Related Post: Jangan jadikan Agama dan Ulama bahan Bercandaan
BLOGSANTRI – Alkisah, seorang ustadz yang sangat dihormati karena tegas dan jujur. Sang Ustadz telah lama mengabdikan hidupnya di Pondok Pesantren, sebagai guru, pembina atau pengasuh.
Suatu hari, ada dua santri yang menghadap kepadanya. Sang santri bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hasil hitungan 3 x 7.
Santri yang pandai, sebut saja namanya Salim, mengatakan hasilnya 21, sedang santri yang baru bersemangat belajar Matematika, bersikukuh hasilnya 27.
Santri yang kedua, sebut saja namanya Bahlul, ini menantang santri yang sudah terkenal kepandaiannya supaya Sang Ustadz menilai siapa yang benar diantara mereka. “Jika saya yang benar 3 x 7= 27, maka kamu harus mau dicambuk 10 kali oleh Guru. Tetapi kalau kamu yang benar (3 x 7 = 21), maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri.
Haaaaaa…hhaa..” Demikian ujar si santri penantang yang sangat yakin akan pendapatnya.
“Katakan Ustadz, mana yang benar?” Tanya si Bahlul.
Ternyata Sang Ustadz memvonis cambuk 10x bagi Santrinya yang pandai, Si Salim yang menjawab 21.
Si Salim yang pandai, lantas protes, tapi sang Ustadz menjawab: “Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk ketidak-arifanmu karena berdebat dengan si Bahlul yang bodoh, yang tidak tahu kalau 3×7 adalah 21.”
Sang Ustadz melanjutkan, “Lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi arif bijaksana daripada gurumu ini harus melihat 1 nyawa terbuang sia-sia”. Semoga kamu dapat memahaminya, Nak.”
Lihat pula: Mengenal Air Nabeez dan Manfaatnya
Pesan Moral:
Hindari berdebat dengan orang yang tidak menguasai ilmu dan permasalahan, sebab bila mental kita masih lemah maka hanya emosi dan permusuhan yang didapat.
Berdebat atau bertengkar untuk sesuatu yang tidak perlu diperebutkan kebenarannya hanya akan menguras energi percuma.
Ada saatnya kita diam untuk menghindari/mengakhiri perdebatan yang tidak perlu. Diam bukan berarti kalah, Menang juga bukan hal yang luar biasa.
Pemenang sejati adalah orang yang mampu menaklukkan egonya sendiri. Damai itu indah dan setiap orang mendambakan kedamaian hidup.
Sebelum berdamai dengan orang lain, sebaiknya berdamailah dulu dengan diri sendiri. Semoga kita semua diberikan pemahaman dan keberkahan dalam menuntut ilmu. (*)

Lihat pula: Tahun 2022, Kemdikbud-Ristek bakal Terapkan Kurikulum Prototipe

