Cerita dari Delonix026 (Part 1)

Lihat pula: Activities and Contributions during the Corona Virus Pandemic

Fatimah Azzahra

BLOGSANTRI – Perkenalkan, Fatimah Azzahra. Saya santri baru Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep. Waktu awal masuk pesantren, saya mencari-cari teman yang namanya Mutia Amalia. Sebelumnya hanya mengenalnya lewat aplikasi Whatsapp dimana kami dibuatkan grup khusus santriwati baru.

Karena sudah akrab di media sosial, saya berharap satu asrama dengan Mutia. Saat di asrama, saya kaget karena kami satu asrama, dan syukurnya lagi teryata satu ranjang dengan Mutiah.

Saya juga bertemu dengan Delfi dan Azizah. Sebelum masuk asrama, kami sempat saling menyapa dan bahkan Tik-tokan bareng. Waktu itu kami belum tahu harus melakukan apa-apa, sementara orangtua masih ada dan masih bisa pegang hapenya.

Saat orangtua sudah pulang tak ada lagi santri yang diperbolehkan memegang hape. Malamnya di asrama saya menangis. Keesokan harinya kita semua pergi ke sekolah dan saya bersemangat sekali ke Kelas karena bisa sedikit melupakan kesedihan.

Selama sepekan pertama berada di Pesantren, wajah orangtua masih samar terlihat dan terkenang. Kadang usai pulang dari dapur, menangis lagi saat kembali ke asrama.

Sempat terpikir betapa beratnya jauh dari orangtua, sedih, tak ada tempat mencurahkan segala perasaan. Sempat pula terlintas di benak akan mengajukan pindah sekolah ke orangtua.

Beberapa hari kemudian, orangtua datang membesuk dan tak tahan untuk tak menangis. Saya menimbang banyak hal untuk pindah. Bukankah orangtua saya sudah mengeluarkan uang begitu banyak demi menyekolahkan di pesantren. Kalau saya pindah pasti keluarga akan kecewa.

Saya berusaha untuk betah di Pondok. Beberapa pekan berlalu saya mengikuti belajar tilawah dan saya mendengar suara Kak Sakup bagus sekali.

Dalam hati, saya ingin seperti Kak Sakup. Di sela-sela pelajaran, Kak Sakup membuka belajar khusus tilawah dan saya mengikutinya.

Alhamdulillah saya mulai mengerti satu persatu kondisi di Pesantren dan mulai beradaptasi. Saya mulai terbiasa tinggal di Pondok dan beberapa bulan kemudian periode saya sudah memiliki nama angkatan sendiri. Ya, Delonix026 adalah pilihan nama yang disepakati.

Kata Delonix berasal dari Bahasa Latin yang artinya Bunga Flamboyan. Ya, boleh dibilang Flamboyan telah tumbuh di masa pandemi Covid-19 di Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep.

Kini hari-hari yang kulalui di Pondok adalah suka cita bercampur sedih dan bahagia, semuanya menyatu dalam banyak kegiatan yang telah kami lalui.

Selama kurang lebih lebih bulan berada di Pondok, rasanya berbeda dari suasana sekolah yang pernah kualami sebelumnya.

Hal ini karena kami diharuskan mengikuti Protokol Kesehatan. Para Pembina, Guru dan Pengasuh mewajibkan kami mengikuti Protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak, setiap saat mencuci tangan pakai sabun, dan tidak terlalu berkerumun.

Alhamdulillah, setelah lewat 14 hari pertama di Pesantren, kita semakin terbiasa beradaptasi dengan kebiasaan baru. Ketika itu, mulailah dibuka kegiatan pengajian, nonton bareng tiap malam akhir pekan, senam bareng, dan lain sebagainya.

Semoga Tahun 2021, Corona segera hilang dan bisa bebas bergaul seperti sediakala. Aamin, Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Lihat pula: Santri Putri IMMIM Ikuti Program Pesantren Sehat

Nur Zalfa Naqiyah

BLOGSANTRI – Kenalkan, saya Nur Zalfa Naqiyah, akrab dipanggil Zalfa. Saat pertama kali masuk pesantren, terasa sedih dan sesekali ingin menangis karena jauh dari orangtua. Ini untuk pertama kalinya berpisah jauh dari orangtua.

Pekan pertama sedihnya bukan main. Mau-nya menangis terus. Tapi lama kelamaan mulai banyak kegiatan di Pesantren, baik pelajaran di kelas, pengajian, maupun tugas khusus yang sering diistilahkan jasus.

Tidak lama kemudian saya merasa senang dan tidak sedih lagi. Saya mulai senang berada di pesantren karena banyak hal bermanfaat yang dilakukan.

Meski jauh dari orangtua, tiap akhir pekan, kami difasilitasi menelepon orangtua di Hotspot Center. Dari situ, kerinduan bisa sedikit terobati.

Lihat pula: Ketua YASDIC IMMIM Pangkep: Pesantren adalah Laboratorium Perdamaian

Assami Azzahra

BLOGSANTRI – Kenalkan, nama saya Assami Azzahra, biasa dipanggil Sami. Bahagia sekali saat bertemu dengan teman baru di Pesantren yang sebelumnya hanya kenalan via Whatsapp. Saya senang bergaul dengan teman-teman yang berasal dari berbagai penjuru kota dan provinsi.

Keseruan berteman ini menambah pengetahuan kita tentang daerah asal teman. Perasaan jauh dari orangtua bisa terobati, meski kadang sedih pula jika mendengar kabar ada acara kumpul-kumpul di keluarga dan saya tidak dapat hadir.

Meski terpisah jarak dengan orangtua dan penggunaan hape pun dibatasi, tak jadi soal bagiku. Karena saya mempunyai teman pengganti keluarga saya dan setiap saat ada Ummi wali asrama tempat curhat.

Setiap hari kami di Pesantren diwajibkan memakai masker dan mengikuti Protokol Kesehatan.

Bagiku ini tak mengapa, karena memang masih dalam suasana Pandemi Covid-19. Hal ini satu kesyukuran tersendiri, pada saat yang sama kami mengetahui diluar sana masih sibuk belajar daring sambil rebahan di rumah.

Di Pesantren, banyak hal yang bisa dilakukan, banyak keseruan yang bisa kita ciptakan, dan Alhamdulillah ibadah menjadi terjaga.

Lihat pula: Ketua Tim Penggerak PKK Sulsel kunjungi Hotspot Center Putri IMMIM

Delfia Felita Afrial

BLOGSANTRI – Kenalkan, Saya Delfia Felita Afrial. Cukup dipanggil Delfia saja. Pas awal masuk pesantren, banyak santri baru yang tidak kukenali.

Aku malahan mengenali santriwati lama, yaitu Kak Chayo yang sekarang sudah duduk di Kelas 3 SMP. Kak Chayo tamatan SDN 18 Tumampua 1 dimana saya juga bersekolah disitu.

Nah awal masuknya aku itu tidak mengenali semua orang di pesantren, termasuk Ummi Wali Asrama.

Pas mau pemilihan ranjang di Asrama, aku bertemu Batari, teman SD-ku juga. Dia menyapa dengan ramah dan mengajakku berkeliling Pesantren.

Sesudah itu aku bertemu Zalfa di Aula besar, lalu dengan Azizah dan Mutiah. Karena awalnya tak mengenalinya, saya hanya say hai saja.

Pas kembali ke asrama, ternyata ranjang sampingku ditempati oleh Mutia, teman yang akrab menyapaku.

Saat itu, kami tak tahu harus berbuat apa setelah memberekan barang bawaan. Akhirnya aku mengiyakan ajakan Azizah dan Azza untuk Tik-tokan bareng.

Di sisi lain ada Ridha yang melihat kami bertiga. Dia bilangi kami alay. Tapi kami tidak permasalahkan hal itu. Nah waktunya kita berpisah dengan orangtua tetapi waktu awal masuk aku biasa saja ditinggal disini.

Lama kelamaan saya mulai tak betah setelah pembacaan aturan-aturan dalam kampus. Termasuk tak boleh izin pulang dan pembatasan dibesuk. Nah aku dan teman-teman juga pusing kenapa di dalam pesantren harus pakai masker terus dan kami tak boleh keluar.

Pada akhirnya waktu jualah yang membuat kami semakin beradaptasi dengan lingkungan dan kebiasaan di Pesantren.

Alhamdulillah, kami juga sudah memiliki nama angkatan sendiri, Delonix026. Kami sepakati sebagai ketua periode adalah Ridha dengan wakilnya adalah Assami, Sekretaris adalah Bunga dan Bendahara Sofi.

Sekian dulu ya, Yuk manfaatkan libur semester dengan tetap #stayhomesavelifes. Semoga semuanya sehat sampai kembali di Ma’had tercinta. Wasalam. (*)

- Advertisement -

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

immimpangkep.ponpes.id

spot_img

Get in Touch

78,000FansSuka
5,000PengikutMengikuti
10,000PelangganBerlangganan

Latest Posts