Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGSANTRI.COM – Siapa yang tak kenal dengan khalifah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz bin Marwan bin Hakam al-Qurasyi al-Umawi al-Madani? Beliau adalah khalifah yang tersohor dengan keshalihan dan keadilannya, Amirul mu’minin, imam tabi’in yang mulia, penghafal hadits yang utama dan terpercaya.
‘Umar bin ‘Abdil ‘Azis lahir pada tahun 64 H dan wafat pada tahun 101 H. Ibunya adalah cucu sahabat yang mulia Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, namanya Hafshah bintu ‘Ashim bin Umar bin Khattab[1].
Beliau diserupakan dalam keadilan dan kelurusan akhlak dengan kakek beliau Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, dalam sifat zuhud dengan Hasan al-Bashri, dan dalam ketinggian ilmu dengan imam az-Zuhri[2].
Imam asy-Syafi’i memuji beliau dengan mengatakan, “al-Khulafa’ ar-Rasyidun (khalifah-khalifah yang mendapat petunjuk dan bimbingan Allah Ta’ala) ada lima orang: Abu Bakar ash-Shiddieq, ‘Umar bin Khattab, ‘Utsman bin Affan, ‘Ali bin Abi Thalib dan ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz” [3].
Para ulama Ahlus sunnah telah bersepakat untuk menobatkan beliau sebagai mujaddid (pembaharu) pertama dalam Islam [4].
Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesunguhnya Allah akan menghadirkan bagi umat manusia, pada setiap akhir seratus tahun orang yang akan mengajarkan kepada mereka sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang banyak telah ditinggalkan manusia) dan menghilangkan/memberantas kedustaan dari (hadits-hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami melihat (meneliti sejarah), maka (kami dapati pembaharu) pada akhir seratus tahun pertama (hijriyah) adalah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, dan (pembaharu) pada akhir seratus tahun kedua adalah imam asy-Syafi’i [5].
Demikian sedikit catatan tentang Amirul Mukminin, sang khalifah yang adil, tegas dan bijaksana. Dibawah kepemimpinannya, Umat Islam merasakan keamanan, kenyamanan dan kesejahteraan, begitu pula ghirah keislaman begitu kuat dan berdampak baik bagi kemajuan Islam serta pengembangan ilmu pengetahuan.
Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
Referensi:
[1] Lihat kitab “Tahdziibul kamaal” (21/432) dan “Tadzkirotul huffazh (1/118).
[2] Lihat kitab “Tadzkiratul huffazh” (1/119).
[3] Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Tadzkiratul huffazh” (1/119).
[4] Lihat kitab “’Aunul Ma’buud” (11/260).
[5] Dinukil oleh imam adz-Dzahabi dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (10/46).
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, Sulsel.

