Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGSANTRI.COM – Ada zaman ketika kebenaran harus diperjuangkan dengan keberanian. Ada masa ketika keadilan membutuhkan suara-suara yang lantang. Ada keadaan ketika kebatilan, kesewenang-wenangan, dan kezaliman justru tumbuh subur karena terlalu banyak orang memilih diam, takut bersuara, atau bahkan berpura-pura tidak melihat.
Di tengah keadaan seperti itulah, kita membutuhkan para mujahid. Mujahid bukan semata-mata mereka yang berada di medan peperangan. Mujahid adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh mengerahkan kemampuan, tenaga, pikiran, ilmu, harta, dan keberaniannya untuk memperjuangkan kebenaran serta menegakkan keadilan.
Seorang Mujahid, adalah mereka yang tidak rela melihat kemungkaran dibiarkan, ketidakadilan dianggap biasa, dan kezaliman berlindung di balik kekuasaan. Mereka yang berjuang membela Islam, menjaga kehormatan kemanusiaan, menyuarakan kebenaran, serta menghadirkan kebaikan bagi sesama.
Ya, perjuangan itu tidak selalu membutuhkan senjata. Terkadang ia hadir melalui pena yang menuliskan kebenaran, lisan yang menyuarakan keadilan, ilmu yang mencerahkan, tangan yang menolong, dan hati yang tidak pernah berdamai dengan kezaliman.
Maka demikianlah makna perjuangan yang membutuhkan tsabat: keteguhan, konsistensi, dan kesetiaan pada prinsip kebenaran.
Mari simak dengan baik dan penuh penghayatan, ungkapan tentang tekad dan keberanian yang menjadi ruh dari nasyid “Tsabat 1000 Mujahid”:
Jika ada 1000 mujahid, maka sayalah salah satu di antaranya.
Jika ada 100 mujahid, maka sayalah salah satu di antaranya.
Jika ada 10 mujahid, maka sayalah salah satu di antaranya.
Dan jika hanya tersisa 1 mujahid, maka sayalah yang akan menggenggam perjuangan itu.
Ungkapan tersebut bukan tentang merasa paling hebat, bukan pula tentang mengklaim diri paling benar. Ia adalah deklarasi kesanggupan untuk tidak meninggalkan perjuangan, sekalipun jumlah kawan semakin sedikit, dukungan semakin berkurang, dan jalan kebenaran terasa semakin sunyi.
Kata tsabat (الثبات) bermakna keteguhan dan ketegaran dalam pendirian. Dalam konteks nasyid ini, ia menjadi simbol istiqamah: tetap berdiri di jalan iman, kebenaran, dan keadilan, meskipun menghadapi tantangan dan kesendirian.
Sebab, perjuangan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya orang yang berdiri bersama kita, tetapi oleh seberapa kuat keyakinan dan komitmen kita mempertahankan kebenaran. Seorang mujahid sejati tidak menjual nuraninya demi kepentingan sesaat.
Seorang mujahid tidak menyuarakan sesuatu hanya karena dibayar, tidak membela seseorang semata-mata karena kepentingan kelompok, dan tidak ikut berteriak hanya karena orang banyak melakukannya. Ia berdiri karena keyakinan, berbicara karena kebenaran, dan bertindak karena tanggung jawab moral.
Nasyid “Tsabat 1000 Mujahid” hendaknya menjadi pengingat bahwa perjuangan membela agama, kebaikan, dan kebenaran tidak boleh berhenti pada semangat sesaat. Ia harus tumbuh menjadi kesadaran, karakter, dan pengabdian sepanjang kehidupan. Keteguhan itu harus disertai ilmu, akhlak, keberanian moral, serta komitmen pada jalan yang damai, bermartabat, dan berkeadilan.
Maka, pertanyaan ini sesungguhnya bukan hanya ditujukan kepada orang lain, tetapi pertama-tama kepada diri kita sendiri, “Apakah Engkau Satu Mujahid yang Dirindukan Zaman Ini?”
Apakah engkau masih berani menyuarakan kebenaran ketika kebohongan lebih disukai? Apakah engkau masih sanggup membela yang lemah ketika kekuasaan berpihak kepada yang kuat? Apakah engkau tetap teguh memperjuangkan keadilan ketika kepentingan pribadi menawarkan jalan yang lebih mudah?
Semoga zaman ini tidak pernah benar-benar kehilangan para pejuang kebenaran. Semoga masih banyak orang yang bersedia berdiri di barisan kebaikan, menyuarakan kebenaran dari kedalaman hati nuraninya, bukan karena dibayar, bukan karena sekadar ikut-ikutan, dan bukan pula demi popularitas atau pujian manusia.
Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi juga mereka yang berani hidup di atas prinsip-prinsip kebenaran itu sendiri.
Tsabat! Tetap teguh dalam iman, ilmu, dan perjuangan. Sebab, selama keadilan masih harus diperjuangkan, selama itu pula tidak boleh ada alasan untuk menyerah pada kezaliman.
Dalam pandangan penulis, kekuatan utama pesan nasyid “Tsabat 1000 Mujahid” ini sebenarnya terletak pada satu kalimat, “Jangan menunggu seribu orang untuk memulai perjuangan kebenaran. Jadilah satu orang yang tidak pernah meninggalkan kebenaran. Allahu Akbar!”
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

