๐—›๐˜‚๐—ธ๐˜‚๐—บ ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐˜‡๐—ฎ๐—ต ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—•๐—ฒ๐—น๐˜‚๐—บ ๐——๐—ถ๐—ธ๐—ต๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ป

BLOGSANTRI.COM – โ€‹Pernahkah terlintas dalam benak kita, bagaimana perlakuan terhadap jenazah yang hendak dimandikan ternyata belum dikhitan? โ€‹Bagaimana hukum memandikan jenazah tersebut? Jika air tidak bisa menjangkau seluruh lapisan kulit yang menutupi (maaf) kepala zakar, apakah jenazah tersebut masih boleh disalatkan?
โ€‹Pembahasan ini menarik untuk dikaji lebih dalam.

โ€‹๐‘๐ฎ๐ค๐ฎ๐ง ๐Œ๐š๐ง๐๐ข ๐๐š๐ง ๐๐ž๐ซ๐ฆ๐š๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐ก๐š๐ง ๐Š๐ฎ๐ฅ๐ข๐ญ ๐๐ฎ๐ฅ๐Ÿ๐š๐ก

Salah satu rukun mandi (termasuk memandikan jenazah) adalah mengalirkan air ke seluruh badan. Ini termasuk kulit yang berada di bawah qulfah (kulit penutup kepala zakar) bagi orang yang belum dikhitan.
– โ€‹Bagi yang sudah dikhitan, air tentu dapat mengenai seluruh lapisan kulit kepala zakar.
– โ€‹Bagi yang belum dikhitan, terdapat kemungkinan air tidak sampai ke bagian tersebut, sehingga rukun mandi tidak terpenuhi secara sempurna.

โ€‹Lalu, bagaimana rincian hukum jika jenazah belum dikhitan?

โ€‹๐๐ž๐ง๐๐š๐ฉ๐š๐ญ ๐๐š๐ซ๐š ๐”๐ฅ๐š๐ฆ๐š ๐Œ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ง๐š๐ข ๐‰๐ž๐ง๐š๐ณ๐š๐ก ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐๐ž๐ฅ๐ฎ๐ฆ ๐ƒ๐ข๐ค๐ก๐ข๐ญ๐š๐ง

โ€‹Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai perlakuan terhadap jenazah yang belum dikhitan, terutama terkait dengan masalah mandi wajib yang tidak sempurna:

– โ€‹Pendapat Imam Ar-Ramli: โ€‹Jenazah yang belum dikhitan tidak boleh dikhitan (setelah meninggal) karena hal itu merusak kehormatan jenazah. โ€‹Konsekuensinya, jenazah tidak dimandikan dan tidak disalatkan. โ€‹Cukup dikafani lalu dikuburkan.

– โ€‹Pendapat Imam Ibnu Hajar: โ€‹Jenazah yang belum dikhitan tetap dimandikan seperti biasa pada anggota badan lain. โ€‹untuk yang dibawah qulfah karena tidak terkena air maka ditayammumkan untuk menggantikan apa yang ada di bawah qulfah. โ€‹Setelah itu, jenazah disalatkan, dikafani, dan dikuburkan karena pertimbangan darurat.

โ€‹๐Œ๐ž๐ง๐ ๐š๐ฉ๐š ๐‰๐ž๐ง๐š๐ณ๐š๐ก ๐“๐ข๐๐š๐ค ๐๐จ๐ฅ๐ž๐ก ๐ƒ๐ข๐ค๐ก๐ข๐ญ๐š๐ง?

โ€‹Timbul pertanyaan, mengapa kulit penutup kepala zakar jenazah tidak sekalian dihilangkan saja (dikhitan)? Jawabannya adalah ๐ญ๐ข๐๐š๐ค ๐›๐จ๐ฅ๐ž๐ก. Hal ini dikarenakan tindakan tersebut dianggap merusak kehormatan jenazah.

โ€‹๐๐ซ๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฉ ๐’๐ฒ๐š๐ซ๐ข๐š๐ญ

Orang mukmin itu memiliki kehormatan yang terjaga, baik ketika hidup maupun setelah meninggal dunia. Syariat mengajarkan bahwa jenazah harus diperlakukan dengan baik dan kehormatannya harus dijaga.

โ€‹๐Š๐ž๐ฌ๐ข๐ฆ๐ฉ๐ฎ๐ฅ๐š๐ง:

โ€‹Terdapat dua pandangan utama dalam menyikapi jenazah yang belum dikhitan dan tidak dapat dimandikan secara sempurna:

– Imam Ramli : Tidak dimandikan, tidak disalatkan, cukup dikafani lalu dikuburkan.

– Imam Ibnu Hajar : Tetap dimandikan seperti biasa, ditayammumkan sebagai pengganti apa yang ada di bawah qulfah karena tidak terkena air, lalu disalatkan, dikafani, dan dikuburkan.

– Imam al Baijuri mengatakan tidak mengapa untuk bertaqlid (dalam permasalahan ini) kepada imam Ibnu Hajar demi menutupi (aib/kekurangan) jenazah.

Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)

 

Referensi pendukung:

(ูˆ) ุงู„ุซุงู†ูŠ: (ุชุนู…ูŠู… ุงู„ุจุฏู† ุจุงู„ู…ุงุก ุธุงู‡ุฑุง ุ› ุจุดุฑุง ูˆุดุนุฑุง
ุณู„ู… ุงู„ุฑุฌุง ู„ู„ุดูŠุฎ ุนุซู…ุงู† ุจู† ุณุนูŠุฏ ุงู„ุชูˆู†ูƒุงู„ูŠุŒ ุต ูฃูฃ

ูˆุฃู…ุง ุงู„ู…ูŠุช .. ูุญูŠุซ ู„ู… ูŠู…ูƒู† ุบุณู„ ู…ุง ุชุญุชู‡ุง ู„ุง ุชูุฒุงู„ ุ› ู„ุฃู† ุฐู„ูƒ ูŠุนุฏ ุฅุฒุฑุงุก ุจู‡ุŒ ูˆูŠุฏูู† ุจู„ุง ุตู„ุงุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุนุชู…ุฏ ุนู†ุฏ ุงู„ุฑู…ู„ูŠุŒ ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุญุฌุฑ : (ูŠูŠู…ู… ุนู…ุง ุชุญุชู‡ุง ูˆูŠุตู„ู‰ ุนู„ูŠู‡ ู„ู„ุถุฑูˆุฑุฉ)ุŒ ูˆู„ุง ุจุฃุณ ุจุชู‚ู„ูŠุฏู‡ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ุณุฃู„ุฉ ุณุชุฑุง ุนู„ู‰ ุงู„ู…ูŠุช
ุญุงุดูŠุฉ ุงู„ุจุงุฌูˆุฑูŠุŒ ุต ูขูขูฃ

ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุงุนู’ุชูŽู…ุฏู‡ู ุงุจู’ู† ุญุฌุฑ ุฃูŽู†ู‡ ูŠูŠู…ู… ุนูŽู…ู‘ูŽุง ุชุญุชู‡ูŽุง ูˆูŠุนูู‰ ุนูŽู† ู‡ูŽุฐูู‡ ุงู„ู†ู‘ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉ ูˆูŽูŠุบุณู„ ุจูŽุงู‚ููŠ ุจุฏู†ู‡ ู…ูŽุง ุนุฏุง ู…ูŽุญู„ ุงู„ู‚ู„ูุฉ ุฅูู† ู„ู… ูŠูู…ูƒู† ููŽุณุฎู‡ูŽุง ูˆูŽูŠุตู„ู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู
ู†ู‡ุงูŠุฉ ุงู„ุฒูŠู†ุŒ ุต ูกูฅูก

Materi Halaqoh : Sullamur-Roja’
Maqru’ : ูุตู„ ููŠ ุจูŠุงู† ุงู„ุฃุณุจุงุจ ุงู„ู…ูˆุฌุจุฉ ู„ู„ุบุณู„
Waktu pelaksanaan : Kamis, 23 Oktober 2025
Tempat Pelaksanaan : Kedai minum teh talua
Pemateri : Ust. Irfandi al Indragiri
Penulis Bahtsul Masail : Ust. Irvan Anugrah
Kontributor ibarot : ust. Irfandi al Indragiri

Peserta: Ust. Irvan Anugrah, Ust. Varis Yogi, Ust. Yogi Anjasmara, Ust. Taufiq Hidayat, Ust. Arif Hardiansyah, dan Ust. M. Wahid Nurhuda

 

 

- Advertisement -

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

immimpangkep.ponpes.id

spot_img

Get in Touch

78,000FansSuka
5,000PengikutMengikuti
10,000PelangganBerlangganan

Latest Posts