pertanyaan berikut ini dengan benar dan dengan cara yang benar!

  1. Apa saja isi kandungan Al-Qur’an berikut fungsi dan nama lain dari Al-Qur’an
  2. Tulislah 2 contoh akhlak yang buruk beserta artinya
  3. Siapa saja Nabi yang termasuk Nabi Ulul Azmi, jelaskan dengan mukjizatnya masing-masing
  4. Tulislah nilai karakter yang harus dijadikan akhlak dalam kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Nuh As
  5. Apa hikmah beriman kepada malaikat, dan tulislah 10 malaikat beserta dengan tugas-tugasnya
  6. Jelaskan tugas dan kewajiban seorang terhadap orang tua, teman, guru dan alam sekitar
  7. Tuliskan ayat tentang Aqidah beserta artinya
  8. Tauhid terbagi atas 3, yaitu Tauhid rububiyyah, Tauhid uluhiyyah dan Tauhid asma’ wa sifat
  9. Tulislah ayat tentang sabar, taat dan ikhlas beserta artinya
  10. Apa saja yang termasuk syirik kepada Allah, jelaskan

Selamat Menjawab! (*)

Lihat pula: Tips Mudah dan Efektif Menghafal Al-Qur’an

Lihat pula: 6 Nasihat Ulama Menghadapi Virus Corona

Lihat pula: Dibuka, Program Beasiswa Santri Berprestasi Tahun 2022. Ini Syaratnya!

- Advertisement -

Get in Touch

  1. Xll.IPA
    1. Berikut isi kandungan Al Quran:

    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  2. 1. Berikut isi kandungan Al Quran:
    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  3. 1. berikut isi kandungan Al-Qur’an:

    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  4. NURUL SAPIRA
    XII.MIPA

    Berikut isi kandungan Al-Qur’an:

    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  5. nur annisa lathifah kamil
    XII IPA

    1.1. Akidah dan Tauhid

    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.

    2. Ibadah

    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.

    3. Akhlak

    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    4. Hukum

    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.

    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu

    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.

    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi

    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.

    2.Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    Durhaka kepada kedua orang tua.

    3.1) Nabi Nuh A.S = kapal besar, pembuatan bahtera besar
    2) Nabi Musa A.S = tongkatnya bisa berubah menjadi ular, membelah lautan
    3) Nabi Ibrahim A.S = Tidak terbakar oleh api
    4) Nabi Isa A.S = menghidupkan orang yang telah meninggal, berbicara ketika masih bayi, menyembuhkan sakit kusta
    5) Nabi Muhammad SAW = Al-Quran, membelah bulan jadi 2

    4.Perilaku yang patut di contoh
    Selalu sabar
    Selalu meningat Allah
    tidak mudah marah
    Sangat patuh atas perintah Allah
    Selalu berdoa meminta petunjuk dari Allah

    5.
    1.Meniru sifat malaikat yang taat beribadah kepada Allah SWT. …
    2. Selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari dosa. …
    3.Mempercayai ada kehidupan setelah di dunia. …
    4.Mempercayai rezeki dari Allah SWT. …
    5.Menyempurnakan iman kepada Allah SWT.
    Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.

    6.1. Memelihara kebersihan, kenyamanan, keamanan dalam keluarga.
    2. menghargai dan mengerjakan tugas yg diberikan
    3.berperilaku baik kepada teman
    4. tidak membuang sampah sembarangan dan memelihara kelestariannya

    7.هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ Arab-Latin: huwallażī ba’aṡa fil-ummiyyīna rasụlam min-hum yatl ‘alaihim āyātihī wa yuzakkīhim yu’allimuhumul-kitāba wal-ḥikmata wa ing kānụ ming qablu lafī ḍalālim mubīn Artinya: Dialah yan mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul
    di antara mereka, yang membaca ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

    8.Kemudian tauhid asma wa sifat terkait dengan nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifat Allah yang maha sempurna, tidak memiliki cacat dan kekurangan sedikit pun. Tauhid uluhiyah terkait dengan bagaimana kita mengesakan Allah subhanahu wata’ala dalam ibadah, hanya Dia yang berhak untuk diibadahi.

    9.”Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR. al Bukhari No 1469).

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  6. Masyruroh Azhahra
    XII IPS
    1. • Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    • Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    • Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    2. • Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    • Durhaka kepada kedua orang tua.
    •Jika diberikan amanah dia berkhianat.

    3. • Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    • Kisah Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    • nabi Musa
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Musa berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    • Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    •Nabi Muhammad
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak memercayai bahwa Muhammad SAW merupakan salah seorang nabi utusan Allah SWT.

    4. mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    5. Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.

    6. • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8. • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah

    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9. • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:

    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  7. 1. Berikut isi kandungan Al Quran:

    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    ‎قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    ‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    ‎إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    ‎كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    ‎لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    ‎وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    ‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    ‎لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    ‎وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    ‎اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    ‎قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    ‎وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    ‎وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    ‎وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    ‎توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    ‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  8. Uswatunnisa Utami
    XII. IPS
    1. Berikut isi kandungan Al Quran:
    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  9. Nama: Putri yulita shabana
    Kelas: XII.IPA

    1.)•Isi kandungan Al-qur’an:
    -akidah dan tauhid
    -ibadah
    -akhlak
    -hukum
    -sejarah atau kisah umat masa lalu
    -dasar-dasar ilmu pengetahuan(Sains) dan teknologi
    •Fungsu Alquran ialah sebagai pedoman dan petunjuk hidup dalam menjalani kehidupan di dunia maupun akhirat. Al Quran sebagai sumber hukum utama islam yang setelahnya ada hadis, ijma dan qiyas.
    •Nama lain dari Al-Quran:
    1.Al-kitab atau kita ulah
    2.Al-furqan
    3.Adz-zikir
    4.Al-hukmu
    5.Al-hikmah

    2.)1.Berdusta
    ‎فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
    Artinya: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta” [AL Baqarah ayat 10]
    2.Sombong
    ‎وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
    Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

    3.)ULUL AZMI
    1.Nabi Muhammad SAW
    -kitab suci Al-qur’an
    2.Nabi Isa As
    -menghidupkan yg mati atas izin Allah SWT
    -dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam
    3.Nabi Musa As
    -tongkat yang dapat berubah jadi ular
    4.Nabi Ibrahim As
    -tidak hangus terbakar api
    5.Nabi Nuh As
    -membuat perahu besar dan menyelamatkan orang yang beriman dari banjir

    4.)•Nabi Ibrahim As:
    -Sabar ketika diperintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail
    •Nabi Nuh As:
    -bersabar dalam berdakwah
    -pengorbanan yang besar
    -tekad yang kuat
    -pemimpin yang bertanggung jawab

    5.)Hikmah beriman kepada malaikat adalah meningkatkan dan menyempurnakan iman kepada Allah SWT. Pasalnya, beriman kepada malaikat adalah salah satu rukun iman dari enam rukun yang wajib dipercaya. Meningkatkan iman kepada Allah SWT dibuktikan dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhi larangannya.
    •Nama-nama malaikat beserta tugasnya:
    1.Malaikat Jibril:menyampaikan wahyu
    2.Malaikat Mikail:membagi rezeki
    3.Malaikat Israfil:meniup sangkakala
    4.Malaikat Izrail:mencabut nyawa
    5.Malaikat Munkar:menanyakan amal buruk di alam kubur
    6.Malaikat Nakir:menanyakan amal baik di alam kubur
    7.Malaikat Raqib:mencatat amal buruk
    8.Malaikat Atid:mencatat amal baik
    9.Malaikat Malik:penjaga neraka
    10.Malaikat Ridwan:penjaga surga

    6.)•Orang tua:
    -patuh
    -mendoakannya
    •teman:
    -tidak mengambil haknya
    -menjaga perasaanya
    •guru
    -taat dan patuh
    -menghargainya
    •Alam sekitar
    -tidak membuang sampah sembarangan
    -menjaga kebersihan

    7.)Surah An-Nisa ayat 80
    مَنْ يُتِعِ ارَّسُوْلَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّٰهَ
    Artinya: “Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.”

    8.)1. Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu Allah itu satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pengatur Jagat Raya (Al-Mudabbir), Yang Maha Merajai (Al-Malik), dan Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).
    2. Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba, yaitu kita selaku hamba hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh satu pun ibadah diserahkan kepada selain Allah.
    3. Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya.

    9.)•Sabar
    ‎وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ 
    Artinya: “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.”
    •Taat
    ‎يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَاَ نْـتُمْ تَسْمَعُوْنَ
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, padahal kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)”.
    •Ikhlas
    ‎قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
    Artinya: “Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”

    10.) •Syirik Do’a, yaitu di samping dia berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia juga berdo’a kepada selainNya.
    •Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    •Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah.

  10. Faradilla Mulyasari
    XII.IPA
    Jawab :
    1. •Pengertian : Al Qur’an atau Qur’an, adalah sebuah kitab suci utama dalam agama Islam, yang umat Muslim percaya bahwa kitab ini diturunkan oleh Allah, kepada Nabi Muhammad. Kitab ini terbagi ke dalam beberapa surah dan setiap surahnya terbagi ke dalam beberapa ayat.

    •Kandungan : Isi kandungan Al Quran sebagai pedoman dan petunjuk hidup manusia. Al Quran merupakan pedoman dan petunjuk hidup dalam menjalani kehidupan di dunia maupun akhirat.

    •Nama lain : Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran.

    2.•Kufur Nikmat : tidak mengakui kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt kepadanya
    •Gibah : senantiasa menyebarkan aib orang lain atau bahkan hal hal baik dari orang lain namun org tsb tidak ridha

    3.•Nabi Muhammad Saw : Al-Quran
    •Nabi Isa AS : Kitab Injil
    •Nabi Musa AS : Tongkat yang dapat berubah menjadi ular
    •Nabi Ibrahim AS : Tidak hangus terbakar api
    •Nabi Nuh AS : Perahu Besar

    4.•Selalu sabat dan taat
    •Selalu mengingat Allah
    •Tidak mudah marah
    •Sangat patuh terhadap perintas Allah
    •Selalu berdoa meminta petunjuk dari Allah

    5.•Meniru sifat malaikat yang taat beribadah kepada Allah SWT.
    •Selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari dosa.
    •Mempercayai ada kehidupan setelah di dunia.
    •Mempercayai rezeki dari Allah SWT.
    •Menyempurnakan iman kepada Allah SWT.

    6.Kewajiban Terhadap orang tua :
    •Menghormati dan mendoakan orang tua
    •Menjaga nama baik keluarga/orang tua
    •Membantu mengerjakan pekerjaan rumah

    Kewajiban Terhadap Teman :
    •Menghormati teman
    •Saling membantu satu sama lain
    •Hidup rukun antar teman

    Kewajiban Terhadap guru :
    •Menghormati guru
    •Mengerjakan tugas yang diberikan
    •mendoakan yang terbaik untuknya

    Kewajiban terhadap alam sekitar :
    •Tidak membuang sampah sembarangan
    •Merawat dan melestarikan alam sekitar
    •Menghemat pemakaian energi

    7.Ayat tentang Aqidah

    ‎هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8.•Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu Allah itu satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pengatur Jagat Raya (Al-Mudabbir), Yang Maha Merajai (Al-Malik), dan Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).

    •Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba, yaitu kita selaku hamba hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh satu pun ibadah diserahkan kepada selain Allah. Ibadah seperti berdoa, thawaf, menyembelih kurban, bernadzar hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.
    •
    Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Beriman dalam hal nama dan sifat ini tanpa melakukan

    9.Ayat tentang Sabar
    Al-Imran Ayat 125
    ‎بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ
    Artinya: “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”

    Ayat tentang Ikhlas
    Al-A’raf Ayat 29
    ‎قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
    Artinya: “Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”

    Ayat tentang taat
    An-Nisa Ayat 59
    ‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ – ٥٩
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

    10.•Syirik akbar adalah menjadikan selain daripada Allah SWT sebagai tujuan dalam beribadah, misalnya memohon dan bernadzar sesuatu kepada selain Allah, takut kepada kuburan, jin, atau setan serta percaya bahwa semua itu bisa memberi bahaya.
    •Syirik Ashghar. Syirik Ashgar adalah syirik yang dihasilkan dari perbuatan maupun ucapan yang dinyatakan sebagai perbuatan syirik oleh syara’, namun tidak sampai menyebabkan keluar daripada agama Islam

  11. Faradilla Mulyasari
    XII.IPA
    Jawab :
    1. •Pengertian : Al Qur’an atau Qur’an, adalah sebuah kitab suci utama dalam agama Islam, yang umat Muslim percaya bahwa kitab ini diturunkan oleh Allah, kepada Nabi Muhammad. Kitab ini terbagi ke dalam beberapa surah dan setiap surahnya terbagi ke dalam beberapa ayat.

    •Kandungan : Isi kandungan Al Quran sebagai pedoman dan petunjuk hidup manusia. Al Quran merupakan pedoman dan petunjuk hidup dalam menjalani kehidupan di dunia maupun akhirat.

    •Nama lain : Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran.

    2.•Kufur Nikmat : tidak mengakui kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt kepadanya
    •Gibah : senantiasa menyebarkan aib orang lain atau bahkan hal hal baik dari orang lain namun org tsb tidak ridha

    3.•Nabi Muhammad Saw : Al-Quran
    •Nabi Isa AS : Kitab Injil
    •Nabi Musa AS : Tongkat yang dapat berubah menjadi ular
    •Nabi Ibrahim AS : Tidak hangus terbakar api
    •Nabi Nuh AS : Perahu Besar

    4.•Selalu sabat dan taat
    •Selalu mengingat Allah
    •Tidak mudah marah
    •Sangat patuh terhadap perintas Allah
    •Selalu berdoa meminta petunjuk dari Allah

    5.•Meniru sifat malaikat yang taat beribadah kepada Allah SWT.
    •Selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari dosa.
    •Mempercayai ada kehidupan setelah di dunia.
    •Mempercayai rezeki dari Allah SWT.
    •Menyempurnakan iman kepada Allah SWT.

    6.Kewajiban Terhadap orang tua :
    •Menghormati dan mendoakan orang tua
    •Menjaga nama baik keluarga/orang tua
    •Membantu mengerjakan pekerjaan rumah

    Kewajiban Terhadap Teman :
    •Menghormati teman
    •Saling membantu satu sama lain
    •Hidup rukun antar teman

    Kewajiban Terhadap guru :
    •Menghormati guru
    •Mengerjakan tugas yang diberikan
    •mendoakan yang terbaik untuknya

    Kewajiban terhadap alam sekitar :
    •Tidak membuang sampah sembarangan
    •Merawat dan melestarikan alam sekitar
    •Menghemat pemakaian energi

    7.Ayat tentang Aqidah

    ‎هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8.•Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu Allah itu satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pengatur Jagat Raya (Al-Mudabbir), Yang Maha Merajai (Al-Malik), dan Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).

    •Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba, yaitu kita selaku hamba hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh satu pun ibadah diserahkan kepada selain Allah. Ibadah seperti berdoa, thawaf, menyembelih kurban, bernadzar hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.
    •
    Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Beriman dalam hal nama dan sifat ini tanpa melakukan

    9.•Ayat tentang Sabar
    Al-Imran Ayat 125
    ‎بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ
    Artinya: “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”

    •Ayat tentang Ikhlas
    Al-A’raf Ayat 29
    ‎قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
    Artinya: “Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”

    •Ayat tentang taat
    An-Nisa Ayat 59
    ‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ – ٥٩
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

    10.•Syirik akbar adalah menjadikan selain daripada Allah SWT sebagai tujuan dalam beribadah, misalnya memohon dan bernadzar sesuatu kepada selain Allah, takut kepada kuburan, jin, atau setan serta percaya bahwa semua itu bisa memberi bahaya.
    •Syirik Ashghar Syirik Ashgar adalah syirik yang dihasilkan dari perbuatan maupun ucapan yang dinyatakan sebagai perbuatan syirik oleh syara’, namun tidak sampai menyebabkan keluar daripada agama Islam

  12. Nama : Cantika Aulia Iskandar
    Kelas : XII-IPS
    Jawaban !
    1. Berikut isi kandungan Al Quran:

    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  13. Faradilla XII IPA

    1.Apa saja isi kandungan Al-Qur’an berikut fungsi dan nama lain dari Al-Qur’an
    :Kandungan alquran :
    •Akidah dan tauhid
    •Ibadah
    •Akhlak
    •Hukum
    •Sejarah atau kisah umat masa lalu
    •Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi

    Fungsi Al-Qur’an :
    Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia secara umum, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Fungsi Al-Qur’an sebagai pemisah adalah Al-Qur’an dapat memisahkan antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah.

    Nama lain alquran :
    Nama lain Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran.

    2.Tulislah 2 contoh akhlak yang buruk beserta artinya
    : •dengki dan berbohong
    Surat Al-Baqarah Ayat 10
    ‎فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
    Artinya: Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta [AL Baqarah ayat 10]

    •melakukan perbuatan yang dilarang
    Surat Al-Baqarah Ayat 59
    ‎فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
    Artinya: Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik.

    3.Siapa saja Nabi yang termasuk Nabi Ulul Azmi, jelaskan dengan mukjizatnya masing-masing
    :•Nabi Nuh AS
    Nabi dan rasul Allah pertama yang bergelar Ulul Azmi adalah Nabi Nuh. Nabi Nuh memiliki ketabahan yang luar biasa ketika melihat umatnya ingkar terhadap ajaran yang ia sampaikan. Oleh karena itulah, Allah menurunkan azab dengan mendatangkan banjir bandang dan meluluh-lantahkan kaum Nabi Nuh yang ingkar itu. Sedangkan, Nabi Nuh dan pengikut setianya diselamatkan Allah dengan berlindung dalam perahu besar atau bahtera yang sudah Nabi Nuh siapkan. 

    •Nabi Ibrahim AS
    Rasul ulul azmi yang selanjutnya, ada Nabi Ibrahim yang punya ketabahan luar biasa ketika diuji Allah untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail.  Allah pun memberikan mukjizat kepada nabi Ibrahim agar tak bisa terbakar oleh api. Ya, saat itu Nabi Ibrahim dihukum oleh Raja Namrud karena merusak berhala-berhala yang biasa kaumnya sembah. Nabi Ibrahim pun diikat untuk siap dibakar di atas kayu.
    Namun, Allah berkehendak lain. Allah selamatkan Nabi Ibrahim dari api dan menurunkan firman sebagai berikut:
    “Bakarlah dia dan bantulah ilah-ilah kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan itu mereka orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al- Anbiya’ ayat 68-70)

    •Nabi Musa AS
    Nabi Musa adalah salah satu Nabi dengan ujian yang sangat berat, yakni menghadapi Raja Fir’aun yang keji dan kaumnya sendiri yang pembangkang. Nabi Musa pun diberikan mukjizat dari Allah ketika harus berhadapan dengan Raja Fir’aun yang ingin membunuhnya. Saat melawan Firaun, Nabi Musa melemparkan tongkatnya kepada Raja Firaun dan seketika ular itu menjadi seekor ular besar. Ia pun diberikan mukjizat oleh Allah dengan mampu membelah lautan ketika dikejar oleh pasukan Raja Firaun yang memburunya. 

    •Nabi Isa AS
    Ketika dilahirkan oleh Maryam, Nabi Isa dan Maryam harus mendapatkan fitnah luar biasa karena terlahir tanpa Ayah. Padahal, Allah SWT yang mengkehendaki Maryam mengandung Isa dalam keadaan masih suci. Nabi Isa juga terkenal tabah saat menghadapi kaumnya yang durhaka dan pembangkang. 
    Atas kehendak Allah, diturunkanlah mukjizat kepada Nabi Isa melalui kitab Injil. Nabi Isa juga diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat menyembuhkan orang sakit, buta, bahkan menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal dunia. 

    •Nabi Muhammad SAW
    Kemudian, ada Nabi dan Rasul terakhir Allah yakni Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad yang sejak kecil sudah dibersihkan hatinya oleh Allah SWT selalu mendapatkan siksaan dan ujian berat karena kaum kafir yang pembangkang dan ingkar kepada Allah. Namun, keteguhan hati dan ketabahan luar biasanyalah yang membuat Nabi Muhammad diberi gelar Ulul Azmi. 
    Oleh Allah, Nabi Muhammad juga diberi beberapa mukjizat luar biasa. Dari mampu membelah bulan, mampu mengeluarkan air dari sela-sela jari tangan, serta diturunkannya kitab suci Alquran kepada dirinya.

    4.Tulislah nilai karakter yang harus dijadikan akhlak dalam kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Nuh As
    :Nabi Ibrahim AS
    •Tetap bersabar dan berusaha menyebarkan hal yang baik dengan cara yang tepat
    •Mengasah kemampuan untuk berpikir kritis, sehingga tidak mudah mengikuti hal yang tidak benar
    •Berusahalah untuk berprasangka baik kepada perintah dan takdir Allah SWT
    •Tidak lupa untuk berbagi rezeki kepada sesama, terutama bagi yang membutuhkan

    Nabi Nuh AS
    •Sabar. Nabi Nuh a.s. termasuk dalam rasul ulul azmi artinya rasul dengan kesabaran yang luar biasa. Sebab, hal ini telah dibuktikan dengan sabarnya beliau dalam berdakwah selama 950 tahun walaupun hanya mendapat sedikit pengikut. Juga beliau sangat sabar walau terus diolok oleh kaum kafir saat berdakwah.
    •Memiliki wawasan yang luas. Nabi Nuh a.s. memiliki wawasan yang luas, sehingga bisa membangun sebuah kapal yang besar dan dapat mengangkut banyak muatan padahal saat itu belum ada teknologi modern seperti saat ini.
    •Saleh. Nabi Nuh a.s. adalah seorang nabi yang sangat saleh dan taat beribadah dan berdoa selalu kepada Allah Swt.
    •Adil. Nabi Nuh a.s. dicintai ummatnya, karena beliau merupakan seorang pemimpin ummat yang adil dalam membeirkan penyelesaian atas segala urusan atau permasalahan yang dihadapkan dalam kehidupan ummatnya.
    •Bijaksana. Nabi Nuh a.s. selalu bersikap bijaksana dalam memberikan sebuah pengajaran atau arahan pada para pengikutnya, agar mereka semakin memahami jalan kebenaran dan ketauhidan.
    •Ramah. Nabi Nuh a.s. selain sangat sabar juga sangat ramah dalam menyampaikan segala ajaran kepada kaum kafir agar mereka dapat berubah mengikuti ajaran Nabi Nuh a.s.
    •Amanah. Nabi Nuh a.s. sebagai seorang nabi selalu amanah dalam menjalankan tugasnya untuk terus menyampaikan wahyu Allah Swt kepada ummatnya, tanpa merasakan halangan dan selalu ikhlas dalam menyampaikan wahyu-Nya.
    •Tidak sombong. Nabi Nuh a.s. dikarunai berbagai macam ilmu oleh Allah Swt. namun tidak pernah timbul rasa sombong dalam dirinya. Sebab, Nabi Nuh a.s. adalah orang yang selalu menginstropeksi diri dengan melihat kekurangan yang ada pada diri Beliau sehingga beliau selalu mengingat semua itu hanyalah milik Allah Swt.

    5.Apa hikmah beriman kepada malaikat, dan tulislah 10 malaikat beserta dengan tugas-tugasnya
    :Hikmah beriman kepada malaikat
    •Merupakan bentuk dari taqwa kita kepada Allah SWT
    •Memperkuat rasa keimanan kita terhadap Allah SWT
    •Semakin takjub akan kebesaran Allah SWT
    •Merasa diawasi sehingga berpikir dulu sebelum berbuat.
    •Semangat dalam berbuat kebaikan karena ada malaikat yang mencatat.
    •Tidak menjadi takabur dengan amal sholeh.
    •Menghindari keinginan untuk berbuat dosa dan maksiat.
    •Menumbuhkan rasa pengagungan kita kepada Allah SWT
    •Membuat kita sadar akan adanya alam ghaib yang kita tidak tahu.
    •Menjadi semakin yakin akan pertolongan dari Allah Ta’ala

    10 Malaikat beserta tugasnya
    : •Malaikat Jibril
    Nama lainnya adalah Ar-Ruhul-Amin atau Jibril atau Ar-Ruhul-Qudus. Tugasnya menyampaikan wahyu Allah SWT kepada Nabi dan Rasul-Nya.
    •Malaikat Mikail
    Bertugas membawa rezeki kepada semua makhluk, termasuk manusia.
    •Malaikat Israfil
    Memiliki tanggung jawab untuk meniup terompet sangkakala di saat hari kiamat. Seketika semua mahluk di bumi akan mati saat mendengar tiupan sangkakalanya.
    •Malaikat Izrail
    Bertanggung jawab mencabut nyawa dari tubuh makhluk.
    •Malikat Munkar
    Bertugas menanyai dan melaksanakan perintah pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam kubur.
    •Malaikat Nakir
    Bertugas menanyai dan memeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur bersama malaikat Munkar.
    •Malaikat Raqib
    Memiliki tanggung jawab untuk mencatat segala perbuatan amal baik manusia saat hidup.
    •Malaikat Atid
    Sedangkan yang mendampingi malaikat Raqib, memiliki tugas untuk mencatat segala perbuatan buruk atau jahat manusia ketika masih hidup.
    •Malaikat Malik
    Memiliki nama lain, Zabaniyah. Tugasnya ialah menjaga pintu neraka.
    •Malaikat Ridwan
    Terakhir ada malaikat Ridwan, yang berwenang untuk menjaga pintu surga.

    6.Jelaskan tugas dan kewajiban seorang terhadap orang tua, teman, guru dan alam sekitar
    :Tugas dan kewajiban seorang terhadap orang tua
    •taat kepada orang tua
    •segera datang ketika dipanggil orang tua
    •membantu orang tua
    •menafkahi orang tua jika sudah waktunya (dan mampu)
    •berbicara dengan santun dan lembut

    Tugas dan kewajiban seorang terhadap teman
    •menolong teman yang sedang kesulitan
    •tidak berlaku kasar kepada teman
    •tidak mengucilkan teman
    •hidup rukun antar teman
    •menjaga perasaan teman

    Tugas dan kewajiban seorang terhadap guru
    •mengerjakan tugas
    •menghormati guru
    •mendengarkan nasihat guru
    •patuh terhadap guru
    •tidak berisik saat guru mengajar

    Tugas dan kewajiban seorang terhadap alam sekitar
    •melestarikan lingkungan
    •menjaga alam
    •tidak menebang pohon sembarangan
    •melakukan reboisasi
    •memelihara fasilitas umum

    7.Tuliskan ayat tentang Aqidah beserta artinya
    : Surat Al-Jumu’ah Ayat 2
    ‎هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8.Tauhid terbagi atas 3, yaitu Tauhid rububiyyah, Tauhid uluhiyyah dan Tauhid asma’ wa sifat
    :•Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu Allah itu satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pengatur Jagat Raya (Al-Mudabbir), Yang Maha Merajai (Al-Malik), dan Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).

    •Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba, yaitu kita selaku hamba hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh satu pun ibadah diserahkan kepada selain Allah. Ibadah seperti berdoa, thawaf, menyembelih kurban, bernadzar hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.

    •Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Beriman dalam hal nama dan sifat ini tanpa melakukan

    9.Tulislah ayat tentang sabar, taat dan ikhlas beserta artinya
    :•Ayat tentang Sabar
    Al-Imran Ayat 125
    ‎بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ
    Artinya: “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”

    •Ayat tentang Ikhlas
    Al-A’raf Ayat 29
    ‎قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
    Artinya: “Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”

    •Ayat tentang taat
    An-Nisa Ayat 59
    ‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ – ٥٩
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

    10.Apa saja yang termasuk syirik kepada Allah, jelaskan
    :•Syirik akbar adalah menjadikan selain daripada Allah SWT sebagai tujuan dalam beribadah, misalnya memohon dan bernadzar sesuatu kepada selain Allah, takut kepada kuburan, jin, atau setan serta percaya bahwa semua itu bisa memberi bahaya.

    •Syirik Ashghar. Syirik Ashgar adalah syirik yang dihasilkan dari perbuatan maupun ucapan yang dinyatakan sebagai perbuatan syirik oleh syara’, namun tidak sampai menyebabkan keluar daripada agama Islam.

  14. 1. Kandungan alquran :
    – Akidah dan tauhid
    – Ibadah
    – Akhlak
    – Hukum
    – Sejarah atau kisah umat masa lalu
    – Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Fungsi Al-Qur’an :
    Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia secara umum, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Fungsi Al-Qur’an sebagai pemisah adalah Al-Qur’an dapat memisahkan antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah.
    Nama lain alquran :
    Nama lain Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran.

    ‎2. وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ

    Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman: 18)

    ‎يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12).

    3. 1. Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang.
    2. Kisah Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala.
    3.Nabi Musa Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Nuh berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular.
    4. Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia.
    5.Nabi Muhammad Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua.

    4.•Selalu sabat dan taat
    •Selalu mengingat Allah
    •Tidak mudah marah
    •Sangat patuh terhadap perintas Allah
    •Selalu berdoa meminta petunjuk dari Allah

    5. hikmah :
    1. Meniru sifat malaikat yang taat
    2. Selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari dosa
    3. Mempercayai ada kehidupan setelah di dunia
    4. Mempercayai rezeki dari Allah SWT
    5. Menyempurnakan iman kepada Allah SWT
    nama-nama malaikat dan tugasnya:
    1. Malaikat Jibril
    Tugas Malaikat Jibrill menyampaikan wahyu dari Allah SWT kepada Nabi dan rasul
    2. Malaikat Mikail
    Tugas Malaikat Mikail mengatur pembagian rezeki kepada makhluk Allah, seperti mengirim hujan dan memberi kehidupan pada tumbuh-tumbuhan
    3. Malaikat Israfil
    Tugas Malaikat Israfil adalah meniup terompet sangkakala pada saat datangnya hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail
    Tugas Malaikat Izrail mencabut nyawa manusia apabila sudah tiba ajalnya.
    5. Malaikat Munkar
    Tugas Malaikat Munkar menanyakan manusia di alam barzah (alam kubur).
    6. Malaikat Nakir
    Tugas Malaikat Nakir sama dengan malaikat Munkar, yakni menanyai manusia dalam alam barzah.
    Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur akan bertanya perihal tuhan, agama, nabi, kitab suci, kiblat dalam ibadah, saudara, pedoman hidup, jalan hidup, dan perilaku sehari-hari dengan bahasa yang digunakan ahli kubur ketika hidup di dunia.
    7. Malaikat Raqib
    Tugas Malaikat Raqib mencatat amal dan perbuatan baik manusia.
    8. Malaikat Atid
    Tugas Malaikat Atid mencatat setiap amal dan perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik
    Tugas Malaikat Malik adalah menjaga pintu neraka. Ia bersifat keras dan tidak mempunyai rasa belas kasihan kepada penghuni neraka.
    10. Malaikat Ridwan
    Tugas Malaikat Ridwan menjaga dan mengawasi pintu surga. Malaikat Ridwan juga bertugas menyambut semua hamba Allah yang akan masuk ke dalamnya.

    6. Kewajiban Terhadap orang tua :
    •Menghormati dan mendoakan orang tua
    •Menjaga nama baik keluarga/orang tua
    •Membantu mengerjakan pekerjaan rumah

    Kewajiban Terhadap Teman :
    •Menghormati teman
    •Saling membantu satu sama lain
    •Hidup rukun antar teman

    Kewajiban Terhadap guru :
    •Menghormati guru
    •Mengerjakan tugas yang diberikan
    •mendoakan yang terbaik untuknya

    Kewajiban terhadap alam sekitar :
    •Tidak membuang sampah sembarangan
    •Merawat dan melestarikan alam sekitar
    •Menghemat pemakaian energi

    ‎7. هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu Allah itu satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pengatur Jagat Raya (Al-Mudabbir), Yang Maha Merajai (Al-Malik), dan Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).
    Kedua: Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba, yaitu kita selaku hamba hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh satu pun ibadah diserahkan kepada selain Allah. Ibadah seperti berdoa, thawaf, menyembelih kurban, bernadzar hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.
    Ketiga: Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Beriman dalam hal nama dan sifat ini tanpa melakukan

    9. (sabar)
    Sabar merupakan bentuk ketaatan (Q.S Shad: 17)

    ‎ٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَٱذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُۥدَ ذَا ٱلْأَيْدِ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ

    Artinya: “Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).” (Q.S Shad: 17).

    (ikhlas)
    ‎إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُوا۟ وَأَصْلَحُوا۟ وَٱعْتَصَمُوا۟ بِٱللَّهِ وَأَخْلَصُوا۟ دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

    Bacaan latinnya: “Illallażīna tābụ wa aṣlaḥụ wa’taṣamụ billāhi wa akhlaṣụ dīnahum lillāhi fa ulā`ika ma’al-mu`minīn, wa saufa yu`tillāhul-mu`minīna ajran ‘aẓīmā”

    Artinya: “Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada [agama] Allah dan tulus ikhlas [mengerjakan] agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.”

    (taat)

    1. Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ Ayat 59
    ‎يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    yaaa ayyuhallaziina aamanuuu athii’ulloha wa athii’ur-rosuula wa ulil-amri mingkum, fa ing tanaaza’tum fii syai-ing fa rudduuhu ilallohi war-rosuuli ing kungtum tu-minuuna billaahi wal-yaumil-aakhir, zaalika khoiruw wa ahsanu ta-wiilaa.
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  15. 1. Berikut isi kandungan Al Quran:
    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  16. Ade salma
    XII IPS

    1. • Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    • Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    • Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    2. • Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    • Durhaka kepada kedua orang tua.
    •Jika diberikan amanah dia berkhianat.

    3. • Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    • Kisah Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    • nabi Musa
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Musa berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    • Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    •Nabi Muhammad
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak memercayai bahwa Muhammad SAW merupakan salah seorang nabi utusan Allah SWT.

    4. mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    5. Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.

    6. • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8. • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah

    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9. • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:

    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  17. Hassya Andhara Aflaha Furqani
    XII. IPA

    1. Al Quran adalah kitab suci yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia yang beriman dan bertakwa dalam hidup dan kehidupannya. Al Quranlah diambil segala pokok syariat dan dalil-dalil syar’i yang mencakup seluruh aspek hukum bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia atau di akhirat. Menurut istilah, pengertian Al Quran adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

    2. Ghibah, senantiasa menyebarkan aib orang lain atau bahkan hal hal baik dari orang lain namun orang tersebut tidak ridha. Hasad, adalah penyakit hati berupa iri dan dengki.

    3. 1. Nabi Muhammad SAW
    Mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Selain itu Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran. Al-Quran dijadikan pedoman hidup manusia di dunia.

    2. Nabi Isa AS
    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.
    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.
    ‎قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠
    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    3. Nabi Musa AS
    Mukjizat Nabi Musa AS adalah tongkat yang dapat berubah menjadi ular. Tongkat Nabi Musa dapat membelah Laut Merah sehingga dapat diseberangi.

    4. Nabi Ibrahim AS
    Mukjizat Nabi Ibrahim AS adalah tidak hangus terbakar api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrub. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    5. Nabi Nuh AS
    Nabi Nuh AS adalah rasul ulul azmi mendapat mukjizat yakni membuat perahu besar. Perintah membuat perahu besar itu dari Allah SWT.
    Perahu Nabi Nuh dapat dinaiki makhluk beriman dan menyelamatkan dari banjir besar.

    4. •Selalu sabat dan taat
    •Selalu mengingat Allah
    •Tidak mudah marah
    •Sangat patuh terhadap perintas Allah
    •Selalu berdoa meminta petunjuk dari Allah.

    5. • Meniru sifat malaikat yang taat beribadah kepada Allah SWT.
    • Selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari dosa.
    • Mempercayai ada kehidupan setelah di dunia. Mempercayai rezeki dari Allah SWT
    .• Menyempurnakan iman kepada Allah SWT. Nama – nama malaikat dan tugasnya
    1. Malaikat Jibril
    Bertugas menyampaikan wahyu Allah SWT dan meniupkan roh ke dalam janin
    2. Malaikat Mikail
    Malaikat Mikail bertugas memberi rezeki kepada mahluk hidup. Selain itu, malaikat Mikail bertugas mengatur panas, hujan, dan tanaman yang ada di bumi.
    3. Malaikat Israfil
    Malaikat Israfil ditugaskan untuk meniup terompet sangkakala di hari kiamat dan hari kebangkitan.
    4. Malaikat Izrail
    Malaikat Izrail memiliki tugas untuk mencabut nyawa mahluk hidup.
    5. Malaikat Raqib
    Mencatat semua amal baik manusia selama hidup.
    6. Malaikat Atid
    Mencatat semua amal buruk manusia semasa hidup.
    7. Malaikat Munkar
    Menanyakan manusia di dalam kubur tentang keburukan-keburukan yang dilakukan semasa hidup.
    8. Malaikat Nakir
    Menanyai manusia di dalam kubur tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan semasa hidup.
    9. Malaikat Malik
    Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka.
    10. Malaikat Ridwan
    Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu surga.

    6. Kepada Orang Tua
    • Bersikap dan berbuat baik kepada orang tua baik perilaku maupun perkataan
    • Mendo’akan orang tua
    • Berkata sopan santun kepada orang tua
    • Mendengarkan nasehat baik orang tua

    Kepada Guru
    • Tidak menghina dan selalu memuliakan guru
    • Mendengarkan guru ketika guru sedang menjelaskan pelajaran
    • Mengucapkan salam dan mencium tangan guru ketika bertemu
    • Mengerjakan tugas yang di berikan guru

    Kepada Teman
    • Menolong teman yang sedang kesulitan.
    • Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    • Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    • Tidak mengucilkan teman.

    Kepada Alam Sekitar
    • Menjaga Lingkungan.
    • Melestarikan lingkungan
    • Memelihara fasilitas umum
    • Mengurangi penggunaan plastik
    • Menggunakan sumber daya dengan bijak

    7.Ayat tentang Aqidah
    ‎هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

    8. • Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu Allah itu satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pengatur Jagat Raya (Al-Mudabbir), Yang Maha Merajai (Al-Malik), dan Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).

    • Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba, yaitu kita selaku hamba hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh satu pun ibadah diserahkan kepada selain Allah. Ibadah seperti berdoa, thawaf, menyembelih kurban, bernadzar hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.
    • Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Beriman dalam hal nama dan sifat ini tanpa melakukan

    9.Ayat tentang Sabar
    Al-Imran Ayat 125
    ‎بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ
    “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”

    Ayat tentang Ikhlas
    Al-A’raf Ayat 29
    ‎قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
    “Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”

    Ayat tentang taat
    An-Nisa Ayat 59
    ‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ – ٥٩
    “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

    10. • Syirik akbar adalah menjadikan selain daripada Allah SWT sebagai tujuan dalam beribadah, misalnya memohon dan bernadzar sesuatu kepada selain Allah, takut kepada kuburan, jin, atau setan serta percaya bahwa semua itu bisa memberi bahaya.
    • Syirik Ashghar. Syirik Ashgar adalah syirik yang dihasilkan dari perbuatan maupun ucapan yang dinyatakan sebagai perbuatan syirik oleh syara’, namun tidak sampai menyebabkan keluar daripada agama Islam.

  18. Nama : Cantika Aulia Iskandar
    Kelas : XII-IPS
    Jawaban !
    1. Berikut isi kandungan Al Quran:
    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  19. Nama: NURULLAILIL G SY
    Kelas : XII.IPS
    1. Berikut isi kandungan Al Quran:

    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  20. SRI REJEKY JAYA ASTUTI
    XII.IPA

    1. Berikut isi kandungan Al Quran:
    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  21. 1.) • Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    • Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    • Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    2.) • Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    • Durhaka kepada kedua orang tua.
    •Jika diberikan amanah dia berkhianat.
    3.) • Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    • Kisah Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    • nabi Musa
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Musa berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    • Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    •Nabi Muhammad
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak memercayai bahwa Muhammad SAW merupakan salah seorang nabi utusan Allah SWT.
    4.) mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.
    5.) Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.
    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  22. XII.IPA
    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Al Basha’ir yang memiliki arti pedoman juga merupakan nama lain Al Quran. Nama lain Al Quran selanjutnya yakni Al Balagh yang berarti kabar sempurna. Al Qaul yang berarti perkataan juga nama lain Al Quran. Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut turut perkataan ini kepada mereka agar mendapat pelajaran.

    2. Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    Durhaka kepada kedua orang tua.
    Jika diberikan amanah dia berkhianat.
    Jika berjanji selalu tidak ditepati.
    Jika berkata senantiasa berdusta.
    Tidak memiliki rasa malu sedikit pun.
    Sombong atau angkuh dihadapan orang lain.
    Iri terhadap kesenangan orang lain.
    Hasad apabila orang lain mendapatkan kesenangan.
    Berburuk sangka terhadap orang lain.

    3. Nabi Nuh A.S = kapal besar, pembuatan bahtera besar.
    Nabi Musa A.S = tongkatnya bisa berubah menjadi ular, membelah lautan.
    Nabi Ibrahim A.S = Tidak terbakar oleh api.
    Nabi Isa A.S = menghidupkan orang yang telah meninggal, berbicara ketika masih bayi, menyembuhkan sakit kusta.

    4. •Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang
    • Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.
    NABI NUH
    Memaafkan Sesama, Selalu Mendoakan, Tidak Berlaku Sombong.

    5. Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    Malaikat Jibril
    Bertugas menyampaikan wahyu Allah SWT dan meniupkan roh ke dalam janin. Tugas tersebut termaktub dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 102.

    قُلْ نَزَّلَهٗ رُوْحُ الْقُدُسِ مِنْ رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ

    
    Artinya: “Katakanlah, Rohulkudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan kebenaran, untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An Nahl: 102).

    2. Malaikat Mikail
    Malaikat Mikail bertugas memberi rezeki kepada mahluk hidup. Selain itu, malaikat Mikail bertugas mengatur panas, hujan, dan tanaman yang ada di bumi.

    3. Malaikat Israfil
    Malaikat Israfil ditugaskan untuk meniup terompet sangkakala di hari kiamat dan hari kebangkitan. Dalam Al-Quran surat Az-Zumar ayat 68 disebutkan:

    وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ

    Artinya: “Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah).” (QS. Az Zumar: 68).

    4. Malaikat Izrail
    Malaikat Izrail memiliki tugas untuk mencabut nyawa mahluk hidup. Tugas ini tertuang dalam Al-Quran surat As-Sajdah ayat 11, yang berbunyi:

    قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

    Artinya: “Katakanlah, malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu akan dikembalikan.” (QS. As Sajdah: 11).

    5. Malaikat Raqib
    Mencatat semua amal baik manusia selama hidup.

    6. Malaikat Atid
    Mencatat semua amal buruk manusia semasa hidup.

    Tugas malaikat Raqib dan Atid ini dijelaskan dalam Al-Quran surat Al Qaf ayat 17-18.

    اِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيٰنِ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ

    Artinya: “(Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.” (QS. Qaf: 17).

    7. Malaikat Munkar
    Menanyakan manusia di dalam kubur tentang keburukan-keburukan yang dilakukan semasa hidup.

    8. Malaikat Nakir
    Menanyai manusia di dalam kubur tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan semasa hidup.

    9. Malaikat Malik
    Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka. Tanggung jawab ini tertuang dalam Al Quran surat Az Zukhruf ayat 77 yang berbunyi:

    وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ ۖ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ

    Artinya: “Dan mereka berseru, “Wahai (Malaikat) Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.” Dia menjawab, “Sungguh, kamu akantetap tinggal (di neraka ini).” (QS. Az Zukhruf: 77).

    10. Malaikat Ridwan
    Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu surga.

    6. trhdp guru
    Wajib menghormati guru dan staf pendidik
    Artinya siswa harus berperilaku serta berkata yang baik kepada guru serta staf pendidik. Selain itu, siswa juga harus menghormati teman, kakak kelas, dan adik kelas.
    Wajib menjaga kebersihan serta ketertiban di sekolah
    Siswa wajib menjaga agar lingkungan sekolah tetap bersih, dengan membuang sampah pada tempatnya dan hal lainnya.
    Wajib menaati peraturan yang berlaku di area sekolah
    Agar keamanan serta ketertiban di area sekolah tetap terjaga, siswa wajib menaati peraturan yang berlaku.
    Wajib mengerjakan dan mengumpulkan tugas tepat pada waktunya
    Kewajiban sebagai siswa di bidang pendidikan adalah mengerjakan serta mengumpulkan tugas tepat pada waktunya. Selain agar untuk mendapatkan nilai yang baik, hal ini juga melatih siswa untuk disiplin.
    Wajib menolong teman, guru atau staf pendidik
    Tolong menolong tentunya juga menjadi kewajiban bagi siswa di sekolah. Selain itu, hal ini juga dapat menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai.
    Wajib memenuhi standar pendidikan
    Siswa wajib mencapai standar nilai yang telah ditetapkan. Jika tidak memenuhi ini, siswa terancam tinggal kelas atau bahkan dikembalikan ke orangtua.
    ke kluarga
    Menjaga nama baik keluarga
    Memelihara kebersihan, kenyamanan, keamanan dalam keluarga
    Memathui aturan yang ditetapkan bersama
    Bertingkah laku sesuai norma dan aturan yang berlaku dalam keluarga
    Menjaga keharmonisan keluarga dengan saling menyayangi, menghormati, dan menghargai.
    ke alam:
    Tidak Membuang Sampah di Sungai.
    Tidak membakar sampah.
    Menghemat Energi.
    Menggunakan Produk Daur Ulang.
    Menanam Pohon
    Melarang Perburuan Liar
    ke teman:
    Jadilah pendengar yang baik.
    Jangan bersikap egois.
    Selalu ada disaat penting.
    Menjaga kepercayaan.
    Saling jujur.
    Jangan pernah menghakimi teman. …
    Jangan pernah mengungkit kebaikan dirimu di depan temanmu.

    7. هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.
    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.
    Tauhid Asma’ was Shifat merupakan bagian dari mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam akidah Islam. Tauhid ini merupakan bentuk penerapan pengesaan dari makhluk terhadap Allah mengenai nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, yang mana nama-nama dan sifat-sifat ini telah diatributkan oleh-Nya sendiri.

    9. SABAR
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Q.S Al-Baqarah: 153).
    TAAT
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    IKHLAS
    هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Artinya: “Dialah yang Maha Hidup, tidak ada tuhan selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  23. Husniyah hazimah amin
    XII IPA

    1. 1.Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi

    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.

    2.Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    Durhaka kepada kedua orang tua.

    3.- Nabi Nuh A.S = kapal besar, pembuatan bahtera besar
    -Nabi Musa A.S = tongkatnya bisa berubah menjadi ular, membelah lautan
    -Nabi Ibrahim A.S = Tidak terbakar oleh api
    -Nabi Isa A.S = menghidupkan orang yang telah meninggal, berbicara ketika masih bayi, menyembuhkan sakit kusta
    -Nabi Muhammad SAW = Al-Quran, membelah bulan jadi 2

    4.Perilaku yang patut di contoh
    Selalu sabar
    Selalu meningat Allah
    tidak mudah marah
    Sangat patuh atas perintah Allah
    Selalu berdoa meminta petunjuk dari Allah

    5. -Meniru sifat malaikat yang taat beribadah
    kepada Allah SWT. …
    -Selalu melakukan perbuatan baik dan
    menghindari dosa. …
    -Mempercayai ada kehidupan setelah di
    dunia
    -Mempercayai rezeki dari Allah SWT
    -Menyempurnakan iman kepada Allah SWT.
    Malaikat Jibril bertugas menyampaikan
    wahyu Allah kepada para nabi dan rosul.
    Malaikat Jibril adalah penghubung antara
    Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.

    – Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki
    kepada manusia.
    – Malaikat Israfil bertugas meniup terompet
    sangkakala pada hari kiamat.
    -Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    -Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    -Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    -Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    -Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    -Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    -Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.

    6. – Memelihara kebersihan, kenyamanan,
    keamanan dalam keluarga.
    – menghargai dan mengerjakan tugas yg
    diberikan
    -berperilaku baik kepada teman
    – tidak membuang sampah sembarangan dan
    memelihara kelestariannya

    7.هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ Arab-Latin: huwallażī ba’aṡa fil-ummiyyīna rasụlam min-hum yatl ‘alaihim āyātihī wa yuzakkīhim yu’allimuhumul-kitāba wal-ḥikmata wa ing kānụ ming qablu lafī ḍalālim mubīn Artinya: Dialah yan mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul
    di antara mereka, yang membaca ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

    8.Kemudian tauhid asma wa sifat terkait dengan nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifat Allah yang maha sempurna, tidak memiliki cacat dan kekurangan sedikit pun. Tauhid uluhiyah terkait dengan bagaimana kita mengesakan Allah subhanahu wata’ala dalam ibadah, hanya Dia yang berhak untuk diibadahi.

    9.”Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR. al Bukhari No 1469).

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  24. Nama: Khaula Aisyah Fadilla
    Kelas : XII(IPA)
    1)Kandungan alquran :
    – Akidah dan tauhid
    – Ibadah
    – Akhlak
    – Hukum
    – Sejarah atau kisah umat masa lalu
    – Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Fungsi Al-Qur’an :
    Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia secara umum, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Fungsi Al-Qur’an sebagai pemisah adalah Al-Qur’an dapat memisahkan antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah.
    Nama lain alquran :
    Nama lain Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran.
    2)~وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ

    Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman: 18)
    ~يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12).
    3)1. Nabi Muhammad SAW
    Mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Selain itu Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran.

    Al Quran dijadikan pedoman hidup manusia di dunia.
    2. Nabi Isa AS
    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.
    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.
    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠
    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).
    3. Nabi Musa AS
    Mukjizat Nabi Musa AS adalah tongkat yang dapat berubah menjadi ular. Tongkat Nabi Musa dapat membelah Laut Merah sehingga dapat diseberangi.
    4. Nabi Ibrahim AS
    Mukjizat Nabi Ibrahim AS adalah tidak hangus terbakar api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrub.
    Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.
    5. Nabi Nuh AS
    Nabi Nuh AS adalah rasul ulul azmi mendapat mukjizat yakni membuat perahu besar. Perintah membuat perahu besar itu dari Allah SWT.
    Perahu Nabi Nuh dapat dinaiki makhluk beriman dan menyelamatkan dari banjir besar)
    4) kisah nabi ibrahim :
    ketaatan dan kepatuhan, kesabaran, berani dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, kejujuran, kegigihan dan kerja keras, tawakal, dan selalu berdoa kepada yang Maha Kuasa.
    kisah nabi Nuh As :
    Religius , jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, bersahabat/komunikasi, cinta damai, peduli sosial, tanggung jawab.

    5) Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    Nama malaikat beserta tugasnya :
    1. Malaikat Jibril : menyampaikan wahyu Allah swt dan meniupkan roh janin
    2. Malaikat mikail : Malaikat Mikail bertugas memberi rezeki kepada mahluk hidup, mengatur panas, hujan, dan tanaman yang ada di bumi.
    3. Malaikat Israfil : meniup terompet sangkakala di hari kiamat dan hari kebangkitan.
    4. Malaikat Izrail : mencabut nyawa mahluk hidup.
    5. Malaikat Raqib : Mencatat semua amal baik manusia selama hidup.
    6. Malaikat Atid : Mencatat semua amal buruk manusia semasa hidup.
    7. Malaikat Munkar : Menanyakan manusia di dalam kubur tentang keburukan-keburukan yang dilakukan semasa hidup.
    8. Malaikat Nakir : Menanyai manusia di dalam kubur tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan semasa hidup.
    9. Malaikat Malik : menjaga pintu neraka.
    10. Malaikat Ridwan : menjaga pintu surga
    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  25. 1.) • Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    • Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    • Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    2.) • Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    • Durhaka kepada kedua orang tua.
    •Jika diberikan amanah dia berkhianat.
    3.) • Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    • Kisah Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    • nabi Musa
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Musa berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    • Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    •Nabi Muhammad
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak memercayai bahwa Muhammad SAW merupakan salah seorang nabi utusan Allah SWT.
    4.) mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.
    5.) Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.
    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  26. Khairunnisa Isra Magfirah
    XII.IPA

    1. Al Quran adalah kitab suci yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia yang beriman dan bertakwa dalam hidup dan kehidupannya. Al Quranlah diambil segala pokok syariat dan dalil-dalil syar’i yang mencakup seluruh aspek hukum bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia atau di akhirat. Menurut istilah, pengertian Al Quran adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

    2. • Sombong
    وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ
    Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman: 18)
    • Berprasangka buruk
    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12).

    3. 1. Nabi Muhammad SAW
    mukjizat besar yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.
    2. Nabi Ibrahim AS
    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.
    3. Nabi Nuh AS
    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    4. Nabi Isa AS
    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    5. Nabi Musa AS
    Mukjizat bagi Nabi Musa AS adalah tongkat yang dapat berubah menjadi ular. Tongkat Nabi Musa dapat membelah Laut Merah sehingga dapat diseberangi.
    Saat itu, tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular ketika menghadapi tukang sihir Raja Fir’aun dan saat dikejar-kejar oleh Raja Fir’aun beserta bala tentaranya.

    4. •Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    • Nabi Nuh berdakwah sebagai ajakan untuk kembali ke jalur kebenaran terus dilakukan. Akan tetapi, tidak banyak umat Nabi Nuh AS yang luluh hati dan mau diajak untuk menyembah hanya kepada Allah SWT.
    Bahkan, di antara mereka justru ada yang tidak mengakui bahwa Nabi Nuh AS merupakan utusan dari Sang Maha Pencipta.

    5. . Meniru sifat malaikat berarti kita :
    – Patuh terhadap perintah Allah swt.
    – Senantiasa beribadah kpd Allah Swt.
    – Mematuhi segala larangan Allah swt.
    – Mempercayai rezeki dari Allah swt.

    Nama – nama malaikat dan tugasnya :
    1. Malaikat Jibril : Menyampaikan wahyu.
    2. Malaikat Mikail : Memberikan rezeki kpd makhluk Allah swt.
    3. Malaikat Israfil : Meniup sangkakala.
    4. Malaikat Izrail : Mencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar : Menanyakan amal buruk di alam kubur.
    6. Malaikat Nankir : Menanyakan amal baik di alam kubur.
    7. Malaikat Raqib : Mencatat amal buruk manusia selama ia hidup.
    8. Malaikat Atid : Mencatat amal baik manusia selama ia hidup.
    9. Malaikat Malik : Menjaga pintu neraka.
    10. Malaikat Ridwan : Menjaga pintu surga.

    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam

    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.

    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”

    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  27. kelas : 12 ipa
    3. – Nabi Muhammad Saw
    – Nabi Isa As
    – Nabi Musa As
    – Nabi Ibrahim As
    – Nabi Nuh As

    2.
    وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ

    مُخۡتَالٖ فَخُورٖ

    Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman: 18)

    5. Meniru sifat malaikat berarti kita :
    – Patuh terhadap perintah Allah swt.
    – Senantiasa beribadah kpd Allah Swt.
    – Mematuhi segala larangan Allah swt.
    – Mempercayai rezeki dari Allah swt.
    •Nama – nama malaikat dan tugasnya :
    1. Malaikat Jibril : Menyampaikan wahyu.
    2. Malaikat Mikail : Memberikan rezeki kpd makhluk Allah swt.
    3. Malaikat Israfil : Meniup sangkakala.
    4. Malaikat Izrail : Mencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar : Menanyakan amal buruk di alam kubur.
    6. Malaikat Nankir : Menanyakan amal baik di alam kubur.
    7. Malaikat Raqib : Mencatat amal buruk manusia selama ia hidup.
    8. Malaikat Atid : Mencatat amal baik manusia selama ia hidup.
    9. Malaikat Malik : Menjaga pintu neraka.
    10. Malaikat Ridwan : Menjaga pintu surga.

    1. Al Quran adalah kitab suci yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia yang beriman dan bertakwa dalam hidup dan kehidupannya. Al Quranlah diambil segala pokok syariat dan dalil-dalil syar’i yang mencakup seluruh aspek hukum bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia atau di akhirat. Menurut istilah, pengertian Al Quran adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  28. Uswatunnisa Utami
    XII IPS
    1. Berikut isi kandungan Al Quran:
    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.
    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.
    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.
    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS
    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW
    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.
    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.
    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.
    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.
    2. Nabi Ibrahim AS
    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.
    3. Nabi Nuh AS
    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.
    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.
    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.
    4. Nabi Isa AS
    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.
    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.
    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠
    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).
    meneguhkanny
    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah
    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.
    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)
    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.
    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)
    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)
    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)
    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:
    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)
    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.
    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)
    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.
    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,
    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)
    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.
    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)
    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.
    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.
    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.
    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.
    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.
    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:
    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)
    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.
    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.
    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.
    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)
    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:
    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.
    Sifat Teladan Nabi Nuh
    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:
    1. Memaafkan Sesama
    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.
    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.
    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.
    2. Selalu Mendoakan
    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.
    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.
    3. Tidak Berlaku Sombong
    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.
    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.
    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas
    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.
    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.
    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.
    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan
    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.
    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:
    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ
    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)
    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:
    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ
    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)
    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.
    Ibnu Taimiyah mengatakan:
    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ
    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)
    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:
    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.
    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).
    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.
    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  29. Amalia Nurhaliza kp (XII IPA)
    Jawaban akidah akhlak:
    3.) 1. Nabi Muhammad SAW
    Mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Selain itu Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran.
    Al Quran dijadikan pedoman hidup manusia di dunia.
    2. Nabi Isa AS
    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.
    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.
    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠
    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).
    3. Nabi Musa AS
    Mukjizat Nabi Musa AS adalah tongkat yang dapat berubah menjadi ular. Tongkat Nabi Musa dapat membelah Laut Merah sehingga dapat diseberangi.
    4. Nabi Ibrahim AS
    Mukjizat Nabi Ibrahim AS adalah tidak hangus terbakar api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrub.
    Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.
    5. Nabi Nuh AS
    Nabi Nuh AS adalah rasul ulul azmi mendapat mukjizat yakni membuat perahu besar. Perintah membuat perahu besar itu dari Allah SWT.
    Perahu Nabi Nuh dapat dinaiki makhluk beriman dan menyelamatkan dari banjir besar.
    5.) -Meniru sifat malaikat yang taat beribadah kepada Allah SWT
    -Selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari dosa.
    -Mempercayai ada kehidupan setelah di dunia
    -Mempercayai rezeki dari Allah SWT
    -Menyempurnakan iman kepada Allah SWT
    10 MALIKAT BESERTA TUGASNYA:
    1. Malaikat Mikail, bertugas memberikan rezeki kepada makhluk hidup di bumi
    2. Malaikat Jibril, bertugas menyampaikan wahyu kepada Rasul-Rasul Allah SWT
    3. Malaikat Israfil, bertugas menjaga dan meniup sangkakala pada hari kiamat
    4. Malaikat Izrail, bertugas mencabut nyawa makhluk hidup
    5. Malaikat Munkar, bertugas menanyai orang di dalam kubur yang berbuat keburukan
    6. Malaikat Nakir, bertugas menanyai orang di dalam kubur yang berbuat kebaikan
    7. Malaikat Raqib, bertugas mencatat amal baik manusia selama hidup di dunia
    8.Malaikat Atid, bertugas mencatat amal buruk manusia selama hidup di dunia
    9. Malaikat Malik, bertugas menjaga pintu neraka
    10. Malaikat Ridwan, bertugas menjaga pintu surga
    7.) هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
    8.)* Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta. Sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an yang berbunyi:
    “Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (Az-Zumar 39:62).
    * Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana.” (‘Al ‘Imran 3:18)
    * Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah. Dalam bertauhid kepada asma wa sifat ini jangan dilakukan dengan adanya tahrif (penyelewengan), ta’thil (penolakan) dan takyif (penggambaran), dan tasybih (penyerupaan).
    Umat Islam sendiri, mengenal 99 asma’ul husna yang merupakan nama sekaligus sifat Allah SWT yang wajib diimani. Imam Syafi’i meletakkan kaidah dasar ketika berbicara tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagai berikut:
    “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah dan sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Rasulullah.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.
    2.) 1. وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ
    Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman: 18)
    2. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12)
    1.) 1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    ‎قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    ‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    ‎إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    ‎كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    ‎لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    ‎وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :
    ‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    ‎لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    ‎وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    ‎اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.
    4.) Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.
    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)
    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.
    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)
    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)
    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:
    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)
    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.
    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)
    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,
    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)
    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.
    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)
    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.
    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.
    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.
    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.
    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.
    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:
    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)
    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.
    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.
    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.
    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)
    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:
    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh
    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:
    1. Memaafkan Sesama
    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.
    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.
    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.
    2. Selalu Mendoakan
    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.
    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.
    3. Tidak Berlaku Sombong
    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.
    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    6.) Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.
    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan
    9.) Surat Al Baqarah ayat 153
    ‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

  30. NAMA : NURUL QOLBY
    KELAS : XII-,ipa

    1).•akidah dan tauhid
    •ibadah
    •akhlak
    •hukum
    •sejarah
    •dasar” ilmu pengetahuan sains dan tekhnogi
    AL BASHA’IR(pedoman) merupakan nama lain dari al-qur’an
    Fungsi Al-Qur’an sebagai pemisah adalah Al-Qur’an dapat memisahkan antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah.

    ‎2). •وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ

    “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”
    -(Q.S Luqman : 18)

    ‎يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
    -(Q.S Al-Hujarat:12)

    3).•Nabi Muhammad SAW
    Mukjizat : Al-Qur’an
    •Nabi Isa AS
    Mukjizat : dapat berbicara sejak masih menjadi bayi
    •Nabi Musa AS
    Mukjizat : dapat membelah laut dengan tongkatnya
    •Nabi Ibrahim AS
    Mukjizat : diselamatkan dari kobaran api
    •Nabi Nuh AS
    Mukjizat : diselamatkan dari banjir bandang yang menenggelamkan dunia dengan cara Allah menyuruh nabi Nuh membuat bahtera yang sangat besar.

    4. mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    5. Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.

    6. • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8. • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah

    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9. • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    ‎يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    ‎يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:

    ‎إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  31. 1.) • Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    • Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    • Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    2.) • Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    • Durhaka kepada kedua orang tua.
    •Jika diberikan amanah dia berkhianat.
    3.) • Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    • Kisah Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    • nabi Musa
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Musa berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    • Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    •Nabi Muhammad
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak memercayai bahwa Muhammad SAW merupakan salah seorang nabi utusan Allah SWT.
    4.) mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.
    5.) Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.
    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  32. XII IPA

    1.) • Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    • Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    • Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.

    2.) • Bertutur kata kasar dan tidak sopan
    • Durhaka kepada kedua orang tua.
    •Jika diberikan amanah dia berkhianat.

    3.) • Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    • Kisah Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    • nabi Musa
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Musa berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    • Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    •Nabi Muhammad
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak memercayai bahwa Muhammad SAW merupakan salah seorang nabi utusan Allah SWT
    .
    4.) mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya

    5.) Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.

    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam

    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah

    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar

    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”

    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  33. Afya artati
    XII ipa
    1.Akidah dan Tauhid
    -Ibadah
    -Akhlak
    -Hukum
    -Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    -Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan
    Teknologi
    •Fungsi Al Quran bagi seluruh umat Manusia yakni menjadi hujjah atau bukti yang kuat atas kerasulan Muhammad SAW
    •nama lain alquran adalah kitabullah
    2. • Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    • Durhaka kepada kedua orang tua.
    •Jika diberikan amanah dia berkhianat.
    3. • Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    • Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    • nabi Musa
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Musa berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    • Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    •Nabi Muhammad
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak memercayai bahwa Muhammad SAW merupakan salah seorang nabi utusan Allah SWT.
    4. mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.
    5.Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    •10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.
    6.• terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7. Ayat Tentang Aqidah
    هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8. • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.• sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  34. 1. Berikut isi kandungan Al Quran:

    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  35. Faradilla XII IPA

    1.Apa saja isi kandungan Al-Qur’an berikut fungsi dan nama lain dari Al-Qur’an
    :Kandungan alquran :
    •Akidah dan tauhid
    •Ibadah
    •Akhlak
    •Hukum
    •Sejarah atau kisah umat masa lalu
    •Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi

    Fungsi Al-Qur’an :
    Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia secara umum, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Fungsi Al-Qur’an sebagai pemisah adalah Al-Qur’an dapat memisahkan antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah.

    Nama lain alquran :
    Nama lain Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran.

    2.Tulislah 2 contoh akhlak yang buruk beserta artinya
    : •dengki dan berbohong
    Surat Al-Baqarah Ayat 10
    ‎فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
    Artinya: Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta [AL Baqarah ayat 10]

    •melakukan perbuatan yang dilarang
    Surat Al-Baqarah Ayat 59
    ‎فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
    Artinya: Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik.

    3.Siapa saja Nabi yang termasuk Nabi Ulul Azmi, jelaskan dengan mukjizatnya masing-masing
    :•Nabi Nuh AS
    Nabi dan rasul Allah pertama yang bergelar Ulul Azmi adalah Nabi Nuh. Nabi Nuh memiliki ketabahan yang luar biasa ketika melihat umatnya ingkar terhadap ajaran yang ia sampaikan. Oleh karena itulah, Allah menurunkan azab dengan mendatangkan banjir bandang dan meluluh-lantahkan kaum Nabi Nuh yang ingkar itu. Sedangkan, Nabi Nuh dan pengikut setianya diselamatkan Allah dengan berlindung dalam perahu besar atau bahtera yang sudah Nabi Nuh siapkan. 

    •Nabi Ibrahim AS
    Rasul ulul azmi yang selanjutnya, ada Nabi Ibrahim yang punya ketabahan luar biasa ketika diuji Allah untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail.  Allah pun memberikan mukjizat kepada nabi Ibrahim agar tak bisa terbakar oleh api. Ya, saat itu Nabi Ibrahim dihukum oleh Raja Namrud karena merusak berhala-berhala yang biasa kaumnya sembah. Nabi Ibrahim pun diikat untuk siap dibakar di atas kayu.
    Namun, Allah berkehendak lain. Allah selamatkan Nabi Ibrahim dari api dan menurunkan firman sebagai berikut:
    “Bakarlah dia dan bantulah ilah-ilah kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan itu mereka orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al- Anbiya’ ayat 68-70)

    •Nabi Musa AS
    Nabi Musa adalah salah satu Nabi dengan ujian yang sangat berat, yakni menghadapi Raja Fir’aun yang keji dan kaumnya sendiri yang pembangkang. Nabi Musa pun diberikan mukjizat dari Allah ketika harus berhadapan dengan Raja Fir’aun yang ingin membunuhnya. Saat melawan Firaun, Nabi Musa melemparkan tongkatnya kepada Raja Firaun dan seketika ular itu menjadi seekor ular besar. Ia pun diberikan mukjizat oleh Allah dengan mampu membelah lautan ketika dikejar oleh pasukan Raja Firaun yang memburunya. 

    •Nabi Isa AS
    Ketika dilahirkan oleh Maryam, Nabi Isa dan Maryam harus mendapatkan fitnah luar biasa karena terlahir tanpa Ayah. Padahal, Allah SWT yang mengkehendaki Maryam mengandung Isa dalam keadaan masih suci. Nabi Isa juga terkenal tabah saat menghadapi kaumnya yang durhaka dan pembangkang. 
    Atas kehendak Allah, diturunkanlah mukjizat kepada Nabi Isa melalui kitab Injil. Nabi Isa juga diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat menyembuhkan orang sakit, buta, bahkan menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal dunia. 

    •Nabi Muhammad SAW
    Kemudian, ada Nabi dan Rasul terakhir Allah yakni Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad yang sejak kecil sudah dibersihkan hatinya oleh Allah SWT selalu mendapatkan siksaan dan ujian berat karena kaum kafir yang pembangkang dan ingkar kepada Allah. Namun, keteguhan hati dan ketabahan luar biasanyalah yang membuat Nabi Muhammad diberi gelar Ulul Azmi. 
    Oleh Allah, Nabi Muhammad juga diberi beberapa mukjizat luar biasa. Dari mampu membelah bulan, mampu mengeluarkan air dari sela-sela jari tangan, serta diturunkannya kitab suci Alquran kepada dirinya.

    4.Tulislah nilai karakter yang harus dijadikan akhlak dalam kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Nuh As
    :Nabi Ibrahim AS
    •Tetap bersabar dan berusaha menyebarkan hal yang baik dengan cara yang tepat
    •Mengasah kemampuan untuk berpikir kritis, sehingga tidak mudah mengikuti hal yang tidak benar
    •Berusahalah untuk berprasangka baik kepada perintah dan takdir Allah SWT
    •Tidak lupa untuk berbagi rezeki kepada sesama, terutama bagi yang membutuhkan

    Nabi Nuh AS
    •Sabar. Nabi Nuh a.s. termasuk dalam rasul ulul azmi artinya rasul dengan kesabaran yang luar biasa. Sebab, hal ini telah dibuktikan dengan sabarnya beliau dalam berdakwah selama 950 tahun walaupun hanya mendapat sedikit pengikut. Juga beliau sangat sabar walau terus diolok oleh kaum kafir saat berdakwah.
    •Memiliki wawasan yang luas. Nabi Nuh a.s. memiliki wawasan yang luas, sehingga bisa membangun sebuah kapal yang besar dan dapat mengangkut banyak muatan padahal saat itu belum ada teknologi modern seperti saat ini.
    •Saleh. Nabi Nuh a.s. adalah seorang nabi yang sangat saleh dan taat beribadah dan berdoa selalu kepada Allah Swt.
    •Adil. Nabi Nuh a.s. dicintai ummatnya, karena beliau merupakan seorang pemimpin ummat yang adil dalam membeirkan penyelesaian atas segala urusan atau permasalahan yang dihadapkan dalam kehidupan ummatnya.
    •Bijaksana. Nabi Nuh a.s. selalu bersikap bijaksana dalam memberikan sebuah pengajaran atau arahan pada para pengikutnya, agar mereka semakin memahami jalan kebenaran dan ketauhidan.
    •Ramah. Nabi Nuh a.s. selain sangat sabar juga sangat ramah dalam menyampaikan segala ajaran kepada kaum kafir agar mereka dapat berubah mengikuti ajaran Nabi Nuh a.s.
    •Amanah. Nabi Nuh a.s. sebagai seorang nabi selalu amanah dalam menjalankan tugasnya untuk terus menyampaikan wahyu Allah Swt kepada ummatnya, tanpa merasakan halangan dan selalu ikhlas dalam menyampaikan wahyu-Nya.
    •Tidak sombong. Nabi Nuh a.s. dikarunai berbagai macam ilmu oleh Allah Swt. namun tidak pernah timbul rasa sombong dalam dirinya. Sebab, Nabi Nuh a.s. adalah orang yang selalu menginstropeksi diri dengan melihat kekurangan yang ada pada diri Beliau sehingga beliau selalu mengingat semua itu hanyalah milik Allah Swt.

    5.Apa hikmah beriman kepada malaikat, dan tulislah 10 malaikat beserta dengan tugas-tugasnya
    :Hikmah beriman kepada malaikat
    •Merupakan bentuk dari taqwa kita kepada Allah SWT
    •Memperkuat rasa keimanan kita terhadap Allah SWT
    •Semakin takjub akan kebesaran Allah SWT
    •Merasa diawasi sehingga berpikir dulu sebelum berbuat.
    •Semangat dalam berbuat kebaikan karena ada malaikat yang mencatat.
    •Tidak menjadi takabur dengan amal sholeh.
    •Menghindari keinginan untuk berbuat dosa dan maksiat.
    •Menumbuhkan rasa pengagungan kita kepada Allah SWT
    •Membuat kita sadar akan adanya alam ghaib yang kita tidak tahu.
    •Menjadi semakin yakin akan pertolongan dari Allah Ta’ala

    10 Malaikat beserta tugasnya
    : •Malaikat Jibril
    Nama lainnya adalah Ar-Ruhul-Amin atau Jibril atau Ar-Ruhul-Qudus. Tugasnya menyampaikan wahyu Allah SWT kepada Nabi dan Rasul-Nya.
    •Malaikat Mikail
    Bertugas membawa rezeki kepada semua makhluk, termasuk manusia.
    •Malaikat Israfil
    Memiliki tanggung jawab untuk meniup terompet sangkakala di saat hari kiamat. Seketika semua mahluk di bumi akan mati saat mendengar tiupan sangkakalanya.
    •Malaikat Izrail
    Bertanggung jawab mencabut nyawa dari tubuh makhluk.
    •Malikat Munkar
    Bertugas menanyai dan melaksanakan perintah pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam kubur.
    •Malaikat Nakir
    Bertugas menanyai dan memeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur bersama malaikat Munkar.
    •Malaikat Raqib
    Memiliki tanggung jawab untuk mencatat segala perbuatan amal baik manusia saat hidup.
    •Malaikat Atid
    Sedangkan yang mendampingi malaikat Raqib, memiliki tugas untuk mencatat segala perbuatan buruk atau jahat manusia ketika masih hidup.
    •Malaikat Malik
    Memiliki nama lain, Zabaniyah. Tugasnya ialah menjaga pintu neraka.
    •Malaikat Ridwan
    Terakhir ada malaikat Ridwan, yang berwenang untuk menjaga pintu surga.

    6.Jelaskan tugas dan kewajiban seorang terhadap orang tua, teman, guru dan alam sekitar
    :Tugas dan kewajiban seorang terhadap orang tua
    •taat kepada orang tua
    •segera datang ketika dipanggil orang tua
    •membantu orang tua
    •menafkahi orang tua jika sudah waktunya (dan mampu)
    •berbicara dengan santun dan lembut

    Tugas dan kewajiban seorang terhadap teman
    •menolong teman yang sedang kesulitan
    •tidak berlaku kasar kepada teman
    •tidak mengucilkan teman
    •hidup rukun antar teman
    •menjaga perasaan teman

    Tugas dan kewajiban seorang terhadap guru
    •mengerjakan tugas
    •menghormati guru
    •mendengarkan nasihat guru
    •patuh terhadap guru
    •tidak berisik saat guru mengajar

    Tugas dan kewajiban seorang terhadap alam sekitar
    •melestarikan lingkungan
    •menjaga alam
    •tidak menebang pohon sembarangan
    •melakukan reboisasi
    •memelihara fasilitas umum

    7.Tuliskan ayat tentang Aqidah beserta artinya
    : Surat Al-Jumu’ah Ayat 2
    ‎هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8.Tauhid terbagi atas 3, yaitu Tauhid rububiyyah, Tauhid uluhiyyah dan Tauhid asma’ wa sifat
    :•Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu Allah itu satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pengatur Jagat Raya (Al-Mudabbir), Yang Maha Merajai (Al-Malik), dan Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).

    •Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba, yaitu kita selaku hamba hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh satu pun ibadah diserahkan kepada selain Allah. Ibadah seperti berdoa, thawaf, menyembelih kurban, bernadzar hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.

    •Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Beriman dalam hal nama dan sifat ini tanpa melakukan

    9.Tulislah ayat tentang sabar, taat dan ikhlas beserta artinya
    :•Ayat tentang Sabar
    Al-Imran Ayat 125
    ‎بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ
    Artinya: “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”

    •Ayat tentang Ikhlas
    Al-A’raf Ayat 29
    ‎قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
    Artinya: “Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”

    •Ayat tentang taat
    An-Nisa Ayat 59
    ‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ – ٥٩
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

    10.Apa saja yang termasuk syirik kepada Allah, jelaskan
    :•Syirik akbar adalah menjadikan selain daripada Allah SWT sebagai tujuan dalam beribadah, misalnya memohon dan bernadzar sesuatu kepada selain Allah, takut kepada kuburan, jin, atau setan serta percaya bahwa semua itu bisa memberi bahaya
    •Syirik Ashghar. Syirik Ashgar adalah syirik yang dihasilkan dari perbuatan maupun ucapan yang dinyatakan sebagai perbuatan syirik oleh syara’, namun tidak sampai menyebabkan keluar daripada agama Islam

  36. 1. Al Quran adalah kitab suci yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat dan petunjuk bagi manusia yang beriman dan bertakwa dalam hidup dan kehidupannya. Al Quranlah diambil segala pokok syariat dan dalil-dalil syar’i yang mencakup seluruh aspek hukum bagi manusia dalam menjalani hidup di dunia atau di akhirat. Menurut istilah, pengertian Al Quran adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

    2.
    ‎وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ

    ‎ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ

    Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman: 18)

    3. – Nabi Muhammad Saw
    – Nabi Isa As
    – Nabi Musa As
    – Nabi Ibrahim As
    – Nabi Nuh As

    5. Meniru sifat malaikat berarti kita :
    – Patuh terhadap perintah Allah swt.
    – Senantiasa beribadah kpd Allah Swt.
    – Mematuhi segala larangan Allah swt.
    – Mempercayai rezeki dari Allah swt.
    •Nama – nama malaikat dan tugasnya :
    1. Malaikat Jibril : Menyampaikan wahyu.
    2. Malaikat Mikail : Memberikan rezeki kpd makhluk Allah swt.
    3. Malaikat Israfil : Meniup sangkakala.
    4. Malaikat Izrail : Mencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar : Menanyakan amal buruk di alam kubur.
    6. Malaikat Nankir : Menanyakan amal baik di alam kubur.
    7. Malaikat Raqib : Mencatat amal buruk manusia selama ia hidup.
    8. Malaikat Atid : Mencatat amal baik manusia selama ia hidup.
    9. Malaikat Malik : Menjaga pintu neraka.
    10. Malaikat Ridwan : Menjaga pintu surga.

    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    ‎يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    ‎يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    ‎إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  37. Nur Qalbiyah Afqiah
    XII IPS
    Jawaban
    1. Berikut isi kandungan Al Quran:

    1. Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadits. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih) dalam kehidupannya sehari-hari.
    Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap Muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah Swt. berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT dinamakan musyrik.
    Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah SWT itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja.
    Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasul-Rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada Qadla’ dan Qadar.
    Al Quran banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya Surat Al Ikhlas 1-4:
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
    Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al Ikhlas: 1-4)
    2. Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak. Dalam Al Quran dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt.
    Firman Allah SWT:
    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat [51] : 56).
    Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah SWT. Karena itu, manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah SWT, dan kebutuhan terhadap Allah WT. Hal itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya.
    Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji.
    Sedangkan ibadah ghairu mahdhah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah SWT, misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.
    3. Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya Nabi SAW adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.
    إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
    Rasulullah saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR. Ahmad).
    Nabi Muhammad SAW adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al Quran merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian Nabi SAW. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak Nabi SAW, lalu Aisyah ra menjawab dengan menyatakan akhlan Nabi yakni Al Quran.
    كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
    Akhlak Nabi SAW adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al Quran.
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad SAW antara lain adalah :
    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
    “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah Swt.” (QS. al-Ahzab [33]: 21).
    وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
    “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
    4. Hukum
    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.
    Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.
    Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al Quran banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al Qur an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
    “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Maidah [5]: 90)
    Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al Quran adalah meliputi :
    a. Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 221; QS. al-Maidah [5]: 5; QS.an-Nisa’ [4]: 22-24; QS.an-Nur [24]: 2; QS. alMumtahanah [60]:10-11.
    b. Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisa’ [4]: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah [2]:180; QS. al-Maidah [5]:106
    c. Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal [8]: 56 dan 58; QS. at-Taubah [4]: 4
    d. Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 178; QS. anNisa’ [4]: 92 dan 93; QS. al-Maidah [5]: 38; QS. Yanus [10]: 27; QS. al-Isra’ [17]: 33; QS. asy-Syu’ara [26]: 40
    e. Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 190-193; QS. al-Anfal [8]: 39 dan 41; QS. at-Taubah [9]: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj [22]: 39 dan 40
    f. Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13
    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu
    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.
    Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah SWT.
    لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ
    “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf [12]: 111).
    Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain:
    وَقَوْمَ نُوحٍ لَمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَابًا أَلِيمًا (37) وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38) وَكُلا ضَرَبْنَا لَهُ الأمْثَالَ وَكُلا تَبَّرْنَا تَتْبِيرًا (39)
    “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih; Dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samud dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqan [25]: 37-39)
    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.
    Allah SWT yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik.
    Al Qur an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al Quran untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5.
    اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
    Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al Quran menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.
    Al Quran banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut di antara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.
    Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

    2. Akhlakul Mazmumah
    Akhlak Mazmumah atau akhlak tercela merupakan salah satu tindakan buruk yang harus dihindari setiap manusia. Hal ini harus dijauhi karena akhlakul mazmumah dapat mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain. Contoh dari macam akhlak akhlakul mazmumah yaitu sombong, iri, dengki, takabur, aniaya, ghibah dan lain sebagainya. Sebagai orang muslim sudah seharusnya kita menghindari akhlakuk mazmumah atau akhlak tercela.
    Riya, beramal atau melakukan sesuatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapatkan pujian orang. Dengan kata lain, Riya yaitu pamer.

    – Sum’ah, melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.

    3. Nabi Muhammad SAW
    Nabi Ibrahim AS
    Nabi Nuh AS
    Nabi Isa AS
    Nabi Musa AS

    Mukjizat rasul ulul azmi
    1. Nabi Muhammad SAW

    Di antara Rasul bergelar ulul azmi yang lain, Nabi Muhammad SAW merupakan rasul dengan jumlah mukjizat yang sangat banyak. Mulai dari sebelum dan sesudah kelahirannya, hingga masa akhir hidupnya.

    Ada yang berpendapat, mukjizat pertama Nabi Muhammad SAW adalah kepribadian dan pemikiran beliau. Hal itulah yang dianggap menjadi mukjizat terbesar setelah Al Quran.

    Mukjizat lainnya adalah saat beliau diutus sebagai rasul yakni, mukjizat membebaskan akal beliau. Artinya rasul tidak memikirkan hal selain yang tertuju kepada Allah SWT.

    Kemudian, mukjizat besar lainnya yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa Isra Miraj. Nabi Muhammad juga diberikan keistimewaan berupa kitab suci Al Quran yang dijadikan pedoman hidup manusia di dunia hingga saat ini.

    2. Nabi Ibrahim AS

    Keistimewaan yang dialami Nabi Ibrahim adalah terselamatkan dari kobaran api. Saat itu, Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud, kaum yang menentangnya. Namun panas api itu menjadi dingin dengan izin Allah SWT.

    3. Nabi Nuh AS

    Nabi Nuh AS mendapatkan keistimewaan dari Allah. Bermula dari kaumnya yang tertimpa musibah angin topan, banjir besar, ombak bergulung tinggi, hingga hujan deras yang tiada hentinya.

    Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat perahu yang besar hingga perahu tersebut mampu ditumpangi oleh seluruh umat yang beriman. Hal itu pula yang membantu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut.

    Dalam beberapa saat kehidupan bumi telah musnah dan tertutup air, kecuali Nabi Nuh dan pengikutnya yang berada dalam perahu. Berdasarkan kisah yang tertulis di buku sebelumnya, angin topan tersebut berlanjut hingga beberapa zaman. Namun, hanya Allah saja yang mengetahui berapa lama bencana tersebut melanda.

    4. Nabi Isa AS

    Mukjizat Nabi Isa adalah dapat menghidupkan yang mati dengan izin Allah SWT. Selain itu, Nabi Isa dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam.

    Nabi Isa dengan lancar mengenalkan dirinya pada masyarakat. Mukjizat tersebut untuk melindungi ibunya, Siti Maryam, dari fitnah lingkungan sekitar, bahwa Siti Maryam melahirkan Nabi Isa AS tanpa ayah.

    قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ – ٣٠

    “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi.” (QS Maryam ayat 30).

    Jika dirangkum dari sumber buku yang sama, mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Isa AS adalah sebagai berikut:
    Lahir tanpa adanya seorang ayah

    4. Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    (52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

    Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

    Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

    Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

    Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

    Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

    Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

    Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

    Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

    Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

    Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

    … dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

    Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

    Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

    Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

    Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

    Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

    Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

    Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

    Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

    Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

    Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

    Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

    Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

    Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

    Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

    Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
    Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
    Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
    Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

    Sifat Teladan Nabi Nuh

    Selain itu, beberapa keteladanan lain yang juga bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh AS di antaranya adalah sebagai berikut:

    1. Memaafkan Sesama

    Berdasarkan artikel dengan judul “Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli” yang ditulis oleh Muhammad Afiq Zahara dalam laman NU Online, dikisahkan bahwa Nabi Nuh AS sempat dipukuli kaumnya hingga tidak sadarkan diri.

    Kendati demikian, beliau malah mendoakan mereka dengan menyeru,”Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,”.

    Memaafkan perilaku buruk dari para kaummnya itu menjadi salah satu keteladanan yang bisa didapatkan dari Nabi Nuh AS. Yaitu dengan cara saling memaafkan terhadap sesama.

    2. Selalu Mendoakan

    Melepaskan beban dalam diri manusia bisa dilakukan dengan cara mendoakan. Ketika merasa disakiti, berdoa merupakan salah salah solusi.

    Demikian yang juga dilakukan Nabi Nuh AS ketika mendapatkan perlakuan buruk dari umatnya tersebut.

    3. Tidak Berlaku Sombong

    Melalui artikel lain dengan judul “Wasiat Nabi Nuh Menjelang Wafatnya” oleh KH Imam Syamsudin, salah satu wasiat Nabi Nuh AS menjelang wafat di antaranya adalah agar tidak berlaku takabur alias sombong.

    Wasiat lain yaitu tidak mempersekutukan Allah SWT. Selain itu, juga terkandung perintah agar manusia senantiasa selalu membaca kalimat “Tidak ada Tuhan selain Allah” dan “Maha Suci Allah dan dengan memuji kepada-Nya”.

    5. Nama malaikat dan tugasnya
    Malaikat Jibril: Menyampaikan wahyu
    Malaikat Mikail: Membagikan rezeki
    Malaikat Israfil: Meniup sangkakala
    Malaikat Izrail: Mencabut nyawa
    Malaikat Munkar: Menanyakan orang yang mati dalam kubur
    Malaikat Nakir: Menanyai orang yang mati di dalam kubur
    Malaikat Raqib: Mencatat amal baik manusia
    Malaikat Atid: Mencatat amal buruk manusia
    Malaikat Malik: Menjaga pintu neraka
    Malaikat Ridwan: Menjaga pintu surga.

    Contoh perilaku iman kepada malaikat
    Selalu mencari dan memohon hidayah serta bersyukur
    Selalu memohon kepada Allah atas segala perlindungan dari segala musibah
    Berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
    Selalu memohon kepada Allah agar dilapangkan di alam kubur dan diringankan dari siksa kubur
    Selalu memiliki niat baik dalam segala perbuatan, baik ucapan maupun perbuatan
    Menjauhi niat buruk, perkataan yang kotor, perbuatan yang jelek, dan menjauhi prilaku tercela
    Selalu memohon kepada Allah agar terhindar dari siksa api neraka
    Selalu memohon kepada Allah agar masuk surga dengan ridhoNya
    Berempati pada teman yang membutuhkan bantuan
    Menjadi teladan bagi lingkungan sekitar dan menjadi pribadi yang rendah hati
    Selalu berusaha memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik
    Bekerja keras dan ikhlas dalam melaksanakan tugas

    6. Kewajiban Anak Terhadap Orang Tua
    Apabila orang tua meminta makan, maka anak wajib memberikan makan.
    Apabila orang tua butuh dilayani, maka anak wajib melayani.
    Apabila orang tua membutuhkan pakaian, maka anak wajib membelikannya.
    Jika anak dipanggil, maka wajib segera datang.

    Tugas dan Tanggung Jawab Guru
    Guru harus menuntut murid-murid belajar. …
    Turut serta membina kurikulum sekolah. …
    Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak dan jasmaniah). …
    Memberikan bimbingan kepada murid. …
    Melakukan diagnosis atas kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar.

    Berbuat baik kepada semua teman
    Menolong teman yang sedang kesulitan.
    Tidak berbicara dan berlaku kasar pada teman.
    Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
    Tidak mengucilkan teman.
    Tidak menghina teman.
    Hidup rukun antar teman.
    Membantu teman yang kesulitan dalam pelajaran dengan belajar bersama.

    Adapun beberapa kewajiban yang harus kamu lakukan berkaitan dengan lingkungan sekitar, antara lain: – Tidak membuang sampah di sembarang tempat. – Tidak menebang pohon sembarangan. – Tidak menggunakan air secara berlebihan

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.

    Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:

    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ

    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)

    Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:

    وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ

    Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81)

    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Sebagai jenjang kedua, menurut Ibnu Taimiyah merupakan sebuah ajaran untuk menyembah Allah SWT semata, berdoa kepada Allah SWT semata hingga mencintai Allah SWT semata. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.

    Ibnu Taimiyah mengatakan:

    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ

    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)

    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:

    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.

    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  38. 1.) Alquran menjadi pedoman dan petunjuk utama bagi umat Muslim di seluruh dunia. Karena perannya itu, Alquran mengandung isi pokok yang lengkap dan kompleks. Adapun isi kandungan Alquran terdiri dari akidah, ibadah dan muamalah, hukum , sejarah, akhlak, dan ilmu pengetahuan.
    2.) • يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
    Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
    (Q.S Al-Hujurat)
    •وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ

    Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.S. Luqman: 18)
    3.) • Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    • Kisah Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    • nabi Musa
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Musa berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    • Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    •Nabi Muhammad
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak.
    4.)Mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah.
    5.)Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.
    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  39. 1.) • Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    • Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    • Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.

    2.) • Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    • Durhaka kepada kedua orang tua.
    •Jika diberikan amanah dia berkhianat.

    3.) • Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    • Kisah Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    • nabi Musa
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Musa berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    • Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    •Nabi Muhammad
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak memercayai bahwa Muhammad SAW merupakan salah seorang nabi utusan Allah SWT.

    4.) mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

    5.) Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.

    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam

    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.

    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”

    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  40. 1) Kandungan alquran :
    – Akidah dan tauhid
    – Ibadah
    – Akhlak
    – Hukum
    – Sejarah atau kisah umat masa lalu
    – Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Fungsi Al-Qur’an :
    Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia secara umum, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Fungsi Al-Qur’an sebagai pemisah adalah Al-Qur’an dapat memisahkan antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah.
    Nama lain alquran :
    Nama lain Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran.

    2) – Musyrik
    Merupakan mempersekutukan (meminta / memohon) selain kepada Allah dengan makhluk-Nya.
    – Takabbur
    Sikap menyombongkan diri dan tidak mengakui kekuasaan Allah di alam ini.

    3) – Nabi Muhammad :
    isra mi’raj, Al-qur’an
    – Nabi Isa As :
    Dapat menghidupkn orang mati dengan izin Allah swt, dapat berbicara saat baru berumur beberapa jam
    – Nabi Musa As :
    Tibgkatnya dapat berubah jadi ular dan dapat membelah lait merah
    – Nabi Ibrahim As :
    tidak terbakr api
    – Nqbi Nuh As :
    – dapat membuat perahu besar yang di niaki makhluk beriman

    4) kisah nabi ibrahim :
    ketaatan dan kepatuhan, kesabaran, berani dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, kejujuran, kegigihan dan kerja keras, tawakal, dan selalu berdoa kepada yang Maha Kuasa.
    kisah nabi Nuh As :
    Religius , jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, bersahabat/komunikasi, cinta damai, peduli sosial, tanggung jawab.

    5) Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    Nama malaikat beserta tugasnya :
    1. Malaikat Jibril : menyampaikan wahyu Allah swt dan meniupkan roh janin
    2. Malaikat mikail : Malaikat Mikail bertugas memberi rezeki kepada mahluk hidup, mengatur panas, hujan, dan tanaman yang ada di bumi.
    3. Malaikat Israfil : meniup terompet sangkakala di hari kiamat dan hari kebangkitan.
    4. Malaikat Izrail : mencabut nyawa mahluk hidup.
    5. Malaikat Raqib : Mencatat semua amal baik manusia selama hidup.
    6. Malaikat Atid : Mencatat semua amal buruk manusia semasa hidup.
    7. Malaikat Munkar : Menanyakan manusia di dalam kubur tentang keburukan-keburukan yang dilakukan semasa hidup.
    8. Malaikat Nakir : Menanyai manusia di dalam kubur tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan semasa hidup.
    9. Malaikat Malik : menjaga pintu neraka.
    10. Malaikat Ridwan : menjaga pintu surga

    6. Kewajiban terhadap orang tua :
    – Membantu pekerjaan orangtua
    – Belajar dengan giat
    – Patuh kepada orangtua
    kewajiban terhadap teman :
    – Tidak mengucilkan teman
    – Tidak menghina teman
    – Hidup rukun antar teman
    kewajiban terhadap guru :
    -Mengerjakan tugas tept waktu
    – Mendoakan yabg terbaik untuknya
    – Tidak menyakiti hatinya
    Kewajiban terhadap alam sekitar :
    – Merawat tanaman
    – Membudidayakan makhluk yang sudah hampir punah
    – Melakukan reboisasi

    7) Qs Al-Baqarah : 2
    ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
    Artinya: “Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa“.

    8) – Tauhid Rububiyah
    Yaitu mengesakan Allah a dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini bahwa Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk.
    – Tauhid Uluhiyyah
    Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah a dengan perbuatan para hamba berdasarkan niat taqarrub (mendekatkan diri) yang disyari’atkan seperti do’a, nadzar, kurban, raja’ (pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rahbah (takut) dan inabah (kembali/taubat).
    – Yaitu beriman kepada nama-nama Allaha dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya menurut apa yang pantas bagi Allah, tanpa ta’wil dan ta’thil (menghilangkan makna atau sifat Allah), tanpa takyif (mempersoalkan hakikat asma’ dan sifat Allah dengan bertanya, “bagaimana”), dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluq-Nya)

    9) – Sabar : Qs Al Baqarah ayat 155
    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
    Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
    – Taat : QS An Nisa ayat 69,
    وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا – ٦٩
    Artinya: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
    – Ikhlas : Qs Ghafir ayat 65
    هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    Artinya: “Dialah yang Maha Hidup, tidak ada tuhan selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

    10) اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا
    artinya :
    Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.

  41. Nadia hasymia ahmad XIPS
    1. •Pengertian : Al Qur’an atau Qur’an, adalah sebuah kitab suci utama dalam agama Islam, yang umat Muslim percaya bahwa kitab ini diturunkan oleh Allah, kepada Nabi Muhammad. Kitab ini terbagi ke dalam beberapa surah dan setiap surahnya terbagi ke dalam beberapa ayat.

    •Kandungan : Isi kandungan Al Quran sebagai pedoman dan petunjuk hidup manusia. Al Quran merupakan pedoman dan petunjuk hidup dalam menjalani kehidupan di dunia maupun akhirat.

    •Nama lain : Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran.

    2.•Kufur Nikmat : tidak mengakui kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt kepadanya
    •Gibah : senantiasa menyebarkan aib orang lain atau bahkan hal hal baik dari orang lain namun org tsb tidak ridha

    3.•Nabi Muhammad Saw : Al-Quran
    •Nabi Isa AS : Kitab Injil
    •Nabi Musa AS : Tongkat yang dapat berubah menjadi ular
    •Nabi Ibrahim AS : Tidak hangus terbakar api
    •Nabi Nuh AS : Perahu Besar

    4.•Selalu sabat dan taat
    •Selalu mengingat Allah
    •Tidak mudah marah
    •Sangat patuh terhadap perintas Allah
    •Selalu berdoa meminta petunjuk dari Allah

    5.•Meniru sifat malaikat yang taat beribadah kepada Allah SWT.
    •Selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari dosa.
    •Mempercayai ada kehidupan setelah di dunia.
    •Mempercayai rezeki dari Allah SWT.
    •Menyempurnakan iman kepada Allah SWT.

    6.Kewajiban Terhadap orang tua :
    •Menghormati dan mendoakan orang tua
    •Menjaga nama baik keluarga/orang tua
    •Membantu mengerjakan pekerjaan rumah

    Kewajiban Terhadap Teman :
    •Menghormati teman
    •Saling membantu satu sama lain
    •Hidup rukun antar teman

    Kewajiban Terhadap guru :
    •Menghormati guru
    •Mengerjakan tugas yang diberikan
    •mendoakan yang terbaik untuknya

    Kewajiban terhadap alam sekitar :
    •Tidak membuang sampah sembarangan
    •Merawat dan melestarikan alam sekitar
    •Menghemat pemakaian energi

    7.Ayat tentang Aqidah

    ‎هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8.•Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu Allah itu satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pengatur Jagat Raya (Al-Mudabbir), Yang Maha Merajai (Al-Malik), dan Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).

    •Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba, yaitu kita selaku hamba hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh satu pun ibadah diserahkan kepada selain Allah. Ibadah seperti berdoa, thawaf, menyembelih kurban, bernadzar hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.
    •
    Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Beriman dalam hal nama dan sifat ini tanpa melakukan

    9.Ayat tentang Sabar
    Al-Imran Ayat 125
    ‎بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ
    Artinya: “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”

    Ayat tentang Ikhlas
    Al-A’raf Ayat 29
    ‎قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
    Artinya: “Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”

    Ayat tentang taat
    An-Nisa Ayat 59
    ‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ – ٥٩
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

    10.•Syirik akbar adalah menjadikan selain daripada Allah SWT sebagai tujuan dalam beribadah, misalnya memohon dan bernadzar sesuatu kepada selain Allah, takut kepada kuburan, jin, atau setan serta percaya bahwa semua itu bisa memberi bahaya.
    •Syirik Ashghar. Syirik Ashgar adalah syirik yang dihasilkan dari perbuatan maupun ucapan yang dinyatakan sebagai perbuatan syirik oleh syara’, namun tidak sampai menyebabkan keluar daripada agama Islam.

  42. 1. Pengertian : Al Qur’an atau Qur’an, adalah sebuah kitab suci utama dalam agama Islam, yang umat Muslim percaya bahwa kitab ini diturunkan oleh Allah, kepada Nabi Muhammad. Kitab ini terbagi ke dalam beberapa surah dan setiap surahnya terbagi ke dalam beberapa ayat.
    •Kandungan : Isi kandungan Al Quran sebagai pedoman dan petunjuk hidup manusia. Al Quran merupakan pedoman dan petunjuk hidup dalam menjalani kehidupan di dunia maupun akhirat.
    •Nama lain : Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran.

    2. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12).

    3. – Nabi Muhammad SAW: Peristiwa Isra Miraj.
    – Nabi Isa AS: Menghidupkan orang mati.
    – Nabi Musa AS: Tongkatnya bisa berubah menjadi ular. Dan membelah laut merah.
    – Nabi Ibrahim AS: Tidak hangus saat di bakar api.
    – Nabi Nuh AS : Membuat kapal yang besar.

    4. .•Selalu sabat dan taat
    •Selalu mengingat Allah
    •Tidak mudah marah
    •Sangat patuh terhadap perintas Allah
    •Selalu berdoa meminta petunjuk dari Allah

    5. Meniru sifat malaikat berarti kita :
    – Patuh terhadap perintah Allah swt.
    – Senantiasa beribadah kpd Allah Swt.
    – Mematuhi segala larangan Allah swt.
    – Mempercayai rezeki dari Allah swt.
    Nama – nama malaikat dan tugasnya :
    1.) Malaikat Jibril : Menyampaikan wahyu.
    2.) Malaikat Mikail : Memberikan rezeki kepada makhluk Allah swt.
    3.) Malaikat Israfil : Meniup sangkakala.
    4.) Malaikat Izrail : Mencabut nyawa.
    5.) Malaikat Munkar : Menanyakan amal buruk di alam kubur.
    6.) Malaikat Nankir : Menanyakan amal baik di alam kubur.
    7.) Malaikat Raqib : Mencatat amal buruk manusia selama ia hidup.
    8.) Malaikat Atid : Mencatat amal baik manusia selama ia hidup.
    9.) Malaikat Malik : Menjaga pintu neraka.
    10.) Malaikat Ridwan : Menjaga pintu surga.

    6. • Terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • Terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • Terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • Terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja.
    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ
    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.”
    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.
    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ
    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.”
    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât.
    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.
    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.”

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  43. Faradilla XII IPA
    1.Apa saja isi kandungan Al-Qur’an berikut fungsi dan nama lain dari Al-Qur’an
    :Kandungan alquran :
    •Akidah dan tauhid
    •Ibadah
    •Akhlak
    •Hukum
    •Sejarah atau kisah umat masa lalu
    •Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi

    Fungsi Al-Qur’an :
    Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia secara umum, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Fungsi Al-Qur’an sebagai pemisah adalah Al-Qur’an dapat memisahkan antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah.

    Nama lain alquran :
    Nama lain Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran.

    2.Tulislah 2 contoh akhlak yang buruk beserta artinya
    : •dengki dan berbohong
    Surat Al-Baqarah Ayat 10
    ‎فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
    Artinya: Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta [AL Baqarah ayat 10]

    •melakukan perbuatan yang dilarang
    Surat Al-Baqarah Ayat 59
    ‎فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
    Artinya: Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik.

    3.Siapa saja Nabi yang termasuk Nabi Ulul Azmi, jelaskan dengan mukjizatnya masing-masing
    :•Nabi Nuh AS
    Nabi dan rasul Allah pertama yang bergelar Ulul Azmi adalah Nabi Nuh. Nabi Nuh memiliki ketabahan yang luar biasa ketika melihat umatnya ingkar terhadap ajaran yang ia sampaikan. Oleh karena itulah, Allah menurunkan azab dengan mendatangkan banjir bandang dan meluluh-lantahkan kaum Nabi Nuh yang ingkar itu. Sedangkan, Nabi Nuh dan pengikut setianya diselamatkan Allah dengan berlindung dalam perahu besar atau bahtera yang sudah Nabi Nuh siapkan. 

    •Nabi Ibrahim AS
    Rasul ulul azmi yang selanjutnya, ada Nabi Ibrahim yang punya ketabahan luar biasa ketika diuji Allah untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail.  Allah pun memberikan mukjizat kepada nabi Ibrahim agar tak bisa terbakar oleh api. Ya, saat itu Nabi Ibrahim dihukum oleh Raja Namrud karena merusak berhala-berhala yang biasa kaumnya sembah. Nabi Ibrahim pun diikat untuk siap dibakar di atas kayu.
    Namun, Allah berkehendak lain. Allah selamatkan Nabi Ibrahim dari api dan menurunkan firman sebagai berikut:
    “Bakarlah dia dan bantulah ilah-ilah kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan itu mereka orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al- Anbiya’ ayat 68-70)

    •Nabi Musa AS
    Nabi Musa adalah salah satu Nabi dengan ujian yang sangat berat, yakni menghadapi Raja Fir’aun yang keji dan kaumnya sendiri yang pembangkang. Nabi Musa pun diberikan mukjizat dari Allah ketika harus berhadapan dengan Raja Fir’aun yang ingin membunuhnya. Saat melawan Firaun, Nabi Musa melemparkan tongkatnya kepada Raja Firaun dan seketika ular itu menjadi seekor ular besar. Ia pun diberikan mukjizat oleh Allah dengan mampu membelah lautan ketika dikejar oleh pasukan Raja Firaun yang memburunya. 

    •Nabi Isa AS
    Ketika dilahirkan oleh Maryam, Nabi Isa dan Maryam harus mendapatkan fitnah luar biasa karena terlahir tanpa Ayah. Padahal, Allah SWT yang mengkehendaki Maryam mengandung Isa dalam keadaan masih suci. Nabi Isa juga terkenal tabah saat menghadapi kaumnya yang durhaka dan pembangkang. 
    Atas kehendak Allah, diturunkanlah mukjizat kepada Nabi Isa melalui kitab Injil. Nabi Isa juga diberi kemampuan oleh Allah untuk dapat menyembuhkan orang sakit, buta, bahkan menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal dunia. 

    •Nabi Muhammad SAW
    Kemudian, ada Nabi dan Rasul terakhir Allah yakni Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad yang sejak kecil sudah dibersihkan hatinya oleh Allah SWT selalu mendapatkan siksaan dan ujian berat karena kaum kafir yang pembangkang dan ingkar kepada Allah. Namun, keteguhan hati dan ketabahan luar biasanyalah yang membuat Nabi Muhammad diberi gelar Ulul Azmi. 
    Oleh Allah, Nabi Muhammad juga diberi beberapa mukjizat luar biasa. Dari mampu membelah bulan, mampu mengeluarkan air dari sela-sela jari tangan, serta diturunkannya kitab suci Alquran kepada dirinya.

    4.Tulislah nilai karakter yang harus dijadikan akhlak dalam kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Nuh As
    :Nabi Ibrahim AS
    •Tetap bersabar dan berusaha menyebarkan hal yang baik dengan cara yang tepat
    •Mengasah kemampuan untuk berpikir kritis, sehingga tidak mudah mengikuti hal yang tidak benar
    •Berusahalah untuk berprasangka baik kepada perintah dan takdir Allah SWT
    •Tidak lupa untuk berbagi rezeki kepada sesama, terutama bagi yang membutuhkan

    Nabi Nuh AS
    •Sabar. Nabi Nuh a.s. termasuk dalam rasul ulul azmi artinya rasul dengan kesabaran yang luar biasa. Sebab, hal ini telah dibuktikan dengan sabarnya beliau dalam berdakwah selama 950 tahun walaupun hanya mendapat sedikit pengikut. Juga beliau sangat sabar walau terus diolok oleh kaum kafir saat berdakwah.
    •Memiliki wawasan yang luas. Nabi Nuh a.s. memiliki wawasan yang luas, sehingga bisa membangun sebuah kapal yang besar dan dapat mengangkut banyak muatan padahal saat itu belum ada teknologi modern seperti saat ini.
    •Saleh. Nabi Nuh a.s. adalah seorang nabi yang sangat saleh dan taat beribadah dan berdoa selalu kepada Allah Swt.
    •Adil. Nabi Nuh a.s. dicintai ummatnya, karena beliau merupakan seorang pemimpin ummat yang adil dalam membeirkan penyelesaian atas segala urusan atau permasalahan yang dihadapkan dalam kehidupan ummatnya.
    •Bijaksana. Nabi Nuh a.s. selalu bersikap bijaksana dalam memberikan sebuah pengajaran atau arahan pada para pengikutnya, agar mereka semakin memahami jalan kebenaran dan ketauhidan.
    •Ramah. Nabi Nuh a.s. selain sangat sabar juga sangat ramah dalam menyampaikan segala ajaran kepada kaum kafir agar mereka dapat berubah mengikuti ajaran Nabi Nuh a.s.
    •Amanah. Nabi Nuh a.s. sebagai seorang nabi selalu amanah dalam menjalankan tugasnya untuk terus menyampaikan wahyu Allah Swt kepada ummatnya, tanpa merasakan halangan dan selalu ikhlas dalam menyampaikan wahyu-Nya.
    •Tidak sombong. Nabi Nuh a.s. dikarunai berbagai macam ilmu oleh Allah Swt. namun tidak pernah timbul rasa sombong dalam dirinya. Sebab, Nabi Nuh a.s. adalah orang yang selalu menginstropeksi diri dengan melihat kekurangan yang ada pada diri Beliau sehingga beliau selalu mengingat semua itu hanyalah milik Allah Swt.

    5.Apa hikmah beriman kepada malaikat, dan tulislah 10 malaikat beserta dengan tugas-tugasnya
    :Hikmah beriman kepada malaikat
    •Merupakan bentuk dari taqwa kita kepada Allah SWT
    •Memperkuat rasa keimanan kita terhadap Allah SWT
    •Semakin takjub akan kebesaran Allah SWT
    •Merasa diawasi sehingga berpikir dulu sebelum berbuat.
    •Semangat dalam berbuat kebaikan karena ada malaikat yang mencatat.
    •Tidak menjadi takabur dengan amal sholeh.
    •Menghindari keinginan untuk berbuat dosa dan maksiat.
    •Menumbuhkan rasa pengagungan kita kepada Allah SWT
    •Membuat kita sadar akan adanya alam ghaib yang kita tidak tahu.
    •Menjadi semakin yakin akan pertolongan dari Allah Ta’ala

    10 Malaikat beserta tugasnya
    : •Malaikat Jibril
    Nama lainnya adalah Ar-Ruhul-Amin atau Jibril atau Ar-Ruhul-Qudus. Tugasnya menyampaikan wahyu Allah SWT kepada Nabi dan Rasul-Nya.
    •Malaikat Mikail
    Bertugas membawa rezeki kepada semua makhluk, termasuk manusia.
    •Malaikat Israfil
    Memiliki tanggung jawab untuk meniup terompet sangkakala di saat hari kiamat. Seketika semua mahluk di bumi akan mati saat mendengar tiupan sangkakalanya.
    •Malaikat Izrail
    Bertanggung jawab mencabut nyawa dari tubuh makhluk.
    •Malikat Munkar
    Bertugas menanyai dan melaksanakan perintah pemeriksaan pada amal perbuatan manusia di alam kubur.
    •Malaikat Nakir
    Bertugas menanyai dan memeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur bersama malaikat Munkar.
    •Malaikat Raqib
    Memiliki tanggung jawab untuk mencatat segala perbuatan amal baik manusia saat hidup.
    •Malaikat Atid
    Sedangkan yang mendampingi malaikat Raqib, memiliki tugas untuk mencatat segala perbuatan buruk atau jahat manusia ketika masih hidup.
    •Malaikat Malik
    Memiliki nama lain, Zabaniyah. Tugasnya ialah menjaga pintu neraka.
    •Malaikat Ridwan
    Terakhir ada malaikat Ridwan, yang berwenang untuk menjaga pintu surga.

    6.Jelaskan tugas dan kewajiban seorang terhadap orang tua, teman, guru dan alam sekitar
    :Tugas dan kewajiban seorang terhadap orang tua
    •taat kepada orang tua
    •segera datang ketika dipanggil orang tua
    •membantu orang tua
    •menafkahi orang tua jika sudah waktunya (dan mampu)
    •berbicara dengan santun dan lembut

    Tugas dan kewajiban seorang terhadap teman
    •menolong teman yang sedang kesulitan
    •tidak berlaku kasar kepada teman
    •tidak mengucilkan teman
    •hidup rukun antar teman
    •menjaga perasaan teman

    Tugas dan kewajiban seorang terhadap guru
    •mengerjakan tugas
    •menghormati guru
    •mendengarkan nasihat guru
    •patuh terhadap guru
    •tidak berisik saat guru mengajar

    Tugas dan kewajiban seorang terhadap alam sekitar
    •melestarikan lingkungan
    •menjaga alam
    •tidak menebang pohon sembarangan
    •melakukan reboisasi
    •memelihara fasilitas umum

    7.Tuliskan ayat tentang Aqidah beserta artinya
    : Surat Al-Jumu’ah Ayat 2
    ‎هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8.Tauhid terbagi atas 3, yaitu Tauhid rububiyyah, Tauhid uluhiyyah dan Tauhid asma’ wa sifat
    :•Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu Allah itu satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pengatur Jagat Raya (Al-Mudabbir), Yang Maha Merajai (Al-Malik), dan Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).

    •Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba, yaitu kita selaku hamba hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh satu pun ibadah diserahkan kepada selain Allah. Ibadah seperti berdoa, thawaf, menyembelih kurban, bernadzar hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.

    •Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Beriman dalam hal nama dan sifat ini tanpa melakukan

    9.Tulislah ayat tentang sabar, taat dan ikhlas beserta artinya
    :•Ayat tentang Sabar
    Al-Imran Ayat 125
    ‎بَلَىٰٓ ۚ إِن تَصْبِرُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ ءَالَٰفٍ مِّنَ ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ
    Artinya: “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.”

    •Ayat tentang Ikhlas
    Al-A’raf Ayat 29
    ‎قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
    Artinya: “Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”

    •Ayat tentang taat
    An-Nisa Ayat 59
    ‎يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ – ٥٩
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

    10.Apa saja yang termasuk syirik kepada Allah, jelaskan
    :•Syirik akbar adalah menjadikan selain daripada Allah SWT sebagai tujuan dalam beribadah, misalnya memohon dan bernadzar sesuatu kepada selain Allah, takut kepada kuburan, jin, atau setan serta percaya bahwa semua itu bisa memberi bahaya.

    •Syirik Ashghar. Syirik Ashgar adalah syirik yang dihasilkan dari perbuatan maupun ucapan yang dinyatakan sebagai perbuatan syirik oleh syara’, namun tidak sampai menyebabkan keluar daripada agama Islam.

  44. Afya artati
    XII ipa
    1.) • Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    • Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    • Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    2.) • Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    • Durhaka kepada kedua orang tua.
    •Jika diberikan amanah dia berkhianat.
    3.) • Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    • Kisah Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    • nabi Musa
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Musa berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    • Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    •Nabi Muhammad
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak memercayai bahwa Muhammad SAW merupakan salah seorang nabi utusan Allah SWT.
    4.) mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.
    5.) Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.
    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  45. Nama : Ulfiyah Amanda
    kelas : XII.IPS
    1.) Pengertian : Al Qur’an atau Qur’an, adalah sebuah kitab suci utama dalam agama Islam, yang umat Muslim percaya bahwa kitab ini diturunkan oleh Allah, kepada Nabi Muhammad. Kitab ini terbagi ke dalam beberapa surah dan setiap surahnya terbagi ke dalam beberapa ayat.
    •Kandungan : Isi kandungan Al Quran sebagai pedoman dan petunjuk hidup manusia. Al Quran merupakan pedoman dan petunjuk hidup dalam menjalani kehidupan di dunia maupun akhirat.
    •Nama lain : Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran.

    2. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
    Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka buruk itu dosa. Dan janganlah sebagian kalian mencari-cari keburukan orang dan menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudanya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 12).

    3. – Nabi Muhammad SAW: Peristiwa Isra Miraj.
    – Nabi Isa AS: Menghidupkan orang mati.
    – Nabi Musa AS: Tongkatnya bisa berubah menjadi ular. Dan membelah laut merah.
    – Nabi Ibrahim AS: Tidak hangus saat di bakar api.
    – Nabi Nuh AS : Membuat kapal yang besar.

    4. .•Selalu sabat dan taat
    •Selalu mengingat Allah
    •Tidak mudah marah
    •Sangat patuh terhadap perintas Allah
    •Selalu berdoa meminta petunjuk dari Allah

    5. Meniru sifat malaikat berarti kita :
    – Patuh terhadap perintah Allah swt.
    – Senantiasa beribadah kpd Allah Swt.
    – Mematuhi segala larangan Allah swt.
    – Mempercayai rezeki dari Allah swt.
    Nama – nama malaikat dan tugasnya :
    1.) Malaikat Jibril : Menyampaikan wahyu.
    2.) Malaikat Mikail : Memberikan rezeki kepada makhluk Allah swt.
    3.) Malaikat Israfil : Meniup sangkakala.
    4.) Malaikat Izrail : Mencabut nyawa.
    5.) Malaikat Munkar : Menanyakan amal buruk di alam kubur.
    6.) Malaikat Nankir : Menanyakan amal baik di alam kubur.
    7.) Malaikat Raqib : Mencatat amal buruk manusia selama ia hidup.
    8.) Malaikat Atid : Mencatat amal baik manusia selama ia hidup.
    9.) Malaikat Malik : Menjaga pintu neraka.
    10.) Malaikat Ridwan : Menjaga pintu surga.

    6. • Terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • Terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • Terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • Terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam

    7. Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

    8. Tauhid Rububiyah
    Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja.
    وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ
    Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.”
    Tauhid Uluhiyah
    Macam tauhid yang kedua adalah Tauhid Uluhiyah. Tauhid jenis ini dianggap sebagai misi utama Rasulullah SAW. Bukan tauhid rububiyah yang memang telah diakui.
    وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ
    Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.”
    Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât.
    توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.
    Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.”

    9. Surat Al Baqarah ayat 153
    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٥٣
    Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  46. Afya artati
    XII ipa

    1.) • Akidah dan Tauhid
    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.
    Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (Mukmin). Akidah secara terminologi didefnisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.
    • Ibadah
    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.
    Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah SWT, sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
    • Akhlak
    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    2.) • Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    • Durhaka kepada kedua orang tua.
    •Jika diberikan amanah dia berkhianat.
    3.) • Nabi Nuh
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    • Kisah Nabi Ibrahim
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    • nabi Musa
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Musa berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    • Nabi Isa
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    •Nabi Muhammad
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak memercayai bahwa Muhammad SAW merupakan salah seorang nabi utusan Allah SWT.
    4.) mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.
    Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.
    5.) Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    10 nama-nama malaikat beserta tugasnya, yaitu:
    1. Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    2. Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    3. Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    4. Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    6. Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    7. Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    8. Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    9. Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    10.Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.
    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  47. Husniyah hazimah amin
    XII IPA

    1.1. Akidah dan Tauhid

    Isi kandungan Al Quran pertama yakni tentang akidah. Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan.

    2. Ibadah

    Isi Kandungan Al Quran berikutnya yakni masalah ibadah. Ibadah berasal dari kata ‘abada-ya’budu-‘abadan artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah SWT dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya.

    3. Akhlak

    Isi kandungan Al Quran berikutnya memuat tentang akhlak. Ditinjau dari segi etimologi, Akhlak merupakan bentuk jamak dari
    kata khuluq (yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.
    4. Hukum

    Isi kandungan Al Quran lainnya yakni tentang Hukum. Dalam Islam, hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al Quran berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia.

    5. Sejarah atau Kisah Umat Masa Lalu

    Isi kandungan Al Quran berikutnya tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.

    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi

    Isi kandungan Al Quran terakhir adalah memuat ilmu pengetahuan dan teknologi. Al Quran juga disebut dengan kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyaratisyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia.

    2.Bertutur kata kasar dan tidak sopan.
    Durhaka kepada kedua orang tua.

    3.1) Nabi Nuh A.S = kapal besar, pembuatan bahtera besar
    2) Nabi Musa A.S = tongkatnya bisa berubah menjadi ular, membelah lautan
    3) Nabi Ibrahim A.S = Tidak terbakar oleh api
    4) Nabi Isa A.S = menghidupkan orang yang telah meninggal, berbicara ketika masih bayi, menyembuhkan sakit kusta
    5) Nabi Muhammad SAW = Al-Quran, membelah bulan jadi 2

    4.Perilaku yang patut di contoh
    Selalu sabar
    Selalu meningat Allah
    tidak mudah marah
    Sangat patuh atas perintah Allah
    Selalu berdoa meminta petunjuk dari Allah

    5.
    1.Meniru sifat malaikat yang taat beribadah kepada Allah SWT. …
    2. Selalu melakukan perbuatan baik dan menghindari dosa. …
    3.Mempercayai ada kehidupan setelah di dunia. …
    4.Mempercayai rezeki dari Allah SWT. …
    5.Menyempurnakan iman kepada Allah SWT.
    Malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada para nabi dan rosul. Malaikat Jibril adalah penghubung antara Allah SWT dengan nabi dan rosul-Nya.
    Malaikat Mikail bertugas memberi rejeki kepada manusia.
    Malaikat Israfil bertugas meniup terompet sangkakala pada hari kiamat.
    Malaikat Izrail bertugas sebagai pencabut nyawa.
    Malaikat Munkar bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    Malaikat Nakir bertugas menanyakan dan melakukan pemeriksaan manusia di alam kubur tentang amal perbuatan mereka saat masih hidup.
    Malaikat Raqib bertugas mencatat segala amal baik yang dilakukan manusia.
    Malaikat Atid bertugas mencatat segala perbuatan buruk yang dilakukan manusia.
    Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka dan menyambut ahli neraka.
    Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu syurga dan menyambut ahli syurga.

    6.1. Memelihara kebersihan, kenyamanan, keamanan dalam keluarga.
    2. menghargai dan mengerjakan tugas yg diberikan
    3.berperilaku baik kepada teman
    4. tidak membuang sampah sembarangan dan memelihara kelestariannya

    7.هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ Arab-Latin: huwallażī ba’aṡa fil-ummiyyīna rasụlam min-hum yatl ‘alaihim āyātihī wa yuzakkīhim yu’allimuhumul-kitāba wal-ḥikmata wa ing kānụ ming qablu lafī ḍalālim mubīn Artinya: Dialah yan mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul
    di antara mereka, yang membaca ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

    8.Kemudian tauhid asma wa sifat terkait dengan nama-nama Allah yang maha indah dan sifat-sifat Allah yang maha sempurna, tidak memiliki cacat dan kekurangan sedikit pun. Tauhid uluhiyah terkait dengan bagaimana kita mengesakan Allah subhanahu wata’ala dalam ibadah, hanya Dia yang berhak untuk diibadahi.

    9.”Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.” (HR. al Bukhari No 1469).

    10. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  48. 1. Kandungan alquran :
    – Akidah dan tauhid
    – Ibadah
    – Akhlak
    – Hukum
    – Sejarah atau kisah umat masa lalu
    – Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Teknologi
    Fungsi Al-Qur’an :
    Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi manusia secara umum, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Fungsi Al-Qur’an sebagai pemisah adalah Al-Qur’an dapat memisahkan antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah.
    Nama lain alquran :
    Nama lain Al Quran yakni Al-Kitab atau Kitabullah biasanya seringkali digunakan ketika menyebut Al-Quran

    2. Akhlak yang buruk :
    1. Pelit
    الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُوْنَ مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۗ وَاَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًاۚ
    Artinya: “(orang-orang sombong yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.” (Q.S. An-Nisa’: 37)
    2. Berburuk sangka
    Dalam Surat Yunus (10) ayat 36, Allah SWT berfirman: إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ
    Artinya : ”Prasangka itu tidak mendatangkan kebenaran apa pun.”

    3. 1. Nabi Nuh AS
    Nabi Nuh mendapat mukjizat dari Allah SWT berupa keselamatan saat terjadi banjir bandang. Pada zaman itu Allah SWT memberikan azab banjir bandang bagi kaum Nabi Nuh yang mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa beliau. Saat peristiwa banjir bandang terjadi, Nabi Nuh beserta para pengikutnya berhasil selamat karena berada di dalam bahtera yang sudah mereka buat sebelumnya.
    2. Kisah Nabi Ibrahim AS
    Nabi Ibrahim hidup pada zaman kekuasaan Raja Namrud, di mana saat itu banyak masyarakat yang masih menyembah berhala. Salah satu cara yang dilakukan Nabi Ibrahim untuk mencegah masyarakat agar tidak menyembah berhala ialah menghancurkan berhala-berhala tersebut.
    3. Nabi Musa AS
    Allah SWT memberikan mukjuizatnya kepada Nabi Nuh berupa tongkat yang dapat menjadi seekor ular. Tak hanya itu, tongkat tersebut juga mampu membelah laut merah menjadi sebuah jalan, sehingga Nabi Musa dan para pengikutnya berhasil selamat dari kejaran Firaun.
    4. Nabi Isa AS
    Mukjizat Nabi Isa salah satunya adalah dapat menyembuhkan orang-orang buta, menghidupkan orang-orang yang meninggal dunia. Selain memiliki mukjizat yang bersifat material, Nabi Isa juga memiliki mukjizat immaterial berupa kitab Injil.
    5. Nabi Muhammad SAW
    Salah satu mukjizat nabi Muhammad yang dapat membelah bulan menjadi dua. Peristiwa ini terjadi pada saat penduduk Mekkah meminta agar Rasulullah membuktikan kenabiannya. Pasalnya, pada zaman itu orang-orang kafir tidak memercayai bahwa Muhammad SAW merupakan salah seorang nabi utusan Allah SWT

    4. nilai karakter yang harus dijadikan akhlak dalam kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Nuh As:
    a. Nabi ibrahim As
    – selalu sabar
    -tidak mudah marah
    – sangat patuh terhadap perintah allah swt
    b. Nabi Nuh As
    – tidak berlaku bohong
    -selalu mendoakan
    -memaafkan sesama

    5. Hikmah beriman kepada malaikat
    Merupakan salah satu bentuk dari ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Memperkuat keimanan kepada Allah SWT. kerap akan selalu mendoakan dan selalu memaafkan untuk orang lain. Orang yang beriman kepada malaikat senantiasa dijauhkan untuk berbuat dosa.
    1. Malaikat Jibril Bertugas menyampaikan wahyu Allah SWT dan meniupkan roh ke dalam janin.
    2. Malaikat Mikail Malaikat Mikail bertugas memberi rezeki kepada mahlukhluk hidup.
    3. Malaikat israfil
    Malaikat Israfil ditugaskan untuk meniup terompet sangkakala di hari kiamat dan hari kebangkitan
    4. Malaikat Izrail Malaikat Izrail memiliki tugas untuk mencabut nyawa mahluk hidup
    5. Malaikat Raqib Mencatat semua amal baik manusia selama hidup.
    6. Malaikat Atid Mencatat semua amal buruk manusia semasa hidup.
    7. Malaikat Munkar Menanyakan manusia di dalam kubur tentang keburukan-keburukan yang dilakukan semasa hidup.
    8. Malaikat Nakir Menanyai manusia di dalam kubur tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan semasa hidup.
    9. Malaikat Malik Malaikat Malik bertugas menjaga pintu neraka.
    10. Malaikat Ridwan Malaikat Ridwan bertugas menjaga pintu surga.

    6. Kewajiban terhadap orang tua :
    – Membantu pekerjaan orangtua
    – Belajar dengan giat
    – Patuh kepada orangtua
    kewajiban terhadap teman :
    – Tidak mengucilkan teman
    – Tidak menghina teman
    – Hidup rukun antar teman
    kewajiban terhadap guru :
    -Mengerjakan tugas tept waktu
    – Mendoakan yabg terbaik untuknya
    – Tidak menyakiti hatinya
    Kewajiban terhadap alam sekitar :
    – Merawat tanaman
    – Membudidayakan makhluk yang sudah hampir punah
    – Melakukan reboisasi

    7. Ayat Tentang Aqidah
    هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

    8.1. Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu Allah itu satu-satunya Pencipta (Al-Khaliq), Pengatur Jagat Raya (Al-Mudabbir), Yang Maha Merajai (Al-Malik), dan Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq).
    2. Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba, yaitu kita selaku hamba hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh satu pun ibadah diserahkan kepada selain Allah. Ibadah seperti berdoa, thawaf, menyembelih kurban, bernadzar hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.
    3. Tauhid asma wa sifat adalah mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya. Kita menetapkan nama dan sifat bagi Allah sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Beriman dalam hal nama dan sifat ini tanpa melakukan

    9. 9) – Sabar : Qs Al Baqarah ayat 155
    وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
    Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
    – Taat : QS An Nisa ayat 69,
    وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا – ٦٩
    Artinya: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
    – Ikhlas : Qs Ghafir ayat 65
    هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    Artinya: “Dialah yang Maha Hidup, tidak ada tuhan selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

    10) اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا
    artinya :
    Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.

  49. Nama : Rezky ananda kahera
    Kelas : XII IPS

    1. (1) ketauhidan, akidah, ibadah, akhlak, hukum, dan sains atau ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya.
    (2) 1. Al-Kitab yang artinya kitab.
    Artinya: Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
    2. Al-Huda yang artinya petunjuk.
    Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)…
    3. Al-Furqan
    Al-Fuqan memiliki arti pembeda.
    Artinya: Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).
    4. Ar-Rahmah
    Ar-Rahmah artinya rahmat
    Artinya: Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.

    2. – Hasad, adalah penyakit hati berupa iri dan dengki.
    – Musyrik, Merupakan mempersekutukan (meminta / memohon) selain kepada Allah dengan makhluk-Nya.

    3.- Nabi Muhammad Saw
    * peristiwa isra mi’raj
    – Nabi Isa As
    * dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal atas izin Allah swt
    – Nabi Musa As
    * dapat membelah lautan merah
    – Nabi Ibrahim As
    * tidak terbakar oleh api
    – Nabi Nuh As
    * membuat perahu besar

    4. Ar-Rahmah
    Ar-Rahmah artinya rahmat
    Artinya: Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.

    5. Meniru sifat malaikat berarti kita :
    – Patuh terhadap perintah Allah swt.
    – Senantiasa beribadah kpd Allah Swt.
    – Mematuhi segala larangan Allah swt.
    – Mempercayai rezeki dari Allah swt.
    •Nama – nama malaikat dan tugasnya :
    1. Malaikat Jibril : Menyampaikan wahyu.
    2. Malaikat Mikail : Memberikan rezeki kpd makhluk Allah swt.
    3. Malaikat Israfil : Meniup sangkakala.
    4. Malaikat Izrail : Mencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar : Menanyakan amal buruk di alam kubur.
    6. Malaikat Nankir : Menanyakan amal baik di alam kubur.
    7. Malaikat Raqib : Mencatat amal buruk manusia selama ia hidup.
    8. Malaikat Atid : Mencatat amal baik manusia selama ia hidup.
    9. Malaikat Malik : Menjaga pintu neraka.
    10. Malaikat Ridwan : Menjaga pintu surga
    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  50. 1. (1) ketauhidan, akidah, ibadah, akhlak, hukum, dan sains atau ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya.
    (2) 1. Al-Kitab yang artinya kitab.
    Artinya: Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
    2. Al-Huda yang artinya petunjuk.
    Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)…
    3. Al-Furqan
    Al-Fuqan memiliki arti pembeda.
    Artinya: Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).
    4. Ar-Rahmah
    Ar-Rahmah artinya rahmat
    Artinya: Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.

    2. – Hasad, adalah penyakit hati berupa iri dan dengki.
    – Musyrik, Merupakan mempersekutukan (meminta / memohon) selain kepada Allah dengan makhluk-Nya.

    3.- Nabi Muhammad Saw
    * peristiwa isra mi’raj
    – Nabi Isa As
    * dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal atas izin Allah swt
    – Nabi Musa As
    * dapat membelah lautan merah
    – Nabi Ibrahim As
    * tidak terbakar oleh api
    – Nabi Nuh As
    * membuat perahu besar

    4. Ar-Rahmah
    Ar-Rahmah artinya rahmat
    Artinya: Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.

    5. Meniru sifat malaikat berarti kita :
    – Patuh terhadap perintah Allah swt.
    – Senantiasa beribadah kpd Allah Swt.
    – Mematuhi segala larangan Allah swt.
    – Mempercayai rezeki dari Allah swt.
    •Nama – nama malaikat dan tugasnya :
    1. Malaikat Jibril : Menyampaikan wahyu.
    2. Malaikat Mikail : Memberikan rezeki kpd makhluk Allah swt.
    3. Malaikat Israfil : Meniup sangkakala.
    4. Malaikat Izrail : Mencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar : Menanyakan amal buruk di alam kubur.
    6. Malaikat Nankir : Menanyakan amal baik di alam kubur.
    7. Malaikat Raqib : Mencatat amal buruk manusia selama ia hidup.
    8. Malaikat Atid : Mencatat amal baik manusia selama ia hidup.
    9. Malaikat Malik : Menjaga pintu neraka.
    10. Malaikat Ridwan : Menjaga pintu surga
    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

  51. 1. (1) ketauhidan, akidah, ibadah, akhlak, hukum, dan sains atau ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya.
    (2) 1. Al-Kitab yang artinya kitab.
    Artinya: Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
    2. Al-Huda yang artinya petunjuk.
    Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)…
    3. Al-Furqan
    Al-Fuqan memiliki arti pembeda.
    Artinya: Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).
    4. Ar-Rahmah
    Ar-Rahmah artinya rahmat
    Artinya: Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.

    2. – Hasad, adalah penyakit hati berupa iri dan dengki.
    – Musyrik, Merupakan mempersekutukan (meminta / memohon) selain kepada Allah dengan makhluk-Nya.

    3.- Nabi Muhammad Saw
    * peristiwa isra mi’raj
    – Nabi Isa As
    * dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal atas izin Allah swt
    – Nabi Musa As
    * dapat membelah lautan merah
    – Nabi Ibrahim As
    * tidak terbakar oleh api
    – Nabi Nuh As
    * membuat perahu besar

    4. Ar-Rahmah
    Ar-Rahmah artinya rahmat
    Artinya: Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.

    5. Meniru sifat malaikat berarti kita :
    – Patuh terhadap perintah Allah swt.
    – Senantiasa beribadah kpd Allah Swt.
    – Mematuhi segala larangan Allah swt.
    – Mempercayai rezeki dari Allah swt.
    •Nama – nama malaikat dan tugasnya :
    1. Malaikat Jibril : Menyampaikan wahyu.
    2. Malaikat Mikail : Memberikan rezeki kpd makhluk Allah swt.
    3. Malaikat Israfil : Meniup sangkakala.
    4. Malaikat Izrail : Mencabut nyawa.
    5. Malaikat Munkar : Menanyakan amal buruk di alam kubur.
    6. Malaikat Nankir : Menanyakan amal baik di alam kubur.
    7. Malaikat Raqib : Mencatat amal buruk manusia selama ia hidup.
    8. Malaikat Atid : Mencatat amal baik manusia selama ia hidup.
    9. Malaikat Malik : Menjaga pintu neraka.
    10. Malaikat Ridwan : Menjaga pintu surga
    6.) • terhadap orang tua: menghormati orng tua
    • terhadap teman : saling menghargai satu sma lain
    • terhadap guru : menghormati guru seperti orng tua sndiri
    • terhadap alam : menjaga dan tdk merusak alam
    7.) Ayat Tentang Aqidah هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
    Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,
    8.) • Rububiyah
    Macam-macam tauhid yang pertama adalah Rububiyah. Beriman bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat serta menjaga seluruh Alam Semesta.
    • Uluhiyah
    Macam-macam tauhid yang kedua adalah Uluhiyah. Uluhiyah dapat diartikan sebagai mentauhidkan atau mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik yang dzohir (terlihat) maupun batin. Itu artinya kamu beriman bahwa hanya Allah SWT semata yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.
    • Asma Wa Sifat
    Macam-macam tauhid yang ketiga adalah Asma Wa Sifat. Beriman bahwa Allah SWT memiliki nama dan sifat baik (asmaul husna) yang sesuai dengan keagungan-Nya yang telah Allah SWT tetapkan di Al-Qur’an dan As-sunah.
    9.) • sabar
    Allah Ta’ala berfirman:
    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Aali ‘Imraan:200)
    • Taat
    يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ  ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ  ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
    • ikhlas
    QS. Az-Zumar: 2-3:
    إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
    Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama hanya kepada-Nya. (2) Ingatlah, Hanya milik Allah agama yang murni (bersih dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (mereka berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan dengan harapan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.”
    10.) Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

immimpangkep.ponpes.id

spot_img

Get in Touch

78,000FansSuka
5,000PengikutMengikuti
10,000PelangganBerlangganan

Latest Posts