Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGSANTRI.COM – Sebagaimana kita ketahui bahwa Ilmu Dirayah dalam Studi Hadits tidak hanya menjadi alat penilaian kualitas hadits, tetapi juga menjadi fondasi metodologis bagi penelitian hadits di era modern. Bagaimana Perkembangan Ilmu Dirayah menunjukkan dinamika keilmuan Islam yang rasional, kritis, dan terus relevan sepanjang masa, mari kita perhatikana ruang lingkup dan metode kritik Ilmu Dirayah ini.
Ruang lingkup Ilmu Dirayah mencakup teori-teori dasar yang digunakan untuk menilai kualitas hadis. Secara umum, ruang lingkupnya salah satunya meliputi: Kaidah Penerimaan dan Penolakan Hadits. Ulama menetapkan sejumlah syarat agar suatu hadis dapat diterima (maqbūl) atau ditolak (mardūd). Menurut para ahli hadis, hadis dapat diterima apabila: Sanad-nya bersambung (ittiṣāl al-sanad), Perawinya memiliki integritas (‘adl) dan ketelitian (ḍabṭ), Tidak terdapat kejanggalan (syudzūdz), dan Tidak terdapat cacat tersembunyi (‘illah). Hadits yang memenuhi syarat-syarat ini disebut ṣaḥīḥ atau ḥasan. Sebaliknya, hadis yang tidak memenuhi disebut ḍa‘īf atau bahkan maudhu‘ (palsu).
Ruang lingkup berikutnya mencakup Klasifikasi Hadis Berdasarkan Kualitas. Ilmu Dirayah mengklasifikasikan hadis menjadi: Ṣaḥīḥ (autentik): memenuhi semua syarat penerimaan, Ḥasan (baik): sedikit di bawah sahih, namun masih dapat diamalkan, Ḍha‘īf (lemah): kehilangan salah satu syarat keautentikan, dan Maudhu‘ (palsu): hadis yang dibuat-buat dan tidak bersumber dari Nabi.
Bagaimana dengan Kritik Sanad dan Kritik Matan? Kritik Sanad dilakukan dengan cara: Menganalisis biografi perawi (‘ilm al-rijāl), Menilai hubungan antar perawi, dan Menelusuri rantai periwayatan dalam berbagai kitab hadits, sementara Kritik matan menilai isi hadis dari segi makna, konteks, dan kesesuaiannya dengan sumber Islam lainnya. Aspek yang diperhatikan antara lain: Kesesuaian dengan al-Qur’an, Tidak bertentangan dengan hadis sahih lain, Sesuai dengan akal dan prinsip keadilan Islam, serta Relevan dengan konteks sosial-historis Nabi.
Selain menilai kualitas hadits, Ilmu Dirayah juga membahas metode memahami hadis, seperti: Memahami hadis dalam konteks asbāb al-wurūd (sebab munculnya hadis), Menggabungkan hadis yang tampak kontradiktif (ta‘līf bayn al-ahādīth), Membedakan antara hukum umum dan khusus (‘āmm–khāṣṣ), serta Menentukan makna hakiki dan majazi.
Metode Kritik dalam Ilmu Dirayah
Kritik dalam Ilmu Dirayah terbagi menjadi dua pendekatan utama: kritik sanad dan kritik matan. Kritik sanad bertujuan memastikan bahwa setiap perawi dalam rantai sanad memenuhi syarat kejujuran dan ketelitian.
Para ulama mengembangkan dua cabang ilmu penting terkait kritik sanad ini, yaitu ‘Ilm al-Rijāl (Ilmu Biografi Perawi). Ilmu ini membahas biografi para perawi hadis, meliputi: Nama, guru, dan murid perawi, Tempat dan masa hidup, Kualitas keilmuan dan moral. Kitab-kitab terkenal dalam bidang ini antara lain: Tahdhīb al-Kamāl karya al-Mizzi, Tahdhīb al-Tahdhīb karya Ibn Hajar al-‘Asqalānī, dan Mīzān al-I‘tidāl karya al-Dzahabī.
Kedua, ilmu yang disebut ‘Ilm al-Jarḥ wa al-Ta‘dīl. Ilmu ini menilai para perawi dengan kategori: Jarḥ (celaan): perawi yang tidak layak diriwayatkan hadisnya, dan Ta‘dīl (pujian): perawi yang terpercaya dan diterima riwayatnya.
Sementara itu, Kritik matan dilakukan untuk memastikan isi hadis tidak menyimpang dari prinsip Islam. Menurut M. Syuhudi Ismail (1992), ada beberapa langkah kritik matan: (1) Meneliti kesesuaian dengan al-Qur’an. (2) Membandingkan dengan hadis sahih lain. (3) Menilai kesesuaian dengan akal sehat. (4) Melihat konteks historis dan bahasa, serta (5) Memastikan tidak ada penyimpangan redaksi. Kritik matan tidak berarti menolak hadis secara subjektif, melainkan melakukan verifikasi ilmiah terhadap makna hadits.
Demikianlah sedikit catatan tentang Ruang Lingkup dan Metode Kritik Ilmu Dirayah dalam Studi Hadits. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

