Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGSANTRI.COM – Sudah pernah mempelajari Hukum Bacaan Mad, dalam hal ini Mad Thabi’i (مَدّ طَبِيْعِي). Apa itu Mad Tabi’i? Mad Tabi’i, yang juga sering disebut Mad Asli, adalah jenis mad (bacaan panjang) yang paling dasar dalam ilmu tajwid.
Disebut “Tabi’i” (alami) karena secara alami huruf tersebut memang harus dibaca panjang tanpa memerlukan sebab khusus. Disebut “Asli” (dasar) karena ia menjadi dasar bagi semua jenis mad lainnya.
Syarat-Syarat Terjadinya Mad Thabi’i
Sebuah bacaan dihukumi Mad Thabi’i apabila memenuhi salah satu dari tiga syarat berikut:
- Huruf Alif (ا) yang didahului oleh huruf berharakat Fathah (ـَ).
- Huruf Ya Sukun (يْ) yang didahului oleh huruf berharakat Kasrah (ـِ).
- Huruf Waw Sukun (وْ) yang didahului oleh huruf berharakat Dhammah (ـُ).
Jika salah satu dari tiga kondisi ini terpenuhi, dan setelahnya tidak ada huruf hamzah (ء) atau huruf sukun/tasydid, maka ia wajib dibaca sebagai Mad Thabi’i.
Panjang Bacaan
Panjang bacaan untuk Mad Thabi’i adalah dua harakat (dua ketukan), atau sering diistilahkan sepanjang satu alif. Panjangnya harus pas, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.
Untuk mempermudah pemahaman, perhatikan contoh berikut ini sebagai ilustrasi ketiga syarat di atas:
- Contoh Alif setelah Fathah:
- قَالَ (
qāla) → Huruf قَ (fathah) diikuti oleh ا (alif). - كِتَابٌ (
kitābun) → Huruf تَ (fathah) diikuti oleh ا (alif). - مَالِكِ (
māliki) → Huruf مَ (fathah) diikuti oleh ا (alif).
- قَالَ (
- Contoh Ya Sukun setelah Kasrah:
- قِيْلَ (
qīla) → Huruf قِ (kasrah) diikuti oleh يْ (ya sukun). - الرَّحِيْمِ (
ar-raḥīmi) → Huruf حِ (kasrah) diikuti oleh يْ (ya sukun). - الدِّيْنِ (
ad-dīni) → Huruf دِ (kasrah) diikuti oleh يْ (ya sukun).
- قِيْلَ (
- Contoh Waw Sukun setelah Dhammah:
- يَقُوْلُ (
yaqūlu) → Huruf قُ (dhammah) diikuti oleh وْ (waw sukun). - تُوْبُوْا (
tūbū) → Huruf تُ (dhammah) diikuti oleh وْ (waw sukun). - يُؤْمِنُوْنَ (
yu'minūna) → Huruf نُ (dhammah) diikuti oleh وْ (waw sukun).
- يَقُوْلُ (
Pentingnya Mad Thabi’i
Menguasai Mad Thabi’i adalah fondasi utama dalam membaca Al-Qur’an dengan tartil. Kesalahan dalam membacanya—baik memanjangkan yang seharusnya pendek atau memendekkan yang seharusnya panjang—termasuk dalam kategori kesalahan fatal (Lahn Jali) karena dapat mengubah makna kata.
Sebagai contoh, kata قَتَلَ (qatala) berarti “dia telah membunuh”. Jika dibaca dengan Mad Thabi’i menjadi قَاتَلَ (qātala), maknanya berubah menjadi “dia telah memerangi”.
Ringkasan Kunci
Jadi, setiap kali Anda menemukan salah satu dari tiga kombinasi di atas saat membaca Al-Qur’an, pastikan untuk memanjangkannya sebanyak dua ketukan agar bacaan Anda benar dan terjaga maknanya.
Demikian penjelasan singkat tentang Mad Tabi’i, semoga dapat dipahami. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Mapel Al-Qur’an-Hadits/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Beberapa Tulisan/Artikel Ilmu Tajwid:
- Tips Mudah dan Efektif Menghafal al-Qur’an
- Hukum Bacaan Qolqolah (Lihat pula: DISINI)
- Sifat dan Tingkatan Qalqolah dalam Ilmu Tajwid
- Hukum Bacaan Mad
- Hukum Bacaan Nun Mati
- Hukum Bacaan Mim Mati
- Memahami Tajwid: Pengertian Makhroj dan Diagram Makhraj Huruf (Part 01)
- Memahami Tajwid: Cara Menemukan Makhraj suatu Huruf (Part 02)
- Memahami Tajwid: Jumlah Makhraj (Part 03)
- Memahami Tajwid: Makhraj Jaufi (Part 04)
- Memahami Tajwid: Makhraj Halqi (Part 05)
- Memahami Tajwid: Makhraj Lisan/Lidah (Part 06)
- Memahami Tajwid: Makhroj Syafatain (Part 07)
- Memahami Tajwid: Makhroj Khoisyum (Part 08)

