Adab Santri

Oleh: Adhan Sanusi *)

BLOGSANTRI.COM – Ada sebuah kisah menarik tentang adab. Tentu penilaian dari kisah ini dari subjektif saya pribadi. Suatu waktu di sebuah masjid di Madura pada bulan Ramadhan, ada santri tugas dari dua pondok pesantren yang berbeda. Santri tersebut di utus tugas dakwah selama Ramadan.

Santri Pondok A , secara adab kesopanan ditanamkan kepada santri sejak mula masuk. Lewat di depan guru andep ashor ( agak menunduk dan merendahkan tangan dan bahu kanan). Kepada yang lebih tua begitu juga. Bahkan di pondok tersebut di ajarkan bahasa Madura halus antar sesama santri. Karena bahasa halus akan memperhalus perilaku. Begitu kira-kira alasannya.

Sedangkan di pondok B, berbeda pendekatan adabnya. Di pondok tersebut lebih mementingkan kejujuran sikap dan perilaku yang di tonjolkan kepermukaan daripada inggih ungguh di depan orang. Sampai dengan para ustadz tidak ada santri yang nunduk berjalan di depannya. Paling banter saling melempar senyum dan jabat tangan seperti kepada teman atau melambai tangan dari jauh.

Santri Pondok B ini biasa bermain bola bersama ustadz. Dan saling berangkulan antara santri dengan Ustadz. Namun tidak sampai kurang ajar. Lebih kepada kesetaraan saja. Santri terkadang duduk bareng sama ustadz ngobrol. Bahkan kalau papasan dengan pimpinan pesantren di pinggir jalan hanya saling lempar senyum dan menganggukkan kepala. Tidak sampai mandek mematung.

Salah satu putra pimpinan pesantren pernah bilang: “saya ingin santri yang apa adanya, Jujur sikapnya. Jangan cuma sopan di depan kyai atau ustadz nya, tetapi di belakang mgerasani atau kurang ajar. Lebih baik biasa saja tampilkan kejujuran sikap tanpa di buat-buat.” Begitu kira-kira. Ada hal yang menarik saat takmir masjid mengevaluasi santri tugas dari masing-masing pondok tersebut.

Apa hasil evaluasi nya? Takmir berkisah kepada saya. Santri pondok A, sangat bagus ngajinya dan terlebih sopan santun nya (Kebetulan yang Pondok A, untuk kualitas ngajinya sangat di perhatikan). Masyarakat suka akan sikap santri dari pondok A. Gerak-geriknya kalem, cara duduk nya sangat di perhatikan. Intinya andep ashor ke pada orang lain.

Namun ada hal yang di sayangkan oleh takmir dari santri pondok A, apa itu? Kurang berani mengambil tindakan, kurang inisiatif, kurang berani mengajukan Ide -ide. Terkesan takut-takut atau malu-malu untuk tampil maju. Ketika santri yang bertugas tersebut di tanya setelah pulang tugas, kenapa tidak punya inisiatif, atau berani tampil, jawabannya menarik; ” ya karena kami tidak di minta untuk tampil, kalau kami di minta pasti saya mau” Artinya santri tersebut tidak inisiatif karena menjaga adab nya.

Santri B, kurang memperhatikan sikap perilaku adab kepada orang lain, namun sportif. Ceplas-ceplos apa adanya. Tidak ada beban untuk harus harus nunduk -nunduk kepada orang lain. Bersikap biasa kepada siapa saja. Untuk budaya’Madura tidak cocok. Hanya saja santri ini tidak sampai pada level kurang ajar. Hanya kurang hormat secara sikap kepada orang lain.

Sisi positifnya dari santri pondok B ini adalah berani tampil, inisiatif, berani mengajukan pendapat tanpa rasa segan, kadang mengajukan diri sendiri untuk maju tampil saat ada yang kosong. Selalu muncul ide-ide ketika diskusi. Dan saya lihat dari para alumni santri B ini, secara umum saat terjun kemasyarakatan banyak tampil di depan, berani dan inisiatif.

Santri yang dulu sering nonton bola dan melanggar, setelah lulus Pesantren ternyata banyak yang jago di masyarakat. Tidak canggung untuk mengambil inisiatif. Negatif nya hanya kurang andep ashor (beradab secara sikap perilaku).

Begitulah dua kondisi pendekatan dari dua pesantren tersebut. Sampai ada sebuah kesimpulan dari beberapa teman bahwa; Terlalu menekankan adab kepada santri itu akan memadamkan kreativitas santri, rasa inisiatif dan tampil berani pada santri, lebih banyak rasa takut salah, rasa malu tampil kedepan, rasa ewuh pekewuh yang tinggi dan lain-lain.

Kisah ini bukan untuk membenturkan adab sopan santun dan sikap berani. Karena saya yakin banyak pesantren yang adabnya bagus dan punya sikap berani inisiatif dan terdepan di masyarakat.

Saya diskusi dengan pimpinan pondok Pesantren A. Bagaimana cara Kyai untuk tetap mempertahankan sikap Adab santri yang sudah Sangat baik tersebut, namun mampu melahirkan santri yang berani tampil, inisiatif dan tidak ewuh-pakewuh tanpa kehilangan adab sopan santun ?

Nah, ini dia PRnya? Inilah tantangan nya? Silahkan para nitijen bisa berbagi opini dan pengalaman.

(* Sumber: DISINI

 

- Advertisement -

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

immimpangkep.ponpes.id

spot_img

Get in Touch

78,000FansSuka
5,000PengikutMengikuti
10,000PelangganBerlangganan

Latest Posts