Sejarah Masuknya Islam di Malaysia

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Perkembangan Islam di Asia Tenggara

BLOGSANTRI.COM –  Kawasan Asia Tenggara, khususnya wilayah Kepulauan Melayu (Nusantara), secara historis merupakan salah satu urat nadi perdagangan maritim dunia. Di antara wilayah yang memiliki posisi sangat strategis dalam lintasan ini adalah Semenanjung Malaya, yang kini menjadi wilayah kedaulatan negara Malaysia.

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat di wilayah ini berada di bawah pengaruh kuat kebudayaan Hindu-Buddha yang dibawa melalui interaksi berabad-abad dengan India. Namun, sejak gelombang Islamisasi menyentuh kawasan ini, wajah kebudayaan, sosial, dan politik masyarakat Melayu mengalami transformasi total dan mendalam.

Proses masuknya Islam ke Malaysia bukanlah peristiwa tunggal yang terjadi dalam satu waktu, melainkan sebuah kontinuitas sejarah yang berlangsung secara damai, bertahap, dan melibatkan berbagai aktor sejarah. Mulai dari para saudagar yang singgah di pelabuhan-pelabuhan kuno, para sufi yang mengembara, hingga konversi para penguasa lokal yang mengubah arah geopolitik kawasan.

Teori-Teori Kedatangan Islam di Malaysia

Para sejarawan dan orientalis Barat maupun sarjana Muslim memiliki beragam pandangan mengenai asal-usul, waktu, dan pembawa pertama ajaran Islam ke Tanah Melayu. Secara garis besar, Prof. Azyumardi Azra dan beberapa pakar sejarah membaginya ke dalam tiga teori utama:

1. Teori Arab (Hadramaut)

Teori ini menyatakan bahwa Islam datang langsung dari wilayah Arab, terutama Hadramaut (Yaman) dan pesisir jazirah Arab. Para pendukung teori ini, seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Crawfurd, berargumen bahwa karakteristik awal Islam di Asia Tenggara—termasuk di Malaysia—sangat kental dengan Mazhab Syafi’i yang dominan di Yaman dan Mesir.

Hubungan dagang langsung antara Arab dan kawasan kepulauan Melayu diduga telah terjalin sejak abad ke-7 Masehi (abad ke-1 Hijriah), seiring dengan ramainya rute pelayaran maritim Daulah Umayyah dan Abbasiyah menuju Cina. Para mubaligh Arab berlayar menumpang kapal dagang dan menyebarkan Islam secara langsung kepada penduduk lokal di bandar-bandar pelabuhan.

2. Teori India (Gujarat dan Malabar)

Teori India diperkenalkan oleh para sarjana Barat seperti Snouck Hurgronje, J. Pijnappel, dan J.P. Moquette. Menurut teori ini, Islam tidak datang langsung dari Arab, melainkan dibawa oleh para pedagang Muslim dari India barat (Gujarat) dan India selatan (Malabar) sekitar abad ke-12 atau ke-13 Masehi.

Argumen utama teori ini didasarkan pada hubungan dagang yang sangat intens antara India dengan Semenanjung Malaya serta adanya kesamaan unsur-unsur budaya dan arsitektur nisan Islam kuno di Nusantara yang mirip dengan corak Gujarat. Namun, teori ini kerap dikritik karena Islam di Gujarat didominasi oleh Mazhab Hanafi, sedangkan Muslim di Semenanjung Malaya berpegang teguh pada Mazhab Syafi’i.

3. Teori Cina

Teori yang relatif kurang populer namun memiliki bukti kuat adalah teori kedatangan Islam dari wilayah Cina. Tokoh-tokoh seperti Emanuel Godinho de Eredia dan S.Q. Fatimi berpendapat bahwa Islam masuk ke Semenanjung Malaya melalui para pedagang Muslim Kanton dan wilayah Cina Selatan.

Pada masa Dinasti Tang dan Song, pelabuhan-pelabuhan di Cina Selatan sudah dihuni oleh ribuan komunitas Muslim Arab dan Persia. Ketika terjadi pemberontakan besar (seperti pemberontakan Huang Chao pada abad ke-9 M), banyak Muslim Cina yang melarikan diri ke Asia Tenggara, termasuk ke Champa (Vietnam) dan pesisir timur Semenanjung Malaya seperti Kelantan dan Terengganu.

Lihat pula di Palontaraq: Sejarah Masuknya Islam di Malaysia

Bukti-Bukti Arkeologis Awal di Semenanjung Malaya

Sebelum berdirinya kesultanan besar seperti Malaka, terdapat bukti fisik yang menunjukkan bahwa hukum Islam dan komunitas Muslim telah eksis di beberapa wilayah Semenanjung Malaya:

Batu Bersurat Terengganu

Bukti tertulis tertua mengenai keberadaan Islam di Malaysia adalah penemuan Batu Bersurat Terengganu (Prasasti Terengganu) yang bertarikh 702 Hijriah (atau sekitar 1303 Masehi). Prasasti yang ditulis menggunakan huruf Jawi (Arab-Melayu) ini ditemukan di Kuala Berang, Terengganu.

Isi dari prasasti ini memuat maklumat hukum dan syariat Islam yang dikeluarkan oleh penguasa setempat, termasuk perintah untuk menjalankan hukum pidana Islam terhadap pelaku zina dan pencurian. Penemuan ini mematahkan asumsi bahwa Islamisasi di Malaysia baru dimulai secara formal setelah berdirinya Kesultanan Malaka pada abad ke-15.

Islamisasi di Kedah

Negeri Kedah yang terletak di utara Semenanjung Malaya tercatat sebagai salah satu wilayah yang menerima Islam sangat awal. Berdasarkan kitab Hikayat Merong Mahawangsa dan catatan sejarah Kedah, Raja Kedah kesembilan, Phra Ong Mahawangsa, memeluk Islam pada tahun 1136 M setelah diislamkan oleh seorang ulama Arab bernama Syekh Abdullah al-Yamani.

Setelah masuk Islam, ia mengubah namanya menjadi Sultan Mudzaffar Shah dan menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan, menjadikannya salah satu kesultanan Islam tertua di semenanjung tersebut.

Kesultanan Malaka (Abad ke-15)

Meskipun Islam telah masuk ke beberapa wilayah utara dan timur semenanjung jauh sebelum abad ke-15, momentum terbesar bagi Islamisasi secara masif di Malaysia terjadi seiring berdirinya Kesultanan Malaka. Malaka tidak hanya bertindak sebagai pusat politik dan ekonomi, tetapi juga sebagai episentrum dakwah Islam yang menerangi seluruh wilayah Nusantara.

[Kerajaan Samudera Pasai (Aceh)] —(Pernikahan Politik)—> [Kesultanan Malaka (1414 M)] | | (Pusat Awal Dakwah) (Pusat Polarisasi Islam)

Konversi Parameswara ke Islam

Pendiri Malaka, Parameswara, adalah seorang pangeran pelarian dari Sriwijaya (atau Tumasek/Singapura) yang masih beragama Hindu-Buddha. Melihat posisi strategis Malaka di Selat Malaka, pelabuhannya dengan cepat ramai dikunjungi para pedagang Muslim dari Arab, Persia, India, dan Samudera Pasai.

Menurut Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin), proses pengislaman penguasa Malaka terjadi secara formal ketika Parameswara memeluk Islam pada tahun 1414 M setelah menikah dengan putri dari Kesultanan Samudera Pasai (Aceh). Ia kemudian memakai gelar Sultan Megat Iskandar Shah.

Langkah politik dan spiritual ini segera diikuti oleh para pembesar istana, kaum bangsawan, dan seluruh rakyat Malaka. Penguasa-penguasa berikutnya, terutama Sultan Mansur Shah (1459–1477 M) dan Sultan Muzaffar Shah, semakin memperkokoh posisi Islam. Sultan Muzaffar Shah menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan dan menyusun Hukum Kanun Melaka serta Undang-Undang Laut Melaka yang menyerap prinsip-prinsip syariat Islam.

Malaka sebagai Pusat Dakwah Internasional

Di bawah perlindungan para sultan, istana Malaka menjelma menjadi pusat kajian keagamaan tempat berkumpulnya para ulama, sufi, dan teolog dari berbagai penjuru dunia. Kitab-kitab keagamaan diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Melayu, dan diskusi-diskusi teologis tingkat tinggi sering diselenggarakan di bawah naungan kerajaan.

Sebagai bandar transito internasional, para pedagang yang singgah di Malaka tidak hanya bertukar komoditas ekonomi, melainkan juga menyerap ajaran Islam. Dari Malaka, gelombang Islamisasi menyebar luas ke kerajaan-kerajaan tetangga di Semenanjung Malaya seperti Johor, Pahang, Perak, Selangor, hingga menyeberang ke pesisir utara Jawa, Brunei, kepulauan Filipina Selatan (Sulu dan Mindanao), serta Maluku.

Metode dan Pola Penyebaran Islam

Keberhasilan Islamisasi di Malaysia tanpa menimbulkan gejolak sosial atau peperangan yang berarti disebabkan oleh metode penyebaran yang sangat akomodatif dan persuasif. Pola penyebaran ini dapat dikategorikan menjadi beberapa jalur, yaitu:

1. Jalur Perdagangan (Ekonomi)

Pedagang Muslim memegang peranan penting sebagai duta agama informal. Kebersihan diri, kejujuran dalam menimbang barang, serta keramahan yang ditunjukkan para pedagang Arab dan India menarik simpati masyarakat Melayu setempat yang saat itu masih terkungkung dalam sistem kasta Hindu yang kaku. Hubungan ekonomi ini menciptakan rasa saling percaya yang menjadi jembatan menuju dialog keagamaan.

2. Jalur Perkawinan (Sosial)

Banyak pedagang kaya dan ulama dari Timur Tengah maupun India memilih untuk menetap lama di kota-kota pelabuhan Semenanjung Malaya. Karena kedudukan sosial mereka yang tinggi dan terpandang, mereka berhasil menikahi putri-putri bangsawan atau kerabat diraja lokal. Sebelum perkawinan dilangsungkan, pihak wanita diwajibkan memeluk Islam terlebih dahulu, yang secara otomatis melahirkan keluarga-keluarga Muslim baru di kalangan elite penguasa.

3. Pendekatan Budaya dan Tasawuf

Ajaran tasawuf (mistisisme Islam) yang dibawa oleh para sufi memainkan peran krusial dalam menyelaraskan transisi kepercayaan dari Hindu-Buddha ke Islam. Karakter tasawuf yang menekankan aspek batiniah, fleksibilitas ritual, dan kedamaian memiliki kemiripan dengan latar belakang spiritual masyarakat Melayu kuno yang cenderung mistis. Para sufi tidak menghancurkan kebudayaan lokal secara frontal, melainkan melakukan “Islamisasi budaya” dengan menyuntikkan nilai-nilai tauhid ke dalam tradisi, sastra, dan adat istiadat Melayu.

4. Pola Atas-Bawah (Top-Down)

Dalam struktur masyarakat Melayu, posisi Sultan atau Raja menempati kedudukan yang sakral sebagai pemimpin tertinggi sekaligus panutan mutlak rakyat. Ketika seorang Sultan memutuskan untuk memeluk Islam, seluruh struktur birokrasi kerajaan, para panglima, dan rakyat jelata akan mengikuti langkah sang penguasa dengan kesadaran penuh. Pola top-down ini mempercepat proses institusionalisasi Islam dalam tata hukum dan kenegaraan.

Transformasi Sosial, Budaya, dan Politik pada Peradaban Melayu

Masuknya Islam membawa dampak yang sangat revolusioner bagi tatanan kehidupan masyarakat di Semenanjung Malaya:

Bidang Kebudayaan Kondisi Pra-Islam Kondisi Pasca-Islam
Sistem Politik Konsep Dewaraja (Raja sebagai titisan dewa) Konsep Sultan (Raja sebagai bayang-bayang Allah di bumi/Zilullah fil-Ard)
Aksara & Sastra Menggunakan aksara Pallawa/Kawi, sastra epik Hindu Menggunakan Aksara Jawi (Arab-Melayu), sastra berorientasi sejarah dan teologi Islam
Struktur Sosial Sistem kasta yang membedakan martabat manusia Kesetaraan kemanusiaan (Ukhuwah), hilangnya kasta di hadapan hukum

Bahasa dan Aksara Jawi

Pengaruh paling nyata dari Islamisasi adalah lahirnya aksara Jawi—yakni modifikasi huruf-huruf Arab untuk disesuaikan dengan fonetik bahasa Melayu. Aksara Jawi menjadi media penulisan resmi di istana, kitab-kitab keagamaan, korespondensi diplomatik, hingga Undang-undang kerajaan.

Bahasa Melayu sendiri mengalami pengayaan kosakata dengan menyerap ribuan istilah dari bahasa Arab seperti adil, makmur, daulat, hakim, hukum, shalat, dan syukur. Berkat Islam, bahasa Melayu diangkat statusnya menjadi lingua franca (bahasa pengantar) di seluruh Asia Tenggara.

Hukum dan Pemerintahan

Hukum adat lokal mengalami filterisasi dan sinkretisasi dengan syariat Islam. Lahirnya dokumen hukum tertulis seperti Hukum Kanun Melaka dan Undang-Undang Laut Melaka membuktikan bahwa nilai-nilai keadilan Islam telah menjadi pilar utama sistem hukum kenegaraan. Jabatan-jabatan keagamaan seperti Kadi, Mufti, dan Imam didirikan untuk mengatur urusan peradilan, pernikahan, dan moralitas publik.

Masa Kolonialisme dan Resistensi Islam

Kejayaan Islam di Semenanjung Malaya menghadapi tantangan berat ketika bangsa Eropa mulai berdatangan demi menguasai jalur perdagangan rempah-rempah yang strategis.

Kejatuhan Malaka ke Tangan Portugis (1511 M)

Pada tahun 1511, pasukan Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque berhasil menaklukkan Malaka. Jatuhnya Malaka memicu runtuhnya dinasti politik utama di sana, namun tidak menghentikan laju perkembangan Islam. Para pembesar Malaka yang selamat melarikan diri ke selatan dan mendirikan Kesultanan Johor-Riau, yang melanjutkan estafet peradaban Islam Melayu. Sementara itu, pusat-pusat Islam baru juga bermunculan di wilayah utara seperti Perak dan Pahang.

Era Kolonialisme Inggris dan Sistem Residen

Setelah Portugis dan Belanda, Inggris mulai menancapkan kuku kekuasaannya di Semenanjung Malaya pada abad ke-18 dan ke-19 melalui Treaty of Pangkor (1874). Inggris memperkenalkan Sistem Residen, di mana para pejabat Inggris mengontrol seluruh urusan administrasi negara dan eksploitasi ekonomi ekonomi.

Meskipun kekuasaan politik para Sultan dipangkas secara drastis, Inggris tidak berani mengusik urusan agama Islam dan adat istiadat Melayu. Berdasarkan perjanjian kolonial, posisi Sultan tetap diakui sebagai Kepala Agama Islam di negerinya masing-masing. Pembatasan ruang gerak politik ini justru mendorong umat Islam untuk memusatkan perhatian pada pemurnian agama, pendidikan pesantren (pondok), dan penerbitan majalah keagamaan yang kelak memicu lahirnya kesadaran nasionalisme antikolonial pada awal abad ke-20.

Jadi, Sejarah masuknya Islam di Malaysia adalah potret dari proses akulturasi dan transformasi kebudayaan yang berlangsung secara damai, cerdas, dan mendalam. Berawal dari kontak niaga para saudagar Muslim internasional di pesisir semenanjung, Islam menjelma menjadi kekuatan spiritual dan politik yang membentuk identitas sejati masyarakat Melayu.

Melalui institusi Kesultanan Malaka, Islam tidak hanya merombak keyakinan keagamaan tetapi juga memperbarui sistem bahasa, hukum, politik, dan struktur sosial masyarakat. Nilai-nilai Islam inilah yang kemudian tetap kokoh bertahan melintasi badai kolonialisme Barat hingga akhirnya menjadi pilar konstitusional utama yang menetapkan Islam sebagai agama federal bagi negara Malaysia modern saat ini.

Bahan Bacaan:

Azyumardi Azra, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 34-36.

Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Kuala Lumpur: Universiti Kebangsaan Malaysia, 1972), hlm. 21-25.

J.P. Moquette, De Datum op de Grafsteen van Sultan Malik As-Saleh, (Batavia: TBG, 1912), hlm. 512.

S.Q. Fatimi, Islam Comes to Malaysia, (Singapore: Malaysian Sociological Research Institute, 1963), hlm. 45-50.

Wan Hussein Azmi, “Islam di Malaysia: Kedatangan dan Perkembangan (Abad 7-20 M)”, dalam Jurnal Persatuan Sejarah Malaysia, Vol. 4, 1980, hlm. 12-18.

Hikayat Merong Mahawangsa, disunting oleh Siti Hawa Haji Salleh, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1998), hlm. 98-102.

Ahmad Jelani Halimi, Sejarah dan Tamadun Bangsa Melayu, (Kuala Lumpur: Utusan Publications, 2008), hlm. 143.

Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu), disunting oleh A. Samad Ahmad, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1986), hlm. 72-75.

Abdul Rahman Haji Abdullah, Pemikiran Islam di Malaysia: Sejarah dan Aliran, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm. 55-60.

Barbara Watson Andaya dan Leonard Y. Andaya, A History of Malaysia, (London: Palgrave Macmillan, 2001), hlm. 115-120.

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

- Advertisement -

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

immimpangkep.ponpes.id

spot_img

Get in Touch

78,000FansSuka
5,000PengikutMengikuti
10,000PelangganBerlangganan

Latest Posts