Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Syukur Alhamdulillah, satu kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri masih dapat melewati bilangan hari, pekan, dan bulan di Tahun 2024 dengan raihan prestasi dan pencapaian yang baik. Bagi penulis, Ilmu dan Amal adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan yang harus dikejar dalam segala ruang aktifitas keseharian, sebagaimana tak dapat dipisahkannya antara Iman, Adab dan Akhlak, Al-Qur’an dan Hadits, dalam setiap penghambaan kepada-NYA dan interaksi sesama muslim.
Menuntut ilmu dan mengamalkannya adalah hal yang wajib dalam Islam serta tak dapat ditawar-tawar. Ilmu adalah jalan meraih kebahagiaan dunia dan akherat. Karena itu, tak ada jalan lain dalam meraih kebahagiaan adalah dengan memperbanyak belajar dan mengikuti majelis ilmu di Tahun 2025 ini, dan di tahun-tahun ke depannya jika Allah SWT masih memberikan kesempatan hidup dalam pengabdian dan penghambaan kepada-NYA.
Allah SWT dalam Qs al-Mujadalah: 11 menempatkan orang berilmu sebagai orang dengan derajat yang tinggi.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ
وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11).
Kepada siapa kita harus belajar, berguru, menuntut ilmu dan mendapatkan pemahaman, khususnya terkait kewajiban mendalami khazanah keilmuan Islam? Dalam Hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah disebutkan bahwa
اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Artinya:
“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang cukup.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim, sebagaimana disebutkan dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Anas r.a., “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim”.
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya:
“Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputus semua amalnya (tidak bisa lagi menambah pahala) kecuali 3 orang, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan orang, atau anak shaleh yang mendoakan orangtuanya.” (HR. Muslim no. 1631).
Maka dengan demikian, sangat penting untuk mencari para ulama, mengakrabinya, mengambil pemahaman daripadanya, dan mengejar sanadnya.
Apa itu sanad dan mengapa harus bersanad? silakan baca disini: Pentingnya Bersanad dalam Keilmuan Islam. Baca pula ulasan penulis lainnya dibawah ini:
Mengejar Sanad Keilmuan Ulama – 1
Mengejar Sanad Keilmuan Ulama – 2
Mengejar Sanad Keilmuan Ulama – 3
Mengejar Sanad Keilmuan Ulama – 4
Sanad itu penting untuk menegaskan siapa guru kita, kepada siapa kita mengambil ilmu dan pemahaman akan ajaran Islam, dan pada saat nanti, di yaumul hisab, semua umat Islam akan dimintai pertanggung jawaban keilmuannya tentang bagaimana ajaran islam, al-Qur’an dan Hadits itu dipahamkan dan diamalkan.
Bersanad adalah jalan thalabul ilmi dalam Islam. Imam Abdullah bin Mubarak (wafat 181 H) -rahimahullah- berkata,
إن الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء ما شاء
Artinya:
“Sanad itu bagian dari agama. Kalau lah tidak ada sanad, pasti siapapun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” [Muqaddimah Shahih Muslim]
Beliau juga berkata,
مثل الذي يطلب أمر دينه بلا إسناد كمثل الذي يرتقي السطح بلا سلم
Artinya:
“Perumpamaan orang yang mencari ilmu agama tanpa sanad, seperti orang yang naik ke atap sebuah bangunan tanpa tangga” [Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al Kifayah fi Ilmi Riwayah hal.393]
Imam Sufyan Ats-Tsauri (wafat 161 H) -rahimahullah- berkata:
الإسناد سلاح المؤمن فإذا لم يكن معه السلاح فبأي شيء يقاتل
Artinya:
“Sanad adalah senjatanya orang beriman. Apabila tidak ada senjata tersebut, maka dengan apa mereka berperang (melawan syetan dan syubhat)?” [Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Syaraf Ashabil Hadits hal.42]
Sanad keilmuan menunjukkan pentingnya otoritas dalam berilmu agama. Dalam Muqaddimah Kitab Sahih Muslim, dinyatakan bahwa Sistem Sanad adalah bagian dari pondasi agama. Pengertian Sanad secara umum ialah seseorang yang belajar agama (Islam), dengan sumber dan kitab ulama yang terpercaya, nyata dan tegas siapa guru atau yang mengajarinya.
Sebagai catatan awal Tahun 2025, berikut ini penulis melist daftar kutub turots beragam khazanah keilmuan Islam yang telah diikuti majelisnya. Meskipun sebagian besar diantaranya telah didapatkan ijazah sanadnya, penulis merasa masih akan melakukan pengulangan-pengulangan di majelis berikutnya pada ulasan dan kajian kutub yang sama, selain mengejar pemahaman, juga ingin mengejar keberkahan ilmu dari para ulama.
Semoga dengan demikian, pengetahuan dan pemahaman kita terpelihara dan ikut mengikatkan diri dalam sanad keilmuan dengan para ulama pewaris nabi.
List Kutub yang Telah Diulas dan Diikuti Majelisnya:
1. Kitab ‘Aqidatul Awwam; Lihat Blog Guru: Meraih Ijazah Sanad Mandzumah ‘Aqidatul Awwam
2. Kitab Qawaidul Arba’ dan Kitab Kaysfu Syubuhat; Lihat Blog Guru: Meraih Ijazah Sanad Kitab Kasyfu Syubuhat dan Qawaidul Arba
3. Kitab Tauhid; Lihat Blog Guru: Mengenal Kitab Tauhid dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi
4. Kitab Ta’lim Muta’allim; Lihat Palontaraq: Mengenal Syekh Zarnuji dan Kitab Ta’lim al-Muta’allim
5. Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, Lihat: Meraih Ijazah Sanad Kitab At-Tibyan Imam Nawawi
6. Kitab Matn al-Ajurumiyah, Lihat: Meraih Ijazah Sanad Kitab Al-Ajurumiyah
7. Kitab Syafinatun Naja’ dan Kutub Fiqh Madzhab Syafi’i lainnya; Lihat: Meraih Ijazah Sanad Kitab Fikih Dasar: Syafinatun Naja’, Meraih Ijazah Sanad Kutub Fiqh dan Ushul Fiqh Madzhab Syafi’i
8. Hadits Musalsal; Lihat Blog Guru: Meraih Ijazah Sanad 6 Hadits Musalsal
9. Kitab al-Muwatho’ Imam Malik; Lihat Blog Guru: Mengakrabi Imam Malik dan Kitab Al-Muwatha’ dan Palontaraq: Imam Malik dan Kitab Al-Muwaththa’ yang Disepakati
10. Kitab Bulughul Maraam; Lihat Palontaraq: Mengenal Kitab Bulughul Maraam dan Ibnu Hajar al-Asqalani
11. Kitab Mandzumah Urjuzah Al-Mi’iyah; Lihat: Meraih Ijazah Sanad Mandzumah Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah
12. Kitab Al-Bidayah wan Nihayah; Lihat Palontaraq: Sekilas tentang Ibnu Katsir dan Kitab Al-Bidayah wan Nihayah
13. Kitab Aqidah Syarhus Sunnah, Aqidah Thahawiyah dan Al-Ushul Sittah; Lihat Blog Guru: Meraih Ijazah Sanad Kitab Aqidah Syarhus Sunnah Imam Muzaniy, Aqidah Thahawiyah dan Al-Ushul Sittah
14. Kitab Tafsir Ibnu Katsir; Lihat Blog Guru: Meraih Ijazah Sanad Kitab Tafsir Ibnu Katsir
15. Kitab Tafsir Jalalain; Lihat Blog Guru: Meraih Ijazah Sanad Kitab Tafsir Jalalain
Mari untuk selalu semangat, penuh ghirah dalam mengejar sanad keilmuan para ulama. Menjadi Orang Berilmu yang tawadhu’ dan meninggikan adab di hadapan para ulama, akan dicintai Allah SWT. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam hadits:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الأُمَّةُ قَائِمَةً
عَلَى أَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ
Artinya:
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka Dia akan menjadikannya mendalami agama. Aku hanya berbagi dan Allah yang memberi. Akan senantiasa ada sekelompok dari umat ini yang tegak di atas perintah Allah, orang yang menyelisihi mereka tidak akan membahayakan mereka hingga datang hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 3971 dan Muslim no. 1037).
Pun, dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Artinya:
“Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputus semua amalnya (tidak bisa lagi menambah pahala) kecuali 3 orang, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan orang, atau anak shaleh yang mendoakan orangtuanya.” (HR. Muslim no. 1631).
Demikian, semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

