Tentang Ibuku dan Semesta

Oleh: Nasipa Kayla Putri, Putri IMMIM Kelas X #AlMaqazah723

Nasyifa Kaila Putri. (foto: ist/blogsantri)
Nasyifa Kaila Putri. (foto: ist/blogsantri)

BLOGSANTRI – Tak terasa waktu sudah berganti mengubah tubuh kecilku. Seperti rasanya baru kemarin aku meninggalkan masa kanak dan keceriaan bermain bersama teman sebaya.

Aku rindu dengan pangkuan ibu. Aku rindu merengek di pagi hari saat aku terbangun. Aku rindu masa dimana tanpa beban, yang ada hanya keriangan bermain.

Akan sangat tidak mungkin untuk aku bisa mengulang waktu, Dejavu! Hal yang mustahil, yang ada hanya pertanggung jawaban kebaikan apa yang dilakukan bersama berlalunya waktu.

Tak kuasa memutar waktu, atau mengenang masa kanak yang bahagia. Hanya rindu mengenang yang telah lalu bersama wajah-wajah yang lekat dalam hati dan ingatan.

Kadang aku menolak diri menjadi remaja, dan kelak menjadi sosok yang dianggap dewasa. Aku tak kuat menghadapi semesta dunia yang penuh dengan ambisi, saling berebut kuasa, harta dan tahta, mengejar dunia seperti tak ada ujungnya. Yang kulihat dan terlihat di sekitarku, banyak yang ingin meninggi dengan menyingkirkan orang lain.

Di kota tempatku merantau ini memang sedikit kejam. Aku kadang tidak bisa melihat siapa temanku yang sebenarnya. Pikirku, mungkinkah mereka sibuk mencari muka ataukah memang seperti itulah tuntutan untuk bertahan hidup.

Aku hanya sosok pendiam, yang kadang hanya bisa berteman dengan kertas dan pena. Itulah kebiasaanku. Kertas dan Pena kuanggap teman yang setia menemani hari-hariku, mengungkap jiwa dan resah, tak tertulis kebohongan, meski tanpa tawa dan tangis.

Keaadan sering membuatku menyerah, tapi senyum orang rumah dan bayangan keluarga nun jauh disana selalu bisa menguatkan aku disini, di tanah perantauan menuntut ilmu.

Hidupku tidak akan berarti jika aku pulang sekarang, Aku harus kuat, dan Bukankah tak ada kekuatan tanpa ujian?

Aku harus kuat bersama berlalunya waktu. Bukankah sebuah batu ujian sepertinya tidak lagi terasa begitu menyakitkan, sebuah cacian seolah sudah tidak lagi dipikirkan. Semuanya akan berlalu bersama kedewasaan melihat potret dan lingkungan lebih luas.

Aku akan hancur sendiri jika mendengarkan mereka semua perkataan orang disekelilingku. Bukankah pula aku tak boleh picik melihat sisi lingkungan yang mulai kuakrabi. Bagaimana jika mereka berpikiran sama denganku. Akh, lebih baik berpikir positif.

Kusadari, ada mimpi yang harus kubangun. Mimpi itu, impian itu, rencana hidup itu, semuanya sudah kususun sedemikian rupa. Tak ingin ada yang mengubah atau merobohkannya. Aku harus menciptakan lingkungan untuk mendukung mimpi dan cita-citaku itu.

Aku tak ingin salah bergaul. Mungkin ini hikmah aku dikirim jauh menuntut ilmu, jauh dari pandangan orangtua. Ambil hikmahnya. Boleh jadi di lingkungan yang mulai akrabi ini, akan ada sosok yang kuakrabi, yang mengajakku meraih impian bersama.

Aku tak ingin salah bergaul. Aku tak ingin terjerembab dalam pergaulan yang mengubah dan merobohkan mimpi-mimpiku. Cermat memilih teman dan tak ingin larut dalam banyak kesia-siaan.

Bukannya aku tidak ingin bergaul, tapi aku takut banyak orang jahat di sekitarku yang sedang memakai topeng untuk menutupi taringnya.

Kepada ibuku, Jika aku kuasa mengembalikan waktu yang hilang, inginku kembali menjadi putri kecilmu, yang sering kau banggakan dengan semua orang. Yang selalu kau bawa kemana pun kau berada.

Aku ingin pulang untuk sebentar saja mengecup pipimu, mendengar lansung doamu yang luar biasa itu untukku, untuk wujudnya mimpi dan impianku.

Mengenangmu Ibu, Air mataku jatuh tak terbendung. Akankah kau kirimkan doa-doamu untuk menguatkan jiwa di tanah perantauan ini. Aku tak ingin kehilangan makna dan arti hadirku disisimu, meski kusadari perjuanganku mungkin tidak seberat perjuangan ibu dahulu.

Tapi kini aku paham, untuk menjadi mulia, kuat dan baik, aku harus di tempa dan digembleng. Untuk menjadi berharga aku harus siap berhadapan dengan beragam lingkungan, termasuk menerima cercaan, dan mungkin juga hinaan, tanpa menolak kebaikan dan ketulusan hati yang datang menyejukkan jiwa.

Saat-saat seperti itu, aku memohon padamu ibu, agar melangitkan doamu untuk kekuatan dan ketabahanku menjalani semuanya.

Anakmu yang sudah tidak lagi kecil ini ingin mencoba mengukir senyum di bibirmu. Jangan tambah menua ya, ibu, sampai aku kembali. Tunggu aku berhasil dan kupersembahkan dunia untuk mu.

Lalu kita akan bahagia bersama. Dulu kau yang menimangku, pada saatnya nanti, biarkan aku yang merawat masa tuamu. Dan untuk semesta, terima kasih telah menjaga ibuku dan kutitipkan salam rinduku untuknya. (*)

Lihat pula: Acuhkan Status Medsos, Menulislah di Blog

- Advertisement -

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

immimpangkep.ponpes.id

spot_img

Get in Touch

78,000FansSuka
5,000PengikutMengikuti
10,000PelangganBerlangganan

Latest Posts