
Oleh: Muzarrafah Raihana Sabir, Putri IMMIM Kelas Vll B, Penghuni Asrama Khadijah 2
BLOGSANTRI.COM – Apa itu pesantren? Kata orang pesantren itu menakutkan dan juga menyusahkan. Mengapa menyusahkan? Karena biaya pesantren tidaklah murah, meskipun juga tidaklah mahal. Berbeda dengan IMMIM, tempatku mondok saat ini adalah Pondok Pesantren berbasis modern.
Tidak seperti pesantren lainya, menurutku mondok di IMMIM sama sekali tidak membosankan. Mengapa? Ya, tentu karena IMMIM memiliki banyak kegiatan ekskul yang menyenangkan.
Seperti kata orang, dulu saat ingin dimasukkan ke dalam Pondok Pesantren IMMIM, hati kecilku sangat menentang apa yang telah direncanakan kedua orangtuaku. Dalam benakku, “Mengapa coba harus mondok? Kenapa bukan di sekolah umum seperti anak anak tetangga.”
Bagiku dan juga santriwati di IMMIM–bukan hanya IMMIM tetapi santri pondok lainnya– meninggalkan kedua orangtua dan sanak keluarga itu tidaklah mudah. Bagi mereka dan bagiku, momen bersama keluarga tidak dapat dilupakan. Walau begitu, saya akhirnya mendapatkan teman yang juga sedih di tinggalkan orang tuanya karena harus pondok.
Hari demi hari telah dilalui dan bulan demi bulan, kulewati dengan lancar. Banyak yang mengira bahwa saya telah terbiasa di pondok dan melupakan keluargaku. Dan rupanya ohhh, tentu tidak. setiap shalat di dalam pikiranku selalu terbayang orangtua dan keluarga.
Pertanyaan yang selalu mengusikku, “Kenapa di’, dikasi masukka di pondok? Na usirma’ kapa’ orangtuaku” atau “kapan ki besukka kodongee mak, mauka pulang…. ”. Tapi, ok, lupakan. Saya kini telah menikmati kehidupan pondok dan rasanya masih enjoy disini.
Saat SD saya ternyata selalu memakai Bahasa Indonesia sehari-hari seperti kebanyakan siswa lainnya, dan teman sekolah masih satu kampung atau satu daerah. Kini, saya harus belajar berbaur dengan teman dari daerah lain dan tentu harus mengakrabi pula bahasa, budaya, dan kebiasaannya.
Sejak di pondok, Alhamdulillah saya dapat mengetahuinya sedikit demi sedikit, secara tidak langsung sudah mengenal pula seni budaya daerah lain.
“Apasih yang biasa orang katakan kalau kamu masuk mondok?” Ok, yg paling sering sih seperti ini. ”Nay, kamu di pesantren sudah berapa juz lu hafal? ” dan saya jawab ”Alhamdulillah, mencapai target😌” padahal baru beberapa ayat, Hehehhe. Selain dapat pengetahuan pesantren juga bisa dibuat untuk membanggakan diri lohh apa lagi pesantrennya IMMIM.
IMMIM terkenal dengan bahasanya dalam percakapan dan dakwah, yaitu Bahasa Arab dan Inggris. Keren, juga kan IMMIM? Jejak rekam alumninya juga bagus dan membanggakan. Mereka berhasil semua dan banyak bertebaran di berbagai lapangan pekerjaan.
Selain bahasanya, IMMIM juga terkenal dengan kerapian dan kedisiplinan santrinya. IMMIM terkenal dengan pondok yang asri dan hijau.
Ya, sebenernya hidup di pondok itu enak, cuma belajar, sekolah, ngaji, makan, tidur hehehe tapi yang saya heran,kan masih ada juga yang tak betah tinggal di pesantren. Bukankah sering kita diperdengarkan ungkapan bahwa kesuksesan itu tidak bisa diraih dengan jalan mudah dan manja, tapi melalui perjuangan, belajar keras, tahan banting menghadapi kesulitan dan masalah, tekad tinggi, dan pengorbanan yang luar biasa jauh dari orangtua.
Berbicara kebersamaan, di pesantren kebersamaan antara santri sangat kuat. Saya ingat, jika waktu dijenguk tiba, ketika ada orangtua santri yang datang untuk mengunjungi anaknya, pasti wali santri tersebut membawakan nasi untuk anaknya serta santri lainnya yang tinggal sekamar.
Dari bungkusan itulah kebersamaan santri sangat terlihat, sebelum makan kami menyatukan bungkusan nasi itu menjadi satu sehingga bisa makan sama-sama, sampai berebut karena saking ramainya, tapi itu sudah menjadi hal biasa sehingga menjadikan sebuah kebersamaan semakin erat.
Waktu terus berjalan, Suka dan duka, pahit manis sudah ikut kurasakan selama hampir setahun mondok di IMMIM. Saya bangga hidup di pesantren karena bisa sedikit tahu ilmu agama dan diajarkan untuk hidup sederhana. Pun di pesantren, bisa merasakan nikmatnya kebersamaan yang tidak bisa saya dapatkan ketika hidup di luar pesantren.
Saya bangga hidup di pesantren karena saya dididik untuk menjadi insan yang islami. Dan bahwasanya ilmu dunia serta akhirat harus seimbang agar tak salah melangkah.
Disini, saya merasakan suka duka di pesantren. Sukanya yaitu banyak teman dan juga jarang diomelin oleh orangtua. Dan dukanya yaitu pisah dengan orangtua serta jauh dari jangkauan HP. Hayoo, disini siapa yang nggak suka diomelin orangtua? Jujur saya sihh sering. Heheheh.
Orang yang di sekolah umum selalu mikir kalau “enak ya anak pesantren jarang diomelin orangtua dan bisa bebas lagi. Ok, bebas dan jarang dimarahi ortu sih iya tapi, sebenci bencinya aku dimarahi ortu pasti saat di pesantren jarang rindu diomelin lagi.
Sebenarnya saya masuk pesantren bukan karena niat, tetapi karena paksaan orangtua. Yaa, bukan juga itu sihh andai saat itu saya tdk meraung raung sama mama untuk di kasih masuk di pondok saat masih kls 5 SD hanya karena nonton pesantren kun anta. Kukira hanya saya yang seperti itu mau masuk pesantren karena nonton pesantren kun anta tetapi banyak juga ternyata teman saya yang juga terjebak.
Ok so…, ketika saya dijenguk selalu saja saya minta pulang (ini saya jujur ya). Mengapa? Ya, tentu saja mau dirumah karena tidur-tiduran, makan banyak, dan lain-lain. Itulah mengapa orangtua saya mungkin stress mengurusi, jadinya saya dipulangkan kembali ke pondok (ingin menangis tapi tidak bisa:”).
Mau tahu kelakuan aneh yang pernah kulakukan saat pertama kali mondok? Pernah menangis saat sholat karena ortu dirumah sampai besoknya demam tinggi 3 hari lalu, ujung ujung nya dibawa pulang sama mama. Juga pernah pakai celana keluar asrama.
Untungnya saat itu ada ummi tegur saya. Banyangin aja kalau tidak di tegur.
Ok sampai sini saja yaa, soalnya capek menulis. Doakan semoga saya tetap betah di Pondok IMMIM. Amiinn. (*)
(Tulisan ini telah diedit seperlunya, tanpa mengurangi esensi cerita dan pesan yang disampaikan. by: admin blogsantri.com

