Oleh: Ramadhan M
BLOGSANTRI.COM – Puisi akrostik ini merupakan karya Etta Adil, disusun dan dirangkainya atas namanya sendiri “Etta Adil Menjawab Waktu” yang menegaskan bahwa waktu bukan sekadar sesuatu yang berlalu, tetapi ruang untuk terus bertumbuh dan memberi manfaat.
Sosok Etta Adil dalam “Etta Adil Menjawab Waktu” digambarkan sebagai pribadi yang menjadikan ilmu, tulisan, dan pengabdian sebagai cara berdialog dengan kehidupan. Ia tidak berhenti pada satu peran—guru, jurnalis, penulis, dan blogger—melainkan memadukan semuanya sebagai jalan pencerahan.
Menjawab Waktu dengan Ilmu dan Cahaya Aksara
Engkau berdiri di depan kelas bukan sekadar mengajar,
Tuturmu menuntun akal, lembut namun menggugah sadar,
Tiap huruf yang kau ucap adalah lentera bagi pikiran,
Amanah ilmu kau jaga seperti cahaya yang tak padam.
Aksara demi aksara kau rajut di lembaran zaman,
Dalam sunyi malam kau berdialog dengan pengetahuan,
Ilmu kau kejar bukan untuk gelar, melainkan pencerahan,
Langkahmu tenang, namun jejakmu panjang di ingatan.
Menulis adalah napas yang tak pernah kau lepaskan,
Esai, catatan, dan blog menjadi jembatan gagasan,
Nalar kritis kau asah di antara kitab dan peradaban,
Jurnal demi jurnal menjadi saksi perjalanan.
Alam sejarah kau telusuri dengan sabar dan teliti,
Wacana Islam kau bentangkan dengan hati yang jernih,
Adat dan budaya kau rangkul sebagai warisan suci,
Budi pekerti kau tanam agar ilmu tak hampa arti.
Waktu bagimu bukan sekadar detik yang berlalu,
Adalah ruang untuk terus belajar dan memperbarui,
Karya demi karya kau hadirkan bagi umat dan negeri,
Terang pemikiranmu mengusir kabut di relung nurani,
Untuk itulah hidupmu: menjawab waktu dengan abadi.
***
Pesan utama dari puisi akrostik ini adalah pentingnya belajar tanpa henti, menulis sebagai warisan pemikiran, menjaga nilai budaya, serta menebarkan ilmu demi kemaslahatan umat. Waktu dijawab bukan dengan keluhan, tetapi dengan karya, penelitian, dan penguatan akhlak serta intelektual. Puisi ini juga menyiratkan bahwa profesi pendidik dan penulis bukan hanya pekerjaan, melainkan misi peradaban—menyalakan cahaya pengetahuan agar terus hidup dari generasi ke generasi.(*)
Minasatene-Pangkep, 15 Januari 2026
(* Ramadhan M, Penikmat Puisi/Jurnalis Independen.

