Oleh: Naila Aziza Hamzah, Zealous925
BLOGSANTRI – Suatu tempat dimana banyak mengingkinnya namun tak semua dapat mendapatkannya. seorang Fatinah Azizah, gadis kecil, mungil, yang akrab dipanggil Fatin, gadis berumur 11 tahun yang menginginkan sesuatu namun sulit ia raih, gadis yang berasal dari keluarga yang serba tidak berkecukupan.
Di suatu hari di sebuah tempat,dimana fatin menjenguk sepupunya yang sedang berada di sebuah penjara suci atau yang kerap disebut pesantren, Fatin pun masuk ke dalam pondik pesantren lalu menemi inayah arumi sagita yaitu sepupu Fatin.
Fatin berlari menuju naya sambil merentangkan tanggannya sebagai kode untuk berpelukan “kak naya fatin rindu” ucapnya sambil berlari.
Naya pun memeluk Fatin dengan berkata, “kakak pun rindu dengan fatin”. Setelah berpelukan mereka pun berbincang ringan soal pesantren.
Setelah itu Fatin dan keluarganya pulang dan tak lupa pun naya berterima kasih kepada fatin dan keluarganya.
Sebuah kamar seorang gadis yang sedang merenung sambil memegangi kedua lututnya ia berfikir, merenungi bahkan mengingat serta membayangkannya bincangannya dengan naya sepupunya.
Ia nampak frustasi dengan pikirannya yang sekarang ingin memberi tahu keluarganya, namun ia juga paham dan mengerti kondisinya sekarang.
Malam pun berlalu, Fatin seorang gadis kecil, mungil, periang dengan muka segar keluar dari kamarnya yang sederhana menyambut pagi yang cerah, lalu menuju ke meja makan untuk sarapan pagi dengan keluarganya.
Lauk sederhana pun terhidang rapi di meja makan, dengan segenap syukur mereka pun memakan makannya dengan lahap,dan tak lupa pula fatin salim denga kedua orang tuanya lalu berangkat ke sekolah.
Hunai Boarding School (HBS), sekolah swasta yang lumayan terkenal. Percaya dan tak percaya, Fatin dapat sekolah di HBS berkat kepintarannya ia mendapatkan beasiswa di HBS dan tak lupa impian yang fatin inginkan namun ia takut untuk member tahukan kepada kedua oaring tuanya.
‘Kring-kring’ suara bel bergema di setiap sudut HBS pertanda jam pelajaran dimulai,fatin memasuki kelas dan memulai proses belajarnya.
Detik demi detik menit demi menit jam demi jam pun berlalu suara bel kembali bergema di HBS petanda jam istirahat pun dimulai.
Madding yang dikerumuni oleh siswa siswi HBS dan tertempel brosur cara mendapat beasiswa masuk pesantren.
Dengan segenap jiwanya, senyum yang menghiasi muka gadis kecil itu terlihat senang? tentu impian yang selama ini ingin ia gapai mendapat peluang untuk mewujudkannya.
Sepanjang koridor kelasnya senyum Fatin tidak pernah luntur. Fatin jalan melewati koridor sambil menyapa yang ia lewati semua orang heran dengan sikap Fatin sekarang, bahkan sahabat fatin menyiapkan pun penasaran dan langsung menayakan kepada fatin.
”Oi, Tin, tumben senyam senyum sendiri,kenapa nih? cerita dong,” ucap Aurora Permata Ningsih yaitu sahabat fatin.
Aurora permata ningsih gadis cantik dan tak lupa denagn perekonomiannnya yang melimpah atau yang biasa disebut serba berkecukupan dan tak pernah kekurangan meskipun itu ia tidak pernah memilih-milih teman.
Maka dari itu ia bersahabat dengan fatin “Tahu nggak aku tuh tadi lihat di madding,aku akhirnya punya kesempatan untuk mewujudkan impianku tampa member beban kepada keduaorang tuaku,” jawabnya.
Fatin dengan senyum bahagianya,aurapun yang ikut mendengarkannya ikut senagn sambil member support kepada sahabatnya.
Setelah itu bunyi bel pun menggema dan seluruh siswa siswi HBS memasuki kelasnya masing masing dan memulai kegiatan belajar.
Setelah itu bel sekolahpun kembali bergema dan seluruh siswa siswi bahkan bpak ibu guru pun pulang kerumah masing masing.
Detik…,menit…,jam,… berlalu dengan cepat seorang yang masih duduk di kursi berkutat dengan tumpukan buku serta media media cetak lainnya,demi impiannya ia rela belajar larut malam, dan tak lupa pula dengan perjuangan lainnya yang fatin lakukan, ia tidak pernah peduli tentang hinaan temannya.
Belajar,belajar dan belajar hanya itu kegiatan yang fatin lakukan sekarang,demi impiannay mendapatkan beasiswa masuk pesantren.
Keesokan harinya fatin pun kembali pun berkembali bersekolah dan tibalah saatnya seleksi beasiswa masuk Pesantren, dengan segenap rasa sedikit gugupnya Fatin memasuki ruangan seleksi, langkah demi langkah terus terlewati hingga tibalah ia di tempat duduknya “peserta ke-5 dari 100 orang nomor bangku 05”.
Waktu pun terasa sangat singkat berlalu,120 menit yang Fatin gunakan untuk menjawab soal-soal yang diberikan.dan tak lupa pula Fatin jawab semua soal dengan lincah ,fatin pun keluar dari ruangan tersebut sambil berdoa karena ia takut tidak lulus.
Setelah fatin keluar fatin disambut oleh sahabat dan kedua orang tuanya serta tak lupa pula sepupunya Naya, dengan muka cerah serta senyuman lebar fatin menghiasi mukanya sambil menghampiri sahabat, sepupu, dan kedua orang tuanya.
”Aku lulus mah, pah hiks” dengan air mata bahagia fatin,seluruh yang melihatnya pun ikut senang serta bahagia dikarenakan fatin lulus mendapatkan besiswa masuk pesantren tanpa membebani kedua orang tuanya.
Pesan moral: Setiap usaha pasti ada hasilnya jangan pernah menyerah dengan keadaan tapi berusahalah sampai engkau mendapatkan apa yang kau impikan. (*)

