Soal:
Bagaimana Hukumnya Membaca Al-Qur’an bagi Wanita Haidh? Apakah boleh seorang wanita membaca Al-Qur’an dengan hafalan dalam keadaan haidh?
Apabila tidak boleh, apakah dia berdosa apabila mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak, khususnya apabila anak-anak tersebut tengah berada di sekolah ketika wanita tadi sedang haidh?
Jawab:
Tidak boleh wanita haidh membaca Al-Qur’an, baik dari mushaf maupun dari hafalan, karena dia sedang berhadats besar. Sedangkan orang yang memiliki hadats besar – seperti wanita haidh dan orang junub – tidak boleh membaca Al-Qur’an, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang dari membaca Al-Qur’an apabila seorang sedang junub.
Haidh adalah hadats besar seperti janabah yang menghalangi dari membaca Al-Qur’an.
Akan tetapi, dalam keadaan khawatir lupa, apabila wanita haidh tersebut memiliki hafalan beberapa surat dari Al-Qur’an atau dia hafal Al-Qur’an seluruhnya dan dia khawatir apabila meninggalkan bacaan Al-Qur’an maka dia akan lupa. Hal ini karena masa haidhnya panjang, sehingga hafalan Al-Qur’annya akan lupa, maka tidak mengapa dia membaca Al-Qur’an dalam keadaan seperti ini. Hal ini termasuk keadaan darurat, dikarenakan apabila dia meninggalkan bacaan Al-Qur’an, maka dia akan lupa.
Demikian pula pelajar wanita/santriwati, apabila waktu ujian pelajaran Al-Qur’an tiba, dalam keadaan dia sedang haidh dan masa haidhnya lama. Kemudian dia tidak mungkin mengerjakan ujian setelah selesai masa haidh, maka tidak mengapa dia membaca Al-Qur’an untuk ujian.
Dikarenakan jika dia meninggalkan hal tersebut, maka waktu ujiannya akan terlewat dan dia akan gagal dalam pelajaran Al-Qur’an, dan hal ini akan memadharatkannya.
Oleh karena itu, dalam keadaan ini juga bagi pelajar perempuan tadi boleh membaca Al-Qur’an untuk mengikuti ujian Al-Qur’an dari hafalannya atau dari mushaf. Akan tetapi dengan syarat dia tidak menyentuhnya secara langsung kecuali dari belakang penghalang.
Adapun bagi wanita haidh yang ingin membaca Al-Qur’an untuk mengajar, maka tidak diperbolehkan. Dikarenakan hal ini bukan termasuk perkara darurat.
Wallahu a’lam bish-shawab.

