Ujian Semester Genap Mapel SKI Kelas IX SMP/MTs

Related Post: Masuknya Islam ke Nusantara menurut Sarjana-sarjana Barat

BLOGSANTRI.COM – Sebelum menjawab soal-soal dibawah ini, diwajibkan terlebih dahulu untuk menyimak ulang materi pembelajaran selama 10 menit pada link berikut:

Pembelajaran SKI K-13 Untuk MTs Kelas IX Semester Ganjil

Bahan Pembelajaran dan UKK Mapel Sejarah Kebudayaan Islam

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan benar dan ikuti instruksi pembelajaran yang diminta!

  1. Buka Link video di Channel Putri IMMIM diatas dan silakan like, subscribe dan comments. Bukti like dan subscribe (screenshoot) dikirim ke WA Center Putri IMMIM dengan menyebutkan nama dan kelasnya, sedang komentar (Tulis Pendapatmu tentang Merdeka Belajar Sejarah di Luar Kelas/Luar Sekolah, sekaitan dengan Belajar dan Rekreasi ke Situs Prasejarah Leang Kassi di Kolom Komentar Link Youtube diatas).
  2. Jelaskan Perbedaan: Masa Sejarah dan Masa Prasejarah!
  3. Jelaskan seseorang yang pantas disebut sebagai Tokoh Sejarah dan alasannya!
  4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan literasi budaya dan sebutkan contoh kegiatan bernuansa literasi budaya yang pernah kamu ikuti!
  5. Tuliskan secara singkat sejarah berikut: a) Sejarah Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep; b) Sejarah Dirimu berada di Ponpes Modern Putri IMMIM c) Sejarah Pangkep.

Selamat Menjawab. (*)

Lihat pula: Jalan jalan ke Situs Prasejarah Leang Lompoa

- Advertisement -

Get in Touch

  1. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4.Literasi Nusantara
    6 LITERASI DASAR ARTIKEL INSPIRATIF LITERASI BUDAYA & KEWARGAAN
    Literasi Budaya dan Kewargaan: Pengertian, Tantangan, dan Peluang
    MARCH 9, 2020 3 MINUTE READ

    Kita tentu sadar, literasi punya cakupan yang sangat luas dalam pengertiannya. Literasi bukan bakat. Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih.

    Literasi, dikutip dari Guru Digital, secara umum diketahui sebagai seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di abad 21 ini, keterampilan literasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk dapat bersaing secara global.

    Forum Ekonomi Dunia 2015 membagi gambaran tentang keterampilan literasi menjadi 6 dasar, yang dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,
    5.IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep

    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan

    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi

    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM

    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.

  2. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.
    4.Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih.

    Literasi, dikutip dari Guru Digital, secara umum diketahui sebagai seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di abad 21 ini, keterampilan literasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk dapat bersaing secara global.

    Forum Ekonomi Dunia 2015 membagi gambaran tentang keterampilan literasi menjadi 6 dasar, yang dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, seperti berikut:

    Literasi Baca Tulis
    Literasi Numerasi
    Literasi Sains
    Literasi Digital
    Literasi Finansial
    Literasi Budaya dan Kewargaan
    5.Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene.

  3. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4.Literasi Nusantara
    6 LITERASI DASAR ARTIKEL INSPIRATIF LITERASI BUDAYA & KEWARGAAN
    Literasi Budaya dan Kewargaan: Pengertian, Tantangan, dan Peluang
    MARCH 9, 2020 3 MINUTE READ

    Kita tentu sadar, literasi punya cakupan yang sangat luas dalam pengertiannya. Literasi bukan bakat. Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih.

    Literasi, dikutip dari Guru Digital, secara umum diketahui sebagai seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di abad 21 ini, keterampilan literasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk dapat bersaing secara global.

    Forum Ekonomi Dunia 2015 membagi gambaran tentang keterampilan literasi menjadi 6 dasar, yang dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,
    5.IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep
    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan
    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi
    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM
    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.

  4. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4.Literasi Nusantara
    6 LITERASI DASAR ARTIKEL INSPIRATIF LITERASI BUDAYA & KEWARGAAN
    Literasi Budaya dan Kewargaan: Pengertian, Tantangan, dan Peluang
    MARCH 9, 2020 3 MINUTE READ

    Kita tentu sadar, literasi punya cakupan yang sangat luas dalam pengertiannya. Literasi bukan bakat. Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih.

    Literasi, dikutip dari Guru Digital, secara umum diketahui sebagai seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di abad 21 ini, keterampilan literasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk dapat bersaing secara global.

    Forum Ekonomi Dunia 2015 membagi gambaran tentang keterampilan literasi menjadi 6 dasar, yang dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,
    5.IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep

    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan

    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi

    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM

    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.

  5. 2. Masa prasejarah adalah masa dimana manusia belum mengenal tulisan
    Masa sejarah adalah masa manusia sudah mengenal tulisan
    3.soekarno ,Mahat pakandi
    4.literasi adalah budaya membaca dan kegiatan yang pernah saya ikuti adalah literasi baca dan tulis , literasi di gital dan literasi budaya
    5. Sejarah tentang immim immim di kenal sebagai pesantren yang terkenal di Sulawesi Selatan karna di pesantren immim terdapat ilmu ilmu yang bermanfaat di dalam nya seperti baca kitab kuning dakwah 3 bahasa
    Sejarah tentang diriku di pesantren :dapat teman baru yang berbagai daerah
    Sejarah tentang pangkep terkenal dengan banyak nya tempat prasejarah yang banyak di datangi oleh banyak orang seperti lelang kassi leang lonrong

  6. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3. pahlawan nasional ( sejarah ) adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.
    4. Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Seperti mengunjungi tempat bersejarah.
    4.a) Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.
    b) ⁩bnyak sekali sejara yg bisa di dpt dari immim entah dri segi pertemanan, sahabat,solidnya,senioritasnya,kakak adek dll, bnyak sakali yg dpt di tinggalkan di immim pengalaman” bersama dengan teman guru adek kaka dll,
    c) Pangkajene adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibukota dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai sebuah pusat kota, Pangkajene memainkan peran vital kehidupan Kabupaten Pangkep baik sebagai pusat pemerintahan maupun pusat perekonomian.

    Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene. Sampai saat ini belum didapatkan keterangan yang tegas, sejak kapan nama “Pangkajene” menggantikan nama yang popular sebelumnya, ‘Marana’. Menurut beberapa sumber, awalnya yang dikenal adalah Kampung Marana, dan sungai yang membelah kota Pangkajene sekarang ini dulunya bernama Sungai Marana.(Makkulau, 2008).

    Kampung Marana terletak di sebelah utara sungai tua, sekitar Lembaga Pemasyarakatan lama (sekarang dijadikan tempat Pos Polisi dan Sekretariat Pemuda Pancasila) melebar ke Terminal Kompak, jadi lipat dua kali lebarnya dibanding sungai yang ada sekarang, tepatnya berada di jantung kota Pangkajene sekarang, sedangkan kampung – kampung tua yang ada di sekitar pinggiran sungai sekarang dari timur sampai ke barat antara lain Kampung Sabila, Ujung LoE, Tumampua, Jagong, Purung – Purung, balanakang,Toli – Toli dan Lomboka, sedangkan bagian utara sungai, yaitu dari Pabundukang, Bone – bone, Kajonga, Palampang, Binanga Polong, Bucinri sampai ke Padede dan Kampung Solo.(M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Jika kita menelusuri asal muasal pemberian nama – nama kampung yang telah disebutkan di atas—menurut beberapa sumber penulis—hal itu berkaitan erat dengan perebutan hegemoni kekuasaan antara Gowa dan Bone di bekas wilayah Kerajaan Siang dan Barasa (disebut Bundu Pammanakang). Kampung yang disebut Pabundukang itu awalnya adalah sebuah padang yang cukup luas, dimana menjadi tempat pertempuran antara laskar Bone dan Gowa, sedangkan Kampung Sabila diambilkan dari nama bangsawan Bone yang bertempur dan tewas di tempat itu, yaitu Arung Sabila. Begitu pula Kampung Bone-bone, yang pernah dihuni oleh mayoritas orang Bone. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Kampung Tumampua (sekarang Kelurahan Tumampua) awalnya adalah kampung yang dihuni mayoritas orang – orang Bone berdarah Siang dengan menggunakan Bahasa Bugis, sedangkan Kampung Jagong (sekarang Kelurahan Jagong) dihuni oleh masyoritas orang – orang Gowa yang menuturkan Bahasa Makassar. Masing – masing hidup berdampingan karena mendapat suaka politik dari sejak masih adanya pengaruh Siang / Barasa sampai Gowa dan Bone silih berganti memperebutkannya untuk dijadikan palili / daerah taklukan, sedangkan Andi Syahrir (mantan Anggota DPRD Pangkep 1999 – 2004) mengurai bahwa Tu-mampua bermakna Orang mampu karena kampong tersebut didirikan oleh La Tenriaji To Senrima, Bangsawan Bone yang sangat kaya . (Makkulau, 2008).

    Antara Kampung Solo dan Kampung Lomboka, sungai te1rsebut terbagi dua muaranya karena di depannya terdapat hutan bakau akibat aktifitas erosi, disekitarnya terdapat Kampung Polewali dan Lomboka. Pada percabangan sungai tersebut, dahulunya banyak digunakan sebagai tempat aktifitas perdagangan. Dimana saja ada muara sungai yang bercabang, biasa disebut “Appangkai Je’neka” maka daerah itu akan menjadi ramai. Sekarang tempat dimana terdapat (berdekatan) dengan percabangan sungai tersebut sudah sejak lama ramai karena dijadikan tempat pelelangan ikan. Penduduk setempatnya menyebutnya Lelonga. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Dahulu terdapat tiga sungai besar yang mengelilingi Kampung Marana yang menjadikannya tempat strategis transportasi karena berada di persimpangan sungai tua dari Paccelang, sungai tua dari Baru – baru dan sungai tua dari Siang (SengkaE). Ketiga sungai tersebut menjadikan Kampung Marana ramai karena berada di persimpangan cabang sungai (Bahasa Makassar : Pangkana Je’neka) dan di situ pula terjadi pertemuan dalam ikatan janji, baik dalam bentuk persahabatan, memperkuat jalinan kekerabatan maupun untuk kepentingan perdagangan. Pedagang yang akan memasarkan hasil bumi dan dagangannya biasanya mengadakan perjanjian dengan ucapan, “Anjorengpaki sicini ripangkana je’neka” (nanti kita bertemu di cabang air), yang dimaksudkan sesungguhnya tempat yang dituju adalah muara Sungai Marana (sekarang Sungai Pangkajene).(Makkulau, 2008).

  7. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4.Literasi Nusantara
    6 LITERASI DASAR ARTIKEL INSPIRATIF LITERASI BUDAYA & KEWARGAAN
    Literasi Budaya dan Kewargaan: Pengertian, Tantangan, dan Peluang
    MARCH 9, 2020 3 MINUTE READ

    Kita tentu sadar, literasi punya cakupan yang sangat luas dalam pengertiannya. Literasi bukan bakat. Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih.

    Literasi, dikutip dari Guru Digital, secara umum diketahui sebagai seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di abad 21 ini, keterampilan literasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk dapat bersaing secara global.

    Forum Ekonomi Dunia 2015 membagi gambaran tentang keterampilan literasi menjadi 6 dasar, yang dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,
    5.IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep

    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan

    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi

    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM

    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.

  8. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4.Literasi Nusantara
    6 LITERASI DASAR ARTIKEL INSPIRATIF LITERASI BUDAYA & KEWARGAAN
    Literasi Budaya dan Kewargaan: Pengertian, Tantangan, dan Peluang
    MARCH 9, 2020 3 MINUTE READ

    Kita tentu sadar, literasi punya cakupan yang sangat luas dalam pengertiannya. Literasi bukan bakat. Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih.

    Literasi, dikutip dari Guru Digital, secara umum diketahui sebagai seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di abad 21 ini, keterampilan literasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk dapat bersaing secara global.

    Forum Ekonomi Dunia 2015 membagi gambaran tentang keterampilan literasi menjadi 6 dasar, yang dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,
    5.IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep

    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan

    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi

    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM

    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.

  9. Nabila Putri Nuryadin
    9b
    2. Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri masing-masing, di mana zaman prasejarah di mulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah di mulai saat manusia Sudah membentuk pradaban atau kebudayaan nya sendiri dan juga mengenal tulisan
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4. Mengetahui dan bersikap kebudayaan sebagai identitas bangsa tersendiri dan dapat memahami hak kita sebagai warga negara
    5. Ponpes IMMIM di bangun pada 1 Muharram 1395 H kepanjangan IMMIM adalah Ikatan Masjid Musallah Indonesia Muttahidah, selama di pesantren IMMIM kita dapat belajar mandiri dan mendapatkan berberapa hafalan Al-Qur’an, kata Pangkajene berasal dari dua bahasa Pangka yaitu cabang dan je’ne yang berarti air dan jika di sambungkan akan menjadi cabang air

  10. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.3. pahlawan nasional ( sejarah ) adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.
    4.Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Seperti mengunjungi tempat bersejarah.
    5.a.Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.
    b.7 juli 2019,saya msuk di pondok,saya bertemu dgn banyak teman baru,mereka smua ada yg dri papua,kalimantan,bima,kupang,dll.Kami smua berteman,tpi asrama kami berbeda,ada yg di kalsum,dan di rabiah.Masuknya saya di pondok, saya ingin lebih leluasa mengenal bahasa(inggris,arab).Saya ingin mempunyai banyak teman.Dan saya masuk di pondok ingin jauh atau terhindar dri pergaulan di luar sana.Saya senang bisa mengenal teman teman,dan saya juga senang bisa masuk di pondok,walaupun saya dan teman teman saya sudah melewati susah dan senangnya dipondok.
    c.Pangkajene adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibukota dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai sebuah pusat kota, Pangkajene memainkan peran vital kehidupan Kabupaten Pangkep baik sebagai pusat pemerintahan maupun pusat perekonomian.

    Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene. Sampai saat ini belum didapatkan keterangan yang tegas, sejak kapan nama “Pangkajene” menggantikan nama yang popular sebelumnya, ‘Marana’. Menurut beberapa sumber, awalnya yang dikenal adalah Kampung Marana, dan sungai yang membelah kota Pangkajene sekarang ini dulunya bernama Sungai Marana.(Makkulau, 2008).

    Kampung Marana terletak di sebelah utara sungai tua, sekitar Lembaga Pemasyarakatan lama (sekarang dijadikan tempat Pos Polisi dan Sekretariat Pemuda Pancasila) melebar ke Terminal Kompak, jadi lipat dua kali lebarnya dibanding sungai yang ada sekarang, tepatnya berada di jantung kota Pangkajene sekarang, sedangkan kampung – kampung tua yang ada di sekitar pinggiran sungai sekarang dari timur sampai ke barat antara lain Kampung Sabila, Ujung LoE, Tumampua, Jagong, Purung – Purung, balanakang,Toli – Toli dan Lomboka, sedangkan bagian utara sungai, yaitu dari Pabundukang, Bone – bone, Kajonga, Palampang, Binanga Polong, Bucinri sampai ke Padede dan Kampung Solo.(M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Jika kita menelusuri asal muasal pemberian nama – nama kampung yang telah disebutkan di atas—menurut beberapa sumber penulis—hal itu berkaitan erat dengan perebutan hegemoni kekuasaan antara Gowa dan Bone di bekas wilayah Kerajaan Siang dan Barasa (disebut Bundu Pammanakang). Kampung yang disebut Pabundukang itu awalnya adalah sebuah padang yang cukup luas, dimana menjadi tempat pertempuran antara laskar Bone dan Gowa, sedangkan Kampung Sabila diambilkan dari nama bangsawan Bone yang bertempur dan tewas di tempat itu, yaitu Arung Sabila. Begitu pula Kampung Bone-bone, yang pernah dihuni oleh mayoritas orang Bone. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Kampung Tumampua (sekarang Kelurahan Tumampua) awalnya adalah kampung yang dihuni mayoritas orang – orang Bone berdarah Siang dengan menggunakan Bahasa Bugis, sedangkan Kampung Jagong (sekarang Kelurahan Jagong) dihuni oleh masyoritas orang – orang Gowa yang menuturkan Bahasa Makassar. Masing – masing hidup berdampingan karena mendapat suaka politik dari sejak masih adanya pengaruh Siang / Barasa sampai Gowa dan Bone silih berganti memperebutkannya untuk dijadikan palili / daerah taklukan, sedangkan Andi Syahrir (mantan Anggota DPRD Pangkep 1999 – 2004) mengurai bahwa Tu-mampua bermakna Orang mampu karena kampong tersebut didirikan oleh La Tenriaji To Senrima, Bangsawan Bone yang sangat kaya . (Makkulau, 2008).

    Antara Kampung Solo dan Kampung Lomboka, sungai te1rsebut terbagi dua muaranya karena di depannya terdapat hutan bakau akibat aktifitas erosi, disekitarnya terdapat Kampung Polewali dan Lomboka. Pada percabangan sungai tersebut, dahulunya banyak digunakan sebagai tempat aktifitas perdagangan. Dimana saja ada muara sungai yang bercabang, biasa disebut “Appangkai Je’neka” maka daerah itu akan menjadi ramai. Sekarang tempat dimana terdapat (berdekatan) dengan percabangan sungai tersebut sudah sejak lama ramai karena dijadikan tempat pelelangan ikan. Penduduk setempatnya menyebutnya Lelonga. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Dahulu terdapat tiga sungai besar yang mengelilingi Kampung Marana yang menjadikannya tempat strategis transportasi karena berada di persimpangan sungai tua dari Paccelang, sungai tua dari Baru – baru dan sungai tua dari Siang (SengkaE). Ketiga sungai tersebut menjadikan Kampung Marana ramai karena berada di persimpangan cabang sungai (Bahasa Makassar : Pangkana Je’neka) dan di situ pula terjadi pertemuan dalam ikatan janji, baik dalam bentuk persahabatan, memperkuat jalinan kekerabatan maupun untuk kepentingan perdagangan. Pedagang yang akan memasarkan hasil bumi dan dagangannya biasanya mengadakan perjanjian dengan ucapan, “Anjorengpaki sicini ripangkana je’neka” (nanti kita bertemu di cabang air), yang dimaksudkan sesungguhnya tempat yang dituju adalah muara Sungai Marana (sekarang Sungai Pangkajene).(Makkulau, 2008).

  11. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3. pahlawan nasional ( sejarah ) adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.
    4.Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Seperti mengunjungi tempat bersejarah.
    5.(a)Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.
    (b).pas masuk saya di immim saya mempunyai banyak teman
    (c).Pangkajene adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibukota dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai sebuah pusat kota, Pangkajene memainkan peran vital kehidupan Kabupaten Pangkep baik sebagai pusat pemerintahan maupun pusat perekonomian.

    Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene. Sampai saat ini belum didapatkan keterangan yang tegas, sejak kapan nama “Pangkajene” menggantikan nama yang popular sebelumnya, ‘Marana’. Menurut beberapa sumber, awalnya yang dikenal adalah Kampung Marana, dan sungai yang membelah kota Pangkajene sekarang ini dulunya bernama Sungai Marana.(Makkulau, 2008).

    Kampung Marana terletak di sebelah utara sungai tua, sekitar Lembaga Pemasyarakatan lama (sekarang dijadikan tempat Pos Polisi dan Sekretariat Pemuda Pancasila) melebar ke Terminal Kompak, jadi lipat dua kali lebarnya dibanding sungai yang ada sekarang, tepatnya berada di jantung kota Pangkajene sekarang, sedangkan kampung – kampung tua yang ada di sekitar pinggiran sungai sekarang dari timur sampai ke barat antara lain Kampung Sabila, Ujung LoE, Tumampua, Jagong, Purung – Purung, balanakang,Toli – Toli dan Lomboka, sedangkan bagian utara sungai, yaitu dari Pabundukang, Bone – bone, Kajonga, Palampang, Binanga Polong, Bucinri sampai ke Padede dan Kampung Solo.(M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Jika kita menelusuri asal muasal pemberian nama – nama kampung yang telah disebutkan di atas—menurut beberapa sumber penulis—hal itu berkaitan erat dengan perebutan hegemoni kekuasaan antara Gowa dan Bone di bekas wilayah Kerajaan Siang dan Barasa (disebut Bundu Pammanakang). Kampung yang disebut Pabundukang itu awalnya adalah sebuah padang yang cukup luas, dimana menjadi tempat pertempuran antara laskar Bone dan Gowa, sedangkan Kampung Sabila diambilkan dari nama bangsawan Bone yang bertempur dan tewas di tempat itu, yaitu Arung Sabila. Begitu pula Kampung Bone-bone, yang pernah dihuni oleh mayoritas orang Bone. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Kampung Tumampua (sekarang Kelurahan Tumampua) awalnya adalah kampung yang dihuni mayoritas orang – orang Bone berdarah Siang dengan menggunakan Bahasa Bugis, sedangkan Kampung Jagong (sekarang Kelurahan Jagong) dihuni oleh masyoritas orang – orang Gowa yang menuturkan Bahasa Makassar. Masing – masing hidup berdampingan karena mendapat suaka politik dari sejak masih adanya pengaruh Siang / Barasa sampai Gowa dan Bone silih berganti memperebutkannya untuk dijadikan palili / daerah taklukan, sedangkan Andi Syahrir (mantan Anggota DPRD Pangkep 1999 – 2004) mengurai bahwa Tu-mampua bermakna Orang mampu karena kampong tersebut didirikan oleh La Tenriaji To Senrima, Bangsawan Bone yang sangat kaya . (Makkulau, 2008).

    Antara Kampung Solo dan Kampung Lomboka, sungai te1rsebut terbagi dua muaranya karena di depannya terdapat hutan bakau akibat aktifitas erosi, disekitarnya terdapat Kampung Polewali dan Lomboka. Pada percabangan sungai tersebut, dahulunya banyak digunakan sebagai tempat aktifitas perdagangan. Dimana saja ada muara sungai yang bercabang, biasa disebut “Appangkai Je’neka” maka daerah itu akan menjadi ramai. Sekarang tempat dimana terdapat (berdekatan) dengan percabangan sungai tersebut sudah sejak lama ramai karena dijadikan tempat pelelangan ikan. Penduduk setempatnya menyebutnya Lelonga. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Dahulu terdapat tiga sungai besar yang mengelilingi Kampung Marana yang menjadikannya tempat strategis transportasi karena berada di persimpangan sungai tua dari Paccelang, sungai tua dari Baru – baru dan sungai tua dari Siang (SengkaE). Ketiga sungai tersebut menjadikan Kampung Marana ramai karena berada di persimpangan cabang sungai (Bahasa Makassar : Pangkana Je’neka) dan di situ pula terjadi pertemuan dalam ikatan janji, baik dalam bentuk persahabatan, memperkuat jalinan kekerabatan maupun untuk kepentingan perdagangan. Pedagang yang akan memasarkan hasil bumi dan dagangannya biasanya mengadakan perjanjian dengan ucapan, “Anjorengpaki sicini ripangkana je’neka” (nanti kita bertemu di cabang air), yang dimaksudkan sesungguhnya tempat yang dituju adalah muara Sungai Marana (sekarang Sungai Pangkajene).(Makkulau, 2008).

  12. Zahrani Burhanuddin
    IX B
    2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.Pahlawan nasional ( sejarah ) adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.
    4.Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Seperti mengunjungi tempat bersejarah.
    5. a.)Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.
    b.)Saya masuk di Pondok Pesantren Modern Putri Immim untuk mempersiapkan diri supaya lebih paham agama untuk masa depan kelak. Di sini juga saya merasakan hangatnya kebersamaan hidup bersama teman-teman dan rutinitas ibadah lebih tertata dan teratur.
    c.)Pangkajene adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibukota dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai sebuah pusat kota, Pangkajene memainkan peran vital kehidupan Kabupaten Pangkep baik sebagai pusat pemerintahan maupun pusat perekonomian.

    Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene. Sampai saat ini belum didapatkan keterangan yang tegas, sejak kapan nama “Pangkajene” menggantikan nama yang popular sebelumnya, ‘Marana’. Menurut beberapa sumber, awalnya yang dikenal adalah Kampung Marana, dan sungai yang membelah kota Pangkajene sekarang ini dulunya bernama Sungai Marana.(Makkulau, 2008).

    Kampung Marana terletak di sebelah utara sungai tua, sekitar Lembaga Pemasyarakatan lama (sekarang dijadikan tempat Pos Polisi dan Sekretariat Pemuda Pancasila) melebar ke Terminal Kompak, jadi lipat dua kali lebarnya dibanding sungai yang ada sekarang, tepatnya berada di jantung kota Pangkajene sekarang, sedangkan kampung – kampung tua yang ada di sekitar pinggiran sungai sekarang dari timur sampai ke barat antara lain Kampung Sabila, Ujung LoE, Tumampua, Jagong, Purung – Purung, balanakang,Toli – Toli dan Lomboka, sedangkan bagian utara sungai, yaitu dari Pabundukang, Bone – bone, Kajonga, Palampang, Binanga Polong, Bucinri sampai ke Padede dan Kampung Solo.(M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Jika kita menelusuri asal muasal pemberian nama – nama kampung yang telah disebutkan di atas—menurut beberapa sumber penulis—hal itu berkaitan erat dengan perebutan hegemoni kekuasaan antara Gowa dan Bone di bekas wilayah Kerajaan Siang dan Barasa (disebut Bundu Pammanakang). Kampung yang disebut Pabundukang itu awalnya adalah sebuah padang yang cukup luas, dimana menjadi tempat pertempuran antara laskar Bone dan Gowa, sedangkan Kampung Sabila diambilkan dari nama bangsawan Bone yang bertempur dan tewas di tempat itu, yaitu Arung Sabila. Begitu pula Kampung Bone-bone, yang pernah dihuni oleh mayoritas orang Bone. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Kampung Tumampua (sekarang Kelurahan Tumampua) awalnya adalah kampung yang dihuni mayoritas orang – orang Bone berdarah Siang dengan menggunakan Bahasa Bugis, sedangkan Kampung Jagong (sekarang Kelurahan Jagong) dihuni oleh masyoritas orang – orang Gowa yang menuturkan Bahasa Makassar. Masing – masing hidup berdampingan karena mendapat suaka politik dari sejak masih adanya pengaruh Siang / Barasa sampai Gowa dan Bone silih berganti memperebutkannya untuk dijadikan palili / daerah taklukan, sedangkan Andi Syahrir (mantan Anggota DPRD Pangkep 1999 – 2004) mengurai bahwa Tu-mampua bermakna Orang mampu karena kampong tersebut didirikan oleh La Tenriaji To Senrima, Bangsawan Bone yang sangat kaya . (Makkulau, 2008).

    Antara Kampung Solo dan Kampung Lomboka, sungai te1rsebut terbagi dua muaranya karena di depannya terdapat hutan bakau akibat aktifitas erosi, disekitarnya terdapat Kampung Polewali dan Lomboka. Pada percabangan sungai tersebut, dahulunya banyak digunakan sebagai tempat aktifitas perdagangan. Dimana saja ada muara sungai yang bercabang, biasa disebut “Appangkai Je’neka” maka daerah itu akan menjadi ramai. Sekarang tempat dimana terdapat (berdekatan) dengan percabangan sungai tersebut sudah sejak lama ramai karena dijadikan tempat pelelangan ikan. Penduduk setempatnya menyebutnya Lelonga. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Dahulu terdapat tiga sungai besar yang mengelilingi Kampung Marana yang menjadikannya tempat strategis transportasi karena berada di persimpangan sungai tua dari Paccelang, sungai tua dari Baru – baru dan sungai tua dari Siang (SengkaE). Ketiga sungai tersebut menjadikan Kampung Marana ramai karena berada di persimpangan cabang sungai (Bahasa Makassar : Pangkana Je’neka) dan di situ pula terjadi pertemuan dalam ikatan janji, baik dalam bentuk persahabatan, memperkuat jalinan kekerabatan maupun untuk kepentingan perdagangan. Pedagang yang akan memasarkan hasil bumi dan dagangannya biasanya mengadakan perjanjian dengan ucapan, “Anjorengpaki sicini ripangkana je’neka” (nanti kita bertemu di cabang air), yang dimaksudkan sesungguhnya tempat yang dituju adalah muara Sungai Marana (sekarang Sungai Pangkajene).(Makkulau, 2008).

  13. 2.prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.

    4.Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.

    5. a.Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang , dan jika kita lulus SMA maka kita masuk di IAPIM, IAPIM adalah ikatan alumni pesantren immim, Dan immim di didirikan pada tahun 1925, immim di kenal sebagai pendidikan tertua Di indonesia
    B.immim putri yg tepatnya berada di Pangkep Sulawesi Selatan merupakan kemauan saya untuk menuntut ilmu, di immim bnyk hal menarik yg saya alami, hidup di asrama dan menjadi santri memang menyimpan bnyk cerita yg lucu dan unik, dan kita di atur aturan yg sangat ketat kami juga di ajari untuk lebih dapat mengatur wktu
    C. “Pangkajene” berasal dari Bahasa Makassar dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamakan karena pada daerah yang dulu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene.

    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.

  14. 2.prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.

    4.Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.

    5. a.Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang , dan jika kita lulus SMA maka kita masuk di IAPIM, IAPIM adalah ikatan alumni pesantren immim, Dan immim di didirikan pada tahun 1925, immim di kenal sebagai pendidikan tertua Di indonesia
    B.immim putri yg tepatnya berada di Pangkep Sulawesi Selatan merupakan kemauan saya untuk menuntut ilmu, di immim bnyk hal menarik yg saya alami, hidup di asrama dan menjadi santri memang menyimpan bnyk cerita yg lucu dan unik, dan kita di atur aturan yg sangat ketat kami juga di ajari untuk lebih dapat mengatur wktu
    C. “Pangkajene” berasal dari Bahasa Makassar dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamakan karena pada daerah yang dulu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene.

    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi;

  15. 2. dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan
    3. WNI atau seorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI memiliki integrasi moral dan keteladan
    4. literasi budaya dan kewanegaraan adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan. Kegiatan ini dapat dilakukan untuk mengatasi masalah rendahnya kecintaan dan pemahaman para siswa terhadap budaya daerahnya serta budaya daerah lainnya di Indonesia
    5. IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep

    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan

    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi

    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM

    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.

  16. 2. prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.

    4.Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.

    5. a.Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang , dan jika kita lulus SMA maka kita masuk di IAPIM, IAPIM adalah ikatan alumni pesantren immim, Dan immim di didirikan pada tahun 1925, immim di kenal sebagai pendidikan tertua Di indonesia
    B.immim putri yg tepatnya berada di Pangkep Sulawesi Selatan merupakan kemauan saya untuk menuntut ilmu, di immim bnyk hal menarik yg saya alami, hidup di asrama dan menjadi santri memang menyimpan bnyk cerita yg lucu dan unik, dan kita di atur aturan yg sangat ketat kami juga di ajari untuk lebih dapat mengatur wktu
    C. “Pangkajene” berasal dari Bahasa Makassar dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamakan karena pada daerah yang dulu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene.

    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi;

  17. 3.cut nyak dien
    contoh : pahlawan wanita yang pemberani yang berasal dari aceh yang berkorban demi kemerdekaan dan persatuan indonesia seperti tentara wanita atau polisi wanita
    2.zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan
    4.literasi adalah budaya membaca dan kegiatan yang pernah saya ikuti adalah literasi baca dan tulis , literasi di gital dan literasi budaya
    5.Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep .Dan Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.Sedangkan sejarah saya berada diimmim krn saya sendiri yg memutuskan untuk sekolah pesantren krn saya ingin belajar lebih mandiri dan mengenal lebih banyak teman .

  18. Nama:Wahyuni
    Kelas:9b
    2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4.Literasi Nusantara
    6 LITERASI DASAR ARTIKEL INSPIRATIF LITERASI BUDAYA & KEWARGAAN
    Literasi Budaya dan Kewargaan: Pengertian, Tantangan, dan Peluang
    MARCH 9, 2020 3 MINUTE READ

    Kita tentu sadar, literasi punya cakupan yang sangat luas dalam pengertiannya. Literasi bukan bakat. Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih.

    Literasi, dikutip dari Guru Digital, secara umum diketahui sebagai seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di abad 21 ini, keterampilan literasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk dapat bersaing secara global.

    Forum Ekonomi Dunia 2015 membagi gambaran tentang keterampilan literasi menjadi 6 dasar, yang dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,
    5.IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep

    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan

    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi

    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM

    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.
    3.Pahlawan nasional ( sejarah ) adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.
    4.Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Seperti mengunjungi tempat bersejarah.
    5.a).Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.
    b).Melewati suka dan duka bersama teman
    c). Pangkajene adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibukota dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai sebuah pusat kota, Pangkajene memainkan peran vital kehidupan Kabupaten Pangkep baik sebagai pusat pemerintahan maupun pusat perekonomian.

    Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene. Sampai saat ini belum didapatkan keterangan yang tegas, sejak kapan nama “Pangkajene” menggantikan nama yang popular sebelumnya, ‘Marana’. Menurut beberapa sumber, awalnya yang dikenal adalah Kampung Marana, dan sungai yang membelah kota Pangkajene sekarang ini dulunya bernama Sungai Marana.(Makkulau, 2008).

    Kampung Marana terletak di sebelah utara sungai tua, sekitar Lembaga Pemasyarakatan lama (sekarang dijadikan tempat Pos Polisi dan Sekretariat Pemuda Pancasila) melebar ke Terminal Kompak, jadi lipat dua kali lebarnya dibanding sungai yang ada sekarang, tepatnya berada di jantung kota Pangkajene sekarang, sedangkan kampung – kampung tua yang ada di sekitar pinggiran sungai sekarang dari timur sampai ke barat antara lain Kampung Sabila, Ujung LoE, Tumampua, Jagong, Purung – Purung, balanakang,Toli – Toli dan Lomboka, sedangkan bagian utara sungai, yaitu dari Pabundukang, Bone – bone, Kajonga, Palampang, Binanga Polong, Bucinri sampai ke Padede dan Kampung Solo.(M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Jika kita menelusuri asal muasal pemberian nama – nama kampung yang telah disebutkan di atas—menurut beberapa sumber penulis—hal itu berkaitan erat dengan perebutan hegemoni kekuasaan antara Gowa dan Bone di bekas wilayah Kerajaan Siang dan Barasa (disebut Bundu Pammanakang). Kampung yang disebut Pabundukang itu awalnya adalah sebuah padang yang cukup luas, dimana menjadi tempat pertempuran antara laskar Bone dan Gowa, sedangkan Kampung Sabila diambilkan dari nama bangsawan Bone yang bertempur dan tewas di tempat itu, yaitu Arung Sabila. Begitu pula Kampung Bone-bone, yang pernah dihuni oleh mayoritas orang Bone. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Kampung Tumampua (sekarang Kelurahan Tumampua) awalnya adalah kampung yang dihuni mayoritas orang – orang Bone berdarah Siang dengan menggunakan Bahasa Bugis, sedangkan Kampung Jagong (sekarang Kelurahan Jagong) dihuni oleh masyoritas orang – orang Gowa yang menuturkan Bahasa Makassar. Masing – masing hidup berdampingan karena mendapat suaka politik dari sejak masih adanya pengaruh Siang / Barasa sampai Gowa dan Bone silih berganti memperebutkannya untuk dijadikan palili / daerah taklukan, sedangkan Andi Syahrir (mantan Anggota DPRD Pangkep 1999 – 2004) mengurai bahwa Tu-mampua bermakna Orang mampu karena kampong tersebut didirikan oleh La Tenriaji To Senrima, Bangsawan Bone yang sangat kaya . (Makkulau, 2008).

    Antara Kampung Solo dan Kampung Lomboka, sungai te1rsebut terbagi dua muaranya karena di depannya terdapat hutan bakau akibat aktifitas erosi, disekitarnya terdapat Kampung Polewali dan Lomboka. Pada percabangan sungai tersebut, dahulunya banyak digunakan sebagai tempat aktifitas perdagangan. Dimana saja ada muara sungai yang bercabang, biasa disebut “Appangkai Je’neka” maka daerah itu akan menjadi ramai. Sekarang tempat dimana terdapat (berdekatan) dengan percabangan sungai tersebut sudah sejak lama ramai karena dijadikan tempat pelelangan ikan. Penduduk setempatnya menyebutnya Lelonga. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Dahulu terdapat tiga sungai besar yang mengelilingi Kampung Marana yang menjadikannya tempat strategis transportasi karena berada di persimpangan sungai tua dari Paccelang, sungai tua dari Baru – baru dan sungai tua dari Siang (SengkaE). Ketiga sungai tersebut menjadikan Kampung Marana ramai karena berada di persimpangan cabang sungai (Bahasa Makassar : Pangkana Je’neka) dan di situ pula terjadi pertemuan dalam ikatan janji, baik dalam bentuk persahabatan, memperkuat jalinan kekerabatan maupun untuk kepentingan perdagangan. Pedagang yang akan memasarkan hasil bumi dan dagangannya biasanya mengadakan perjanjian dengan ucapan, “Anjorengpaki sicini ripangkana je’neka” (nanti kita bertemu di cabang air), yang dimaksudkan sesungguhnya tempat yang dituju adalah muara Sungai Marana (sekarang Sungai Pangkajene).(Makkulau, 2008).

  19. 2. pada zamannya prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga zaman logam. dan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan
    3. ialah orang yang telah berperan dalam sebuah peristiwa penting di masa lampau baik melalui ide, gagasan, maupun tindakan, dalam tingkat lokal maupun nasional, hal tersebut berimplikasi pada masyarakat luas, dan peranan si tokoh berdampak baik pada masanya maupun pada masa-masa selanjutnya
    4. Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan.
    5. a). Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.
    b). dimulai dari kelas 1 SMP sampai dengan sekarang kelas 3 SMP tidak ada yang berubah bagi saya, kedisiplinan dan kebersihan juga keterampilan yang baik tetap melekat pada immim putri.
    c). “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene.

  20. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4.Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan. Kegiatan ini dapat dilakukan untuk mengatasi masalah rendahnya kecintaan dan pemahaman para siswa terhadap budaya daerahnya serta budaya daerah lainnya di Indonesia
    Contohnya
    Membaca buku selain buku pelajaran seperti buku novel, filsafat, dan artikel di internet yang menyajikan ilmu positif untuk menambah wawasan.
    Membuat sticky note atau poster yang diletakkan di dinding berisi kata-kata mutiara atau pembangkit semangat sebagai sumber motivasi.
    5.IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep

    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan

    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi

    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM

    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.

  21. 2.Penjelasan zaman prasejarah :

    Yakni masa dimana manusia belum mengenal bentuk tulisan. Pra artinya sebelum, sementara sejarah seperti dijelaskan sebelumnya yaitu kisah manusia di waktu lampau dimana belum ada peninggalan berupa tulisan.
    Penjelasan zaman sejarah :

    Tiap wilayah akan masuk ke zaman sejarah dengan waktu yang berbeda-beda. Sebuah negeri masuk ke zaman sejarah ditentukan oleh tingkat kebudayaan yang dimiliki dengan bukti peninggalan tertulis baik berupa prasasti atau bentuk peninggalan lain.

    3. seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

    4. Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan.
    Contohnya itu sy pernah ikut literasi digital dan literasi baca tulis 🙂 mungkin juga salah satunya itu saat ke leang kassi karena itu juga tentang budaya pangkep

    5.immim itu singkatan dari ikatan masjid mushollah Indonesia muntahida didirikan oleh 3 orang yaitu pak alm HM Arsyad, alm h Fadeli luran, alm h Fachrul Islam lalu IMMIM itu di gabung ada cewek ada cowok tapi saat dirundingkan kembali jadi cowok di pindahkan ke Tamalanrea dan cewe di Pangkep terus IMMIM di resmikan oleh Mentri agama tanggal 7 November 1987, kalau kita sudah alumni di IMMIM terus kita di kasih masuk di iapim sekian dari saya yg saya tau

    – saya disuruh masuk IMMIM sama ibu saya karna ibu saya tamatan di IMMIM jadi saya mengikut saja, saat pertama kali masuk IMMIM itu sangat membutuhkan mental yang kuat 🙂 karena banyak masalah yg selalu berdatangan tapi seiring berjalanan nya waktu saya sudah merasakan enaknya di IMMIM 🙂 suka cita bersama teman” dan disini juga wali asrmanya ramah” dan cantik” seperti umi sofa, saya juga pernah mengikuti sosialisasi jurnalistik saya pernah ke liang kassi sambil belajar, syaa pernah dihukum tidak pegang hp selama 1 bulan itu sejarah saya sekian

    -Pangakejene dan Kepulauan atau bih dikenal dengan sebutan Pangkep memasuki umur 60 tahun. Pertama kali berdiri pada 8 Februari 1960 lalu awalnya yang dikenal adalah Kampung Marana, dan sungai yang membelah kota Pangkajene sekarang ini dulunya bernama Sungai Marana.(Makkulau, 2008).

  22. Jawaban
    2.zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam dan belum membentuk peradaban dan juga (belum mengenal tulis menulis) . Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan
    3.adalah seseorang yang telah berperan dalam sebuah peristiwa penting di masa lampau baik melalui ide, gagasan, maupun tindakan, dalam tingkat lokal maupun nasional, peristiwa tersebut berimplikasi terhadap masyarakat luas, dan peranan si tokoh berdampak, baik pada masanya maupun pada masa-masa berikutnya misalnya buya hamkah, Ibnu sina dll dan juga seperti ra Kartini karena ia org yg memperjuangkan emansipasi wanita
    4.Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan dan juga Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.
    Cntoh:saat jalan ke leang kassi karena belajar mengenai budaya” Pangkep

    5).a). Immim kepanjangan dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah. pasntren modern putri immim di dirikan pada tahun 1974 dan didirikan oleh
    H. Fadeli Luran, Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B,Bupati Pangkep pada masa itu dan H. Fachrul Islam Ketua DPC IMMIM Pangkep. Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santriwati pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI pada tanggal 7 Nopember 1978 ini
    Tujuan Didirikan Pesantren ini ialah membuka lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan dan menciptakan atau melahirkan santriwati yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum(IPTEK)
    B). sejarah diri saya berada di Immim adalah karena awalnya saya mencari pasntren” yg cocok dan sya ingin mencari pasntren modern agar sebanding antara ilmu agama dan pengetahuan lalu saya menemukan immim dan awal saya melihatnya saya suka dengan lingkungan nya lalu saya mencoba mendaftarkan diri dan jadilah santriwati immim hingga sekarang.
    C). Pangkep merupakan kepanjangan dari Pangkajene dan kepulauan Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai bgitu karena pada daerah itu terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene.
    Pangkep didirikan sejak tahun 1984

  23. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4.Literasi Nusantara
    6 LITERASI DASAR ARTIKEL INSPIRATIF LITERASI BUDAYA & KEWARGAAN
    Literasi Budaya dan Kewargaan: Pengertian, Tantangan, dan Peluang
    MARCH 9, 2020 3 MINUTE READ

    Kita tentu sadar, literasi punya cakupan yang sangat luas dalam pengertiannya. Literasi bukan bakat. Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih.

    Literasi, dikutip dari Guru Digital, secara umum diketahui sebagai seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di abad 21 ini, keterampilan literasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk dapat bersaing secara global.

    Forum Ekonomi Dunia 2015 membagi gambaran tentang keterampilan literasi menjadi 6 dasar, yang dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,
    5.IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep

    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan

    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi

    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM

    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.

  24. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3. pahlawan nasional ( sejarah ) adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.
    Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Seperti mengunjungi tempat bersejarah.
    5.a.Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 .
    b.selama saya di IMMIM saya mendapatkan banyak pelajaran tentang kedisiplinan dan kemandirian saya bisa mendapatkan itu karena saya belajar dari IMMIM.
    c.Pangkajene adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibukota dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai sebuah pusat kota, Pangkajene memainkan peran vital kehidupan Kabupaten Pangkep baik sebagai pusat pemerintahan maupun pusat perekonomian.

    Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene. Sampai saat ini belum didapatkan keterangan yang tegas, sejak kapan nama “Pangkajene” menggantikan nama yang popular sebelumnya, ‘Marana’. Menurut beberapa sumber, awalnya yang dikenal adalah Kampung Marana, dan sungai yang membelah kota Pangkajene sekarang ini dulunya bernama Sungai Marana.(Makkulau, 2008).

    Kampung Marana terletak di sebelah utara sungai tua, sekitar Lembaga Pemasyarakatan lama (sekarang dijadikan tempat Pos Polisi dan Sekretariat Pemuda Pancasila) melebar ke Terminal Kompak, jadi lipat dua kali lebarnya dibanding sungai yang ada sekarang, tepatnya berada di jantung kota Pangkajene sekarang, sedangkan kampung – kampung tua yang ada di sekitar pinggiran sungai sekarang dari timur sampai ke barat antara lain Kampung Sabila, Ujung LoE, Tumampua, Jagong, Purung – Purung, balanakang,Toli – Toli dan Lomboka, sedangkan bagian utara sungai, yaitu dari Pabundukang, Bone – bone, Kajonga, Palampang, Binanga Polong, Bucinri sampai ke Padede dan Kampung Solo.(M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Jika kita menelusuri asal muasal pemberian nama – nama kampung yang telah disebutkan di atas—menurut beberapa sumber penulis—hal itu berkaitan erat dengan perebutan hegemoni kekuasaan antara Gowa dan Bone di bekas wilayah Kerajaan Siang dan Barasa (disebut Bundu Pammanakang). Kampung yang disebut Pabundukang itu awalnya adalah sebuah padang yang cukup luas, dimana menjadi tempat pertempuran antara laskar Bone dan Gowa, sedangkan Kampung Sabila diambilkan dari nama bangsawan Bone yang bertempur dan tewas di tempat itu, yaitu Arung Sabila. Begitu pula Kampung Bone-bone, yang pernah dihuni oleh mayoritas orang Bone. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Kampung Tumampua (sekarang Kelurahan Tumampua) awalnya adalah kampung yang dihuni mayoritas orang – orang Bone berdarah Siang dengan menggunakan Bahasa Bugis, sedangkan Kampung Jagong (sekarang Kelurahan Jagong) dihuni oleh masyoritas orang – orang Gowa yang menuturkan Bahasa Makassar. Masing – masing hidup berdampingan karena mendapat suaka politik dari sejak masih adanya pengaruh Siang / Barasa sampai Gowa dan Bone silih berganti memperebutkannya untuk dijadikan palili / daerah taklukan, sedangkan Andi Syahrir (mantan Anggota DPRD Pangkep 1999 – 2004) mengurai bahwa Tu-mampua bermakna Orang mampu karena kampong tersebut didirikan oleh La Tenriaji To Senrima, Bangsawan Bone yang sangat kaya . (Makkulau, 2008).

    Antara Kampung Solo dan Kampung Lomboka, sungai te1rsebut terbagi dua muaranya karena di depannya terdapat hutan bakau akibat aktifitas erosi, disekitarnya terdapat Kampung Polewali dan Lomboka. Pada percabangan sungai tersebut, dahulunya banyak digunakan sebagai tempat aktifitas perdagangan. Dimana saja ada muara sungai yang bercabang, biasa disebut “Appangkai Je’neka” maka daerah itu akan menjadi ramai. Sekarang tempat dimana terdapat (berdekatan) dengan percabangan sungai tersebut sudah sejak lama ramai karena dijadikan tempat pelelangan ikan. Penduduk setempatnya menyebutnya Lelonga. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Dahulu terdapat tiga sungai besar yang mengelilingi Kampung Marana yang menjadikannya tempat strategis transportasi karena berada di persimpangan sungai tua dari Paccelang, sungai tua dari Baru – baru dan sungai tua dari Siang (SengkaE). Ketiga sungai tersebut menjadikan Kampung Marana ramai karena berada di persimpangan cabang sungai (Bahasa Makassar : Pangkana Je’neka) dan di situ pula terjadi pertemuan dalam ikatan janji, baik dalam bentuk persahabatan, memperkuat jalinan kekerabatan maupun untuk kepentingan perdagangan. Pedagang yang akan memasarkan hasil bumi dan dagangannya biasanya mengadakan perjanjian dengan ucapan, “Anjorengpaki sicini ripangkana je’neka” (nanti kita bertemu di cabang air), yang dimaksudkan sesungguhnya tempat yang dituju adalah muara Sungai Marana (sekarang Sungai Pangkajene).(Makkulau, 2008).

  25. 2.prasejarah itu dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. kalau zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan
    3.Pahlawan adalah sebutan bagi orang-orang yang luar biasa dengan simbol membela kebenaran pengorbanan dan juga perjuangan
    4.•Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan. biasanya dilakukan untuk mengatasi masalah rendahnya kecintaan dan pemahaman para siswa terhadap budaya daerahnya serta budaya daerah lainnya di Indonesia.
    5.a.immim Immim berasal dari simbol kejayaan Islam dengan tulisan Allahu Akbar di atasnya dalam bahasa Arab dan tulisan Immim di bawahnya ini merupakan akronim ikatan masjid mushola Indonesia muttahidah
    b.saya awalnya tertarik dengan ini pesantren karna yang paling ditonjolkan itu adalah bahasa. Anak pesantren memang agaknya lebih terkenal dengan kefasihannya berbahasa arab dan inggris. Dan hal itu pulalah yang menjadi nilai plus bagi kami para santri immim. Itu karena para santri/wati memang diwajibkan memakai kedua bahasa tersebut dalam kesehariannya. berada dalam asrama bersama teman teman mengajarkan saya Rasanya arti mandiri melakukan segalanya Dilakukan sendiri .
    c.Kata Pangkajene berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene

  26. andi qaidah adibah
    2.perbedaan masa prasejarah dan sejarah adalah yaitu masa prasejarah adalah masa ketika manusia belum
    meninggalkan bukti tertulis. Sedangkan masa
    sejarah adalah masa ketika manusia telah mengenal tulisan. masa sejarah adalah ketika masyarakat
    sudah mulai mengenal tulisan, dan pada
    masa pra-sejarah adalah pada saat
    masyarakat belum mengenal tulisan sama
    sekali

    3. raden ajeng kartini
    karena ia adalah pahlawan nasional yang memperjuangkan penyejajaran perempuan. surat surat nya yang dibukukan dengan judul “habis gelap terbitlah terang” memuat cita cita dan pemikiran pemikirannya dalam memperjuang ka hak hak perempuan indonesia

    4. Literasi budaya ialah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan.
    membaca al quran sebelum belajar
    membuat mading
    membuat sudut baca
    mereview buku yang dibacab

    5. a.Pesantren putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI pada tanggal 7 Nopember 1978.
    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    b. saya bisa bersekolah di immim karena pada saat lulus sd saya malas mencari sekolah,lalu karena banyak dari sepupu sepupu saya yang rata rata alumni immim jadi saya termotivasi untuk bersekolah di immim.
    pada awal mondok saya sangat menyesal sekolah diimmim karena saya masih belum bisa beradaptasi tetapi lama kelamaan sy sudah terbiasa diimmim dan temam teman juga baik baik .
    sekarang sy sudah kelas tiga smp tidak lama lagi saya sudah mau lulus

  27. Ratu 9A
    jawaban
    2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4. Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa
    5. a) Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep yanv ddrikan pda tahun 1974 dengan para pndriany H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Psat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kpala Kantor Depag Pangkep skaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Yang mmberikan pndidikan Islam dan plajaran umum dgn simbang shingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.
    B) sejarah saya yaitu tertarik dengan immim dan sy masuk di immim karena keinginan sy sendiri

  28. 2. Ada dua macam persejarah dan sejarah kalau prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan merupakan sebutan bagi mereka yg sangat luar biasa ia sangat berjasa bagi nusa dan bangsanya.melalui sosok pahlawan simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi

    4.Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.

    5.immim putri yg tepatnya berada di Pangkep Sulawesi Selatan merupakan kemauan saya untuk menuntut ilmu, di immim banyak hal yang membuat saya menarik banyak hal yg di lakukan di dlm pesantren immim putri ,dari hidup bersam di dlm asrama dan lain sebaigainnya. dan menjadi santri memang menyimpan bnyk cerita yg lucu dan unik, dan dibalik kesenangan kita pasti ada kesedihan dan kita di ajarkan sopan santun dan saling menghargai satu sama lain.dan banyak pula hal lain ketika kita berada di dalam pesantren immim putri

  29. 2.zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan

    3.ki hajar dewantara
    orang yg memberi kita ilmu pengetahuan dan mendirikan pendidikan kepada orang orang yg belum tahu akan pendidikan dalam ilmu seperti guru

    4.Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan. Kegiatan ini dapat dilakukan untuk mengatasi masalah rendahnya kecintaan dan pemahaman para siswa terhadap budaya daerahnya serta budaya daerah lainnya di Indonesia

    5.A.)Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama. pondok immim juga merupakan perwujudan dari cita cita penyendirian untuk mengenang pulau salemo sebagai basis ulama dan penyebaran dakwah.
    B.)immim putri yg tempatnya berada dipangkep merupakan kemaun saya untuk bersekolah disini karena bnyk hal yg menarik hidup diiasrama bersama teman” Dengan penuh kebersamaan dan kami diatur dengan aturan yg ketat dan kami diajar untuk bersikap sopan santun.
    C.)pangkep merupakan daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene

  30. Nur insani
    9b
    2.) Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.) Seorang tokoh sejarah adalah orang penting dalam sejarah .

    Pentingnya angka-angka tersebut dalam kemajuan manusia telah diperdebatkan. Beberapa menganggap mereka memainkan peran penting, sementara yang lain mengatakan mereka memiliki dampak kecil pada arus pemikiran dan perubahan sosial yang luas. Konsep ini umumnya digunakan dalam arti bahwa orang tersebut benar-benar ada di masa lalu, bukan sebagai legenda.
    4. ) Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan. Kegiatan ini dapat dilakukan untuk mengatasi masalah rendahnya kecintaan dan pemahaman para siswa terhadap budaya daerahnya serta budaya daerah lainnya di Indonesia.

    Contohnya adalah
    – menjelajahi situs prasejarah
    – membaca buku budaya
    5.)
    A.) Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Pesantren ini dipelopori oleh 3 tokoh yaitu
    – Muhammad Daeng Patompo
    – Andi Baso Amir
    – H. Fadeli Luran
    B.) Saya menuntut ilmu di pesantren ini kurang lebih 3 tahun. Dan selama itu pula saya mendapatkan banyak pelajaran yg sebelumnya belum pernah saya temukan.tentang apa itu solidaritas,apa itu berusaha dan lain sebagainya.mungkin, beberapa orang berpendapat bahwa tinggal di pesantren adalah sebuah hal yang tidak menyenangkan tapi nyatanya hidup di pesantren merupakan suatu pengalaman yang mungkin tidak akan pernah terlupakan. kelas satu SMP mungkin menjadi masa paling sulit selama di pesantren,dimana masa itu saya masih berada dalam zona anak SD yg belum bisa jauh dari orang tua. Beberapa kali saya berpikir untuk keluar dari pesantren namun dengan dorongan dari hati dan diri sendiri, akhirnya saya bisa bertahan sampai saat ini. Bersama dengan zealous 925 yang selalu menjadi sebuah tawa disetiap harinya. Terimakasih untuk IMMIM.
    – sukses terus
    C. ) Pangkep dulunya adalah kerajaan siang

    Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene

  31. Nama: Hilmi Azizah
    Kelas: IX a

    2.Zaman sejarah adalah zaman di mana dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan. Zaman prasejarah adalah zaman dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam.

    3. Seseorang yang pantas disebut sebagai tokoh sejarah karena Seseorang telah berjasa dan banyak meninggalkan hasil jasa jasa nya kepada orang lain

    4.Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan. Kegiatan ini dapat dilakukan untuk mengatasi masalah rendahnya kecintaan dan pemahaman para siswa terhadap budaya daerahnya serta budaya daerah lainnya di Indonesia. Contoh nya adalah lomba menulis suka cita di pesantren, menyimak vidio pembelajaran, dll

    5. a) Sejarah Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep berada di Kabupaten Pangkep kec Minasate’ne. IMMIM merupakan kepanjangan dari Ikatan Mesjid Musholah Indonesia Muttahidah.a) Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didrikan pada tahun 1974 dengan para pendrianya, yaitu H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Yang mmberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan simbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.
    B) Sejarah di Ponpes IMMIM Pangkep
    Yaitu Awal saya masuk di ponpes modern putri IMMIM karena keinginan sendiri dengan alasan IMMIM putri dikenal dengan kebahasaan nya (arab dan inggris) dan termasuk pesantren modern. Dengan persetujuan dari orang tua juga maka dari itulah saya di pondokkan di ponpes modern putri IMMIM pangkep.
    C) Sejarah Pangkep
    Pangkajene adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibukota dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai sebuah pusat kota, Pangkajene memainkan peran vital kehidupan Kabupaten Pangkep baik sebagai pusat pemerintahan maupun pusat perekonomian.
    Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene

  32. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4.Literasi Nusantara
    6 LITERASI DASAR ARTIKEL INSPIRATIF LITERASI BUDAYA & KEWARGAAN
    Literasi Budaya dan Kewargaan: Pengertian, Tantangan, dan Peluang

    Kita tentu sadar, literasi punya cakupan yang sangat luas dalam pengertiannya. Literasi bukan bakat. Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih.

    Literasi, dikutip dari Guru Digital, secara umum diketahui sebagai seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di abad 21 ini, keterampilan literasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk dapat bersaing secara global.

    Forum Ekonomi Dunia 2015 membagi gambaran tentang keterampilan literasi menjadi 6 dasar, yang dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,
    5.IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep

    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan

    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi

    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM

    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.

  33. 2. Zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan
    3. Pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga Indonesia atau orang yang berjuang melawan penjajah di wilayah yang sekarang sudah menjadi wilayah Kesatuan Republik Indonesia, yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, alasannya adalah seseorang yang gugur demi perjuangan, pengabdian, dan memberikan karya yang luar biasa kepada bangsa indonesia akan diberi gelar penghargaan oleh presiden.
    4. Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Contoh kegiatan:
    -Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan kesenian/kebudayaan daerah.
    -Mengunjungi museum, tempat wisata, peninggalan sejarah dll
    -Melaksanakan festival seni di sekolah secara berkala yang melibatkan komite sekolah, publik dan pemangku kepentingan di daerah sekitar.
    5. a)Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.
    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).
    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini. Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.
    b)Awal saya masuk di pondok pesantren modern putri IMMIM minasate’ne Pangkep karena disarankan oleh orangtua, dengan alasan tempatnya cukup sering dilalui ketika perjalanan dinas sehingga memudahkan untuk dibesuk
    c)Pangkep adalah singkatan dari kata pangka jene kepulauan. Pangkep (pangka jene ) ini salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.112,29 km², tetapi setelah diadakan analisis bersama Bakosurtanal, luas wilayah tersebut direvisi menjadi 12.362,73 km² denganluas wilayah daratan 898,29 km² dan wilayah laut 11.464,44 km².Asal kata Pangkajene dipercaya berasal dari sungai besar yang membelah kota Pangkep. Pangka berarti cabang, dan Je’ne berarti air. Ini mengacu pada sungai yang membelah kota Pangkep yang membentuk cabang.
    Berdasarkan letak astronomis, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan berada pada 11.00’ bujur timur, dan 040. 40’ – 080. 00’ lintang selatan.

  34. 2. Ada dua macam persejarah dan sejarah kalau prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan merupakan sebutan bagi mereka yg sangat luar biasa ia sangat berjasa bagi nusa dan bangsanya.melalui sosok pahlawan simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi

    4.Literasi budaya merupakan kita di ajarkan untuk memahami segala tentang kebudayaan di negara kita sebagai identitas untuk negara kita

    5.immim putri yg tepatnya berada di Pangkep Sulawesi Selatan merupakan kemauan saya untuk menuntut ilmu, di immim banyak hal yang membuat saya menarik banyak hal yg di lakukan di dlm pesantren immim putri ,dari hidup bersam di dlm asrama dan lain sebaigainnya. dan menjadi santri memang menyimpan bnyk cerita yg lucu dan unik, dan dibalik kesenangan kita pasti ada kesedihan dan kita di ajarkan sopan santun dan saling menghargai satu sama lain.dan banyak pula hal lain ketika kita berada di dalam pesantren immim putri

  35. Nur Rahmah Arifin
    IX.B
    2. zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan
    3.pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga Indonesia atau orang yang berjuang melawan penjajah di wilayah yang sekarang sudah menjadi wilayah Kesatuan Republik Indonesia, yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, alasannya adalah seseorang yang gugur demi perjuangan, pengabdian, dan memberikan karya yang luar biasa kepada bangsa indonesia akan diberi gelar penghargaan oleh presiden.
    4. Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Contoh kegiatan:
    -Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan kesenian/kebudayaan daerah.
    -Mengunjungi museum, tempat wisata, peninggalan sejarah dll
    -Melaksanakan festival seni di sekolah secara berkala yang melibatkan komite sekolah, publik dan pemangku kepentingan di daerah sekitar.
    5. A. Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.
    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).
    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini. Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.
    B. Awal saya masuk di ponpes modern putri immim di dorong oleh keinginan orang tua dengan alasan immim putri dikenal dengan kebahasaan nya (arab dan inggris) dan temasuk pesantren modern. Dengan persetujuan saya juga maka dari itulah saya di pondokkan di ponpes modern putri immim pangkep.
    C. Pangkep adalah singkatan dari kata pangka jene kepulauan. Pangkep (pangka jene ) ini salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.112,29 km², tetapi setelah diadakan analisis bersama Bakosurtanal, luas wilayah tersebut direvisi menjadi 12.362,73 km² denganluas wilayah daratan 898,29 km² dan wilayah laut 11.464,44 km².Asal kata Pangkajene dipercaya berasal dari sungai besar yang membelah kota Pangkep. Pangka berarti cabang, dan Je’ne berarti air. Ini mengacu pada sungai yang membelah kota Pangkep yang membentuk cabang.
    Berdasarkan letak astronomis, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan berada pada 11.00’ bujur timur, dan 040. 40’ – 080. 00’ lintang selatan.

  36. 2. Zaman prasejarah adalah zaman atau era dimana manusia belum mengenal tulisan. Zaman ini dimulai dari sejak alam semesta tercipta, tetapi pada umumnya mengacu pada masa terdapatnya kehidupan manusia sampai zaman sejarah. sedangkan zaman sejarah adalah zaman atau era dimana manusia sudah mengenal tulisan. setelah ditemukan tulisan peristiwa penting pada masa lalu dapat diketahui.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4. Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Contohnya :
    -Membuat papan karya literasi siswa di Setiap Kelas
    -Membuat sudut baca di beberapa tempat di sekolah
    -Mengadakan Lomba Karya Literasi Antar Kelas
    5. a) Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran , Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B , Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam , Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep yang terdiri dari: H Fadeli Luran sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle dan Bendahara H. Toga
    Pesantren putri immim pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh gubernur sulawesi selatan diwakili pb harahap pada tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh menteri Agama RI H alamsyah ratu prawiranegara pada tanggal 7 november
    b) pada saat saya lulus sd ada keinginan saya buat masuk pesantren dan bapak saya merekomendasikan pesantren modern putri immim, pada saat saya baru masuk ke pesantren ini dan saya agak sulit berbaur. tetapi perlahan lahan saya bisa membaurkan diri saya. saya setelah berminggu minggu disini saya tertekan. ternyata peraturan nya sangat ketat sehingga saya harus lebih membicarakan diri lagi dan mempersiapkan mental saya. agak sulit membicarakan diri terhadap peraturan peraturan tersebut but setiap 1 tahun saya mulai terbiasa dengan peraturan yg ketat di imam ini dan saya juga bertemu dngn teman” yg berbeda beda sifat nya ada yg kocak dll. Mungkin itu saya yg bisa saya ceritakan tentang pengalaman saya diimmim sekian.
    c) pangkep merupakan daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene

  37. nama : cinta nadya dwi azzaahrah mustan
    kelas : IXb
    (jawaban )
    2. Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3. pahlawan nasional ( sejarah ) adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.
    4. Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah kemampuan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Seperti mengunjungi tempat bersejarah.
    5.
    a :
    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.
    b:
    melewati suka dan duka bersama sama
    c:

    Pangkajene adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibukota dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai sebuah pusat kota, Pangkajene memainkan peran vital kehidupan Kabupaten Pangkep baik sebagai pusat pemerintahan maupun pusat perekonomian.

    Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene. Sampai saat ini belum didapatkan keterangan yang tegas, sejak kapan nama “Pangkajene” menggantikan nama yang popular sebelumnya, ‘Marana’. Menurut beberapa sumber, awalnya yang dikenal adalah Kampung Marana, dan sungai yang membelah kota Pangkajene sekarang ini dulunya bernama Sungai Marana.(Makkulau, 2008).

    Kampung Marana terletak di sebelah utara sungai tua, sekitar Lembaga Pemasyarakatan lama (sekarang dijadikan tempat Pos Polisi dan Sekretariat Pemuda Pancasila) melebar ke Terminal Kompak, jadi lipat dua kali lebarnya dibanding sungai yang ada sekarang, tepatnya berada di jantung kota Pangkajene sekarang, sedangkan kampung – kampung tua yang ada di sekitar pinggiran sungai sekarang dari timur sampai ke barat antara lain Kampung Sabila, Ujung LoE, Tumampua, Jagong, Purung – Purung, balanakang,Toli – Toli dan Lomboka, sedangkan bagian utara sungai, yaitu dari Pabundukang, Bone – bone, Kajonga, Palampang, Binanga Polong, Bucinri sampai ke Padede dan Kampung Solo.(M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Jika kita menelusuri asal muasal pemberian nama – nama kampung yang telah disebutkan di atas—menurut beberapa sumber penulis—hal itu berkaitan erat dengan perebutan hegemoni kekuasaan antara Gowa dan Bone di bekas wilayah Kerajaan Siang dan Barasa (disebut Bundu Pammanakang). Kampung yang disebut Pabundukang itu awalnya adalah sebuah padang yang cukup luas, dimana menjadi tempat pertempuran antara laskar Bone dan Gowa, sedangkan Kampung Sabila diambilkan dari nama bangsawan Bone yang bertempur dan tewas di tempat itu, yaitu Arung Sabila. Begitu pula Kampung Bone-bone, yang pernah dihuni oleh mayoritas orang Bone. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Kampung Tumampua (sekarang Kelurahan Tumampua) awalnya adalah kampung yang dihuni mayoritas orang – orang Bone berdarah Siang dengan menggunakan Bahasa Bugis, sedangkan Kampung Jagong (sekarang Kelurahan Jagong) dihuni oleh masyoritas orang – orang Gowa yang menuturkan Bahasa Makassar. Masing – masing hidup berdampingan karena mendapat suaka politik dari sejak masih adanya pengaruh Siang / Barasa sampai Gowa dan Bone silih berganti memperebutkannya untuk dijadikan palili / daerah taklukan, sedangkan Andi Syahrir (mantan Anggota DPRD Pangkep 1999 – 2004) mengurai bahwa Tu-mampua bermakna Orang mampu karena kampong tersebut didirikan oleh La Tenriaji To Senrima, Bangsawan Bone yang sangat kaya . (Makkulau, 2008).

    Antara Kampung Solo dan Kampung Lomboka, sungai te1rsebut terbagi dua muaranya karena di depannya terdapat hutan bakau akibat aktifitas erosi, disekitarnya terdapat Kampung Polewali dan Lomboka. Pada percabangan sungai tersebut, dahulunya banyak digunakan sebagai tempat aktifitas perdagangan. Dimana saja ada muara sungai yang bercabang, biasa disebut “Appangkai Je’neka” maka daerah itu akan menjadi ramai. Sekarang tempat dimana terdapat (berdekatan) dengan percabangan sungai tersebut sudah sejak lama ramai karena dijadikan tempat pelelangan ikan. Penduduk setempatnya menyebutnya Lelonga. (M Taliu, 1997 dalam Makkulau, 2008).

    Dahulu terdapat tiga sungai besar yang mengelilingi Kampung Marana yang menjadikannya tempat strategis transportasi karena berada di persimpangan sungai tua dari Paccelang, sungai tua dari Baru – baru dan sungai tua dari Siang (SengkaE). Ketiga sungai tersebut menjadikan Kampung Marana ramai karena berada di persimpangan cabang sungai (Bahasa Makassar : Pangkana Je’neka) dan di situ pula terjadi pertemuan dalam ikatan janji, baik dalam bentuk persahabatan, memperkuat jalinan kekerabatan maupun untuk kepentingan perdagangan. Pedagang yang akan memasarkan hasil bumi dan dagangannya biasanya mengadakan perjanjian dengan ucapan, “Anjorengpaki sicini ripangkana je’neka” (nanti kita bertemu di cabang air), yang dimaksudkan sesungguhnya tempat yang dituju adalah muara Sungai Marana (sekarang Sungai Pangkajene).(Makkulau, 2008).

  38. Nama:Naurah Muthia
    Kelas:9a
    2.Zaman prasejarah adalah zaman atau era dimana manusia belum mengenal tulisan. Zaman ini dimulai dari sejak alam semesta tercipta, tetapi pada umumnya mengacu pada masa terdapatnya kehidupan manusia sampai zaman sejarah.sedangkan Zaman sejarah adalah zaman atau era dimana manusia sudah mengenal tulisan. Setelah ditemukan tulisan peristiwa penting pada masa lalu dapat diketahui.

    3.WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI memiliki integritas moral dan keteladanan. Berjasa dan tidak menghianati bangsa dan negara. Berkelakuan baik.

    4.literasi budaya dan kewargaan merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa.dalah satu contoh literasi budaya adalah literasi baca dan tulis.
    5.5.IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantanganmodernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep

    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan

    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi

    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM

    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.
    B. Selama saya menjadi santriwati pondok pesantren Modern putri immim banyak hal yang saya rasakan. Mulai dari susah sedih bareng bareng, makan bareng bareng, bobo bareng bareng pokoknya semuanya pasti dilakukan bareng bareng. Sangat banyak kenangan yang saya dapatkan selama saya bersekolah di ponpes putri immim.
    C. Siang dalam nomenklatur Portugis disebut Sciom atau Ciom. Nama “Siang” berasal dari kata “ kasiwiang” , yang berarti persembahan kepada raja (homage rendu a’ un souverain) . (Pelras, 1977 : 253). Bekas pusat wilayah Kerajaan Siang, SengkaE – sekarang ini terletak di Desa Bori Appaka, Kecamatan Bungoro, Pangkep – telah dikunjungi oleh kapal–kapal Portugis antara tahun 1542 dan 1548. (M Ali Fadhillah, 2000).

    Pelras mengemukakan bahwa selama masa pengaruh Luwu di semenanjung timur Sulawesi Selatan, kemungkinan dari Abad X hingga Abad XVI, terdapat kerajaan besar lain di semenanjung barat, dikenal dengan nama Siang, yang pertama kali muncul pada sumber Erofah dalam peta Portugis bertarikh 1540. Menurut catatan Portugis dari Abad XVI, Tallo pernah pernah ditaklukkan oleh Kerajaan Gowa dan Gowa sendiri mengakui Kerajaan Siang sebagai kerajaan yang “lebih besar” dan lebih kuat dari mereka. (Andaya, 2004). Sumber Portugis menyebutkan Siang pernah diperintah seorang raja bernama Raja Kodingareng ( Gadinaro , menurut dialek orang Portugis), sezaman dengan Don Alfonso, Raja Portugal I dan Paus Pascal II. (A Zainal Abidin Farid : 1986).

    Pada tahun 1540 atau jauh sebelumnya, pelabuhan Siang sudah banyak dikunjungi pedagang dari berbagai penjuru kepulauan Nusantara, bahkan dari Erofah. Pengamat Portugis, Manuel Pinto, memperkirakan pada tahun 1545 Siang berpenduduk sekitar 40.000 jiwa. Penguasanya sangat yakin terhadap sumber – sumber daya dan kekayaan alam yang dimiliki oleh negaranya sehingga menawarkan untuk menyuplai seluruh kebutuhan pangan Kerajaan Malaka (Pelras 1973 : 53). Menurut catatan Portugis dari Abad XVI, Gowa dan Tallo pernah jadi vasal Siang. Tradisi lisan setempat mempertahankan pandangan ini. Penemuan arkeologi berharga di bekas wilayah Siang kelihatannya lebih memperkuat asumsi bahwa kerajaan ini adalah bisa jadi adalah kerajaan besar di pantai barat Sulawesi Selatan sebelum bangkitnya Gowa dan Tallo (Pelras, 1973 : 54).

    Pada Tahun 1542, Antonio de Paiva, menyinggahi pusat wilayah Kerajaan Siang dan tinggal di Siang untuk beberapa waktu, sebelum melanjutkan perjalanan ke arah utara menuju Sulawesi Tengah untuk mencari Kayu Cendana (sandal wood) . Ketika kembali tahun 1544, de Paiva singgah di tiga tempat, yaitu : Suppa, Siang dan Gowa (Pelras, 1973 : 41). Catatan de Paiva menyebutkan bahwa Gowa adalah sebuah kota yang besar “yang dulunya merupakan kerajaan bawahan Siang, namuntidak lagi begitu”. (Pelras, 1973 : 47). Laporan de Paiva ini menunjukkan kemungkinan Siang berada pada puncak kejayaan dan kemasyhuran sekitar Abad XIV – akhir XVI.

    Pelras dari penelitian awalnya terhadap sumber Erofah dan sumber lokal, menyatakan Siang, sebagai pusat perdagangan penting dan mungkin juga secara politik antara Abad XIV – XVI. Pengaruhnya menyebar hingga seluruh pantai barat dan daerah yang dulunya dikenal Kerajaan Lima’e Ajattapareng hingga ke selatan perbatasan kerajaan Makassar, yakni Gowa-Tallo. Pada pertengahan Abad XVI, Kerajaan Siang menurun pengaruhnya oleh naiknya kekuatan politik baru di pantai barat dengan pelabuhannya yang lebih strategis, Pelabuhan Somba Opu. Kerajaan itu tak lain Kerajaan Gowa, yang mulai gencar melancarkan ekspansi pada masa pemerintahan Karaeng Tumapakrisika Kallonna. Persekutuan Kerajaan Gowa dan Tallo akhirnya membawa petaka bagi Siang, sampai akhirnya mati dan terlupakan, di penghujung Abad XVI. (Pelras 1977 : 252-5).

    Abdul Razak Dg Mile menyatakan bahwa Raja Siang yang pertama disebut Tu-manurunge Ri Bontang (A. Razak Dg Mile, PR : 1975). Sementara M Taliu menyebut periode pertama Kerajaan Siang, digagas seorang tokoh perempuan,Manurunga ri Siang , bernama Nasauleng bergelar Puteri Kemala Mutu Manikkang . Garis keturunan Tomanurung Ri Siang inilah yang berganti-ganti menjadi raja di Siang ( asossorangi ma’gauka ) sampai tiba masanya Karaeng Allu memerintah di Siang paska Kerajaan Siang dibawah dominasi Kerajaan Gowa.

    Sumber tradisi lisan menyebutkan bahwa penggagas dinasti Siang mempunyai lima saudara laki-laki dan perempuan yang masing – masing mendirikan Kerajaan Gowa, Bone, Luwu, Jawa dan Manila. Dalam tradisi tutur yang berkembang di Pangkajene diyakini bahwa Siang mempunyai tempat istimewa dibandingkan dengan kerajaan lainnya. Barangkali keterangan Pelras mengonfirmasikan tradisi tersebut, bahwa kendati Siang telah menjadi vasal Gowa pada akhir Abad XVII, adat Siang mengharuskan agar raja – raja dari negeri besar lain yang melintasi terirori Siang memberi hormat pada“Karaeng Siang” . (M Ali Fadhillah, 2000 : 17). Sumber Portugis banyak menunjuk periode-periode awal pertumbuhan situs-situs niaga di pesisir barat, sebagaimana catatan Pelras (1977 : 243) melihat, gelombang kedatangan Portugis ke Siang sepanjang pertengahan pertama dan akhir Abad XVI, mengacu pada masa dimana Siang sedang menurun dalam perannya sebagai kota niaga dan pusat politik di pesisir barat teritori Makassar. Dugaan itu mempunyai estimasi bahwa Siang mengacu pada apa yang dilukiskan orang dengan istilah Makassar (Macacar).

    Dari kesejajaran konteks sejarahnya dengan Bantaeng di pesisir selatan, Siang dapat diterangkan pada periode pertama sebagai pelabuhan kurang dikenal, tetapi bukti-bukti arkeologi mendorong kita mengajukan estimasi awal bahwa Siang telah masuk dalam jaringan perdagangan mungkin langsung dengan pelabuhan-pelabuhan sebelah barat kepulauan. Apabila Bantaeng dan Luwu pada masa jatuhnya Majapahit mulai pudar peranannya, sebaliknya Siang, semakin meningkat dengan jatuhnya Kerajaan Malaka berkat gelombang kedatangan pedagang Melayu dari Johor, Pahang dan mungkin dari daratan Asia Tenggara daratan lainnya.

    Pada periode kedua, sejalan dengan semakin jauhnya garis pantai akibat pengendapan sungai Siang sebagai akses utama memasuki kota itu, dan kepindahan koloni pedagang Melayu ke Gowa di pesisir barat, bahkan sampai Suppa dan Sidenreng di daratan tengah Sulawesi Selatan membuat Siang kehilangan fungsi utamanya sebagai sebuah pelabuhan penting, dibarengi meredupnya pengaruh pusat politiknya. Sampai disini, nasib Siang tidak berbeda dengan Bantaeng, eksis tetapi berada dibawah bayang-bayang kontrol kekuasaan Gowa-Tallo.

    Pusat kerajaan Siang pada mulanya tumbuh berkat adanya sumber-sumber alam : kelautan, hasil hutan dan mungkin mineral serta padi ladang yang dieksploitasi oleh suatu populasi penduduk Makassar yang telah lama mengenal jaringan perdagangan laut yang luas dengan memanfaatkan muara sungai sebagai akses komunikasi utama. Frekuensi kontaknya dengan komunitas lain membawa perubahan pada pola ekonomi, terutama setelah mengenal teknologi penanaman padi basah (sawah) dan memungkinkan peralihan kegiatan ekonomi sampai ke pedalaman dengan pembukaan hutan-hutan untuk peningkatan produksi padi sebagai komoditas utama.

    Tome Pires mencatat bahwa satu tahun setelah jatuhnya Malaka (1511), pulau – pulau Macacar (Makassar) merupakan tempat – tempat yang terikat dalam jaringan perdagangan interinsuler. Meskipun Pires menduga bahwa perdaganganMacacar masih kurang penting, tetapi sejak itu, sudah menawarkan rute langsung ke Maluku dengan melalui pesisir – pesisir selatan Kalimantan dan Sulawesi ; sebuah alternatif dari rute tradisional melalui pesisir utara Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara. Namun kita harus menunggu sampai pertengahan Abad XVI, untuk mengetahui gambaran Sulawesi Selatan, yaitu sejak perjalanan Antonio de Paiva (1542-1543) dan Manuel Pinto (1545-1548) ke pesisir barat Sulawesi Selatan. Tome Pires menyebut beras sebagai produk utama Macacar. Dan kenyataannya, para pelaut Portugis belakangan telah mempunyai kesan khusus akan kesuburan negeri-negeri Sulawesi Selatan yang terkenal dengan hasil hutan, beras dan makanan lainnya. (Cortesao, 1944 dalam M Ali Fadhillah, 2000).

    Tonggak sejarah kolonial di Gowa tahun 1667 juga berdampak kuat di Siang. Kekalahan Gowa menghadapi aliansi Belanda-Bone berarti juga kekalahan dinasti Gowa dan kebangkitan kembali dinasti Barasa yang mendukung Arung Palakka. I Johoro Pa’rasanya Tubarania naik sebagai penguasa lokal, I Joro juga digelari Lo’moki Ba’le (penguasa dari seberang), karena ia kembali dari seberang laut (Jawa dan Sumatera) mengikuti misi Arung Palakka ke negeri sebelah barat nusantara.

    Sejarah kekaraengan Lombassang atau Labakkang mulai dikenal sesudah menurunnya pamor politik ekonomi Siang. Penguasa Labakkang turut membantu Gowa menundukkan Kerajaan Barasa, dinasti pengganti Siang di Pangkajene. Setelah Gowa kalah dari Belanda (1667), Labakkang lepas dari Gowa dan masuk ke dalam kontrol VOC sebelum akhirnya menjadi wilayah administrasi Noorderpprovincien , lalu menjadi Noorderdistrichten dalam kendali administrasi Belanda berpusat di Fort Rotterdam ( Benteng Jumpandang ). Somba Labakkang ketika itu didampingi anggota adatBujung Tallua , yang berkuasa di unit politik dan teritorial sendiri, yakni di Malise, Mangallekana dan Lombasang, sebelum lebih kompleks lagi dengan bergabungnya penguasa-penguasa kecil lainnya.

    Sistem politik yang diterapkan Kerajaan Gowa terhadap negeri – negeri taklukannya itu adalah menempatkan Ana’ Bate Karaeng , biasa disebut bate-bate’a). kemudian disusul perkawinan keluarga Kerajaan Gowa, pada puncaknya Kerajaan Siang menjadi negeri keluarga kerajaan Gowa yang tidak lagi bisa dipisahkan sampai tahun 1668. Sampai saat ini tidak ada satupun sumber sejarah dapat memastikan umur Kerajaan Siang sampai ditaklukkan Kerajaan Gowa – Tallo. Kerajaan Siang dibawah hegemoni pemerintahan Gowa sekitar 1512 – 1668.
    Sistem budaya yang mewarnai kehidupan masyarakat Siang adalah tradisi kultural Gowa, terutama sekali menyangkut hubungan perkawinan antar keluarga raja dan bangsawan Gowa. Penguasa Siang punya hubungan kekeluargaan dengan keluarga kerajaan Luwu, Soppeng, Tanete, dan Bone karena pihak keluarga Kerajaan Gowa juga mengadakan hubungan perkawinan (kawin-mawin) antar keluarga Kerajaan Luwu. Kemudian Luwu kawin-mawin dengan Soppeng, Soppeng kawin-mawin dengan Tanete dan Tanete kawin-mawin dengan Bone.

    Ringkasnya, keturunan produk sistem kawin – mawin itu telah menjalin hubungan kekerabatan semakin luas. Siang dan beberapa unit teritori politik seperti Barasa (Pangkajene), Lombasang (Labakkang), Segeri, Ma’rang dan Segeri juga mengadakan kawin mawin antar keluarga kerajaan. Barasa berafiliasi Gowa, Bone dan Soppeng. Demikian pula Ma’rang dan Segeri. Sedang Labakkang dengan Gowa, walaupun pada awalnya Labakkang merupakan keturunan raja – raja Luwu, Soppeng dan Tanete. Tradisi kawin-mawin inilah yang menyebabkan masyarakat Pangkep telah menyatukan darah orang Bugis Makassar dalam wujud keturunan, bahasa, tradisi dan adat – istiadat.

    Silsilah raja – raja Siang setelah tampuk pemerintahan Siang dipegang Karaengta Allu adalah sebagai berikut : (1) Karaeng Allu ; (2) Johor atau Johoro’ (Mappasoro) Matinroe’ ri Ponrok, yang bersama Arung Palakka ke Pariaman pada abad ke-17 ; (3) Patolla Dg Malliongi ; (4) Pasempa Dg Paraga ; (5) Mangaweang Dg Sisurung ; (6) Pacandak Dg Sirua (Karaeng Bonto – Bonto) ; (7) Palambe Dg Pabali (Karaeng Tallanga) , sezaman dengan datangnya Belanda di Pangkajene ; (8) Karaeng Kaluarrang dari Labakkang ; (9) Ince Wangkang dari Malaka ; (10) Solle Dg Malleja ; (11) Andi Pappe Dg Massikki, berasal dari Soppeng ; (12) Andi Papa Dg Masalle ; (13) Andi Jayalangkara Dg Sitaba ; (14) Andi Mauraga Dg Malliungang ; (15) Andi Burhanuddin ; (16) Andi Muri Dg Lulu.

    Setiap ada upacara perayaan seperti pengangkatan raja baru, pergantian raja atau upacara kebesaran lainnya yang berhubungan dengan raja, maka diwajibkan hadir Anrong Appaka ri Siang, yaitu : (1) Daeng ri Sengkaya ; (2) Lo’moka ri Kajuara ; (3) Gallaranga ri Lesang ; (4) Gallaranga ri Baru-baru. Setelah empat orang bate-bate’a ini hadir, barulah pelantikan atau acara ‘Kalompoanga ri Siang’ dapat dianggap sah. Selain keempat bate-bate’a ini juga diharapkan hadirOppoka ri Pacce’lang.

    Secara sederhana, silsilah Raja – raja Siang saat dibawah dominasi Gowa ( A.Razak Dg Mile, PR : 1957 ) sebagai berikut : (a) Raja – raja dari keturunan ‘Tumanurunga ri Bontang’ diperistri oleh yang bergelar ‘Si Tujuh Lengan’. Tidak diketahui berapa generasi ! (b) Keturunan Karaengta Allu (Setelah Siang ditaklukkan oleh kerajaan Gowa), juga tidak diketahui berapa generasi. (c) Keturunan I Johor atau Johoro’ (Mappasoro’) , sahabat Arung Palakka, dimana Arung Palakka menjadi Raja Bone sejak tahun 1672. (d) Raja – raja yang berasal dari Kerajaan Siang sendiri, mulai dari keturunan Pattola Dg Malliongi (di masa kompeni Belanda).

    Hasil penelitian arkeologi Balai Arkeologi Makassar dan UNHAS menyebutkan bahwa ibukota Kerajaan Siang terletak pada sebuah lokasi yang dikelilingi oleh benteng kota (batanna kotayya) . Bentengnya mengelilingi lahan yang sekarang menjadi kompleks kuburan yang dikeramatkan. Alur benteng Siang (batanna kotayya) diperkirakan berbentuk huruf U, kedua ujungnya bermuara di Sungai Siang yang telah mati. (Fadhillah dan Irfan Mahmud, 2000 : 27). Indikasi arkeologis pada lokasi situs berupa gejala perubahan rupa bumi dan proses pengendapan telah menjauhkan pusat Kerajaan Siang dari pesisir. Kemunduran Siang, yang diperkirakan terjadi pada akhir abad XVI.

    Kemenangan Gowa-Labakkang atas Barasa memberikan hak kerabat raja Gowa menduduki tahta Barasa, gelar sesudah matinya : Karaeng Matinroe ri Kammasi yang diganti oleh Karaeng Allu. Yang terakhir ini mengalihkan pusat politiknya kembali ke Siang, dan seolah menghidupkan kembali kebesaran Siang dengan memakai gelar Karaeng Siang, juga membentuk dewan adat Anrong Appaka (empat bangsawan kepala) : Kare Kajuara , Kare Sengkae, Kare Lesang danKare Baru-baru . Masing-masing kare mengepalai pusat kecil kekuasaan dan membentuk konfederasi dibawah otoritas Siang baru (periode Islam). Karaeng Allu juga yang menempatkan Kalompoang atau Arajang Siang dibawah pemeliharaan Oppoka ri Paccelang.

    Temuan – temuan fragmen keramik hasil ekskavasi situs Siang di SengkaE, Bori Appaka, Bungoro berupa Piring dan Mangkuk Ching BW, Cepuk Cing, Mangkuk Swatow BW, Mangkuk Wangli BW, Mangkuk Ming BW, Piring Ming Putih, Piring Swatow, yang berasal dari Abad XVII-XVIII. Juga ada fragmen keramik dari Abad XVI seperti Vas Swankalok, Mangkuk Ming BW, Piring Ming BW, Piring dan Tempayan Vietnam. Jumlah keseluruhan temuan sebanyak 38 fragmen keramik. Keramik Asing dinasti Ching memberi kronologi relatif lapisan budaya Siang menyampaikan periode relatif berlangsunnya lapisan budaya negeri Siang, yang sekurang-kurang berasal dari Abad XVII-XVIII (M Ali Fadhillah dkk, 2000 : Judul Sejarah
    Kerajaan Siang
    Revolusi Fisik
    Sejarah Pemerintahan Daer

  39. 2.ZAMAN PRASEJARAH
    Zaman prasejarah dimulai sejak pembentukan bumi hingga adanya manusia yang belum mengenal aksara, atau ketika catatan sejarah belum tersedia.
    Meski demikian, manusia prasejarah pandai dalam membuat simbol-simbol atau tanda yang menjadi alat komunikasi.
    Para ahli di kawasan Eurasia (Eropa dan Asia) membagi zaman prasejarah ke dalam tiga periodisasi sejarah atau disebut sistem tiga zaman, yaitu:
    -Zaman batu
    Zaman ini berlangsung ketika manusia menciptakan teknologi atau peralatan dari batu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Zaman batu dibagi lagi ke dalam tiga babak, yaitu:
    1. Paleolitikum atau zaman batu tua.
    2. Mesolitikum atau zaman batu madya.
    3. Neolitikum atau zaman batu muda.
    -Zaman Perunggu.
    Istilah zaman Perunggu mengacu pada kurun waktu dalam perkembangan kebudayaan umat manusia, manakala masyarakatnya mengetahui teknik-teknik peleburan tembaga dan timah.
    -Zaman Besi
    Zaman ini ditandai dengan pemanfaat besi sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup.
    ZAMAN SEJARAH
    adalah zaman di mana manusia telah mengenal tulisan. Bangsa Sumeria tercatat sebagai bangsa pertama yang menggunakan tulisan pada 3000 SM.

    Pada masa itu, bangsa Sumeria telah berkomunikasi dengan lempengan tanah liat yang ditulisi pahatan gambar yang melambangkan suatu maksud.

    Tulisan mereka berupa tulisan paku atau cuneiform, yang terdiri dari 350 gambar yang kemudian dikembangkan bangsa Romawi menjadi huruf latin.
    Dalam perkembangan selanjutnya, tulisan itu dikembangkan lagi oleh bangsa Mesir Kuno menjadi huruf yang dikenal dengan hieroglif.
    Setelah beberapa abad, tulisan terus mengalami perkembangan hingga menjadi bahasa dan tulisan yang ada saat ini.
    Adapun pada zaman sejarah, peradaban manusianya juga sudah lebih maju. Hal ini ditandai dengan peninggalan berupa sumber-sumber tertulis berupa prasasti, kitab-kitab, dan masih banyak lainnya.
    3. Sultan Hasanuddin adalah Sultan Gowa ke-16 yang memimpin Kerajaan Islam Gowa-Tallo dari tahun 1653-1669. Ia lahir pada 12 Januari 1631 di Makassar, Sulawesi dan meninggal pada usia 39 tahun pada 12 Juni 1670 di Gowa, Sulawesi. Ia dikenal sebagai pemimpin yang sangat gigih melawan Belanda dan pandai dalam berdagang.
    Sultan Hasanuddin disebut sebagai tokoh sejarah karena melakukan perlawanan terhadap VOC, Sultan Hasanuddin berusaha mempersatukan daerah-daerah di timur Indonesia dan membentuk kekuatan militer serta persiapan perang. Itu semua ia lakukan karena Sultan Hasanuddin tidak setuju apabila VOC melakukan monopoli perdagangan. Hingga setelah mengundurkan diri, Sultan Hasanuddin menjadi pengajar agama Islam. Ia kemudian wafat pada 12 Juni 1670 dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-raja Gowa yang berada di Katangka, Makassar.
    4. Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan. Kegiatan ini dapat dilakukan untuk mengatasi masalah rendahnya kecintaan dan pemahaman para siswa terhadap budaya daerahnya serta budaya daerah lainnya di Indonesia. Contohnya: jadwal wajib ke perpustakaan, membaca buku sejarah,
    5. A.) IMMIM PUTRI Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.
    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.
    Di zaman kemerdekaan, pondok pesantren yang dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.
    keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita para pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabiring tersebut.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.
    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    B.) Sejarah diriku berada di ponpes modern IMMIM, awalnya aku tidak ada keinginan untuk masuk pesantren, namun karena mengetahui bahwa pesantren itu menyenangkan terlebih lagi ibuku adalah alumni darisana. Ibuku menceritakan semua tentang dirinya dan IMMIM putri itu, apa yg dia lakukan, apa saja kegiatan disana, apasaja yg dia alami. Hingga akhirnya muncul keinginan ku untuk masuk pesantren tersebut, awal-awal itu memang susah, namun susah senang itu di alami bersama-sama, membuatku belajar mandiri menyelesaikan masalah dll. Kadang-kadang ingat mau pulang, rindu ortu dll. Karena suatu masalah yang dialami, apalagi merasakan dibina, memang tidak enak tapi ada hikmah di balik semua itu. Akupun terbiasa menjalani hidupku disini dari bersusah-susah dahulu sampai bersenang-senang kemudian. Hingga sekarang merasakan enaknya tidak dibina, karena memang sama-sama sedang sibuk menjalani ujian kenaikan kelas, aku bahkan bertekad akan lanjut SMA disini, karena setelah memikirkan dan membandingkan apa yang akan terjadi apabila aku lanjut atau sekolah diluar, lebih banyak kebaikan yg akan terjadi apabila aku lanjut di pesantren.
    C.)Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene

  40. 2.masa prasejarah adalah zaman dimana manusia belum mengenal tulisan sedangkan masa sejarah adalah era yang dimana manusia sudah mengenal tulisan sehingga pada masa sekarang banyak ditemukannya gambar di gua itu karena para manusia purba di zaman prasejarah .
    3. salah satu orang yang dapat disebut sebagai tokoh sejarah adalah orang orang yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah. seperti sultan hasanuddin ia dikenal sebagai ayam jantan dari timur itu karena ia adalah raja yang berani dalam melawan belanda sekali ia salah satu tokoh yang tidak mau tunduk terhadap belanda dan juga membawa kemajuan untuk kerajaan gowa-tallo seperti halnya juga presiden pertama indonesiaa yaitu ir.soekarno yang membawa kemerdekaan bagi rakyat indonesia.
    4.Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.contohnya dalam kehidupan sehari menghormati budaya suku lain,tidak mencelah suku lain,dan tidak menimbulkan konflik yang mengakibatkan perpecahan.
    5.a.pesantren modern putri immim merupakan pesantren yang berada di minasa’tene kabupaten pangkep yang terletak di jalan fadeli luran.milad immim yaitu 17 februari 1975 .direktur pertama putri immim adalah dr muhammad ahmad dan kepala kepesatrenannya adalah bapak fachrul islam.
    b.saya bersekolah di pesantren modern putri immim di dalam sini kini jadi memiliki banyak pengalaman serta memiliki banyak teman dari berbagai daerah seperti papua ,setiap kita pergi sholat subuh dimasji apa bila kita tidang berhalangan lalu sehabis sholat subuh kita mengaji lalu pulang keasrama sampai diasrama kita pergi mandi lalu membersihkan asrama lalu pergi untuk makan di dapur,habis itu biasanya pada hari tertentu seperti selasa,kamis,jumat kita pergi untuk sholat dhuha lalu sehabis sholat dhuha saya pergi ke kelas untuk belajar lalu pulang untuk sholat dzuhur lalu habis sholat kita dakwah bahasa inggris dan arab lalu pulang untuk istirahat lalu habus itu kita pergi untuk sholat asar habis sholatt asar kita mengaji lalu pulang keasrama biasanya saya belanja ke kantin jika tidakada jadwak pelajaran lalu pulang untuk mandi lalu habis itu kita pergi sholat magrib diantara magrib dan isya orang ceramah di masjid habis pulang sholat pergi untuk makan malam lalu belajar malam lalu pulang keasrama untuk tidur.terkadang saya mendapat masalah baik masalah sekolah ataupun di luar sekolah.
    c.di pangkep terdapat gua yang memiliki bekas jejak manusia prasejarah yang berupa gambaran seperti di leang kassi disana terdapat beberapa gamabaran manusia purba.dimmim juga memiliki kerajaan yaitu kerajaan siang pada masanya kerajaan siang adaalah kerjaan yang makmur dan terdapat orang malaysia disana untuk berdagang sekaligus untuk menyebarkan ajaran agama islam tetapi dari masa ke masa kerajaan semakin kurang diketahui orang karena kurangnya pedagang yang berlabuh.kerajaan siang pun digantikan oleh kerajaan gowa tallo.

  41. 2.) Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.) Pemberian gelar pahlawan nasional tentu menjadi kebanggaan dan haru tersendiri bagi ahli waris dan keluarga.
    Pengertian gelar itu sendiri berdasarkan pasal 1 angka 1 UU No. 20/2009, adalah penghargaan yang diberikan oleh Presiden kepada seseorang yang telah gugur atau meninggal dunia atas perjuangan, pengabdian, darmabakti, dan karya yang luar biasa kepada bangsa dan negara.
    Untuk dapat menerima gelar pahlawan nasional, terdapat syarat umum yang diatur dalam Pasal 25 UU.

    4.) Dengan demikian, literasi budaya dan kewargaan merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa.
    Gerakan Literasi Sekolah sangat penting. Selain untuk meningkatkan kemampuan literasi, ada beberapa alasan mengapa Gerakan Literasi Sekolah ini sangat penting, yaitu :
    a. Adanya fakta hasil survei internasional yang mengukur bahwa keterampilan membaca siswa Indonesia menduduki peringkat bawah.
    b. Tuntutan keterampilan membaca pada abad 21 adalah kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan re­flektif.
    c. Kegiatan membaca di sekolah perlu dikuatkan dengan pembiasaan membaca di keluarga dan masyarakat.

    5.) Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.
    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.

  42. 2.masa prasejarah adalah zaman dimana manusia belum mengenal tulisan sedangkan masa sejarah adalah era yang dimana manusia sudah mengenal tulisan sehingga pada masa sekarang banyak ditemukannya gambar di gua itu karena para manusia purba di zaman prasejarah .
    3. salah satu orang yang dapat disebut sebagai tokoh sejarah adalah orang orang yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah. seperti sultan hasanuddin ia dikenal sebagai ayam jantan dari timur itu karena ia adalah raja yang berani dalam melawan belanda sekali ia salah satu tokoh yang tidak mau tunduk terhadap belanda dan juga membawa kemajuan untuk kerajaan gowa-tallo seperti halnya juga presiden pertama indonesiaa yaitu ir.soekarno yang membawa kemerdekaan bagi rakyat indonesia.
    4.Literasi budaya merupakan kemampuan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.contohnya dalam kehidupan sehari menghormati budaya suku lain,tidak mencelah suku lain,dan tidak menimbulkan konflik yang mengakibatkan perpecahan.
    5.a.pesantren modern putri immim merupakan pesantren yang berada di minasa’tene kabupaten pangkep yang terletak di jalan fadeli luran.milad immim yaitu 17 februari 1975 .direktur pertama putri immim adalah dr muhammad ahmad dan kepala kepesatrenannya adalah bapak Hj fachrul islam.
    b.saya bersekolah di pesantren modern putri immim di dalam sini kini jadi memiliki banyak pengalaman serta memiliki banyak teman dari berbagai daerah seperti papua ,setiap kita pergi sholat subuh dimasji apa bila kita tidang berhalangan lalu sehabis sholat subuh kita mengaji lalu pulang keasrama sampai diasrama kita pergi mandi lalu membersihkan asrama lalu pergi untuk makan di dapur,habis itu biasanya pada hari tertentu seperti selasa,kamis,jumat kita pergi untuk sholat dhuha lalu sehabis sholat dhuha saya pergi ke kelas untuk belajar lalu pulang untuk sholat dzuhur lalu habis sholat kita dakwah bahasa inggris dan arab lalu pulang untuk istirahat lalu habus itu kita pergi untuk sholat asar habis sholatt asar kita mengaji lalu pulang keasrama biasanya saya belanja ke kantin jika tidakada jadwak pelajaran lalu pulang untuk mandi lalu habis itu kita pergi sholat magrib diantara magrib dan isya orang ceramah di masjid habis pulang sholat pergi untuk makan malam lalu belajar malam lalu pulang keasrama untuk tidur.terkadang saya mendapat masalah baik masalah sekolah ataupun di luar sekolah.
    c.di pangkep terdapat gua yang memiliki bekas jejak manusia prasejarah yang berupa gambaran seperti di leang kassi disana terdapat beberapa gamabaran manusia purba.dimmim juga memiliki kerajaan yaitu kerajaan siang pada masanya kerajaan siang adaalah kerjaan yang makmur dan terdapat orang malaysia disana untuk berdagang sekaligus untuk menyebarkan ajaran agama islam tetapi dari masa ke masa kerajaan semakin kurang diketahui orang karena kurangnya pedagang yang berlabuh.kerajaan siang pun digantikan oleh kerajaan gowa tallo.

  43. NAMA:RISMAWATI
    KELAS:IX A

    1.Tulis Pendapatmu tentang Merdeka Belajar Sejarah di Luar Kelas/Luar Sekolah, sekaitan dengan Belajar dan Rekreasi ke Situs Prasejarah Leang Kassi di Kolom Komentar Link Youtube diatas).
    2.Jelaskan Perbedaan: Masa Sejarah dan Masa Prasejarah!
    3.Jelaskan seseorang yang pantas disebut sebagai Tokoh Sejarah dan alasannya!
    4.Jelaskan apa yang dimaksud dengan literasi budaya dan sebutkan contoh kegiatan bernuansa literasi budaya yang pernah kamu ikuti!
    5.Tuliskan secara singkat sejarah berikut:
    a) Sejarah Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep; b) Sejarah Dirimu berada di Ponpes Modern Putri IMMIM
    c) Sejarah Pangkep.

    JAWABAN
    1.ADA DI YOUTUBE
    2.-Zaman prasejarah adalah zaman dimana manusia belum mengenal tulisan
    -Zaman sejarah adalah zaman dimana manusia sudah mengenal tulisan
    3.Seseorang yang telah berjasa dan banyak meninggal hasil jasa jasa nya kepada orang lain
    4.Literasi budaya merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap kepada lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa.
    5.a)Sejarah ponpes modern putri immim Pangkep:
    Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.
    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid. Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep
    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/Vi/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (almarhum) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Almarhum) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Almarhum) dan Bendahara H. Toga (Almarhum).Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.
    b)sejarah Dirimu berada di Ponpes Modern Putri IMMIM:
    Awal saya masuk di ponpes modern putri immim di dorong oleh keinginan orang tua dengan alasan immim putri dikenal dengan kebahasaan nya (arab dan inggris) dan temasuk pesantren modern. Dengan persetujuan saya juga maka dari itulah saya di pondokkan di ponpes modern putri immim pangkep.
    c)sejarah Pangkep:
    Pangkajene adalah sebuah kecamatan yang menjadi ibukota dari Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sebagai sebuah pusat kota, Pangkajene memainkan peran vital kehidupan Kabupaten Pangkep baik sebagai pusat pemerintahan maupun pusat perekonomian.
    Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene. Sampai saat ini belum didapatkan keterangan yang tegas, sejak kapan nama “Pangkajene” menggantikan nama yang popular sebelumnya, ‘Marana’. Menurut beberapa sumber, awalnya yang dikenal adalah Kampung Marana, dan sungai yang membelah kota Pangkajene sekarang ini dulunya bernama Sungai Marana.

  44. 2. Masa prasejarah adalah masa yangpada saat itu manusia belum menunggalkan bukti tertulis(belum mengenal tulisan) sedangkan masa sejarah adalah zaman yang dimulai pada saat manusia sdh membentuk kebudayaannya tersendiri pada saat itu manusia sudah mengenal tulisan

    3. Yaitu karaeng tunipalangga ulaweng raja gowa ke 10 yang memperkuat struktur benteng dengan batu padas dan tunijallo raja gowa ke 12 yang bentengnya mulai dipersenjatai engan meriam meriam berkaliber berat pada setiap bastion yang diapit diantara 2 sungai balang baru dan sungai jene berang. Dan masih banyak tokoh lainnya

    4. Kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai,menganalisis dan juga untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari hari contohnya membaca buku selain buku pelajaran misal buku filsafat,novel, artikel yang menyajikan ilmu positif.

    5. a) Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep yanv ddrikan pda tahun 1974 dengan para pndriany H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Psat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kpala Kantor Depag Pangkep skaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Yang mmberikan pndidikan Islam dan plajaran umum dgn simbang shingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.
    B) ketika berbicara tentang pengalaman sebenarnya kita perlu melihat tujuan awal di pondok kita itu apa, di contohkan ketika melakukan pelanggaran di pondok yang melanggar akan mendapatkan hukuman seperti triword menggunakan baju, rok, jilbab dengan tiga warna yang terang. Kadang juga pergi mengunjungi tempat temoat bersejarah atau pergi mengunjungi wisata sambil mengorek sejarah yang terkubur
    Namun sesekali juga mengunjungi tempat yang berbau tik seperti di tribun timur dan fajar. Semua itu berlalu dan menjadi sejarah yang akan terus tercantum di dalam hati.

    C) Kabupaten yang luas daratannya hampir sama dengan kota jakarta, dieknal dengan kanupaten 3 dimensi kerna memiliki struktur wilayah yaitu daratan, pegunungan, dan kepulauan.diberi julikan sebagai kota bandeng karna sebagian wilayahnya merupakan area tambak yang menghasilkan ikan bandeng. dan dikenal dengan ciri khas bissu yang dianggap menampung 2 elemen gender manusia lakilaki dan perempuan, keberadaan mereka selalu mengisi salah satu keberadaan budaya pangkep dengan tari maggiri atau menusukkan keris/ badik di tubuhnya.

  45. 2.Zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam.Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3. Yaitu karaeng tunipalangga ulaweng raja gowa ke 10 yang memperkuat struktur benteng dengan batu padas dan tunijallo raja gowa ke 12 yang bentengnya mulai dipersenjatai engan meriam meriam berkaliber berat pada setiap bastion yang diapit diantara 2 sungai balang baru dan sungai jene berang. Dan masih banyak tokoh lainnya.
    4. Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan.
    Contohnya itu sy pernah ikut ke leang kassi karena itu juga tentang budaya pangkep.
    5. a)Ponpes IMMIM Pangkep yang didrikan pada tahun 1974 dengan para pendirianya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Yang memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.
    b) sejarah saya yaitu ; saya disiruh masuk IMMIM oleh mama saya karena ada om saya yang beralumni IMMIM
    c) Pangakejene dan Kepulauan atau lebih dikenal dengan sebutan Pangkep memasuki umur 60 tahun. Pertama kali berdiri pada 8 Februari 1960 lalu awalnya yang dikenal adalah Kampung Marana, dan sungai yang membelah kota Pangkajene sekarang ini dulunya bernama Sungai Marana.

  46. 2. zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam
    – zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan
    3. pahlawan adalah suatau sebutan untuk mereka yang luar biasa bagi bangsa
    4. Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan contohnya seperti siswa bercerita dan siswa menyimak vidio pembelajaran
    5. a) Pesantren moderen immim minasatene pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran , HM Arsyad dan H. Fachrul Islam. susunan panitia pembangunan pesantren immim putri pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk sk ketua umum dpp immim yang terdiri dari H Fadeli Luran sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle dan Bendahara H. Toga
    b). awal masuk di sekolah ini saya kira saya tidak akan bisa bertahan lama karna saya pikir nanti akan susah tapi kenyataannya tidak seperti itu
    c) Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene. Sampai saat ini belum didapatkan keterangan yang tegas, sejak kapan nama “Pangkajene” menggantikan nama yang popular sebelumnya, ‘Marana’. Menurut beberapa sumber, awalnya yang dikenal adalah Kampung Marana, dan sungai yang membelah kota Pangkajene sekarang ini dulunya bernama Sungai Marana.(Makkulau, 2008).

  47. 2.Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.
    3.pahlawan adalah sebutan bagi mereka yg luar biasa berjasa bagi bangsanya.melalui sosok pahlawan,simbol tentang perjuangan,membela kebenaran,dan pengorbanan, senantiasa di pelihara dan di wariskan dari generasi ke generasi.
    4.Literasi Nusantara
    6 LITERASI DASAR ARTIKEL INSPIRATIF LITERASI BUDAYA & KEWARGAAN
    Literasi Budaya dan Kewargaan: Pengertian, Tantangan, dan Peluang
    MARCH 9, 2020 3 MINUTE READ

    Kita tentu sadar, literasi punya cakupan yang sangat luas dalam pengertiannya. Literasi bukan bakat. Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih.

    Literasi, dikutip dari Guru Digital, secara umum diketahui sebagai seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Di abad 21 ini, keterampilan literasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk dapat bersaing secara global.

    Forum Ekonomi Dunia 2015 membagi gambaran tentang keterampilan literasi menjadi 6 dasar, yang dikutip dari Panduan Gerakan Literasi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI,
    5.IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.
    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
    Jl. H Fadeli Luran, Biraeng, Minasatene-Pangkep

    Bersatu dalam Aqidah,Toleransi Masalah Furuiyah dan Khilafiyah

    Sejarah Singkat Pesantren Putri IMMIM Pangkep
    Jum’at, 01 Februari 2019 – Oleh Immim Pangkep – Dibaca 1064 Kali

    IMMIMPANGKEP – Sistem Pendidikan Pondok Pesantren diakui sebagai sistem pendidikan yang tertua di Indonesia dan memiliki sejarah yang panjang.

    Perkembangan Pesantren itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan Islam di wilayah Nusantara ini, bahkan di era kolonial diakui bahwa pesantren berkembang dengan pesat dimulai dari surau-surau, mushalla dan masjid.

    Di zaman kemerdekaan, eksistensi pondok pesantren dikembangkan oleh organisasi-organisasi Islam, dengan mendirikan pondok pesantren ke seluruh pelosok Nusantara, termasuk di Sulawesi Selatan sebagai wujud usaha mencetak ulama intelek dan intelektual yang ulama.

    Keberadaan Pondok Pesantren ini juga merupakan perwujudan dari cita-cita pendirinya untuk mengenang Pulau Salemo sebagai salah satu basis ulama dan penyebaran dakwah Islam di Pangkep. Hampir semua ulama besar pernah mondok di Pulau Salemo Liukang Tupabbiring tersebut.

    Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM memberikan pendidikan Islam dan pelajaran umum dengan seimbang sehingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.

    Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep didirikan pada tahun 1974 dengan para pendirinya H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Pusat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kepala Kantor Depag Pangkep sekaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep.

    Pendiri Pesantren Modern IMMIM Pangkep

    Susunan Panitia Pembangunan Pesantren IMMIM Putri Pangkep ketika itu dituangkan dalam bentuk SK Ketua Umum DPP IMMIM, No. 035/VI/1974 tertanggal 15 Juni 1974, yang terdiri dari: H Fadeli Luran (Alm) sebagai Ketua, Drs Ek.Halide, Drs Muhammad Ahmad, H. Fachrul Islam (Alm) masing-masing sebagai Wakil Ketua, Sekretaris Zainuddin Kulle (Alm) dan Bendahara H. Toga (Alm).

    Pesantren Putri IMMIM Pangkep ini dibuka permulaan penerimaan santrinya oleh Gubernur Sulawesi Selatan diwakili PB Harahap pada Tanggal 17 Februari 1975 dan tiga tahun kemudian, diresmikan oleh Menteri Agama RI (H Alamsyah Ratu Prawiranegara) pada tanggal 7 Nopember 1978 ini.

    Dasar Penyelenggaran dan Tujuan

    Dasar daripada penyelenggaraan pendidikan di Pesantren Putri IMMIM ini ialah mengacu kepada perintah Allah SWT dalam Al Qur’an agar umat Islam senantiasa mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akherat lewat penguasaan ilmu pengetahuan. (Qs. Al Mujadalah: 11).

    Banyak sekali perintah dalam Al-Qur’an agar setiap diri muslim/umat Islam selalu meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keilmuannya, terutama pemahaman akan tuntunan ajaran islam.

    Tujuan Didirikannya Pesantren adalah menyelenggarakan lembaga pendidikan berbasis pesantren sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa dengan melahirkan muslimah dan muballighah yang memiliki pemahaman agama dan pengetahuan umum sesuai tuntunan Ajaran Islam, tuntutan globalisasi informasi dan kemajuan zaman.

    Visi dan Misi

    Penyelenggaraan Pendidikan dan Pembinaan Keislaman di Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep mengacu kepada visi dan misi sebagai berikut:

    Membantu pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun manusia Indonesia seutuhnya (sejalan dengan Sistem Pendidikan Nasional).

    Menciptakan Pribadi muslimah yang mampu memahami ajaran Islam dengan benar. Menciptakan manusia yang bertaqwa, berbudi luhur, berilmu, serta mampu mengamalkan ajaran Agama Islam sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

    Mengupayakan terciptanya pribadi santriwati yang berakhlak mulia, memiliki wawasan keagamaan yang luas, menghayati hak-hak dan kewajiban muslimah menurut syariat islam serta mempersiapkan diri menjadi kader-kader ulama yang intelektual dan muballighat yang professional.

    Lambang IMMIM

    Lambang IMMIM terdiri atas gambar bulan dan bintang sebagai simbol kejayaan Islam dengan tulisan “Allahu Akbar” diatasnya dalam Bahasa Arab dan tulisan IMMIM dibawahnya. IMMIM merupakan akronim dari Ikatan Mesjid Mushalla Indonesia Muttahidah.
    B. Selama saya menjadi santriwati ponpes immim saya merasakan banyak hal yang belum pernah saya rasakan sebelum masuk pesantren misalnya sudah senang bareng bareng di hukum bareng bareng. Makan, bobo semuanya barengan

    C.
    KERAJAAN SIANG
    Kerajaan Siang
    Siang dalam nomenklatur Portugis disebut Sciom atau Ciom. Nama “Siang” berasal dari kata “ kasiwiang” , yang berarti persembahan kepada raja (homage rendu a’ un souverain) . (Pelras, 1977 : 253). Bekas pusat wilayah Kerajaan Siang, SengkaE – sekarang ini terletak di Desa Bori Appaka, Kecamatan Bungoro, Pangkep – telah dikunjungi oleh kapal–kapal Portugis antara tahun 1542 dan 1548. (M Ali Fadhillah, 2000).

    Pelras mengemukakan bahwa selama masa pengaruh Luwu di semenanjung timur Sulawesi Selatan, kemungkinan dari Abad X hingga Abad XVI, terdapat kerajaan besar lain di semenanjung barat, dikenal dengan nama Siang, yang pertama kali muncul pada sumber Erofah dalam peta Portugis bertarikh 1540. Menurut catatan Portugis dari Abad XVI, Tallo pernah pernah ditaklukkan oleh Kerajaan Gowa dan Gowa sendiri mengakui Kerajaan Siang sebagai kerajaan yang “lebih besar” dan lebih kuat dari mereka. (Andaya, 2004). Sumber Portugis menyebutkan Siang pernah diperintah seorang raja bernama Raja Kodingareng ( Gadinaro , menurut dialek orang Portugis), sezaman dengan Don Alfonso, Raja Portugal I dan Paus Pascal II. (A Zainal Abidin Farid : 1986).

    Pada tahun 1540 atau jauh sebelumnya, pelabuhan Siang sudah banyak dikunjungi pedagang dari berbagai penjuru kepulauan Nusantara, bahkan dari Erofah. Pengamat Portugis, Manuel Pinto, memperkirakan pada tahun 1545 Siang berpenduduk sekitar 40.000 jiwa. Penguasanya sangat yakin terhadap sumber – sumber daya dan kekayaan alam yang dimiliki oleh negaranya sehingga menawarkan untuk menyuplai seluruh kebutuhan pangan Kerajaan Malaka (Pelras 1973 : 53). Menurut catatan Portugis dari Abad XVI, Gowa dan Tallo pernah jadi vasal Siang. Tradisi lisan setempat mempertahankan pandangan ini. Penemuan arkeologi berharga di bekas wilayah Siang kelihatannya lebih memperkuat asumsi bahwa kerajaan ini adalah bisa jadi adalah kerajaan besar di pantai barat Sulawesi Selatan sebelum bangkitnya Gowa dan Tallo (Pelras, 1973 : 54).

    Pada Tahun 1542, Antonio de Paiva, menyinggahi pusat wilayah Kerajaan Siang dan tinggal di Siang untuk beberapa waktu, sebelum melanjutkan perjalanan ke arah utara menuju Sulawesi Tengah untuk mencari Kayu Cendana (sandal wood) . Ketika kembali tahun 1544, de Paiva singgah di tiga tempat, yaitu : Suppa, Siang dan Gowa (Pelras, 1973 : 41). Catatan de Paiva menyebutkan bahwa Gowa adalah sebuah kota yang besar “yang dulunya merupakan kerajaan bawahan Siang, namun tidak lagi begitu”. (Pelras, 1973 : 47). Laporan de Paiva ini menunjukkan kemungkinan Siang berada pada puncak kejayaan dan kemasyhuran sekitar Abad XIV – akhir XVI.

    Pelras dari penelitian awalnya terhadap sumber Erofah dan sumber lokal, menyatakan Siang, sebagai pusat perdagangan penting dan mungkin juga secara politik antara Abad XIV – XVI. Pengaruhnya menyebar hingga seluruh pantai barat dan daerah yang dulunya dikenal Kerajaan Lima’e Ajattapareng hingga ke selatan perbatasan kerajaan Makassar, yakni Gowa-Tallo. Pada pertengahan Abad XVI, Kerajaan Siang menurun pengaruhnya oleh naiknya kekuatan politik baru di pantai barat dengan pelabuhannya yang lebih strategis, Pelabuhan Somba Opu. Kerajaan itu tak lain Kerajaan Gowa, yang mulai gencar melancarkan ekspansi pada masa pemerintahan Karaeng Tumapakrisika Kallonna. Persekutuan Kerajaan Gowa dan Tallo akhirnya membawa petaka bagi Siang, sampai akhirnya mati dan terlupakan, di penghujung Abad XVI. (Pelras 1977 : 252-5).

    Abdul Razak Dg Mile menyatakan bahwa Raja Siang yang pertama disebut Tu-manurunge Ri Bontang (A. Razak Dg Mile, PR : 1975). Sementara M Taliu menyebut periode pertama Kerajaan Siang, digagas seorang tokoh perempuan,Manurunga ri Siang , bernama Nasauleng bergelar Puteri Kemala Mutu Manikkang . Garis keturunan Tomanurung Ri Siang inilah yang berganti-ganti menjadi raja di Siang ( asossorangi ma’gauka ) sampai tiba masanya Karaeng Allu memerintah di Siang paska Kerajaan Siang dibawah dominasi Kerajaan Gowa.

    Sumber tradisi lisan menyebutkan bahwa penggagas dinasti Siang mempunyai lima saudara laki-laki dan perempuan yang masing – masing mendirikan Kerajaan Gowa, Bone, Luwu, Jawa dan Manila. Dalam tradisi tutur yang berkembang di Pangkajene diyakini bahwa Siang mempunyai tempat istimewa dibandingkan dengan kerajaan lainnya. Barangkali keterangan Pelras mengonfirmasikan tradisi tersebut, bahwa kendati Siang telah menjadi vasal Gowa pada akhir Abad XVII, adat Siang mengharuskan agar raja – raja dari negeri besar lain yang melintasi terirori Siang memberi hormat pada“Karaeng Siang” . (M Ali Fadhillah, 2000 : 17). Sumber Portugis banyak menunjuk periode-periode awal pertumbuhan situs-situs niaga di pesisir barat, sebagaimana catatan Pelras (1977 : 243) melihat, gelombang kedatangan Portugis ke Siang sepanjang pertengahan pertama dan akhir Abad XVI, mengacu pada masa dimana Siang sedang menurun dalam perannya sebagai kota niaga dan pusat politik di pesisir barat teritori Makassar. Dugaan itu mempunyai estimasi bahwa Siang mengacu pada apa yang dilukiskan orang dengan istilah Makassar (Macacar).

    Dari kesejajaran konteks sejarahnya dengan Bantaeng di pesisir selatan, Siang dapat diterangkan pada periode pertama sebagai pelabuhan kurang dikenal, tetapi bukti-bukti arkeologi mendorong kita mengajukan estimasi awal bahwa Siang telah masuk dalam jaringan perdagangan mungkin langsung dengan pelabuhan-pelabuhan sebelah barat kepulauan. Apabila Bantaeng dan Luwu pada masa jatuhnya Majapahit mulai pudar peranannya, sebaliknya Siang, semakin meningkat dengan jatuhnya Kerajaan Malaka berkat gelombang kedatangan pedagang Melayu dari Johor, Pahang dan mungkin dari daratan Asia Tenggara daratan lainnya.

    Pada periode kedua, sejalan dengan semakin jauhnya garis pantai akibat pengendapan sungai Siang sebagai akses utama memasuki kota itu, dan kepindahan koloni pedagang Melayu ke Gowa di pesisir barat, bahkan sampai Suppa dan Sidenreng di daratan tengah Sulawesi Selatan membuat Siang kehilangan fungsi utamanya sebagai sebuah pelabuhan penting, dibarengi meredupnya pengaruh pusat politiknya. Sampai disini, nasib Siang tidak berbeda dengan Bantaeng, eksis tetapi berada dibawah bayang-bayang kontrol kekuasaan Gowa-Tallo.

    Pusat kerajaan Siang pada mulanya tumbuh berkat adanya sumber-sumber alam : kelautan, hasil hutan dan mungkin mineral serta padi ladang yang dieksploitasi oleh suatu populasi penduduk Makassar yang telah lama mengenal jaringan perdagangan laut yang luas dengan memanfaatkan muara sungai sebagai akses komunikasi utama. Frekuensi kontaknya dengan komunitas lain membawa perubahan pada pola ekonomi, terutama setelah mengenal teknologi penanaman padi basah (sawah) dan memungkinkan peralihan kegiatan ekonomi sampai ke pedalaman dengan pembukaan hutan-hutan untuk peningkatan produksi padi sebagai komoditas utama.

    Tome Pires mencatat bahwa satu tahun setelah jatuhnya Malaka (1511), pulau – pulau Macacar (Makassar) merupakan tempat – tempat yang terikat dalam jaringan perdagangan interinsuler. Meskipun Pires menduga bahwa perdaganganMacacar masih kurang penting, tetapi sejak itu, sudah menawarkan rute langsung ke Maluku dengan melalui pesisir – pesisir selatan Kalimantan dan Sulawesi ; sebuah alternatif dari rute tradisional melalui pesisir utara Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara. Namun kita harus menunggu sampai pertengahan Abad XVI, untuk mengetahui gambaran Sulawesi Selatan, yaitu sejak perjalanan Antonio de Paiva (1542-1543) dan Manuel Pinto (1545-1548) ke pesisir barat Sulawesi Selatan. Tome Pires menyebut beras sebagai produk utama Macacar. Dan kenyataannya, para pelaut Portugis belakangan telah mempunyai kesan khusus akan kesuburan negeri-negeri Sulawesi Selatan yang terkenal dengan hasil hutan, beras dan makanan lainnya. (Cortesao, 1944 dalam M Ali Fadhillah, 2000).

    Tonggak sejarah kolonial di Gowa tahun 1667 juga berdampak kuat di Siang. Kekalahan Gowa menghadapi aliansi Belanda-Bone berarti juga kekalahan dinasti Gowa dan kebangkitan kembali dinasti Barasa yang mendukung Arung Palakka. I Johoro Pa’rasanya Tubarania naik sebagai penguasa lokal, I Joro juga digelari Lo’moki Ba’le (penguasa dari seberang), karena ia kembali dari seberang laut (Jawa dan Sumatera) mengikuti misi Arung Palakka ke negeri sebelah barat nusantara.

    Sejarah kekaraengan Lombassang atau Labakkang mulai dikenal sesudah menurunnya pamor politik ekonomi Siang. Penguasa Labakkang turut membantu Gowa menundukkan Kerajaan Barasa, dinasti pengganti Siang di Pangkajene. Setelah Gowa kalah dari Belanda (1667), Labakkang lepas dari Gowa dan masuk ke dalam kontrol VOC sebelum akhirnya menjadi wilayah administrasi Noorderpprovincien , lalu menjadi Noorderdistrichten dalam kendali administrasi Belanda berpusat di Fort Rotterdam ( Benteng Jumpandang ). Somba Labakkang ketika itu didampingi anggota adatBujung Tallua , yang berkuasa di unit politik dan teritorial sendiri, yakni di Malise, Mangallekana dan Lombasang, sebelum lebih kompleks lagi dengan bergabungnya penguasa-penguasa kecil lainnya.

    Sistem politik yang diterapkan Kerajaan Gowa terhadap negeri – negeri taklukannya itu adalah menempatkan Ana’ Bate Karaeng , biasa disebut bate-bate’a). kemudian disusul perkawinan keluarga Kerajaan Gowa, pada puncaknya Kerajaan Siang menjadi negeri keluarga kerajaan Gowa yang tidak lagi bisa dipisahkan sampai tahun 1668. Sampai saat ini tidak ada satupun sumber sejarah dapat memastikan umur Kerajaan Siang sampai ditaklukkan Kerajaan Gowa – Tallo. Kerajaan Siang dibawah hegemoni pemerintahan Gowa sekitar 1512 – 1668.

  48. Nama=nurahmadani
    Kelas=1xa

    2. Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.

    3. Yaitu karaeng tunipalangga ulaweng raja gowa ke 10 yang memperkuat struktur benteng dengan batu padas dan tunijallo raja gowa ke 12 yang bentengnya mulai dipersenjatai engan meriam meriam berkaliber berat pada setiap bastion yang diapit diantara 2 sungai balang baru dan sungai jene berang. Dan masih banyak tokoh lainnya

    4. Literasi budaya ialah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, menganalisis, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan.
    mengaktifkan mading,membaca alquran sebelum belajar,membuat sudut baca.

    5. a) Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep yanv ddrikan pda tahun 1974 dengan para pndriany H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Psat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kpala Kantor Depag Pangkep skaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Yang mmberikan pndidikan Islam dan plajaran umum dgn simbang shingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.b) sejarah saya berada di immim putri karna saya di ajak sama teman mama saya sekolah di sini dan mama saya juga suruh cari pesantren dan katanya di sini bagus dan katanyasekolah nya bagus dan bagus bahasanya jadi makanya saya sekolah di sini. c) Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene.

  49. 2.- masa sejarah adalah masa yang dimulai saat manusia mulai membentuk peradaban dan mulai membentuk yang dinamakan tulisan
    -masa prasejarah adalah masa yang dimulai dari asal mula pembentukan bumi hingga zaman logam

    3.pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga Indonesia atau orang yang berjuang melawan penjajah di wilayah yang sekarang sudah menjadi wilayah Kesatuan Republik Indonesia, yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, alasannya adalah seseorang yang gugur demi perjuangan, pengabdian, dan memberikan karya yang luar biasa kepada bangsa indonesia akan diberi gelar penghargaan oleh presiden.

    4.Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami, menghargai, dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan
    -mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan kesenian daerah
    -Mengunjungi museum, tempat wisata, atau peninggalan sejarah
    -Melaksanakan festival seni di sekolah secara berkala

    5.a. immim putri dulunya didirikan oleh tiga pendirinya yaitu H. Fadeli Luran , HM Arsyad dan H. Fachrul islam pada tanggal 17 februari tahun 1974, awalnya immim ingin didirikan di daerah sidrap tetapi tidak ada tanah yang kosong akhirnya H.Fadeli Luran mengajukan bahwa di pangkep saja didirikan dan hal itu di setujui oleh pemerintah kabupaten pangkep
    b.awal mula saya masuk di immim karena keinginan orang tua selain itu immim dulunya di kenal dengan kebahasaan bahasa asing (Arab dan Inggris) dan kedisiplinannya. orang tua saya juga mengetahui immim dari anggota keluarga yang dulunya sekolah di sini yang sekarang sudah menjadi alumni di sini, dia berkata ” masukkan saja di immim, di sana orang bisa belajar bahasa asing dan dilatih kedisiplinannya”
    c.Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan adalah salah satu kabupaten di privinsi sulawesi selatan, Indonesia. Ibu kotanya adalah Pangkajene. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.112,29 km², tetapi setelah diadakan analisis luas wilayah direvisi menjadi 12.362,73 km² dengan luas wilayah daratan 898,29 km² dan wilayah laut 11.464,44 km².
    Wilayah kabupaten pangkajene dan kepulauan merupakan wilayah yang memiliki kompleksitas wilayah yang sangat urgen untuk dibahas, wilayah kabupaten pangkajene dan kepulauan memiliki potensi wilayah yang sangat besar untuk dikembangkan secara lebih optimal

  50. 2. Dua zaman itu memiliki ciri tersendiri, di mana zaman prasejarah dimulai sejak awal mula pembentukan bumi hingga pada zaman logam. Sedangkan zaman sejarah dimulai saat manusia sudah membentuk peradaban atau kebudayaannya sendiri dan juga mengenal tulisan.

    3. Yaitu karaeng tunipalangga ulaweng raja gowa ke 10 yang memperkuat struktur benteng dengan batu padas dan tunijallo raja gowa ke 12 yang bentengnya mulai dipersenjatai engan meriam meriam berkaliber berat pada setiap bastion yang diapit diantara 2 sungai balang baru dan sungai jene berang. Dan masih banyak tokoh lainnya.

    4.literasi budaya merupakan kemampuan individu dan masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa.

    5. a) Pesantren Modern IMMIM Minasatene Pangkep yanv ddrikan pda tahun 1974 dengan para pndriany H. Fadeli Luran (Alm), Ketua DPP IMMIM Psat kala itu, HM Arsyad B (Alm), Bupati Pangkep kala itu dan H. Fachrul Islam (Alm), Kpala Kantor Depag Pangkep skaligus Ketua DPC IMMIM Pangkep. Yang mmberikan pndidikan Islam dan plajaran umum dgn simbang shingga alumninya dikemudian hari mampu menghadapi berbagai tantangan modernisasi dan globalisasi dengan segala kompetensinya dengan penuh optimisme.
    B) sejarah saya berada di immim krna sy disuruh orang tua.
    C) Kata “Pangkajene” (Bahasa Makassar), berasal dari dua kata yang disatukan, yaitu “Pangka” yang berarti cabang dan “Je’ne” yang berarti air, dinamai demikian karena pada daerah yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Barasa itu, terdapat sungai yang bercabang, yang sekarang dinamai Sungai Pangkajene.

  51. 2.- masa sejarah adalah masa yang dimulai saat manusia mulai membentuk peradaban dan mulai membentuk yang dinamakan tulisan
    -masa prasejarah adalah masa yang dimulai dari asal mula pembentukan bumi hingga zaman logam

    3.pahlawan nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga Indonesia atau orang yang berjuang melawan penjajah di wilayah yang sekarang sudah menjadi wilayah Republik Indonesia, yang gugur demi membela bangsa dan negara, alasannya adalah seseorang yang gugur demi perjuangan, pengabdian, dan memberikan karya yang luar biasa kepada bangsa indonesia akan diberi gelar penghargaan oleh presiden.

    4.Literasi budaya adalah kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan memahami dan menerapkan pengetahuan tentang kebudayaan
    -mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan kesenian
    -Mengunjungi museum, tempat wisata, atau peninggalan sejarah
    -Melaksanakan festival seni di sekolah secara berkala

    5.a. immim putri dulunya didirikan oleh tiga pendirinya yaitu H. Fadeli Luran , HM Arsyad dan H. Fachrul islam pada tanggal 17 februari tahun 1974, awalnya immim ingin didirikan di daerah sidrap tetapi tidak ada tanah yang kosong akhirnya H.Fadeli Luran mengajukan bahwa di pangkep saja didirikan dan hal itu di setujui oleh pemerintah kabupaten pangkep
    b.awal mula saya masuk di immim karena keinginan orang tua selain itu immim dulunya di kenal dengan kebahasaan bahasa asing (Arab dan Inggris) dan kedisiplinannya. orang tua saya juga mengetahui immim dari anggota keluarga yang dulunya sekolah di sini yang sekarang sudah menjadi alumni di sini, dia berkata ” masukkan saja di immim, di sana orang bisa belajar bahasa asing dan dilatih kedisiplinannya”
    c.Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan adalah salah satu kabupaten di privinsi sulawesi selatan, Indonesia. Ibu kotanya adalah Pangkajene. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 12.362,73 km² dengan luas wilayah daratan 898,29 km² dan wilayah laut 11.464,44 km².
    kabupaten pangkajene dan kepulauan merupakan wilayah yang memiliki wilayah yang sangat urgen untuk dibahas, wilayah kabupaten pangkajene dan kepulauan memiliki potensi wilayah yang sangat besar untuk dikembangkan secara lebih optimal

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

immimpangkep.ponpes.id

spot_img

Get in Touch

78,000FansSuka
5,000PengikutMengikuti
10,000PelangganBerlangganan

Latest Posts