Mengenal Muhammad Farid Wajdi: Kerja Sunyi di Jalan Ilmu

BLOGSANTRI.COM – Di tengah zaman yang gemar sorotan, Muhammad Farid Wajdi yang enggan dipanggil “Ustadz” ini justru memilih jalan yang berlawanan: bekerja dalam senyap. Ia bukan tipe yang memburu popularitas atau menunggu panggung besar untuk berkarya. Baginya, nilai sebuah pekerjaan tidak diukur dari seberapa sering ia disebut, melainkan dari seberapa lama manfaatnya bertahan. Dari sikap inilah lahir sosok guru, budayawan, sastrawan daerah, blogger, penulis, sekaligus pengejar ilmu ulama bersanad yang konsisten menapaki jalan ilmu dengan kesadaran penuh bahwa konsistensi lebih penting daripada sorotan.

Sebagai seorang guru di Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, Muhammad Farid Wajdi memaknai pendidikan bukan sekadar rutinitas mengajar, melainkan proses pembentukan manusia. Ia hadir di ruang-ruang belajar dengan kesadaran bahwa ilmu tidak hanya ditransfer, tetapi diteladankan. Ketekunan membaca, kesungguhan menulis, dan kerendahan hati dalam belajar menjadi pelajaran yang sering kali lebih kuat daripada kata-kata. Ia menunjukkan bahwa guru sejati adalah mereka yang tetap belajar, bahkan ketika telah dipercaya mengajar.

Ust. Muhammad Farid Wajdi disalami Wabup Pangkep H Syahban Sammana, SH. (foto: ist/*)
Ust. Muhammad Farid Wajdi disalami Wabup Pangkep H Syahban Sammana, SH. (foto: ist/*)

Di ranah kebudayaan, ia dikenal sebagai budayawan yang setia pada akar lokal. Setelah diamanahi sebagai Ketua 1 Dewan Kesenian dan Pemajuan Kebudayaan Pangkep, ia semakin tekun membaca, menafsir, dan menuliskan kembali denyut sejarah dan budaya daerahnya dengan penuh tanggung jawab. Baginya, budaya bukan hiasan seremoni, melainkan identitas hidup yang harus dirawat dengan kesungguhan intelektual. Melalui tulisan-tulisannya dan karya naskah sendratarinya, ia menjembatani masa lalu dan masa kini, menghadirkan kembali kisah-kisah yang nyaris tenggelam agar tetap hidup dalam kesadaran generasi berikutnya.

Sebagai sastrawan daerah, Muhammad Farid Wajdi tidak mengejar pengakuan sastra arus utama. Ia menulis karena dorongan nurani, bukan karena tuntutan pasar. Kata-kata baginya adalah jalan pengabdian: untuk merekam realitas, merawat ingatan, dan menyampaikan nilai. Kesetiaannya pada bahasa dan konteks lokal menjadi bukti bahwa sastra daerah bukan sastra pinggiran, melainkan fondasi penting dalam kekayaan literasi bangsa.

KH Drs Hasbuddin Halik, Lc., MH. (foto: ist/*)
Ketua Umum MUI Pangkep, KH Drs Hasbuddin Halik, Lc., MH. (foto: ist/*)

Aktivitasnya sebagai blogger dan penulis harian memperlihatkan satu hal yang jarang dimiliki banyak orang: disiplin. Menulis setiap hari bukan pekerjaan ringan, terlebih jika dilakukan tanpa jaminan sorotan luas. Namun justru di situlah letak kekuatannya yang kemudian dititipi pesan dan amanah dari Drs KH Hasbuddin Halik, Lc, MH, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pangkep untuk terus gencar “Dakwah bil Qalam”.

Tak banyak yang memilih jalan dakwah lewat tulisan di media online. Muhammad Farid Wajdi membangun kebiasaan menulis, dakwah bil qalam itu sebagai bentuk latihan intelektual dan spiritual. Tulisan-tulisannya hadir di Majelis Ilmu, Media Palontaraq, Ettapedia, Website Pesantren IMMIM dengan Blog Gurunya serta Media Blog Santri sebagai arsip pemikiran, catatan zaman, dan media berbagi pengetahuan yang terus bertambah, setetes demi setetes, hingga menjadi aliran yang panjang.

Yang menarik, Muhammad Farid Wajdi tidak bergantung sepenuhnya pada institusi besar atau media arus utama. Ia membangun media pengetahuan secara mandiri—ruang belajar yang tumbuh dari inisiatif pribadi, dikelola dengan kesabaran, dan diperkaya oleh konsistensi. Inilah bentuk nyata dari kerja sunyi: tidak gegap gempita, tetapi berdaya tahan. Media semacam ini mungkin tidak viral, tetapi ia hidup, terus diakses, dibaca, dan dirujuk dalam jangka panjang.

Ketua MUI Sulsel, Prof Dr KH Najamuddin Abd Safa Lc MA mengukuhan Pengurus MUI Kab. Pangkep, 17 Desember 2024. (foto: ist/*)
Ketua MUI Sulsel, Prof Dr KH Najamuddin Abd Safa Lc MA mengukuhan Pengurus MUI Kab. Pangkep, 17 Desember 2024. (foto: ist/*)

Di sisi lain, perjalanan keilmuannya tidak berhenti pada ranah akademik atau kebudayaan. Ia menempatkan dirinya sebagai pengejar ilmu ulama bersanad, dengan kesadaran bahwa ilmu dalam Islam bukan sekadar informasi, tetapi amanah yang memiliki mata rantai. Belajar kepada guru, menghormati sanad, dan menjaga adab menjadi bagian penting dari identitas intelektualnya. Jalan ini ditempuh dengan kesabaran dan kerendahan hati, jauh dari sikap merasa cukup atau selesai.

Dari keseluruhan perjalanan itu, tersirat satu pesan kuat: kerja sunyi yang ikhlas sering kali berdampak paling panjang. Apa yang dikerjakan hari ini mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi kelak ia akan menjadi rujukan, inspirasi, dan pijakan. Konsistensi melahirkan akumulasi, dan akumulasi melahirkan kebermaknaan. Muhammad Farid Wajdi memahami bahwa sejarah tidak dibangun oleh mereka yang paling sering terlihat, melainkan oleh mereka yang paling setia bekerja.

Pengukuhan Pengurus MUI Pangkep. (foto: ist/*)
Pengukuhan Pengurus MUI Pangkep Periode 2024-2029. (foto: ist/*)

Itulah sebabnya, Blogsantri tertarik meliriknya dan menuliskan tentang dirinya, bukan sekadar profil personal, melainkan potret sebuah sikap hidup. Di tengah budaya instan dan pencitraan, sosok seperti Muhammad Farid Wajdi mengingatkan bahwa ilmu, budaya, dan tulisan membutuhkan waktu. Ia mengajarkan bahwa menjadi berguna tidak harus selalu terlihat, dan bahwa jalan ilmu adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan.

Pada akhirnya, Muhammad Farid Wajdi berdiri sebagai contoh bahwa kerja sunyi bukanlah kerja sia-sia. Ia adalah kerja yang berakar, bertumbuh perlahan, dan kelak menaungi banyak orang. Dalam diamnya, ia berbicara. Dalam kesederhanaannya, ia menggerakkan. Dan dalam konsistensinya, ia meninggalkan jejak yang panjang. Selamat buat Ustadz Muhammad Farid Wajdi yang hari ini dilantik sebagai pengurus MUI Kabupaten Pangkep, (17/12/2024) sebagai Ketua III yang menaungi Komisi Hukum dan HAM serta Komisi Informasi.  (*)

Bungoro-Pangkep, 17 Desember 2024.

- Advertisement -

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

immimpangkep.ponpes.id

spot_img

Get in Touch

78,000FansSuka
5,000PengikutMengikuti
10,000PelangganBerlangganan

Latest Posts