Oleh: Muhammad Farid Wajdi
Related Post: Pengantar Ilmu Hadits
BLOGSANTRI.COM – Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik itu berupa perkataan, perbuatan, ketetapan maupun persetujuannya.
Selain mengetahui tentang hadits shahih dan dhaif, tentunya kalian pernah kan mendengar istilah “Hadits Ahad”. Sebenarnya hadits shahih maupun dhaif itu merupakan tingkatan dari hadits ahad, tapi apakah yang dimaksud hadits ahad itu?
Hadits Ahad adalah suatu hadits (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadits mutawatir; baik pemberita itu seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut masuk ke dalam hadits mutawatir.
Hadits Ahad adalah suatu hadits yang padanya tidak terkumpul syarat mutawatir. Perlu dipahami bahwa penentuan tinggi rendahnya tingkatan suatu hadits bergantung kepada tiga hal, yaitu jumlah rawi, keadaan (kualitas) rawi, dan keadaan matan. Ketiga hal tersebut menentukan tinggi-rendahnya suatu hadits.
Bila dua buah hadits menentukan keadaan rawi dan keadaan matan yang sama, maka hadits yang diriwayatkan oleh dua orang rawi lebih tinggi tingkatannya dari hadits yang diriwayatkan oleh satu orang rawi.
Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi lebih tinggi tingkatannya daripada hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi. Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang kuat ingatannya, lebih tinggi tingkatannya daripada hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah tingkatannya.
Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang jujur lebih tinggi tingkatannya daripada hadits yang diriwayatkan oleh rawi pendusta. Tinggi rendahnya tingkatan suatu hadits menentukan tinggi rendahnya kedudukan hadits sebagai sumber hukum Islam.
Para ulama membagi hadits Ahad dalam tiga tingkatan, yaitu hadits sahih, hadits hasan dan hadits dhaif.
1. Hadits Sahih
Hadits sahih menurut bahasa berarti hadits yng bersih dari cacat, hadits yang benar berasal dari Rasulullah SAW. Batasan hadits sahih, yang diberikan oleh ulama, yaitu “Hadis shahih adalah hadits yang susunan lafadznya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran), hadits mutawatir atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit.”
Imam an-Nawawi, membagi yang shahih menjadi tujuh bagian:
a. Yang paling tinggi, ialah yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim (Muttafaq ‘alaih aw ‘ala sihhatihi).
b. Yang diriwayatkan sendiri oleh Imam al-Bukhari.
c. Yang diriwayatkan sendiri oleh Muslim.
d. Hadits yang memenuhi kualifikasi shahih Bukhari dan Muslim.
e. Hadits yang memenuhi kualifikasi shahih dari Imam al-Bukhari.
f. Hadits yang memenuhi kualifikasi shahih dari Muslim.
g. Yang dianggap shahih oleh imam-imam yang lain selain Bukhari dan Muslim.
2. Hadits Hasan
Menurut bahasa, hasan berarti bagus atau baik. Menurut Imam Turmuzi hadits hasan adalah: “Yang kami sebut hadits hasan dalam kitab kami adalah hadits yang sanadnya baik menurut kami, yaitu setiap hadits yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta, matan haditsnya, tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat. Hadits yang demikian kami sebut hadits hasan.”
3. Hadits Dhaif
Hadits dhaif menurut bahasa berarti hadis yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan yang lemah (kecil atau rendah) tentang benarnya hadis itu berasal dari Rasulullah SAW.
Para ulama memberi batasan bagi hadits dhaif yaitu Hadits dhaif adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits shahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan.” Pada hadits dhaif itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.
Berdasarkan siapa yang meriwayatkan, terdapat beberapa istilah yang dijumpai pada ilmu hadits, antara lain:
1. Muttafaq Alaih (disepakati atasnya) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sumber sahabat yang sama, dikenal dengan Hadits Bukhari dan Muslim.
2. As Sab’ah berarti tujuh perawi yaitu: Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Majah.
3. As Sittah maksudnya enam perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Ahmad bin Hanbal (Imam Ibnu Majah).
4. Al Khamsah maksudnya lima perawi yaitu mereka yang tersebut diatas selain Imam Bukhari dan Imam Muslim.
5. Al Arba’ah maksudnya empat perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad, Imam Bukhari dan Imam Muslim.
6. Ats Tsalatsah maksudnya tiga perawi yaitu mereka yang tersebut di atas selain Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Ibnu Majah.
Referensi
Shalih Al-Utsaimin. Syeikh Muhammad, 2008. Musthalahul Hadits. Jogjakarta: Media Hidayah.
As-Shalih, Dr. Subhi. 2002. Membahas Ilmu-ilmu Hadits. Jakarta: Pustaka Firdaus.
An-Nawawi, Imam. 2001. Dasar-dasar Ilmu Hadits. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Ahmad, H. Muhammad. 1998. Ulumul hadits. Bandung: Pustaka Setia. Ismail, M. S. 1994.


