Oleh: Muhammad Farid Wajdi, S.H.i.,M.M.
Related Post: Kitab Kuning yang Wajib dipelajari Santri dan Ustadz
BLOGSANTRI.COM – Kitab Alfiyah Ibnu Malik adalah kitab nahwu shorof yang lengkap, ditulis dalam bentuk nadhom (syair). Kenapa dinamakan Alfiah? Karena terdiri atas 1.002 bait. Kitab ini umum dipelajari di Pondok Pesantren bersama dengan Kitab Al-ajurumiyah dan Imriti.
Kitab Alfiyah Ibnu Malik berisi tentang kaidah gramatika Bahasa Arab, disusun oleh Syekh Muhammad bin Abdullah bin Malik–lebih familiar disebut Imam Ibnu Malik–dalam bentuk nadham. Untuk membaca nadham Alfiah, biasanya butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk dapat menyelesaikan 1002 baitnya.

Nadham Alfiah telah menjadi karya yang sangat fenomenal, digemari santri dan pelajar muslim karena membantu memahami kaidah Bahasa Arab. Secara keseluruhannya Alfiah Ibnu Malik berisi tentang kaidah gramatika Bahasa Arab atau lazim disebut Nahwu Shorof.
Keunikan kitab Alfiah ini adalah penempatan kata dan contoh dalam nadzom yang tidak sembarangan, melainkan mempunyai maksud dan isyarah tersendiri, semisal kalam hikmah, falsafah dan nasehat hidup.
Meski disebut “Alfiah” yang berarti seribu, namun pada kenyataannya, jumlah bait dari nadzom Alfiyah itu sendiri adalah 1002 bait. Terkait tambahan 2 bait dalam mukadimah, ada cerita menarik dibalik penambahan 2 bait tersebut. Tentang arti dari sebuah rasa bangga, tentang ta’dzim kepada sang guru, tentang tulusnya sebuah karya, juga tentang adab terhadap guru yang sudah berpulang ke rahmatullah.

Imam Ibnu Malik dalam menyusun nadzom Alfiyah ini terinspirasi dari almarhum sang guru, Syekh Ibnu Mu’thiy, yang sudah terlebih dahulu menyusun sebuah nadzom yang berjumlah 500 bait. Karya Syekh Ibnu Mu’thiy itu, “Alkaafiyah”, mashur disebut “Alfiyah Ibn Mu’thiy”. Disebut Alfiyah, karena terdiri dari 1000 satar. Adapun satar yaitu setengah bagian dari satu bait.
Ketika beliau sudah mantap menyimpan semua gambaran nadzom Alfiyah dalam memori otaknya, beliau pun memulai untuk menulis untaian nadzom yang indah tersebut. Hingga pada saat beliau menulis bait ke lima, bagian satar ke sepuluh yang berbunyi;
وتَقتضِى رضًا بغير سخطٍ # فائقةً ألفيّةً ابن معطى
Artinya:
Dan kitab Alfiyah itu akan menarik keridhoan yang tanpa didasari kemarahan #Dan kitab Alfiyah ini lebih unggul dari kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thiy.
Seketika semua hafalan dalam memori Imam Ibnu Malik lenyap. Beliau tidak ingat satu huruf pun. Imam Ibnu Malik pun merasa cemas, sedih, bingung, dan tak tahu apa yang harus beliau lakukan. Hingga akhirnya beliau tertidur pulas dan bermimpi bertemu seorang kakek yang berpakaian serba putih.
Kakek itu menepuk pundak Syekh Ibnu Malik sambil berkata, “Wahai anak muda, bangunlah! Bukankah kamu sedang menyusun sebuah kitab?”
“Iya kek,” seketika Imam Ibnu Malik terbangun. “Namun aku lupa semua hafalanku, sehingga aku tak mampu tuk melanjutkannya” jawabnya.
Kakek itu pun bertanya, “sudah sampai mana kamu menulisnya?”
“Baru sampai bait kelima”, beliau menjawab sambil membacakan bait yang terakhir. “Bolehkah aku melanjutkan hafalanmu,?” tanya kakek tersebut.
“Tentu saja,” jawab Imam Ibnu Malik. Kakek itupun membacakan sepasang bait;
فائقةً من نحو ألف بيتي # والحيّ قد يغلب ألف ميّتي
Artinya:
Seperti halnya mengungguli dalam seribu bait #Orang yang masih hidup, terkadang mengalahkan 1000 orang yang sudah meninggal.

Seketika setelah mendengar satu bait yang diucapkan oleh kakek tersebut, Syekh Ibnu Malik pun terbangun dan beliau pun menyadari satu hal, bahwa kakek dalam mimpinya itu tak lain adalah gurunya sendiri, Syekh Ibnu Mu’thiy yang dengan jelas menegur Syekh Ibnu Malik dengan sindiran di bait tersebut.
Beliau juga sadar, bahwa ungkapan bangga yang beliau ungkapkan dalam bait kelima tersebut ternyata merupakan perasaan takabbur yang timbul dari nafsunya, perasaan yang secara tidak langsung telah menerobos sebuah adab, akhlaqul karimah seorang murid kepada gurunya.
Sadar akan hal itu, Imam Ibnu Malik pun bertaubat kepada Sang pencipta atas rasa takabburnya. Beliau juga hendak meminta maaf kepada Imam Ibnu Mu’thiy, beliau berziarah ke makam Syekh Ibnu Mu’thiy.
Selepas berziarah, beliau pun hendak melanjutkan karangan tersebut dengan menambahkan 2 bait di bagian mukadimah yang pada awalnya tidak masuk dalam rencana, dengan harapan bahwa hafalannya akan pulih kembali.
Dua bait tersebut berbunyi seperti ini:
وهو بسبق حائز تفضيلا # مستوجب ثنائي الجميلا
والله يقضي بهبات وافرة # لي وله في درجات الآخرة
Artinya:
Dan dia (Imam Ibnu Mu’thiy) memang lebih dahulu dan mendapatkan keunggulan. Dia juga pantas mendapatkan pujian (legitimasi) yang sangat baik dariku.
Semoga Allah memberikan anugerah yang sempurna untukku dan juga beliau dalam derajat yang tinggi di akhirat kelak.
Secara ajaib, semua memori hafalan nadzom yang ingin beliau tulis itu pun kembali tergambar jelas di otak dan hatinya. Beliau pun sangat bersyukur dan kemudian melanjutkan karangannya.
Hingga akhirnya terciptalah sebuah mahakarya yang terkenal di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Nadzoman yang sangat popular dikalangan santri, khususnya santri salaf.
Dan sampai saat ini pun, masih banyak santri yang menghafalnya dalam hitungan bait yang berbeda-beda. Dapat dipastikan bahwa santri yang menghafalkan “Alfiah Ibnu Malik” telah sempurna penguasaan gramatika Bahasa Arabnya.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, S.H.i., M.M., Pembelajar Kitab Kuning/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep.


saya pinggen pesantren di wilayah saya lebih berkualitas dengan adanya RPP. seperti kurikulum yg jelas kapan dan waktunya pembelajaran dan metodenya
[…] Matn Alfiyah Ibnu Malik; Lihat: Mengenal Kitab Alfiyah Ibnu Malik, Terjemah Nadhom Alfiah Ibnu Malik Bait 1-21 (Bagian 1), Kumpulan Terjemah Per Bab Nadhom Alfiah […]