Sejarah Masuknya Islam di Thailand: Suatu Kajian Historis, Kultural, dan Geopolitik

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Sejarah Masuknya Islam di Thailand

BLOGSANTRI.COM – Kajian mengenai sejarah Islam di Asia Tenggara sering kali berpusat pada negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Namun, dinamika penyebaran Islam di wilayah kontinental Asia Tenggara (Mainland Southeast Asia) memiliki lintasan sejarah yang tidak kalah memikat dan kompleks.

Salah satu wilayah yang menyimpan memori historis Islamisasi yang sangat kuat adalah Kerajaan Thailand, yang dahulu secara historis dikenal sebagai Kerajaan Siam. Meskipun saat ini Thailand diidentifikasikan sebagai negara dengan mayoritas penduduk memeluk agama Buddha Theravada, Islam merupakan agama terbesar kedua di negeri Gajah Putih tersebut.

Keberadaan minoritas Muslim di Thailand bukan sekadar hasil dari migrasi modern, melainkan buah dari proses Islamisasi historis yang telah berlangsung selama berabad-abad. Secara geopolitik dan kultural, sejarah Islam di Thailand terbagi ke dalam dua entitas yang berbeda: komunitas Muslim Melayu di wilayah Selatan (Pattani, Yala, Narathiwat, dan Songkhla) yang masuk ke dalam lingkaran peradaban Nusantara, serta komunitas Muslim non-Melayu di wilayah Tengah, Utara, dan Timur Laut yang memiliki asal-usul genetik dari Persia, Arab, India, Cina (Hui), dan Cham.

Tulisan ini pada akhirnya bertujuan untuk menguraikan secara komprehensif fase-fase awal masuknya Islam di Thailand, jaringan perdagangan maritim yang membentuknya, transformasi politik Kerajaan Patani, kosmopolitanisme Muslim di istana Ayutthaya, serta dinamika integrasi politik ke dalam administrasi modern Siam.

***

Sebelum abad ke-10 Masehi, Semenanjung Malaya bagian utara dan wilayah dataran rendah sungai Chao Phraya merupakan rute perdagangan maritim yang sangat aktif. Kawasan ini bertindak sebagai jembatan transit penting yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Laut Cina Selatan.

Para pelaut dari berbagai penjuru dunia harus melewati Selat Malaka atau melakukan penyeberangan darat melalui Tanah Genting Kra (Kra Isthmus) untuk memperpendek jarak pelayaran menuju Cina. (Lihat: Nik Anuar Nik Mahmud, Sejarah Perjuangan Melayu Patani, (Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia, 2006), hlm. 14-19).

Sistem pelayaran kuno ini sangat bergantung pada arah angin musim (monsoon). Ketergantungan ini memaksa para saudagar asing untuk menetap selama beberapa bulan di bandar-bandar pelabuhan lokal sembari menunggu pergantian angin. Masa tinggal yang lama ini memicu interaksi kultural, perkawinan campur, dan transfer gagasan keagamaan antara para pedagang internasional dengan penduduk setempat yang saat itu masih memeluk agama Hindu-Buddha atau animisme lokal. (Lihat: Imtiyaz Yusuf, “Islam in Thailand: From the Formative Period to Contemporary Times”, dalam Journal of Islamic Studies, Vol. 22, No. 2, 2011, hlm. 175-178).

A. Teori dan Jalur Masuknya Islam di Thailand

Masuknya Islam ke wilayah yang sekarang menjadi teritorial Thailand tidak terjadi melalui penaklukan militer, melainkan melalui penetrasi damai (penetration pacifique). Para sejarawan membagi jalur kedatangan Islam ke Thailand menjadi tiga gelombang utama:

[Rute Maritim Selatan (Arab/Parsi)] —> Melalui Selat Malaka —> Kerajaan Patani (Abad ke-14 M) [Rute Istana Tengah (India/Persia)] —> Melalui Pesisir Barat —> Istana Ayutthaya (Abad ke-16 M) [Rute Darat Utara (Cina/Yunnan)] —> Jalur Sutra Darat —> Chiang Mai/Utara (Abad ke-19 M)

  1. Jalur Perdagangan Maritim Selatan (Pesisir Pattani)

Jalur utama masuknya Islam di wilayah Selatan Thailand adalah melalui hubungan dagang laut. Sejak abad ke-12 Masehi, pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan Gujarat telah singgah di pelabuhan Pattani. Posisi Pattani yang terlindung dari badai besar menjadikannya pelabuhan transito yang ideal.

Para pedagang ini tidak sekadar bertukar barang komoditas seperti sutra, porselen, dan rempah-rempah, tetapi juga memperkenalkan konsep tauhid, kebersihan personal, dan tata cara hukum dagang Islam yang adil. Lambat laun, terbentuk permukiman Muslim kecil di sekitar pelabuhan yang menjadi embrio bagi proses Islamisasi berskala besar. (Lihat: Raymond Scupin, “The Muslims of Thailand: A Historical and Anthropological Overview”, dalam Central Asian Survey, Vol. 17, No. 2, 1998, hlm. 233-236).

2. Jalur Hubungan Diplomatik dan Birokrasi Tengah (Ayutthaya)

Berbeda dengan wilayah Selatan yang bercorak Melayu, Islam masuk ke wilayah Tengah Thailand (Pusat Kerajaan Siam di Ayutthaya) melalui kehadiran para pedagang kelas atas, diplomat, dan penasihat militer yang berasal dari Persia (Iran) dan India Selatan.

Pada abad ke-16 dan ke-17 Masehi, dinasti Safawi di Persia menjalin hubungan perdagangan yang intens dengan Kerajaan Ayutthaya. Tokoh-tokoh Muslim terpelajar dari Shiraz dan Isfahan bermigrasi ke Ayutthaya dan mendapatkan kedudukan terhormat di lingkungan istana karena keahlian mereka dalam tata kelola administrasi, keuangan, dan diplomasi internasional. (Lihat: Julispong Chularatana, The Persian Community in Ayutthaya: Its Role in Politics and International Trade, Chulalongkorn University Press, 2003, hlm. 45-52).

3. Jalur Darat Utara (Komunitas Muslim Tionghoa/Chin Ho)

Di wilayah Utara Thailand, khususnya di sekitar Chiang Mai dan Chiang Rai, Islam masuk melalui jalur darat dari wilayah Yunnan, Cina Selatan. Komunitas Muslim ini dikenal secara lokal sebagai Chin Ho.

Mereka adalah keturunan suku Hui Muslim yang berprofesi sebagai pedagang kafilah berkuda (caravan traders) yang melintasi jalur pegunungan antara Cina Selatan, Burma, Laos, dan Thailand Utara. Proses migrasi ini berlangsung secara bertahap sejak abad ke-14 Masehi dan mengalami puncaknya pasca-kegagalan Pemberontakan Panthay di Yunnan pada akhir abad ke-19 Masehi. (Lihat: Andrew Forbes, “The ‘Chin Ho’, Yunnanese Chinese Muslims of North Thailand”, dalam Journal of the Institute of Muslim Minority Affairs, Vol. 7, No. 2, 1986, hlm. 476-481.

B. Kerajaan Patani: Episentrum Islam Melayu di Selatan

Momentum terbesar dari pelembagaan Islam di wilayah Thailand Selatan ditandai dengan konversi formal penguasa Kerajaan Patani (Pattani) menjadi sebuah Kesultanan Islam. Sebelum menjadi kerajaan Islam, Patani adalah kelanjutan dari kerajaan Hindu-Buddha kuno bernama Langkasuka.

1. Legenda Konversi Sultan Ismail Shah

Berdasarkan teks historiografi lokal seperti Hikayat Patani, proses Islamisasi penguasa Patani terjadi pada sekitar pertengahan abad ke-14 Masehi (sebagian sejarawan menyebut tahun 1457 M). Raja Patani saat itu, Phaya Tu Nakpa, menderita penyakit kulit parah yang tidak kunjung sembuh oleh tabib kerajaan. Seorang ulama dan tabib Muslim asal Pasai bernama Syekh Said (atau Syekh Safiuddin) bersedia mengobati sang raja dengan syarat jika sembuh, raja harus memeluk agama Islam. (Lihat: A. Teeuw dan D.K. Wyatt, Hikayat Patani: The Story of Patani, The Hague: Martinus Nijhoff, 1970, hlm. 71-76).

Setelah mengalami kesembuhan total dan sempat ingkar janji sebanyak dua kali, Phaya Tu Nakpa akhirnya dengan penuh kesadaran memeluk Islam. Ia kemudian mengubah namanya menjadi Sultan Ismail Shah dan menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Peristiwa top-down ini diikuti dengan konversi massal kaum bangsawan, menteri, dan rakyat jelata Patani.

2. Patani sebagai Pusat Tamadun dan Kajian Islam (Cradle of Scholar)

Di bawah perlindungan para sultan dan sultanah (Patani pernah dipimpin oleh empat ratu legendaris secara berurutan: Ratu Hijau, Ratu Biru, Ratu Ungu, dan Ratu Kuning), Kesultanan Patani berkembang menjadi salah satu pusat intelektual Islam terkemuka di Asia Tenggara. Sistem pendidikan tradisional berbasis Pondok berkembang pesat di Patani.

Patani melahirkan ulama-ulama kaliber internasional yang karya-karyanya menjadi rujukan utama di seluruh Nusantara. Salah satu yang paling termasyhur adalah Syekh Daud al-Fatani (1769–1847 M), yang menulis puluhan kitab kuning dalam bidang fikih, tauhid, dan tasawuf menggunakan bahasa Melayu aksara Jawi. (Lihat: Mohd. Zariat Abdul Rani, “Ketokohan Syekh Daud al-Fatani dalam Penyebaran Islam di Nusantara”, dalam Jurnal Pengajian Melayu, Jilid 15, 2005, hlm. 102-108). Kitab-kitab karangan ulama Patani dipelajari hingga ke Mekah, semenanjung Malaya, Sumatra, hingga Jawa.

C. Eksistensi Muslim di Jantung Kerajaan Siam: Era Ayutthaya dan Thonburi

Sementara wilayah Selatan berkembang sebagai kesultanan independen bercorak Melayu, wilayah Tengah Siam (Ayutthaya) memperlihatkan potret kosmopolitanisme Islam non-Melayu yang sangat unik di dalam struktur negara Buddhis.

1. Peran Dinasti Sheikh Ahmad Qomi

Pada tahun 1602 M, dua bersaudara Muslim dari Persia, Sheikh Ahmad Qomi dan Muhammad Said, tiba di Ayutthaya. Sheikh Ahmad Qomi adalah seorang pedagang kaya yang sangat terpelajar. Berkat kecerdasannya, ia berhasil membantu Raja Songtham (1611–1628 M) dalam mereformasi sistem perdagangan luar negeri Siam dan membersihkan korupsi di pelabuhan. (Lihat: David K. Wyatt, Studies in Thai History, Bangkok: Silkworm Books, 1994, hlm. 108-112).

Sebagai penghargaan atas jasanya, Sheikh Ahmad diangkat menjadi pejabat tinggi dengan gelar Chao Phraya Bowon Rajnayok dan dianugerahi posisi sebagai Chao Chula Rajamontri—posisi perdana menteri urusan perdagangan luar negeri sekaligus pemimpin spiritual bagi seluruh umat Islam di Kerajaan Siam. Jabatan Chula Rajamontri ini terus dipertahankan oleh monarki Thailand hingga era modern sekarang ini sebagai mufti agung negara. Keturunan Sheikh Ahmad kelak berasimilasi dengan elit Siam dan melahirkan beberapa klan bangsawan berpengaruh di Thailand, seperti keluarga Bunnag. (Lihat: Julispong Chularatana, Muslim Scholars and Officials in the Siamese Court from Ayutthaya to Bangkok Periods, Chulalongkorn University Publications, 2007, hlm. 89-94).

[Sheikh Ahmad Qomi (Ulama Persia)] —> Tiba di Ayutthaya (1602 M) —> Reformasi Perdagangan Siam | [Gelar Mufti Agung Negara] <— Diangkat oleh Raja Songtham <— [Chao Chula Rajamontri]

2. Pasukan Pengawal Khusus Muslim (Krom Asa Cham)

Kerajaan Ayutthaya juga merekrut komunitas Muslim Cham (pelarian politik dari Kerajaan Champa yang runtuh akibat ekspansi Vietnam) serta Muslim Makassar sebagai tentara bayaran dan pengawal khusus kerajaan (royal guards). Unit militer ini dikenal dengan nama Krom Asa Cham (Korps Sukarelawan Cham).

Mereka terkenal karena loyalitasnya yang tinggi dan ketangguhannya dalam pertempuran laut defensif menjaga kedaulatan Ayutthaya dari serangan Burma. (Lihat: W.K. Che Man, Muslim Separatism: The Moros of Southern Philippines and the Malays of Southern Thailand, Singapore: Oxford University Press, 1990, hlm. 33-37).

D. Konflik, Aneksasi, dan Transformasi Politik Geopolitik Modern

Hubungan antara Kerajaan Pusat Siam di Bangkok dengan Kesultanan Patani di Selatan dipenuhi dengan ketegangan geopolitik pasca-runtuhnya Ayutthaya akibat serangan Burma pada tahun 1767.

1. Penaklukan Dinasti Chakri dan Traktat Bangkok 1909

Di bawah Dinasti Chakri (dimulai oleh Raja Rama I), Siam meluncurkan kampanye militer untuk menundukkan kembali wilayah-wilayah protektoratnya, termasuk Patani. Pada tahun 1786, Patani berhasil ditaklukkan militer Siam. Untuk melemahkan kekuatan perlawanan lokal, Siam membagi wilayah Kesultanan Patani menjadi tujuh provinsi kecil (Tujuh Wilayah) pada tahun 1809. (Lihat: Thanet Aphornsuvan, Rebellion in Southern Thailand: Internal Logistics and International Relations, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2007, hlm. 21-26).

Puncak pembubaran kedaulatan politik Islam di Selatan terjadi melalui pembentukan sistem administrasi sentralistik Thesaphiban oleh Raja Chulalongkorn (Rama V) dan diperkokoh secara hukum internasional melalui Traktat Bangkok 1909 (Anglo-Siamese Treaty of 1909).

Dalam perjanjian tersebut, Inggris yang menguasai Malaya menyerahkan kedaulatan atas wilayah Pattani, Yala, Narathiwat, dan Satun secara permanen kepada Kerajaan Siam. (Lihat: Kobkua Suwannathat-Pian, Thai-Malay Relations: Traditional Intra-regional Relations from the Seventeenth to the Early Twentieth Centuries, Singapore: Oxford University Press, 1988, hlm. 154-160). Sejak saat itu, wilayah Islam Melayu di Selatan resmi berintegrasi ke dalam struktur negara Thailand modern.

2. Dampak Kebijakan Asimilasi Budaya (Thaifikasi)

Pada pertengahan abad ke-20, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Marsekal Plaek Phibunsongkhram, pemerintah Thailand menerapkan kebijakan asimilasi budaya nasional secara agresif (Thaifikasi). Kebijakan ini melarang penggunaan bahasa Melayu di instansi pemerintah, penutupan sekolah Jawi, dan pemaksaan penggunaan hukum perdata Siam menggantikan hukum syariat Islam. Kebijakan radikal ini memicu resistensi kultural dan gerakan separatisme laten di wilayah Selatan yang akarnya masih terasa hingga awal abad ke-21. (Lihat: Surin Pitsuwan, Islam and Malay Nationalism: A Case Study of the Malay-Muslims of Southern Thailand, Bangkok: Thammasat University, Thai Khadi Research Institute, 1985, hlm. 77-83).

E. Keragaman Karakteristik Kultural Muslim Thailand Modern

Sebagai hasil dari lintasan sejarah yang panjang dan beragam, potret sosiologis umat Islam di Thailand hari ini terbagi menjadi beberapa kelompok kultural yang memiliki karakteristik unik:

Kelompok Muslim Wilayah Konsentrasi Asal-usul Etnis Bahasa Utama Karakteristik Sosial-Keagamaan
Muslim Melayu Pattani, Yala, Narathiwat Melayu Bahasa Melayu dialek Patani Sangat konservatif, berbasis pendidikan pondok kuat, menolak asimilasi budaya Siam total.
Muslim Siam/Tengah Bangkok, Ayutthaya Persia, Arab, India, Cham Bahasa Thai Terintegrasi penuh dengan budaya Thailand, aktif dalam birokrasi pemerintahan dan sektor ekonomi urban.
Muslim Chin Ho Chiang Mai, Chiang Rai Hui (Cina Utara) Bahasa Thai & Mandarin Memadukan tradisi arsitektur Tionghoa dengan syariat Islam, fokus pada jalur perdagangan hortikultura darat.

Jadi, Sejarah masuknya Islam di Thailand menyajikan sebuah narasi akulturasi yang multi-faset dan kaya. Di satu sisi, Islam masuk melalui jalur maritim selatan dan berhasil mentransformasikan pola hidup masyarakat Melayu lokal di Patani menjadi sebuah peradaban Islam yang mandiri, berdaulat, dan menjadi mercusuar keilmuan di Asia Tenggara.

Di sisi lain, Islam hadir di jantung kekuasaan Siam (Ayutthaya) melalui diplomasi kosmopolitan para tokoh elit intelektual Persia dan kekuatan militer Cham, yang membuktikan bahwa Islam secara historis memiliki kontribusi yang diakui dalam pembentukan struktur administrasi kenegaraan monarki Thailand.

Meskipun integrasi politik pada awal abad ke-20 menyisakan luka sejarah berupa konflik vertikal di wilayah Selatan akibat kebijakan asimilasi, umat Islam Thailand pada era kontemporer terus menunjukkan daya penyintasan (survival) dan kontribusi signifikan dalam memperkaya pluralisme sosial, budaya, dan keagamaan di Kerajaan Thailand. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

- Advertisement -

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

immimpangkep.ponpes.id

spot_img

Get in Touch

78,000FansSuka
5,000PengikutMengikuti
10,000PelangganBerlangganan

Latest Posts