Meraih Ijazah Sanad Hadits Musalsal

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Meraih Ijazah Sanad 6 Hadits Musalsal

BLOGGURU – Apa itu Hadits Musalsal? Mengapa begitu banyak ulama mengijazahkannya sampai sekarang?  Ya, Penyampaian hadits musalsal memang masih terjadi di masa kini dan disanadkan. Banyak ulama atau Ustadz di Indonesia yang memiliki ijazah sanad hadits musalsal, semisal hadits musalsal bil awwaliyah, hadits musalsal bil qira’ah ayatil kursi,  hadits musalsal bil mahabbah, dan lain sebagainya.

Hadits Musalsal memang periwayatannya khas? Mengapa? Ya, karena Hadits musalsal adalah salah satu model periwayatan hadits dari masa Nabi kepada para perawi secara turun temurun, bahkan hingga sekarang. Secara bahasa, musalsal bermakna berturut-turut. Hadits musalsal adalah hadits yang disampaikan para perawi secara berurutan dan sama dalam keadaan dan situasi tertentu, baik secara perbuatan maupun perkataan.

Imam an-Nawawi dalam kitab at-Taqrib menyebutkan bahwa hadits musalsal ini bisa terkait perbuatan, keadaan atau sifat pada diri perawi, atau bisa juga terkait dengan cara penyampaian haditsnya. Karena periwayatan hadits musalsal terkait dengan keadaan atau sifat tertentu pada perawi, setidaknya hadits musalsal bisa musalsal qauli (secara perkataan), fi’li (secara perbuatan) atau keduanya.

Sebagai contoh adalah hadits berikut:

عَنْ مُعَاذٍ قَالَ: لَقِيَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ

.فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَأَنَا وَاللهِ أُحِبُّكَ. قَالَ: فَإِنِّي أُوصِيكَ بِكَلِمَاتٍ تَقُولُهُنَّ فِي كُلِّ صَلَاةٍ:

“اللهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ”

Artinya:

“Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal: Aku berjumpa Rasulullah SAW, beliau berkata: ‘Wahai Mu’adz, sungguh aku mencintaimu (sebagai sahabat).’ Kemudian aku menjawab, ‘Begitupun aku wahai Rasulullah.’ Kemudian Nabi bersabda, ‘Sungguh, aku mewasiatkanmu dengan doa yang hendaknya kamu baca ketika usai shalat: Allahumma a’innî ‘alâ dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibâdatik’.”

Hadits tersebut diriwayatkan dalam Musnad Ahmad bin Hanbal. Dalam proses periwayatan, para perawi disebutkan meriwayatkan hadits itu sebagaimana Nabi melakukannya, yaitu dengan mengucapkan “Ya Fulan, inni lauhibbuk” (Wahai Fulan, sungguh aku mencintaimu). Hadits ini adalah contoh periwayatan hadits musalsal secara perkataan. Kemudian ada juga yang terkait suatu perbuatan. Seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi:

 

شَبَّكَ بِيَدِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَافِعٍ، وَقَالَ لِي شَبَّكَ بِيَدِي أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ لِي: شَبَّكَ بِيَدِي أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ لِي: “خَلَقَ اللَّهُ الْأَرْضَ يَوْمَ السَّبْتِ”

 

Artinya:

(Perawi sebelumnya berkata) tanganku digenggam oleh Abdullah bin Rofi’, lalu ia berkata bahwa: tanganku digenggam oleh Abu Hurairah, dan ia juga berkata: Abul Qasim Rasulullah SAW menggenggam tanganku, dan bersabda: Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu.”

Sebagaimana disebutkan, hadits tersebut diriwayatkan para perawi dengan meniru cara menjalinkan tangan (tasybik) sebagaimana Nabi lakukan. Merujuk pada kitab-kitab hadits khusus untuk itu, semisal kitab al-Musalsalat al-Kubra karya Imam Jalaluddin as Suyuthi atau at-Thali’us Sa’id al Muntakhab minal Musalsalat wal Asanid, karya Sayyid Muhammad al-Maliki, selain diriwayatkan secara khas dalam perkataan atau perbuatan, hadits musalsal juga bisa disampaikan perawi pada muridnya di tempat atau momen tertentu. Pada momen bulan Ramadhan misalnya atau pada saat berdoa di Multazam.

Apa faedah hadits musalsal ini? Menurut para ahli hadits model periwayatan hadits musalsal ini memperkuat hafalan seseorang tentang suatu hadits, karena dalam sebuah hadits, ada hal lain yang menunjang untuk diingat. Jika merekam satu keadaan, tentu hadits yang sudah dihapal dan diketahui tadi bisa tercetus untuk diingat kembali. Meski begitu, tetap harus dicek kualitas haditsnya, baik dari sanad atau matan. Jadi kualitas hadits ini bisa shahih, hasan, atau dla’if, sehingga tetap berdampak pada aspek ajaran Islam.

Beberapa waktu lalu, penulis juga melalui Daurah Online via Zoom, tepatnya pada malam tahun baru, 31 Desember 2022, penulis mengikuti Majelis Sama’ wa Ijazah Hadits Musalsal, yang mana Hadits Musalsal yang penulis terima sanadnya dari Ustadz Abu Abdillah Dhani Al-Farisi bin Suhandi al-Batawi, dari Markaz Thalabul Ilmi, antara lain:

  1. Sanad Hadits Musalsal bil Awwaliah,
  2. Sanad Hadits Musalsal bil Mahabbah,
  3. Sanad Hadits Musalsal  bi Qauli Audzu billahi minas Syaitani Rhojin,
  4. Sanad Hadits Musalsal bi Qira’ati Surah Fatihah,
  5. Sanad Hadits Musalsal bi Qira’ati Surah As-Shaff,
  6. Sanad Hadits Musalsal bi Qiraati Surah Al-Kautsar.

Sebelumnya dalam beberapa kali Majelis Sama’ wa Ijazah, penulis juga terima sanad Hadits Rahmah Musalsal bil Awwaliyah, dari Ustadz Ahmad Hawasy al-Bantany. Hadits Musalsal ini direkomendasikan agar setiap guru menurunkan kepada muridnya di awal majelis, atau diberikan seorang guru kepada muridnya sebagai hadits pertama yang dibacakan. Itu pula sebabnya Hadits ini disebut sebagai Hadits Musalsal bil Awwaliyah bir rahmah.

Wallahu ‘alam bish shawab.

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, Sulsel.

- Advertisement -

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

immimpangkep.ponpes.id

spot_img

Get in Touch

78,000FansSuka
5,000PengikutMengikuti
10,000PelangganBerlangganan

Latest Posts