Related Post: Hadits tentang Menuntut Ilmu dan Menghargai Waktu
BLOGSANTRI – Mengeraskan suara dalam membaca bagian pelajaran yang ingin dihafal itu sangat perlu dilakukan. Bahkan dalam banyak variasi cara menghafal, pelajar atau santri seringkali menadhomkan dengan suara keras disertai gerakan tangan dan gendang (kinestetik) ketika menghafalkan kaidah-kaidah Bahasa Arab (Ilmu Nahwu-Shorof).
Sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Shalih Al-Ushoimy hafizhahullahu ta’ala dalam suatu majelis bahwa mengeraskan suara saat menghafal perlu dilakukan dan itu tradisi keilmuan dalam Islam.
Dalam suatu riwayat, diceritakan bahwa berkata Zubair bin Bakkar, ”Ayahku menemuiku saat aku membaca sebuah salinan dan aku tidak menampakkan suaraku, aku hanya membaca pelan, aku sendiri yang mendengarnya”, maka berucaplah ayahku kepadaku: ”Sesungguhnya pandangan matamu itu takkan mampu membawa apa yang kamu baca secara pelan itu kedalam hatimu, maka jika engkau ingin membaca pandanglah dan keraskanlah suaramu, sebab yang demikian menyebabkan matamu mampu membawa apa yang kamu baca itu kedalam hati, ditambah lagi pendengaranmu yang juga ikut serta membawanya ke hatimu”. [al-Jami’ li Akhlaqir Rawi 2/402]
Selain dengan suara keras, cara untuk mengokohkan hafalan adalah dengan banyak mengulang (muraja’ah). Disampaikan oleh Syaikh Shalih Al-Ushoimy hafizhahullahu ta’ala bahwa dalam hal ini Ibnul Jauzy berkata, ”Jalan untuk mengokohkan hafalan adalah dengan banyak mengulang-ulangnya, dan manusia dalam hal ini mempunyai keadaan yang beragam,berbeda-beda satu sama lain. Di antara mereka ada yang hanya dengan sedikit mengulang hafalannya telah kokoh, sebaliknya ada orang yang perlu berulang-ulang dalam mengulang hafalannya baru bisa hafalannya menjadi kokoh.”
Adalah Abu Ishaq asy-Syirazii beliau mengulang pelajarannya hingga seratus kali. Ilkiya al-Hiraasy mengulang pelajarannya tujuh puluh kali. Dan telah berucap kepada kami al-Husain bin Abu Bakar an-Naisabury, seorang yang faqih: ”Tidak akan berhasil suatu hafalan kecuali diulangi hingga lima puluh kali.”
Lihat pula: Keistimewaan Penghafal Al-Qur’an

Jadi, kunci untuk mengokohkan hafalan suatu ilmu adalah dengan sering mengulangnya (menghafalnya secara berulang-ulang) dan dilafalkan dengan suara keras. Hal ini berarti bahwa dalam proses mengukuhkan ilmu dalam memori otak diperlukan semua panca-indera bekerja dengan baik.
Panca-indera yang dimaksud disini adalah mata untuk melihat kitab/buku pelajaran, telinga untuk mendengarkan sendiri apa yang dihafal, dan mulut untuk selalu mengulang-ulang apa yang dihafal, selain juga untuk memperlancar pelafalannya. Selain itu, sangat baik juga jika dalam menghafal disertai gerakan tangan (kinestetik), yang mana hal ini sudah umum dilakukan untuk penghafalan Al-Qur’an, Hadits, maupun kaidah-kaidah ilmu serta bahasa.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

