Oleh: Pendekar Qiroat, tinggal di Bogor *)
BLOGSANTRI.COM – Dalam kitab Raudhun Nadhir fii Tahrirot Aujah Kitab al-Munir bab Ahkam fii Saktah, Imam Muhammad al-Mutawalli berkata pada judul bab: “Hukum saktah pada huruf sukun sebelum huruf hamzah ء untuk riwayat Hafsh, Idris dan Ibnu Dzakwan bersama madd munfasil.”
Bait 42 Fathul Karim dan Raudhun Nadhir (Syarh Fathul Karim) hal. 171:
و ما كان حفصٌ سَاكِتًا عِندَ قَصرِهِ…
Artinya:
“Hafsh tidak saktah pada (madd munfashil) yang berkadar qashr (2 harokat).
Saktah umum (mutlaq) dan khosh, atau saktah sebelum huruf hamzah, terlarang di riwayat Imam Hafsh yang madd jaiz munfashilnya qashr atau berkadar 2 harokat.
Lalu, perlu diketahui bahwa saktah juga terlarang pada wajh ghunnah di huruf Ro ر dan Lam ل, oleh karenanya tidak boleh membaca wajh saktah di saat bersamaan membaca idghom bighunnah pada huruf Ro ر dan Lam ل. Ini menjadi kesepakatan Ahlul Adaa tanpa adanya perbedaan dalam thuruq al-Qur’an riwayat Imam Hafsh. Dalam bab Hukum Ghunnah pada ل dan ر bersama Saktah sebelum huruf hamzah bait Fathul Karim ke-30 dan 31 Imam al-Mutawalli menyatakan:
٣٠ ولا سكت معها غير سكت بن أخرم … على غير موصول و عند أبى العلا
٣١ تخص عن الرملى برا و لحفصهم …. بمد و ترك السكت تختص ثم لا
Ini penegasan tidak ada saktah pada wajh idghom bighunnah pada huruf huruf ر dan ل, juga di riwayat Hafsh, bahkan jangan saktah sama sekali.
***
Saktah Khash (khusus), saktahnya di sukun mafshul, alif lam ta’rif ال dan lafazh شيء. Bersama dengan membaca tawassuth 4 harokat dalam madd jaiz munfashil dan madd wajib muttashil.
Berkata penulis Tanqih Fathul Karim yakni tiga masyaikh: Syaikh Ahmad Zayyat, Syaikh Syihatah as-Samannudy dan Syaikh Amir Sayyid Utsman:
و عنه و إدريس كالأخفش اسكتن … على أل و مفصولٍ و شيءٍ فمسجلا
Artinya:
“Dalam hal saktah teriwayatkan dari Hafsh, Idris dan seperti al-Akhfash dalam hal sukunnya, yakni pada alif lam ta’rif, sukun mafshul dan lafazh شيءٍ begitulah yang tercatat dalam riwayat”
Saktah Khash adalah saktah (berhenti membaca sepanjang dua ketukan sambil menahan nafas) dalam tiga hal:
1. Dalam ال (alif lam ta’rif), seperti: الأرض، الأخرة2. Dalam lafazh شيء dimana pun dalam al-Qur’an
3. Dalam sukun mafshul, contoh seperti: من ءامن
Nah, saktah amm (umum) atau mutlaq adalah yang 3 tadi (seperti saktah khosh), namun ditambah dengan yang ke-4: pada sukun maushul, contoh: قرأن
Thoriq yang Ada Saktah:
1. Thoriq at-Tajrid: dari qiroatnya Ibnul Fuhham kepada al-Farisi, yakni thoriq al-Hammami, dari Abu Thohir, dari al-Usynaani dari Ubaid bin ash-Shabaah dari Imam Hafsh.
Kitab at-Tajrid memiliki saktah khosh. Serta madd jaiz munfashil dan madd wajib muttashilnya sama-sama tawassuth 4 harokat.
2. Thoriq Raudhatul Maliki yakni Abu Ali al-Maliki, dari thoriq al-Hammami dari Abu Thohir, dari al-Usynaani dari Ubaid bin ash-Shabaah dari Imam Hafsh.
Kitab Raudhatul Maliki memiliki saktah mutlaq atau amm. Serta madd jaiz munfashilnya tawassuth 4 harokat, dan madd wajib muttashilnya isyba’ (thul) 6 harokat.
Berkata Imam al-Mutawalli dalam ‘Izzu Thuruq:
و السكت عن حفص على شيء و أل … و الساكن
المفصول أو مع اتصل
فالأول المروي في التجريد … عن فارسيِّهم بلا تفنيد
و الثاني و في روضة المالكي … و ينتمي كلٌ لحمامي
عن أبي طاهرٍ عن الأُشناني … ذا عن عبيدٍ هاك عن إذعان
Dengan demikian seperti yang tertera dalam kitab-kitab tahrirot, isyba’ (thul) 6 harokat pada madd muttashil di wajh saktah yang maushul, untuk riwayat Hafsh. Dikarenakan yang ada saktah maushul ini adalah thoriq Raudhatul Maliki, yang mana madd wajib muttashilnya isyba’ 6 harokat.
Menurut Syaikh Abdul Aziz Manshur Abdul Aziz dalam Syarh Tanqih Fathul Karim, ini yang agak luput dari Imam al-Mutawalli. Tahrirot ini tidak diungkapkan Imam al-Mutawalli dalam Fathul Karim, namun beliau menyebutkan dalam Raudhun Nadhir.
“Adapun riwayat Hafsh… dalam sukun munfashil (mafshul) dan muttashil (maushul) secara keseluruhan, bersama tawassuth madd jaiz munfashil dan thul madd wajib muttashil dari thoriq Raudhatul Maliki.” (Raudhun Nadhir hal. 205; Syarh Tanqih Fathul Karim hal. 430).
*Selain Raudhun Nadhir Imam al-Mutawalli, sebagai rujukan utama kitab ini, kami tambahkan dari Syarah Tanqih Fathul Karim, Syaikh Abdul Aziz Manshur Abdul Aziz, hal. 430.
Imam Musthofa al-Izmiri dalam Bada’i al-Burhan hal. 15 juga mengungkapkan hal yang sama. Hanya saja, Imam al-Izmiri menyebut penulis Raudhatul Maliki dengan Raudhatu Abu Ali al-Baghdadi. Namun merujuk pada penulis yang sama. Uraian Imam al-Izmiri dalam thoriq at-Tajrid sama dengan Imam al-Mutawalli bahwa kesepakatan saktah khosh pada sukun mafshul, pada alif lam ta’rif ال dan lafazh شيء.
Yang menarik ketika membahasnya, menurut Imam al-Izmiri ada saktah di sukun munfashil (mafshul) dan muttashil (maushul), yakni saktah ‘amm, dengan kadar madd munfashil dan muttashilnya sama-sama tawassuth. Namun Imam al-Izmiri tidak menyebut thoriq yang mana.
Sedangkan Raudhatu Abu Ali al-Baghdadi (Raudhatul Maliki) Imam al-Izmiri menyatakan bahwa saktah amm/mutlaqnya baik di sukun mafshul dan maushul, dengan tawassuth 4 harokat madd munfashil dan thul 6 harokat madd muttashilnya. Ini sama dengan versi Imam Ibnul Jazary dan Imam al-Mutawalli.
Begitu juga Syaikh Amir Sayyid Utsman, syaikhul qurro Mesir di era 1980-an, menyatakan dalam Fathul Qadir:
و مع سكت مفصول فوسط لحصهم …
و مع سكت موصول كجاء فطولا
Pensyarah kitab Fathul Qadir menyatakan: “Tawassuth madd munfashil dan juga madd muttashil dalam riwayat Hafsh bersama saktah mafshul, karena dalam at-Tajrid dari al-Farisi; isyba’ madd muttashil dan tawassuth madd munfashil bersama saktah maushul, karena dalam Raudhatul Maliki demikian.” (Hal. 60 Fathul Qadir).
Jelaslah saktah pada huruf bersukun yang munfashil (mafshul) dan sukun yang muttashil (maushul) itu adalah saktah amm atau saktah mutlaq. Bersama dengan membaca madd munfashil-nya tawassuth (4 harokat) dan madd wajib muttashil thul 6 harokat. Ini Thoriq Raudhatul Maliki dari al-Hammami dari Abu Thohir dari al-Usynaani dari Ubaid dari Imam Hafsh.
Selain itu dari al-Waliyy dari al-Fil dari Amr bin ash-Shabaah dari Imam Hafsh dalam Thoriq at-Tidzkar, disebutkan oleh Ibnu al-Jundi (atau al-Junaidi) yakni Abu Bakar bin al-Jundi dalam kitabnya al-Bustan al-Hudah. Disebutkan Syaikh Abdul Aziz Manshur dalam Syarh Tanqih hal. 429.
Juga disebutkan oleh Imam al-Izmiri dalam Bada’i al-Burhan hal. 15: Beliau menyebut kitab Bustan al-Hudah dengan Bustan saja, namun Imam al-Izmiri sepakat bahwa terjadi khilaf atau perbedaan di an-Nasyr Ibnul Jazary mengenai saktah di thoriq at-Tidzkar, mengenai thoriq ini Imam al-Izmiri menyatakan bahwa kadar maddnya adalah fuwaiq tawassuth 5 harokat. “Tidak ada ustadz (syaikh) yang mengambil wajh saktah ini dengan kadar murni tawassuth 4 harokat saja dalam riwayat Hafsh,” demikian pernyataan Imam al-Izmiri.
Dengan ini Imam al-Izmiri mengambil kesimpulan bahwa saktah pada riwayat Hafsh tidak hanya murni tawassuth pada madd munfashil dan muttashilnya, namun selalu ada wajh dan thoriq lain yang kadarnya lebih panjang.
Ini disepakati oleh Imam Muhammad al-Mutawalli, bahwa ada riwayat Hafsh bersaktah pada thoriq at-Tidzkar, namun yang tercantum dalam an-Nasyr Ibnul Jazary, beliau membantahnya.
Imam Ibnul Jazary menyatakan tidak ada saktah dalam thoriq at-Tidzkar, “Tidak shahih, saktah pada riwayat Hafsh, dari tilawah jalur kami ke al-Usynaani kecuali dari thoriq al-Hammami, mengingat lebih banyak sahabat-sahabat al-Hammami tidak meriwayatkan darinya, semisal Abu al-Fadhl ar-Razi dan Abul Fath Ibnu Syitho, serta Abu Ali Ghulam al-Harras, mereka termasuk yang hafalannya paling kuat dan paling berilmu di antara sahabat-sahabat al-Hammami” (dikutip dari Syarh Tanqih hal. 429-430).
Oleh karenanya, para Ahlul Adaa generasi kemudian, ada yang mengikuti Imam Ibnul Jazary bahwa thoriq at-Tidzkar riwayat Hafsh tanpa saktah (idroj).
Dikarenakan tidak shahih riwayat saktah dalam thoriq tersebut. Namun ada juga yang mengikuti pendapat Imam Muhammad al-Mutawalli dan Imam al-Izmiri bahwa ada saktah dalam thoriq at-Tidzkar. Maka ketika membaca riwayat Hafsh dengan thoriq at-Tidzkar boleh saktah atau tanpa saktah.
Mari kita simpulkan.
1. Thoriq at-Tajrid Ibnu Fuhham dari al-Farisi meriwayatkan bacaan saktah khosh atau saktah khusus, bersama madd jaiz munfashil 4 harokat, dan madd wajib mutashil 4 harokat.
Bacaan Imam al-Hammami dari Abu Thohir dari al-Usynaani dari Ubaid dari Imam Hafsh.
2. Thoriq Raudhatul Maliki meriwayatkan saktah mutlaq atau saktah amm (umum), bersama madd jaiz munfashil 4 harokat dan madd wajib muttashil 6 harokat (thul).
Bacaan al-Hammami dari Abu Thohir dari al-Usynaani dari Ubaid dari Imam Hafsh.
3. Thoriq at-Tidzkar dari Ibnu Syitho, sama-sama saktah amm sekaligus juga boleh idroj yakni tanpa saktah. Boleh memilih saktah atau tidak saktah. Bersama madd jaiz munfashil 4 harokat, dan madd wajib muttashil 6 harokat (thul). Meriwayatkan bacaan dari 3 jalur:
1. al-Hammami dari Abu Thohir (sesuai riwayat sebelunnya sampai Imam Hafsh).
2. Ibnul ‘Ilaaf dari Abu Thohir (sampai dengan Imam Hafsh).
3. al-Hammami dari al-Qulanisi dari Zar’an dari Amr bin ash-Shabaah dari Imam Hafsh.
Berkata Syaikh Ahmad Zayyat, Syaikh Ibrahim Syihatah as-Samannudy, dan Syaikh Amir Sayyid Utsman dalam Tanqih Fathul Karim:
و سكتًا لحص عند قصر فأهملا
Syaikh Abdul Aziz Manshur Abdul Aziz berkata dalam kitabnya Syarh Tanqih Fathul Karim, hal. 425: Hafsh punya 2 wajh pada madd jaiz munfashil yakni qashr dan tawassuth, juga memiliki dua wajh pada sukun sebelum huruf hamzah, antara tanpa saktah (idraj) dan saktah.
Thoriq Thoyyibah (maksudnya Thoyyibatun Nasyr) secara zhohirnya memutlakan wajh-wajh ini dengan terbagi empat secara mutlak thuruq riwayat Hafsh. Maknanya adalah apabila wajh maupun thuruq itu dikumpulkan semua dalam tema saktah di riwayat Hafsh, di dalamnya ada wajh madd munfashil.
Maka inilah 4 wajh thuruq yang ada di riwayat Hafsh, jika dihubungkan dengan saktah, kita bahas tanpa batasan dulu:
1. Madd jaiz munfashil dengan qashr 2 harokat tanpa saktah.
2. Madd jaiz munfashil dengan qashr 2 harokat bersama saktah.
3. Madd jaiz munfashil dengan tawassuth 4 harokat tanpa saktah.
4. Madd jaiz munfashil dengan tawassuth bersama saktah.
Dengan penelitian mendalam dan mentahrir kedua wajh ini baik qashr maupun tawassuth, maka kita akan menemukan yang diperbolehkan dari 4 wajh tadi hanyalah 3 wajh saja. Satu wajhnya telah dilarang yakni saktah dengan madd jaiz munfashil qashr 2 harokat. Dikarenakan saktah pada riwayat Hafsh hanya ada di wajh thuruq yang madd jaiz munfashilnya tawassuth 4 harokat, tidak ada saktah kecuali pada tawassuth munfashil. Tidak pernah ada wajh saktah pada yang qashr madd munfashilnya.
Juga bukan berarti tawassuth madd jaiz munfashil hanya dikhususkan bersama saktah, karena di dalam tawassuth munfashil dibagi jadi dua wajh antara idroj (tanpa saktah) dan saktah.
Berarti wajh saktah hanyalah salah satu saja dari wajh tawassuth madd jaiz munfashil. Demikian, saktah adalah khusus di madd jaiz munfashil yang tawassuth, dan tawassuth madd jaiz munfashil tidak khusus harus saktah.
Itu disebabkan oleh thoriq-thoriq yang diriwayatkan pada madd jaiz munfashil qashr tidak ada yang saktah sama sekali. Sebaliknya pun, thoriq-thoriq yang bersaktah (baik amm maupun khosh) tidak ada yang madd jaiz munfashilnya qashr sama sekali. Thoriq-thoriq madd jaiz munfashil diriwayatkan berkadar tawassuth dengan dua wajh (yang tanpa saktah dan saktah).
Oleh sebab itu versi wajh saktah hanyalah salah satu wajh madd jaiz munfashil berkadar tawassuth.
Saktah ada pada Thoriq at-Tajrid dan Raudhatul Maliki.
Ini adalah uraian kami dari penjelasan detil Syaikh Abdul Aziz Manshur Abdul Aziz dalam kitabnya Syarh Tanqih Fathul Karim, hal. 425-427. Agar yang baru belajar tahrirot qiroat asyaroh kubro tidak kebingungan dalam memahaminya.
***
Ada yang menarik dari apa yang diungkap Syarh Tanqih Fathul Karim. Imam Ibnul Jazary meriwayatkan wajh isyba’ madd muttashil untuk seluruh Imam Qiroat dan membaca dengannya, juga menyebutkan itu dalam Thoyyibatun Nasyr.
Jika merujuk kepada kitab-kitab tahrirot, tidak ada wajh saktah di sukun maushul pada riwayat Hafsh kecuali pada yang berkadar isyba’ 6 harokat, dan ini diperbolehkan dan tidak mengapa insya Allah.
Bahkan bagi Imam Ibnul Jazary, di tiap-tiap Imam Qiroat ada wajh isyba’ atau thul 6 harokatnya. Tanpa terkecuali. Namun bacaan semacam itu sudah ditinggalkan, dan pada hari ini sedikit yang mengamalkannya. Namun jika memilih membaca muttashil isyba’ 6 harokat, hal itu tidak mengapa. Diperbolehkan juga. Merujuk kepada hal. 432 Syarh Tanqih.
Maksudnya, kita dapati talaqqi al-Qur’an pada hari ini mencukupkan diri pada thuruq yang qashr dan tawassuth untuk riwayat Hafsh. Bahkan meskipun sedang talaqqi al-Quran 10 qiroat kubro thoriq Thoyyibatun Nasyr untuk pengambilan sanad.
Maka apalah lagi untuk qiroat dari ashabul qashr seperti Qalun, Ibnu Katsir dan Abu Ja’far, tentu lebih jarang lagi. Kita dapati dalam thuruq riwayat Hafsh keseluruhan paling panjang madd munfashilnya berkadar fuwaiqul tawassuth alias 5 harokat, sedangkan madd muttashilnya isyba’ 6 harokat.
(* Tulisan ini adalah tribute untuk Imam Ibnul Jazary, Imam Ali al-Manshuri, Imam al-Izmiri, Imam Ibrahim al-Ubaidi, Imam Muhammad al-Mutawalli dan Syaikh Ali Dhabbaa’)
Sumber: WA Group Markaz Ibnu Abbas al-Islamy (Ikhwan)

