Santri Keren, Produktif Menulis

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Mengapa Seorang Santriwati Perlu Menulis di Blog?

BLOGSANTRI.COM – Ada banyak cara untuk menjadi santri keren. Rajin mengaji, fasih membaca Al-Qur’an, menguasai kitab kuning, aktif berorganisasi, pandai berpidato, berprestasi dalam berbagai perlombaan, mahir berbahasa Arab dan Inggris, atau bahkan memiliki keterampilan teknologi dan kecerdasan artifisial. Semua itu tentu membanggakan.

Namun, ada satu ukuran kekerenan santri yang sering luput diperhatikan: kemampuan membaca dan menulis. Sekeren-kerennya seorang santri, rasanya belum terlalu keren apabila ia hanya menjadi pembaca karya orang lain tanpa pernah berusaha melahirkan karya sendiri.

Santri mengaji kitab yang ditulis ulama terdahulu, membaca buku yang ditulis para cendekiawan, mengutip pemikiran para ilmuwan, tetapi tidak pernah meninggalkan satu paragraf pun yang dapat dibaca oleh generasi setelahnya. Padahal, salah satu cara ilmu bertahan melampaui zaman adalah melalui tulisan.

Santri seharusnya tidak hanya menjadi konsumen khazanah keilmuan Islam, tetapi juga menjadi produsen khazanah keilmuan Islam. Membaca adalah Mengumpulkan, Menulis adalah Menghasilkan

***

Tradisi pesantren sesungguhnya sangat dekat dengan budaya literasi. Santri membaca Al-Qur’an, membaca hadits, membaca kitab fikih, tafsir, akhlak, sejarah, bahasa Arab, ushul fikih, hingga berbagai disiplin ilmu lainnya. Mereka terbiasa dengan teks. Namun, membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang harus berjalan beriringan.

Membaca membuat seseorang memiliki bahan berpikir. Menulis membuat hasil berpikir itu memiliki bentuk dan dapat diwariskan. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW bahkan diawali dengan perintah membaca: Iqra’. Setelah itu, Al-Qur’an juga menyebut pena dalam rangkaian ayat awal Surah Al-‘Alaq.

QS Al-‘Alaq [96]: 4–5 menegaskan bahwa Allah mengajar manusia dengan perantaraan pena dan mengajarkan manusia apa yang sebelumnya tidak diketahuinya. Dalam tafsir ayat tersebut, disebutkan pula bahwa kemampuan menggunakan alat tulis memungkinkan manusia menuliskan pengetahuan agar dapat dibaca orang lain dan generasi berikutnya.

Pesannya sangat kuat: ilmu tidak cukup hanya diketahui; ilmu perlu dicatat, disebarkan, dikembangkan, dan diwariskan. Karena itu, budaya membaca tanpa budaya menulis akan menghasilkan banyak orang yang berpengetahuan, tetapi sedikit orang yang meninggalkan jejak pengetahuan.

Di Piondok Pesantren, sejatinya seorang santri tak hanya cukup membaca Kitab, tetapi juga harus menulis. Pesantren telah melahirkan ulama dan intelektual yang meninggalkan karya monumental. Tradisi keilmuan Islam berkembang justru karena para ulama terdahulu menulis.

Kitab-kitab yang sekarang dibaca santri pada dasarnya adalah “suara” para ulama yang melintasi waktu. Santri generasi sekarang dapat mempelajari pemikiran ulama ratusan tahun lalu karena mereka meninggalkan tulisan.

Pertanyaannya kemudian: apa yang akan ditinggalkan oleh santri hari ini kepada generasi seratus tahun mendatang?

Pertanyaan ini penting. Jangan sampai generasi santri hanya dikenal sebagai generasi yang sangat rajin membaca kitab karya ulama terdahulu, tetapi tidak meninggalkan karya apa pun yang dapat dibaca oleh generasi sesudahnya.

Kajian tentang pengembangan kreativitas menulis santri juga mencatat persoalan tersebut: banyak santri membaca kitab kuning dan karya ulama terdahulu, tetapi belum cukup banyak menghasilkan karya tulis sendiri.

Karena itu, pengembangan keterampilan menulis dipandang penting agar santri dapat menghasilkan karya yang dipublikasikan melalui berbagai media. Menulis tidak harus langsung menjadi kitab tebal. Santri dapat memulainya dari satu halaman.

Satu halaman tentang hikmah membaca Al-Qur’an. Satu tulisan tentang pengalaman mengikuti kajian kitab. Satu artikel tentang sejarah pesantren. Satu refleksi tentang kehidupan santri. Satu ulasan kitab. Satu tulisan tentang fikih.

Satu artikel tentang akhlak. Satu tulisan tentang budaya Islam. Bahkan satu catatan sederhana tentang kehidupan sehari-hari di asrama. Yang penting adalah mulai menulis.

Dahulu, tulisan santri mungkin hanya dibaca oleh teman satu kamar, satu kelas, satu organisasi, atau paling jauh oleh warga pesantren melalui majalah dinding dan majalah pesantren.

Kini keadaan sudah berubah. Satu tulisan santri dapat dibaca oleh orang yang berada ribuan kilometer dari pesantren tempat tulisan itu dibuat. Seorang santri di Pangkep dapat menulis tentang pengalaman mengaji kitab kuning, lalu tulisannya dibaca mahasiswa di Jakarta.

Tulisan tentang tradisi pesantren dapat dibaca peneliti di Malaysia. Artikel tentang fikih dapat ditemukan mahasiswa Muslim di Inggris. Tulisan tentang sejarah Islam Nusantara dapat dibaca akademisi di Australia. Bahkan tulisan dalam bahasa Inggris atau Arab berpotensi menjangkau pembaca yang jauh lebih luas.

Inilah keajaiban dunia digital. Website, blog, portal pendidikan, jurnal daring, dan media sosial telah mengubah batas-batas geografis dalam penyebaran pengetahuan. UNESCO sendiri menempatkan literasi di era digital sebagai salah satu tantangan dan peluang penting pendidikan kontemporer.

Digitalisasi membuka ruang baru bagi proses belajar dan pengembangan literasi di berbagai lingkungan pendidikan. Maka, santri tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan digital. Santri harus menjadi pelaku produksi pengetahuan digital.

***

Salah satu media yang sangat mungkin dikembangkan pesantren adalah blog. Blog relatif sederhana. Tidak harus menunggu diterbitkan penerbit. Tidak harus menunggu redaksi surat kabar menerima tulisan. Santri dapat memiliki ruang publikasi sendiri.

Di sinilah blog dapat menjadi laboratorium menulis. Santri belajar menentukan judul, membuat paragraf pembuka, menyusun argumentasi, menggunakan referensi, mencantumkan kutipan, melakukan verifikasi informasi, menyunting tulisan, menggunakan gambar secara etis, hingga memahami bagaimana pembaca menemukan tulisan melalui mesin pencari.

Web Blog dapat menjadi media yang menarik untuk meningkatkan keterampilan menulis dan antusiasme santri terhadap kegiatan literasi. Lebih jauh, penelitian mengenai blogging berbahasa Inggris untuk santri menunjukkan bahwa pelatihan semacam ini bukan hanya menghasilkan tulisan yang dipublikasikan, tetapi juga meningkatkan pemahaman tentang struktur berita, unsur 5W+1H, etika digital, dan penggunaan media secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, blog bukan sekadar tempat “memajang tulisan”. Blog dapat menjadi ruang pembelajaran, ruang ekspresi, ruang dakwah, ruang penelitian, dan ruang pembentukan identitas intelektual santri.

Bayangkan sebuah pesantren memiliki 500 santri. Jika setiap santri mampu menghasilkan satu tulisan bermutu setiap bulan, berarti ada 500 tulisan dalam satu bulan. Dalam setahun menjadi 6.000 tulisan.

Tidak semua tulisan akan bagus. Tidak semuanya akan dibaca. Tidak semuanya akan viral. Tetapi dari ribuan tulisan itu, mungkin akan lahir puluhan penulis muda yang serius. Dari puluhan penulis itu, mungkin lahir beberapa peneliti. Dari para peneliti itu, mungkin lahir ulama, akademisi, jurnalis, penulis buku, cendekiawan, atau intelektual Muslim masa depan.

Maka, budaya menulis harus dipahami sebagai investasi jangka panjang. Pesantren tidak perlu mengejar viralitas sebagai tujuan utama. Yang harus dikejar adalah kualitas, konsistensi, kredibilitas, dan manfaat.

Tulisan yang baik tidak selalu menjadi viral. Tetapi tulisan yang baik memiliki peluang untuk terus ditemukan, dibaca, dikutip, dan diwariskan. Intinya, Khazanah Islam  jangan hanya menjadi Arsip dan Dunia Pesantren menjadi tidak dikenal atau dipersepsikan lain oleh orang yang tak pernah merasakan hidup dalam Pesantren. Menulislah!

***

Ada persoalan yang lebih besar daripada sekadar kemampuan teknis menulis. Khazanah Islam sangat luas. Pesantren memiliki kekayaan pengetahuan yang luar biasa: tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, tasawuf, sejarah, bahasa Arab, akhlak, pendidikan, kebudayaan, pemikiran Islam, hingga tradisi lokal yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan masyarakat.

Tetapi apabila semua pengetahuan itu hanya tersimpan di kepala santri atau hanya beredar secara lisan di lingkungan pesantren, jangkauannya menjadi terbatas. Tulisan dapat mengeluarkannya dari ruang yang terbatas itu.

Misalnya, seorang santri menulis artikel berjudul “Mengapa Santri Harus Mempelajari Adab Sebelum Ilmu?” Tulisan tersebut dapat ditemukan orang lain melalui mesin pencari.

Santri lain menulis “Mengenal Kitab Kuning dan Tradisi Keilmuan Pesantren”. Tulisan itu dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat umum untuk memahami pesantren. Santri lain menulis tentang sejarah ulama lokal. Tulisan itu dapat menjadi dokumentasi sejarah yang suatu hari mungkin sangat berharga.

Santri lainnya menulis dalam bahasa Arab atau Inggris tentang konsep wasathiyah, pendidikan Islam, fikih lingkungan, ekonomi syariah, atau sejarah Islam Nusantara. Pada titik itulah tulisan santri tidak lagi sekadar tugas sekolah. Ia berubah menjadi kontribusi intelektual.

Penting juga diingat satu hal, bahwa Menulis harus disertai Etika Ilmiah. Produktif menulis tidak berarti bebas menulis apa saja tanpa tanggung jawab. Justru karena tulisan dapat dibaca banyak orang, santri harus memiliki etika literasi yang kuat.

Santri harus belajar membedakan fakta dan opini, memeriksa sumber, tidak menyebarkan hadis palsu, tidak mengambil tulisan orang lain tanpa menyebut sumber, tidak melakukan plagiarisme, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta tidak menggunakan agama sebagai legitimasi untuk menyebarkan kebencian.

Kemampuan jurnalistik juga terbukti dapat membantu santri mengembangkan kemampuan membaca kritis, mengolah, memverifikasi, dan menyebarkan informasi sesuai prinsip literasi digital.

Karena itu, semakin luas jangkauan tulisan, semakin besar pula tanggung jawab moral penulisnya. Santri yang menulis membawa identitas dirinya, keluarganya, pesantrennya, bahkan dalam batas tertentu membawa citra Islam.

Maka prinsipnya sederhana: menulis dengan ilmu, menyampaikan dengan adab, dan menyebarkan dengan tanggung jawab. Teruslah berlatih menulis hingga mahir, dan jadilah dari Santri Konsumtif menjadi Santri Produktif

Budaya digital sering menjadikan anak muda sebagai konsumen. Scroll, like, comment, share, repeat. Berjam-jam dapat dihabiskan untuk membaca konten orang lain, menonton video orang lain, mengikuti pendapat orang lain, dan menikmati karya orang lain.

Santri harus keluar dari pola tersebut. Jangan hanya bertanya, “Apa yang sedang viral?” Tanyakan pula: “Apa yang bisa saya tulis?” Jangan hanya bertanya, “Apa yang dikatakan orang?” Tanyakan pula, “Apa yang dapat saya sumbangkan kepada percakapan itu?”

Jangan hanya menjadi pengguna internet. Jadilah produsen pengetahuan di internet. Inilah salah satu bentuk produktivitas santri pada zaman digital. Membangun Ekosistem “Santri Keren, Produktif Menulis”

Budaya menulis tidak akan tumbuh hanya dengan memberikan perintah, “Santri harus rajin menulis.” Pesantren perlu membangun ekosistem. Pertama, budaya membaca harus diperkuat. Santri perlu memiliki waktu membaca buku, kitab, jurnal, artikel, dan sumber digital yang kredibel.

Kedua, perlu ada komunitas menulis santri. Tidak harus besar. Lima atau sepuluh santri yang serius sudah cukup untuk memulai. Ketiga, perlu ada mentor atau pembina literasi yang membaca tulisan santri, memberikan koreksi, dan mengajarkan teknik menulis.

Keempat, pesantren dapat menyediakan blog atau portal santri sebagai ruang publikasi. Kelima, tulisan terbaik dapat dikembangkan menjadi buku, antologi, jurnal, atau karya ilmiah. Keenam, kemampuan bahasa Arab dan Inggris perlu didorong agar tulisan santri tidak hanya menjangkau pembaca Indonesia.

Dengan pola demikian, pesantren bukan hanya mencetak santri yang pandai berbicara tentang ilmu, tetapi juga santri yang mampu mendokumentasikan dan menyebarluaskan ilmu.

***

Pada akhirnya, menjadi santri keren bukan soal pakaian, gaya bicara, jumlah pengikut media sosial, atau seberapa sering tampil di depan publik. Santri keren adalah santri yang berilmu, beradab, produktif, dan memberi manfaat.

Ia membaca bukan sekadar untuk mengetahui. Ia membaca untuk berpikir. Ia berpikir untuk memahami. Ia memahami untuk menulis. Ia menulis untuk berbagi. Dan ia berbagi agar ilmunya menjadi manfaat bagi manusia.

Sekeren-kerennya santri, akan semakin keren apabila ia mampu menulis khazanah keislaman yang tidak hanya dibaca oleh teman satu kamar, satu kelas, atau satu pondok pesantren, tetapi dapat dibaca oleh santri di pesantren lain, mahasiswa di perguruan tinggi Islam, peneliti, akademisi, bahkan masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia.

Bayangkan jika setiap pesantren melahirkan ratusan penulis muda. Bayangkan jika setiap santri memiliki blog yang berisi gagasan, refleksi, penelitian kecil, resensi kitab, sejarah ulama, kajian Islam, pengalaman belajar, dan pemikiran tentang masa depan umat.

Internet kemudian tidak hanya dipenuhi konten hiburan. Internet akan dipenuhi suara intelektual santri. Dan mungkin, suatu hari nanti, seorang mahasiswa Muslim di luar negeri sedang mencari referensi tentang Islam Nusantara, pendidikan pesantren, fikih, tradisi keilmuan Islam, atau kehidupan santri. Ia mengetik kata kunci di mesin pencari.

Lalu muncul sebuah tulisan. Ia membaca. Ia menemukan gagasan yang kuat. Ia menemukan referensi. Ia menemukan pengalaman intelektual seorang santri dari Indonesia. Dan di situlah seorang santri yang dahulu hanya duduk di pojok masjid sambil membaca kitab, tiba-tiba memiliki pembaca di seluruh dunia.

Itulah santri keren. Santri yang membaca. Santri yang berpikir. Santri yang menulis. Santri yang berkarya. Santri yang membuat ilmunya menyeberangi batas-batas pesantren dan geografis untuk menjadi manfaat bagi umat manusia. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

 

Referensi Pilihan:

– Al-Qur’an, QS Al-‘Alaq [96]: 1–5.

– UNESCO, Global Literacy Landscape in the Digital Era, 2025.

– Munawara dkk., “Peran Jurnalistik terhadap Kemampuan Literasi Informasi Santri di Pesantren Tebuireng,” Prosiding SAINSTEKNOPAK, 2025.

– M. Arif Khoiruddin & Lutfiana, “Pengembangan Kreatifitas Menulis Santri Melalui Ngaji Jurnalistik di Pondok Pesantren,” J-Kis: Jurnal Komunikasi Islam, 2021.

– Riyadh Arridha, Titing Magfirah & Andi Roy, “Peningkatan Keterampilan Menulis bagi Santri melalui Pembuatan dan Pengelolaan Blog,” JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri).

– Gufron dkk., “Enhancing Santri Digital Literacy through English News Blogging Training,” Inovasi Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2026.

– Mohammad Dzakiyyuddin dkk., “Cultivating Santri’s Academic Writing Skills in a Formal Pesantren Setting,” AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan, 2026.

- Advertisement -

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

immimpangkep.ponpes.id

spot_img

Get in Touch

78,000FansSuka
5,000PengikutMengikuti
10,000PelangganBerlangganan

Latest Posts